Senin, 07 April 2014

Bahasa Takdir

Bahasa Takdir Berawal dari cinta yang tak pernah meminta untuk memiliki. Saya adalah peran utama yang hanya bisa terdiam saat semua tak termiliki. Termasuk tak memiliki dia cinta pertama saya. Saya cukuplah tahu diri. Menempatkan diri di barisan akhir untuk dapat sejenak menikmati wajahnya yang berada di barisan terbelakang dikala upacara bendera hari Senin memaksa. Mengagumi tanpa berbicara. Hanya dapat melihat dari kejauhan. Terlalu konyol bila disebutnya cinta. Merasakan rasanya sakit tanpa berucap. Mengharap memiliki tanpa berlari mengejar. Ya kini saya hanya bisa berdiri memandang langit yang tak lagi cerah. Di bawah langit hitam berhiaskan cahaya rembulan dan bintang yang mulai merajai malam. Delapan tahun dalam penantian. Delapan tahun pula saya berharap. Berharap bintang saya, saya ketemukan. Dan benar, memang saya ketemukan setelah melintasi samudra nan luas. Selesai. Kini benar-benar telah selesai. Mata itu, benar-benar tak mengingat saya. Hati itu, benar-benar tak memiliki rasa. Dia benar-benar melupakan saya. Allah Sang Maha Penulis Takdir telah mengisahkan, bahwa saya dan dia memang tak bisa bersama. Melewati takdir yang tengah saya dan dia rasakan. Terjebak diantara dua kisah yang hampir sama. Dia bersama dengan pasangannya dan saya juga. Kisah ini benar-benar terhenti setelah delapan tahun berada dalam garis abu-abu yang tak nyata. Garis yang memaksa saya tetap mencari bayangannya. Meskipun sudah delapan tahun menghilang. Bayangan yang tak pernah berubah. Bayangan yang saya harapkan menjadi milik saya. Dan kini, saya benar-benar harus melupakannya. Karna gaun itu sudah menanti untuk dipakai. Serta tangan ini sudah menanti untuk menggenggam tangan lain untuk merajut asa demi masa depan berlandaskan cinta dan kasih yang nyata. Bukan hanya maya. Bahasa takdir memang sangat menyulitkan. Seolah termiliki meskipun pada dasarnya memang tak akan pernah termiliki. Ya. Bahasa takdir juga yang menyadarkan saya kalau memang dia bukan milik saya. Dahulu maupun sekarang. Sepasang kaki yang saling berlawanan arah tak akan menemukan satu tujuan yang sama. Dan itu, bukan cinta.

Jumat, 04 April 2014

hanya kurang waktu atau memang kurang kerjaan

Hey. Dia adalah manusia paling w.o.w menurut saya. Dia adalah orang yang suka memperhatikan saya dari a sampai z. Dia komentar dgn berbagai cara. Mungkin bnar dia memperhatikan saya. Atau memang dia hanya kekurangan waktu dan mengomentari sya demi mengisi waktu saja. Atau memang dia benar-benar lelah. Hingga ia memilih untuk berbicara dan menjelekkan saya. Ya mungkin benar dia benci saya. Tapi, tak ada sedikitpun rasa benci untuk dia dari saya. Semoga ia segera dapatkan hidayah. Dan menyadari dalam diam ku ada sejuta bahasa doa indah yang tertuju atas kebaikannya.