Rabu, 05 Februari 2014

dari UKSW ke STAIN SALATIGA

Mengingat beberapa bulan yang lalu, tepatnya sih 1 tahun yang lalu, saya bisa sangat bersyukur. Kenapa? 1 Tahun yang lalu saya diambang stress karena lingkungan tempat belajar saya terdahulu. Bukannya mau menjelek-jelekkan tempat saya menuntut ilmu, tapi ini kenyataannya. Suatu tempat yang bagus belum tentu memberikan atmosphere yang bagus pula buat peserta didiknya. Di bulan Januari 2013 silam saya mengatakan tujuan saya berikutnya kepada orang tua saya. "Pak, Aku sudah ndak tahan di UKSW. aku keluar ya?" ungkap saya kepada bapak saya.namun orang tua tidak menyetujui mengingat sudah hampir dua tahun saya mengenyam pendidikan di universitas tersebut. 
Kondisi kelas dan teman yang tidak membuat nyaman. Ketulusan tidak ada artinya. Sementara siapa yang eksis dia yang punya tempat. sementara saya yang biasa, di bully tidak ada habisnya. 
Saya mulai memaksakan diri untuk masuk ke kelas, mendengarkan dosen, tapi hasilnya sama! Saya semakin tidak nyaman. Kondisi ini membuat saya benar-benar frustasi. Hidup saya perlahan hancur. Termasuk percintaan saya. "Apa yang harus saya lakukan?" berulang kali pertanyaan itu saya pikirkan dan saya tanyakan kepada diri saya sendiri. ada dua kemungkinan. 1. saya paksakan dan hasilnya tidak memuaskan bahkan bisa saja membuat saya gangguan jiwa. 2. Berhenti dan mencari passion saya. dengan pemikiran matang-matang, saya memilih opsi kedua. berhenti dan mencari passion saya. Jadi guru ekonomi bukan keinginan saya. Tapi obsesi orang tua saya. 
Berat meninggalkan sahabat saya di UKSW yang sudah 1,5tahun menemani saya. ada Agustina Wicha, Imelda Makaruku dan Andri. Tapi apalah mau di buat, smeentara saya tidak ingin menyakiti diri saya sendiri. 
Beberapa bulan kemudian, saya tertarik dengan salah satu program studi yang baru di buka oleh STAIN SALATIGA. Pendidikan Guru Raudlatul Athfal (PGRA). Sebuah program studi yang di khususkan untuk mencetak guru bagi jenjang pendidikan prasekolah (PAUD). Akhirnya setelah berpikir panjang kedepan, saya mendaftarkan diri. melalui jalur Tes tertulis. Ada 2 program studi yang saya incar, Pendidikan Agama Islam dan PGRA. Tapi saya lebih condong ke PGRA. Kenapa? Saya suka anak kecil. Dunia dimana tak ada masalah berlarut-larut. 
Setelah tes dan dinyatakan di terima di PGRA, saya akhirnya mulai nyaman. Bahkan sangat nyaman dnegan kehidupan saya di PGRA. Teman-teman yang mengkondisikan kelas seperti keluarga, pokoknya atmosphere yang di timbulkan membuat saya betah. 
Tidak dapat di pungkiri, lingkungan tempat belajar menentukan prestasi seorang mahasiswa. Lingkungan yang berathmosphere baik, maka hasilnya baik. Begitu pula sebaliknya. Mungkin saya sedang di kasih kesaksisan yang nyata tentang pendidikan. Bagaimana seorang guru berpengaruh terhadap lingkungan anak didik. Pengalaman yang tidak ada bandingannya. 
Meski di STAIN saya nemu sahabat-sahabat gila saya, tapi saya tidak sedikitpun melupakan sahabat-sahabat saya di UKSW. Saya masih sering bertemu dengan Agustina Wicha dan Imelda untuk sekedar makan bersama. Komunikasipun saya pertahankan sebaik mungkin dengan tanya kabar mereka lewat twitter atau facebook. saya cukup terbantu dnegan sosial media. 
inilah hidup saya. Kadang harus berani bersikap ketika sangat-sangat tidka nyaman. Meskipun akan membuat beberapa hati sakit, namun harus lebih baik selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar