Senin, 31 Agustus 2015

3142mdpl (bagian 2)

....Suara yang belum terlalu ku kenali. Aku hanya tersenyum. Dan aku... Menemukan mu tengah terduduk bersama perempuan (mu). Patah. 
Sejak saat itu, aku patah. Tak banyak berharap bisa berjodoh dgn mu. 
Kamu laki-laki yang baik. Mencintai masalalu. Seperti dia yang pernah bersama ku 4tahun lamanya. Hanya 1 saran ku, jangan terlalu mencintai masalalu. Why? Karena itu bisa membuatmu jatuh dan kehilangan orang baru. Seperti dia yang kehilangan aku. Akhi, berbahagialah! Tak sedikit perempuan yang jatuh kagum atas mu. 
Akhi, terimakasih sudah hadir dalam hidup ku. Membawa jejak baru yang suatu saat nanti dapat ku ceritakan kepada Abdurrahman kalau ibunya pernah menemukan pendaki yang taat sholatnya.
Akhi, jujur, aku bahagia saat berhari-hari kamu tidak menghubungiku. Why? Disana rasaku lebih nyaman dan tidak berharap padamu. Terimakasih atas tawaran untuk nanjak berjama'ah. Tapi maaf, aku belum bisa. Alasan yang ku ungkapkan adalah alasan nyata. Tapi dibalik itu, ada alasan lain yang tak pernah bisa aku ungkapkan. Aku takut jatuh hati padamu....
Terimakasih 3142mdpl atas pertemuan manis, jatuh hati yang manis, kekecewaan yang pahit dan kenangan yang ada. 
Someday, saya ingin kembali ketempat yang sama. Bersama kisah yang berbeda. Kali itu, aku bersama mahram ku dan bahagia... Amin amin amin...

3142mdpl (bagian 1)

Berbulan aku sekarat dalam rasa cinta yang patah. Ah bukan. Bukan rasa cinta yang patah. Lebih tepatnya, rasa kagum yang patah. Jalur pendakian itu menjadi bukti nyata bahwa ada sepasang sayap yang terbang dan mati kagum atas hadirnya orang baru. Disana aku pertama kali mendapati tubuhmu senyata-nyatanya. Dapat tersentuh, namun ku urungkan. Alih-alih, menjaga mu. 
Dingin malam tak lagi terasa. Hanya peluh yang terus membasahi badan. Ditrack yang cukup sulit, ada semangatmu yang membuncah. Suaramu menggagalkan rasa kaki ku yang gemetaran payah. Disaat itu, aku yakin, kamu benar-benar ada dan tak lagi maya. Meskipun, aku tidak dapat menyentuhmu walau sesaat. 
Puluhan warna tenda terbangun tangguh dibawah ribuan bintang. Disana, ada hati yang tengah terkagum dengan dahsyatnya. Aku, lebih suka memandangi bulan yang masih begitu rendah singgasananya. Bertabur kerlip bintang yang ketara. Peluh belum juga berhenti menetes. Keributan terus berkeliling. Disana, aku mulai dapati wajahmu yang sesungguhnya. Wajah yang nyata. 
Kembali kepada keribaan Allah SWT dibawah bintang. Menyentuhkan ujung hidung dan kening untuk sejenak merasakan qualitytime bersama-Nya Yang Maha Mulia. Nafasku lebih tenang. Bersujud dalam khidmad yang tak pernah terasa lebih indah. Dan kamu datang, bersama letih yg terpancar dr wajahmu. Meminjam matras beserta sarung yang sengaja ku bawa sebagai alas sholat. Langkahmu menjauh dan aku mengamati setiap gerakan sholat mu. Aku semakin jatuh kagum atas keimanan mu. 
Dari tendamu, aku mendengar panggilan atas namaku. Entahlah itu dari siapa. Mungkin dari teman mu. 
Malam semakin larut. Tubuhmu mendekat pada api unggun yang sengaja dibuat untuk menghangatkan tubuh. Disana, kita benar-bernah berada pada jarak yang begitu dekat. Sesekali mata kita saling bertemu dan ada sapaan lembut yang terlukiskan oleh senyuman kecil. Dan aku menunduk. Demi menjaga mu. Sesekali tangan mu kau satukan untuk membunuh dingin yang merajai alam. Dan aku memperhatikan mu. Kamu... 
Dalam sepi malam, mata ku terjaga setelah beberapa jam aku tumbang dimakan alam. Air dingin begitu membuat syarafku sesaat kaku. Dalam sepi alam, aku bertanya pada Allah. Apakah kamu adalah jodohku? Dalam dingin malam, aku terdiam diluar tenda. Memandangi bintang-bintang yang begitu dekat dan sesekali menambatkan mataku pada tendamu yang berada tak jauh dari tempatku berada. Ada harapan yang muncul, aku ingin kamu bangun. Menemaniku. Tapi, sudahlah. Aku tidak ingin kita saling berbuat dosa. Jadi, aku berharap kamu bisa tidur dengan nyenyak. Dan terus, teralir dzikir dalam tepian malam. 
Subuh baru saja bergulir. Kewajibanpun sudah dilakukan. Langkah kaki ku kokoh kembali. Berjalan menuju puncak tertinggi 3142mdpl yang sudah menjaga ku semalaman. Disana, aku ingin kita bertemu. Ada semangat yang meluap karena mu. 
Lebih dari satu jam aku berjalan. Tidak. Tidak aku temukan dirimu disana. Lantas, ada rasa kecewa yang dalam. Sukses. Mood ku hancur lebur. 
Sekembalinya ke padang tenda, aku menemukanmu. 
Mood yg hancur, dan muka yang perih membuatku sadar. Ada seseorang yang sedari tadi mencoba mendekat namun terlihat ragu. Kamu. Aku acuh karena untuk membunuh rasa malu ku. Saat kamu benar-benar pamit, mood ku makin hancur. 
Terik matahari semakin menyengat. Hati yang mendadak hancur lebur, buatku tidak nyaman didalam rombongan. Akhirnya selepas berdoa, laju kaki ku ayuhkan lebih cepat. Ada air mata yang jatuh disana. Ya. Aku tidak ingin satu orangpun menyadari bahwa aku tengah patah. 
Saat sendiri, aku tahu, aku tak pernah sendiri. Ada Allah yang menjaga ku dalam kesendirian yang ada. Beberapa kali aku jatuh bingung atas track yang bercabang. Namun, selalu aku temukan jalan yang benar. Disana, ada seorang pendaki lain yang sendiri. Tubuhnya tegap dan mungkin aku yang ada didepannya, terlihat lebih bogel. Dari Solo. Dia menemani ku. Dan sungguh, aku sebenarnya lebih nyaman sendiri. Karena aku takut, disana ada syetan yang datang tak diundang. 
"Hey bu ustadzah, kok sendirian?" Suara itu menyapaku. 
Langkah ku mendadak ku hentikan. Meyakinkan kalau itu adalah suara mu...(bersambung)....