Rabu, 20 Agustus 2014

Soal Menikah. (Baca: soal menikah titik!!!)


Malamku hening. Tak sebuah pesan singkat pun yang menghampiri handphone yang sudah seharian mati. Hanya mampu menyibukkan diri dnegan berbagai macam novel picisan yang sengaja ku beli di bazaar buku tadi sore. 
Bip bip. Sebuah pesan singkatpun akhirnya datang. Exited sekali. Berharap dari kekasih hati yang khawatir. Ternyata, dari teman lama yang sudah setahun lebih menghilang ditelan pekerjaan.

Janiez: Fianiiii! 
Fiani  : Ada apa sayang? 
Janiez: Bulan depan tanggal 22 aku married. kamu dateng gih?! inget! bawa pasangan!!!

Pesan itu terhenti dititik itu. Mau aku balas apa? ini bukan masalah tentang pasangan. Ini bukan karena aku terlalu sibuk hingga aku tidak yakin bisa datang. Tapi, ada hal yang lebih ku khawatirkan. Hati ku. 

Tiga tahun ini, selepas ku tangalkan seragam putih abu-abuku, sudah puluhan undangan pernikahan yang ku hadiri. Teman sekolah, teman kuliah, senior, junior di kampus, teman kenalan, kakak kelas dan banyak lagi. Sebenarnya sebelum ini tidak ada masalah dnegan undangan yang mampir untuk ku. bahkan aku bahagia. Memandangi ratu dan raja sehari di hias dengan bunga-bunga yang cantik di gebyok belakang pelaminan. Aku suka itu!

Terakhir aku menghadiri resepsi pernikahan adalah beberapa bulan yang lalu. Pernikahan teman SMK ku. terlihat rona bahagia yang menyelimuti wajah bahagia sepasang kekasih yang kini sudah halal dan sebenar-benarnya “memiliki”. Aku tersenyum dan ikut berbahagia atas pernikahan mereka. 

Wajah bahagia terlihat diwajah teman-teman ku yang menyempatkan waktu untuk menghadiri pernikahan Sofi. Inilah waktunya say hello kepada teman lama yang sudah lama menghilang bersama kegiatan dan pekerjaan yang menyita waktu. Ah, kebersamaan yang sudah terlupakan, akhirnya kini kembali dirasa. 

“Hey Fi. Apa kabar?” tanya Rani dengan tersenyum manis. Dia masih sama. Setia dengan jilbab yang rapi.

“Baik. Kamu?”

“Alhamdulillah baik.”

Sejengkal waktu yang terisi dengan basa basi antar teman lama.

Acara makan pun usai. Semua mata menatapku tajam. Aku hanya tersenyum menahan geli yang menyeruak. Dan saat sadar, itulah pandangan tajam khas, yang akan segera menghabisiku seketika.

“kapan nih Fiani nyusul sofi?” ungkap Adrian dengan nada candaan khas miliknya.

“Iya itu. Fiani kapan nyusul? Udah lama pacaran kok belum juga diresmiin. Belum berani ya?” ungkap sang mempelai wanita dengan candaan.

Aku tersenyum kaku mendengarkan semua pertanyaan tentang pernikahan yang tertuju kepada ku. Kapan aku menikah? Aku sudah lama berpacaran dengan Dhafi, trus kapan?

Suasana hening seketika.

Helaan nafas, ku tata rapi dan kuatkan hati untuk menjawab.

“Mohon doanya saja.” Ungkapku dengan tersenyum kaku.

“Loh, mas calon suami kok ngga diajak?” ungkap Adrian.

Aku makin kaku. “Dia kerja.” Ku akhiri dengan senyuman yang semakin kaku.

Inilah hal yang sangat aku benci ketika harus menghadiri sebuah acara resepsi pernikahan. “Kapan nyusul?” kapan-kapan. “Kapan mau diresmiin?” kapan-kapan juga!

Orang Indonesia terlalu kepo sama urusan orang lain. Orang Indonesia juga ngga peka dengan hati orang lain! Why? Cobalah kalian berada diposisiku. Pacaran sudah lama, lamaran juga sudah. Tapi, pernikahan masih berada diambang garis abu-abu. Aku sendiri tidak tahu kapan aku menikah! Ini sungguh menyakitkan bagiku.

Aku juga ingin seperti orang biasa! tak perlu berlama-lama menjalin hubungan. Aku juga ingin menikah! Apalagi dengan diriku dan Dhafi yang sudah 3 tahun lebih bersama. Aku juga ingin menikah! Aku ingin menikah!!!

Ada yang bahagia dengan garis abu-abu miliknya? Ada yang bahagia dengan ketidak pastian? Ada?... aku pun tak bahagia berada di garis abu-abu ini! cobalah untuk tak menyakiti hatiku dengan pertanyaan itu! Suatu saat nanti ketika aku benar-benar sudah akan menikah, toh akan aku kabari kabar gembira ini. tapi sekarang, jangan bicara mengenai pernikahan dengan ku! jangan lukai aku!

Menikah. Bukan perkara aku cinta kamu dan kamu cinta aku, KUA! Bukan pula mengenai rasa yang harus tersampaikan dan harus bersama. Bukan! Ini mengenai kedua belah pihak. Bukan hanya dua orang yang tengah di mabuk asmara! Ini mengenai dua keluarga yang akan menjadi satu. Bukan hanya aku dan dia saja. Tapi aku dengan orang tuamu, kamu dengan orang tua ku. itu yang belum ku dapatkan. Aku dan orang tua mu yang tak juga dapati titik temu.

Andai aku berani dan nekat, aku bisa saja menikah saat ini juga. Tanpa aku peduli dengan semua. Andai aku lebih berani dan nekat, aku bisa mengambil jalan pintas dengan menikmati hubungan suami-istri dengan mu, lalu kita menikah. Andai aku berani dan nekat. Sayangnya, aku tak cukup berani mengambil jalan pintas itu. Aku masih ingin melihatmu menjadi sarjana muda dan melihat rona bahagia di wajah kedua orang tuamu. Kebahagiaan yang berada diatas tangisanku.

Aku pun ingin menikah.

Seseorang pernah berkata kepadaku, beberapa tahun yang lalu. Mungkin 4 sampai 5 tahun yang lalu. “aku bisa saja menikahimu. Aku bisa saja memberimu nafkah dengan berkerja sebisa ku. Tanpa aku peduli dengan keberlanjutan pendidikan ku. Tapi, aku tidak mau membuat hidupmu sulit dengan adanya aku saat ini. Yang belum bisa memberimu apapun yang kamu butuhkan. Ada yang harus kita pikirkan, biaya pendidikan dan biaya kesehatan anak-anak kita kedepan tak sedikit. Aku mohon kamu sabar.” Ungkap lelaki itu kepadaku. Ya. Setiap aku mengingat perkataannya, hati ku hancur. Seberapa bodohnya aku saat itu. Memintanya menikahi ku bila aku sudah lulus SMK. Padahal saat itu dia hanyalah mahasiswa semester 4.

Sejak saat itu aku menunggunya. Namun sayangnya, disaat aku menunggunya, dia malah pergi untuk selamanya dengan kanker otak yang memaksanya pergi lebih cepat. Aku memakluminya. Mungkinkah yang sekarang juga ketakutan akan hidup dimasa depan?

Kebanyakan setiap pasangan yang sudah lama bersama ragu dalam melangkah. Mengambil keputusan untuk menikah bukanlah hal yang mudah. Terutama untuk laki-laki. Dimana saat ia menikahi seorang wanita, beban hidupnya bertambah. Dari yang biasanya bisa foya-foya, sekarang juga ikut nimbrung ngurusin harga beras. Dan memang uang adalah penyebab banyak pasangan tidak mampu melangkah maju. Terhenti digaris abu-abu. Seperti milikku.

“Allah akan membukakan pintu-pintu rezeki yang datangnya dari berbagai arah untuk mereka yang mau menikah.”

Bukankah itu sudah jelas? Mungkin bagiku itu sangat jelas, tapi dimata laki-laki? Mereka berorientasi dengan kenyataan dan berhitung-hitung. Menutup mata atas janji Allah yang begitu nyata. Rezeki 1 orang dengan rezeki 2 orang pasti berbeda jumlahnya.

Menikah bukan hanya mengenai restu yang harus didapat. Tapi, ada hal yang lebih dari itu. Keyakinan. Aku yakin dengan apa yang aku pilih. Dia! Hanya dia!! Namun, dia belum yakin dnegan ku. Dia masih takut untuk melangkah dengan ku yang notabene 5 bulan lebih muda darinya. Psikis kami terlihat berbeda. Dia lebih takut menghadapi kenyataan, sementara aku selalu menabrak apapun yang ada didepan ku. Aku menyukai tantangan, karena dengan tantangan, aku lebih kuat menghadapi dunia.   

 Sajak menikah dengan embel-embel cinta, tidak cukup! Aku harus belajar lebih realistis. Memandang dunia bukan hanya dari sudut pandang milikku. Aku harus belajar memandang dunia seperti sudut pandang Dhafi. Yang masih terkekang tak mampu melangkah. Tertahan oleh tangan kedua orang tuanya yang belum ikhlas melepaskan anak lelaki mereka.

Menikah bukan hanya sajak mengenai kasih, ada yang lebih dari itu. Restu! Karena itulah aku menunggu. Hingga restu itu terbit dari bibir kedua orang tuamu.

Teruntuk mereka yang sering menanyakan “kapan nyusul?” sebaiknya kalian belajar untuk peka. Ada beberapa hati yang tersakiti dengan kalimat itu. Biarkan waktu berjalan untuknya. Do’amu lah yang sebenarnya diharapkan. Bukan kalimat memojokkan yang kamu kira hanya candaan belaka. Sudah menikah, lalu pertanyaan berubah menjadi “kapan nih punya momongan?” setelah punya momongan, “kapan nih nambah?” sttttttttt!!!! Do’a mu lebih di harapkan!!! Lebih baikkan saat mendengar ada teman yang mendo’akan “semoga cepetan nyusul ya. Sabar.” Gitu kan lebih enak bukan???? Lagi pula, doo’a dalam diam itu cepat dikabulkan oleh Allah. Apa yang dapat kamu dustakan? Ya ya ya. I know what on your mind! Akupun sedang belajar.