Mungkin ini terlalu mainstream. bukan hal yang mudah untuk meninggalkan masa lalu dengan seluruhnya hilang. Itu juga yang saya rasakan. Mencoba meninggalkan,namun sisa dari "meninggalkan" itu masih terasa semakin membuat saya sesak.
Andai saya punya alat untukk melupakan "cinta masa kecil" saya. Saya pasti sudah sangat bahagia saat ini. namun, bagaimanapun saya berusaha melupakan, semua berakhir sia-sia dengan menyisakan rasa yang makin membuat saya sesak.
1 tahun yang lalu, menemukannya di dunia maya. Iya. Dia. Dia yang sudah merebut hati saya ketika saya masih sangatlah belia. pertama kalinya bisa tersipu malu dengan makhluk yang di sebut dengan cowo. Entahlah kenapa saya bisa suka sama dia. tapi yang pasti, setiap pertemuan dengan kekaguman yang di pendam itu menyisakan rasa yang begitu sakit. Bahkan sakitnya melebihi rasanya jatuh dari motor.
Saya sebenarnya ngga ada maksud apa-apa dengan menghubunginya kembali. Meskipun saya tahu bahwa dia tidak akan mengingat siapa saya sebenarnya. Siapa juga yang bakalan ikhlas untuk mengingat anak SMP yang tak punya sedikitpun kelebihan di bandingkan teman sebayanya. Anak SMP yang setiap istirahat bergulat dengan buku-buku perpustakaan. Anak SMP yang tak punya sedikitpun waktu untuk sekedar bersenang-senang dengan teman sebayanya. Namun, ia disapa senyum oleh kakak kelasnya yang selalu dia tunggu. Sesuatu yang membuatnya tersenyum sepulang sekolah. Meskipun dia tak tahu pasti senyuman kakak kelasnya itu ditujukan untuk siapa.
Tak ada niat untuk memiliki. Tak ada sedikitpun rasa ingin memiliki meskipun saya mencintainya. Why? saya saat itu sudah cukup memiliki senyumannya ketika ia berpapasan sama saya. Selain itu, karena saya cukup sadar diri, cukup tahu diri dengan segala kekurangan saya bila dibandingkan dengan MayD yang saat itu berada disampingnya. Menangis selalu saya lakukan ketika pulang sekolah. Sengaja menjauhi teman saya saat pulang. ngga mau siapapu melihat saya menangis hanya karena cemburu. cukup absurd sekali saat itu.
Setelah dia "berhenti" dengan MAyd, sesuatu hal yang buruk terjadi kepada saya. Saya beneran di bully habis--habisan sama teman-teman MayD. Saya di bentak-bentak di muka umum tanpa saya tahu penyebabnya apa. "Gara-gara kamu aku hancur..." samar-samar saya mendengar hal itu. Bagaimana saya bisa menghancurkan "milik" orang lain? Sedangkan saya hanya diam dan memandang dari kejauhan? Bagaimana saya bisa memiliki miliknya, sedang saya sepatah berbicara dengan laki-laki itu saja saya tidak pernah? dan sejak saat itu, saya benar-benar belajar untuk semakin diam. Saya menyimpan semuanya sendiri. hingga detik ini. sampai tulisan ini saya buat. Betapa saya dulu menyukai 'mencintai' lelaki itu. Cinta yang entahnya dari mana. Cinta yang tak meminta.
Setelah dia hilang dan saya menemukannya kembali, semuanya berubah. Saya sudah dikhitbah oleh seorang lelaki yang sudah bersama saya hampir 3 tahun. Sednag kondisi dia, sudah dimiliki oleh wanita lain juga. Jadi, menemukannya merupakan sebuah bonus dari Allah. Allah mungkin sudah bosan dengan cara eyelan saya. Allah mungkin juga sudah bosan dengan cara saya menangis dengan menyebut nama 'buset'. Mungkin. Tapi, mungkin Allah memberikan waktu untuk saya untuk jujur. Jujur untuk sedikit membuka setiap apa yg saya simpan sendiri.
"maaf, kalau aku berusaha buat
mengingat sesuatu yg tdk kmu kenal. maaf juga kalau sikap ku kurang
sopan. tapi, aku hanya berusaha jujur dengan siapapun yang pernah aku
suka. ngga enak menyimpan sesuatu sampai lebih dr 8 tahun. sesuatu yang
tak ada gunanya memag. tapi, siapa tahu setelah jujur, ruang untuk orang
asing itu benar2 akan hilang dan ngga bakalan jadi bayang2 ku lagi.
skali lagi maaf." akhirnya saya mengirimkan pesan itu ke inbox FB nya. saya ngga peduli dengan segala yang dia akan lakukan selanjutnya. utnuk memutuskan mengirim itu saja saya sudah berantem sama hati saya.
dan selanjutnya saya ngga akan mengganggu dia lagi dengan mengingatkan dia dengan saya. Si buruk rupa. cukup. selesai. setidaknya hati saya cukup lega walaupun belum sepenuhnya. rasanya pengen ngomong langsung. tapi, ya sudahlah. saya rasa itu tak akan terjadi. siapa saya? saya ini bukan siapa-siapa, dan mungkin saya dulu hanya viguran saja dalam hidupnya.
Saya belajar jujur. Meski jujur itu sulit rasanya, tapi kalau kita punya niat dan memutuskan untuk melakukannya, ALLAH punya jutaan jalan untuk mewujudkannnya. Diwaktu yang tepat. :)