Malamku hening. Tak sebuah
pesan singkat pun yang menghampiri handphone yang sudah seharian mati. Hanya
mampu menyibukkan diri dnegan berbagai macam novel picisan yang sengaja ku beli
di bazaar buku tadi sore.
Bip bip. Sebuah pesan singkatpun akhirnya datang.
Exited sekali. Berharap dari kekasih hati yang khawatir. Ternyata, dari teman
lama yang sudah setahun lebih menghilang ditelan pekerjaan.
Janiez: Fianiiii!
Fiani : Ada apa sayang?
Janiez: Bulan depan tanggal 22 aku married. kamu dateng gih?! inget! bawa pasangan!!!
Pesan itu terhenti dititik
itu. Mau aku balas apa? ini bukan masalah tentang pasangan. Ini bukan karena
aku terlalu sibuk hingga aku tidak yakin bisa datang. Tapi, ada hal yang lebih
ku khawatirkan. Hati ku.
Tiga tahun ini, selepas ku
tangalkan seragam putih abu-abuku, sudah puluhan undangan pernikahan yang ku
hadiri. Teman sekolah, teman kuliah, senior, junior di kampus, teman kenalan,
kakak kelas dan banyak lagi. Sebenarnya sebelum ini tidak ada masalah dnegan
undangan yang mampir untuk ku. bahkan aku bahagia. Memandangi ratu dan raja
sehari di hias dengan bunga-bunga yang cantik di gebyok belakang pelaminan. Aku
suka itu!
Terakhir aku menghadiri
resepsi pernikahan adalah beberapa bulan yang lalu. Pernikahan teman SMK ku.
terlihat rona bahagia yang menyelimuti wajah bahagia sepasang kekasih yang kini
sudah halal dan sebenar-benarnya “memiliki”. Aku tersenyum dan ikut berbahagia
atas pernikahan mereka.
Wajah bahagia terlihat
diwajah teman-teman ku yang menyempatkan waktu untuk menghadiri pernikahan
Sofi. Inilah waktunya say hello
kepada teman lama yang sudah lama menghilang bersama kegiatan dan pekerjaan
yang menyita waktu. Ah, kebersamaan yang sudah terlupakan, akhirnya kini
kembali dirasa.
“Hey Fi. Apa kabar?” tanya
Rani dengan tersenyum manis. Dia masih sama. Setia dengan jilbab yang rapi.
“Baik. Kamu?”
“Alhamdulillah baik.”
Sejengkal waktu yang terisi
dengan basa basi antar teman lama.
Acara makan pun usai. Semua
mata menatapku tajam. Aku hanya tersenyum menahan geli yang menyeruak. Dan saat
sadar, itulah pandangan tajam khas, yang akan segera menghabisiku seketika.
“kapan nih Fiani nyusul
sofi?” ungkap Adrian dengan nada candaan khas miliknya.
“Iya itu. Fiani kapan
nyusul? Udah lama pacaran kok belum juga diresmiin. Belum berani ya?” ungkap
sang mempelai wanita dengan candaan.
Aku tersenyum kaku
mendengarkan semua pertanyaan tentang pernikahan yang tertuju kepada ku. Kapan aku
menikah? Aku sudah lama berpacaran dengan Dhafi, trus kapan?
Suasana hening seketika.
Helaan nafas, ku tata rapi dan
kuatkan hati untuk menjawab.
“Mohon doanya saja.”
Ungkapku dengan tersenyum kaku.
“Loh, mas calon suami kok
ngga diajak?” ungkap Adrian.
Aku makin kaku. “Dia kerja.”
Ku akhiri dengan senyuman yang semakin kaku.
Inilah hal yang sangat aku
benci ketika harus menghadiri sebuah acara resepsi pernikahan. “Kapan nyusul?”
kapan-kapan. “Kapan mau diresmiin?” kapan-kapan juga!
Orang Indonesia terlalu kepo
sama urusan orang lain. Orang Indonesia juga ngga peka dengan hati orang lain!
Why? Cobalah kalian berada diposisiku. Pacaran sudah lama, lamaran juga sudah.
Tapi, pernikahan masih berada diambang garis abu-abu. Aku sendiri tidak tahu
kapan aku menikah! Ini sungguh menyakitkan bagiku.
Aku juga ingin seperti orang
biasa! tak perlu berlama-lama menjalin hubungan. Aku juga ingin menikah! Apalagi
dengan diriku dan Dhafi yang sudah 3 tahun lebih bersama. Aku juga ingin
menikah! Aku ingin menikah!!!
Ada yang bahagia dengan
garis abu-abu miliknya? Ada yang bahagia dengan ketidak pastian? Ada?... aku
pun tak bahagia berada di garis abu-abu ini! cobalah untuk tak menyakiti hatiku
dengan pertanyaan itu! Suatu saat nanti ketika aku benar-benar sudah akan
menikah, toh akan aku kabari kabar gembira ini. tapi sekarang, jangan bicara mengenai
pernikahan dengan ku! jangan lukai aku!
Menikah. Bukan perkara aku
cinta kamu dan kamu cinta aku, KUA! Bukan pula mengenai rasa yang harus
tersampaikan dan harus bersama. Bukan! Ini mengenai kedua belah pihak. Bukan
hanya dua orang yang tengah di mabuk asmara! Ini mengenai dua keluarga yang
akan menjadi satu. Bukan hanya aku dan dia saja. Tapi aku dengan orang tuamu,
kamu dengan orang tua ku. itu yang belum ku dapatkan. Aku dan orang tua mu yang
tak juga dapati titik temu.
Andai aku berani dan nekat,
aku bisa saja menikah saat ini juga. Tanpa aku peduli dengan semua. Andai aku
lebih berani dan nekat, aku bisa mengambil jalan pintas dengan menikmati
hubungan suami-istri dengan mu, lalu kita menikah. Andai aku berani dan nekat.
Sayangnya, aku tak cukup berani mengambil jalan pintas itu. Aku masih ingin
melihatmu menjadi sarjana muda dan melihat rona bahagia di wajah kedua orang
tuamu. Kebahagiaan yang berada diatas tangisanku.
Aku pun ingin menikah.
Seseorang pernah berkata
kepadaku, beberapa tahun yang lalu. Mungkin 4 sampai 5 tahun yang lalu. “aku
bisa saja menikahimu. Aku bisa saja memberimu nafkah dengan berkerja sebisa ku.
Tanpa aku peduli dengan keberlanjutan pendidikan ku. Tapi, aku tidak mau
membuat hidupmu sulit dengan adanya aku saat ini. Yang belum bisa memberimu
apapun yang kamu butuhkan. Ada yang harus kita pikirkan, biaya pendidikan dan
biaya kesehatan anak-anak kita kedepan tak sedikit. Aku mohon kamu sabar.”
Ungkap lelaki itu kepadaku. Ya. Setiap aku mengingat perkataannya, hati ku hancur.
Seberapa bodohnya aku saat itu. Memintanya menikahi ku bila aku sudah lulus
SMK. Padahal saat itu dia hanyalah mahasiswa semester 4.
Sejak saat itu aku
menunggunya. Namun sayangnya, disaat aku menunggunya, dia malah pergi untuk
selamanya dengan kanker otak yang memaksanya pergi lebih cepat. Aku
memakluminya. Mungkinkah yang sekarang juga ketakutan akan hidup dimasa depan?
Kebanyakan setiap pasangan
yang sudah lama bersama ragu dalam melangkah. Mengambil keputusan untuk menikah
bukanlah hal yang mudah. Terutama untuk laki-laki. Dimana saat ia menikahi
seorang wanita, beban hidupnya bertambah. Dari yang biasanya bisa foya-foya,
sekarang juga ikut nimbrung ngurusin harga beras. Dan memang uang adalah
penyebab banyak pasangan tidak mampu melangkah maju. Terhenti digaris abu-abu.
Seperti milikku.
“Allah akan membukakan
pintu-pintu rezeki yang datangnya dari berbagai arah untuk mereka yang mau
menikah.”
Bukankah itu sudah jelas?
Mungkin bagiku itu sangat jelas, tapi dimata laki-laki? Mereka berorientasi
dengan kenyataan dan berhitung-hitung. Menutup mata atas janji Allah yang
begitu nyata. Rezeki 1 orang dengan rezeki 2 orang pasti berbeda jumlahnya.
Menikah bukan hanya mengenai
restu yang harus didapat. Tapi, ada hal yang lebih dari itu. Keyakinan. Aku
yakin dengan apa yang aku pilih. Dia! Hanya dia!! Namun, dia belum yakin dnegan
ku. Dia masih takut untuk melangkah dengan ku yang notabene 5 bulan lebih muda
darinya. Psikis kami terlihat berbeda. Dia lebih takut menghadapi kenyataan,
sementara aku selalu menabrak apapun yang ada didepan ku. Aku menyukai
tantangan, karena dengan tantangan, aku lebih kuat menghadapi dunia.
Sajak menikah dengan embel-embel cinta, tidak
cukup! Aku harus belajar lebih realistis. Memandang dunia bukan hanya dari
sudut pandang milikku. Aku harus belajar memandang dunia seperti sudut pandang
Dhafi. Yang masih terkekang tak mampu melangkah. Tertahan oleh tangan kedua
orang tuanya yang belum ikhlas melepaskan anak lelaki mereka.
Menikah bukan hanya sajak
mengenai kasih, ada yang lebih dari itu. Restu! Karena itulah aku menunggu.
Hingga restu itu terbit dari bibir kedua orang tuamu.
Teruntuk mereka yang sering
menanyakan “kapan nyusul?” sebaiknya kalian belajar untuk peka. Ada beberapa
hati yang tersakiti dengan kalimat itu. Biarkan waktu berjalan untuknya. Do’amu
lah yang sebenarnya diharapkan. Bukan kalimat memojokkan yang kamu kira hanya
candaan belaka. Sudah menikah, lalu pertanyaan berubah menjadi “kapan nih punya
momongan?” setelah punya momongan, “kapan nih nambah?” sttttttttt!!!! Do’a mu
lebih di harapkan!!! Lebih baikkan saat mendengar ada teman yang mendo’akan
“semoga cepetan nyusul ya. Sabar.” Gitu kan lebih enak bukan???? Lagi pula,
doo’a dalam diam itu cepat dikabulkan oleh Allah. Apa yang dapat kamu dustakan?
Ya ya ya. I know what on your mind! Akupun
sedang belajar.