Gila itu saat aku mulai galau karena cinta. Cinta yang terajut semenjak 22 Juni 2011 pun harus kandas begitu saja karena aku terbebani dengan orang tuanya. Tidak ada seorang wanitapun yang ingin seperti diriku. Namun, apa yang bisa ku perbuat? tak ada yang bisa ku perbuat. Menerima semuanya dengan besar hati mungkin adalah langkah yang tepat untuk saat ini.
Cinta itu seperti angin. Kadang kuat dan kadang lemah. Tak terkecuali dengan cinta yang kumiliki. Kadang kuat, bahkan lebih kuat dari pada baja atau apapun. Namun, kadang juga seperti lapisan es yang tipis, sedikit sentuhan saja bisa retak dan hancur seketika dalam hitungan detik, menit, jam, hari, bulan ataupun tahun.
Dia. Serpihan masalalu ku yang kembali datang seperti angin yang selalu ku temui ketika hati ku sakit dan hidup ku hancur. Kenapa dia selalu datang dalam keadaan seperti ini? dan kenapa dia selalu berhasil membuatku berharap meskipun pada akhirnya aku yakin akan seperti hal yang lalu-lalu.
Empat tahun ku jalani hidupku tanpa nya. Mencoba meruntuhkan rasa yang selama ini tegak berdiri bak batu karang yang selalu melawan ombak masa depan. Sepi, sendiri, sunyi dan aku ingin bersamanya. Namun, takdir selalu memisahkan dan selalu membuat ku merasa aku tak mampu hidup tanpanya. Rasa ini masih ada untuknya, entah sebesar apa. Aku tak yakin akan rasa ini. Antara obsesi dan cinta itu beda tipis. Aku harus dapat membedakan manakah yang hanya sekedar obsesi dan mana yang merupakan cinta.
Empat tahun berjalan dan dua tahun lebih tak pernah bertemu, kini dia sangat berubah. Wajahnya, sifatnya, penampilannya... Kini dia telah berubah. Bukan Onez si Mr. Rabbit ku lagi.
Kecewa adalah bagian dari rasa yang ada dalam hatiku. Entah angin apa yang mampu mengubahnya seperti saat ini. Dimana Onez ku yang dulu? seorang cowok yang pendiam, takut, grogian, innocent, jujur, apa adanya, simple, sederhana dan selalu membuatku terpesona dengan senyumannya dan matanya yang selalu membuat hati ku bergetar saat memandang wajahnya.
Kini, dia seperti sosok asing dalam hidupku yang tak pernah ku temui sebelumnya. Secara fisik, kini dia berbeda. Tinggi, tampan, terlihat lebih dewasa, cool and berubah seratus delapan puluh derajat bila di bandingkan empat tahun yang lalu. Namun, aku kecewa karena dia sering minum-minuman keras. Sampai kapan dia seperti ini??? Aku ingin dia kembali seperti dulu lagi. Seorang lelaki yang selalu membuatku terpesona.
Yang paling membuatku semakin kecewa adalah....... Dia seorang player. Ya. Seorang playboy. Dia mempunyai dua orang kekasih. Aku bingung kenapa dia sejujur itu dengan ku? Sedangkan dengan keluarganya sendiri saja dia tidak berani jujur.
Satu pertanyaan ku, apa dia masih sayang pada ku? Kenapa dia menahan ku untuk pulang sewaktu di Lapangan Pancasila Salatiga beberapa hari yang lalu. Dia semakin membuatku galau.
Seperti masuk dalam lubang kesalahan dan lubang pemberi harapan palsu. Lalu, Onez itu apa? dia adalah pemberi harapan palsu. oh no!!!!!!!!! keknya emang dia pemberi harapan palsu. Dia baik sama aku, lalu hilang kek om jin yang udah nemuin tuan barunya. Yaps. Seperti beberapa tahun yang lalu juga kek gini kok.
Mu'ucieh eaw Seno Adi Prasetyo yang selalu memberiku harapan palsu. For Dhanang Tino Ardhianto, maaf aku udah salah menilaimu and aku udah tertutup mata ku karena emosi sesaat. Cinta itu memang ada padamu... Maaf Mr. Disappear..... :*