Selasa, 24 November 2015

Puisi : Kerinduan

Yaa akhi syauqillah
Dalam hening malam ku berdoa
Agar langkahmu disegerakan oleh-Nya
Agar langkahmu dimudahkan tuk bersama

Hening malam aku bersimpuh
Harapkan engkau dapat ku rengkuh
Dengan segala rasa patuh
Akan hanya untuk-Nya-lah aku bersungguh

Duhai hati yang tengah terjaga
Maafkanlah aku yang enggan mencoba
Datangimu secara nyata
Agar kau tahu hadirku adanya

Duhai engkau bidadara dunia
Parasmu sejuk disapa mata
Tapi aku tetap pada jalan yang sama
Memandangmu ketika kelak tlah bersama

Kau yang ada dijauh sana
Kala rinduku menyapa, akupun ingin berontak tuk lepaskannya
Kepada pemilik rindu yang sesungguhnya
Tapi aku akan tetap diam adanya
Hingga kau tak lagi jadi maya, menjadi nyata

Kau pemilik hati yang ada dijauh sana
Bila dadamu terasa sesak, berdoalah
Agar aku dikuatkan
Agar aku diberikan keyakinan lebih akan harapan tuk bersua
Bila masih terasa berat, maafkanlah
Rinduku lebih hebat dari pada yang kau tahu adanya

Yaa akhi syauqillah
Hening malam otakku bertawwaf pada singgasana
Akan hadirmu yang kini masih maya
Membawaku pada ruang sesak yang tak kunjung reda
Apakah kau rasakan hal yang sama?

Selasa, 17 November 2015

kepo sama ta'aruf aaah...

Assalamu’alaikum
Salam semangat dan salam ceria. Jangan lupa senyumnya. ^_^
Saya kali ini mau bahas mengenai ta’aruf. Siapa yang mau kepo? Mari kita bahas bersama. :D
menurut Wikipedia, ta’aruf adalah kegiatan bersilaturahmi, kalau pada masa ini kita bisa bilang berkenalan bertatap muka, atau main/bertamu kerumah seseorang dengan tujuan berkenalan dengan penghuninya. Namun pada masa ini ta’aruf biasa dikerucutkan dengan definisi perkenalan untuk mendapatkan jodoh.
 Ta’aruf itu yang gimana Ri? Belum jelas. Hehe saya masih minim ilmu ini. Tapi insyaAllah semoga jawaban saya ini bener. Ta’aruf itu masa perkenalan untuk dua orang yang sudah siap menikah. Siap menikah disini yaitu dia sudah siap menikah kapanpun meskipun dalam hitungan hari ataupun bulan. Yang pasti bukan hitungan tahun gih, nanti dikira kredit motor kalau ta'arufnya bertahun-tahun hehehe. singkatnya, ta’aruf itu untuk perkenalan akhwat dan ikhwan sebelum menikah. Dicatat ya, SUDAH SIAP MENIKAH.
Adakah tahapan-tahapannya? Iya. Ada. Mari disimak. Berikut ini adalah tahapan-tahapan dalam ta’aruf.
Pertukaran biodata
Dalam proses ta’aruf ikhwan dan akhwat diminta untuk menulis biodata dan akan diserahkan kepada mediator. Mediator ini akan memberikan biodata akhwat kepada ikhwan. Setelah pihak dari si ikhwan menyetujui untuk berkenalan dengan si akhwat, mediator akan memberikan biodata si ikhwan kepada akhwat. Biodata berisi info pribadi. Seperti saat kita melamar pekerjaan. Tapi ditambahi dengan konten visi misi pernikahan. Kalau cocok, lanjut!
Mempersiapkan informasi tentang pribadi dan keluarganya.
Tahapan ini lebih mengarah ke cari informasi sebanyak-banyaknya mengenai ikhwan/akhwt serta keluarganya seperti apa. Hal ini bisa di lakukan dengan bantuan informan. Hal ini bisa ditanyakan juga dari teman-teman, tetangga, atau siapapun yang sekiranya dapat memberikan info yang akurat nan netral mengenai akhwat/ikhwan tersebut. Kalau cocok, lanjut!
Perkenalan keluarga (silaturahmi)
Biasanya hal ini dilakukan oleh pihak ikhwan yang mendatangi rumah sang akhwat. Boleh membawa teman ataupun orang tua langsung bagi yg ikhwan. Bagi sang akhwat, harus didampingi mahramnya. Disini akan terjadi perkenalan lebih dalam. Dianjurkan untuk tidak ada kebohongan sedikitpun dan tidak boleh ada paksaan. Kalau dirasa cocok lagi, lanjutkan!
  Saling memahami (tafahum)
Tahapan ini yaitu kedua belah pihak saling memperkenalkan diri secara terperinci. Agar kedua pihak saling mengetahui apa kesukaan, apa yang tidak disukai, apa kebiasaannya, apakahjh kegemarannya dan masih banyak yang lainnya. Kalau lagi-lagi cocok dan bisa saling memahami, lanjutkan.
Khitbah
Alhamdulillah memasuki fase terakhir dari ta’aruf. Ciye ciye. Hehehe khitbah menurut Dr. Wahbah Az-Zuhaili, khitbah yaitu kegiatan untuk menampakkan keinginan menikah pada diri seseorang terhadap seorang wanita tertentu dengan memberitahu wanita yang dimaksud atau keluarganya (walinya).
Yang missed yaitu mengenai waktu ta’aruf. Waktu ta’aruf itu masih jadi perbincangan karena tidak ada patokannya. Namun dari beberapa literature yang pernah saya baca, ta’aruf maksimal dilakukan dalam waktu 12 pekan. Sebentar… sebentar… sebentar… jangan pada gelisah dulu! Jangan ada yang complain dulu gih! Ada juga yang mengatakan ta’aruf itu maksimal 6 bulan. Tapi sesuai keyakinan saja. kalau saya lebih memilih yang 3 bulan. Yang sudah pasti, saya sebutkan diatas, ta’aruf tidak bertahun-tahun. :D
Kenapa harus 12 pekan? apa tidak tergesa-gesa? Untuk saya, 12 pekan adalah waktu yang cukup untuk mengenali seseorang. 12x7 hari, coba itung aja jumlah hari yang kita gunakan untuk mengenali seseorang. Diwaktu sekian puluh hari itu, kita pasti udah puyeng "mau nanya apa lagi? Lha wong sudah ditanyakan semua". Didalam kurun waktu 84 hari itu kita bisa tahu semua hal yang pengen kita tahu. Diwaktu itu juga kita bisa istikharah sehebat-hebatnya sama Allah. Kalau memang cocok, lanjut ke khitbah lalu menikah. Kalau nggak cocok, kapanpun bisa mengundurkan diri.
Kenapa sih harus 12 pekan? Segerakanlah niat baik. Kalaupun 12 pekan itu gagal, hatinya nggak sakit-sakit bgt. Hehehe. Cukup itu saja untuk pertanyaan ngeyel. :P
Apakah ta'aruf selalu berhasil? Tidak. Banyak kok ta'aruf yg gagal. Khusnudzon aja. Belum jodohnya, mau diganti sama Allah dgn jodoh yang lebih baik. Tapi juga dicatat ya, ta'aruf boleh dibatalkan sekiranya ada alasan syar'i. Kalau nggak ada alasan syar'i untuk membatalkan, siap-siap kehilangan bidadari/bidadara dunia dan siap-siap galau.
Inti dari ta'aruf adalah perkenalan dgn tujuan pernikahan. Disana kita harus banyak-banyak berserah ke Allah. Apapun hasilnya, pasrah sama Allah. Ikhlas. Ikhlas memberi, ikhlas menerima dan melepaskan. Jangan baper sama yg dita'arufin ya. :D
Semoga tulisan kali ini bermanfaat gih. Bermanfaat bagi saya dan bermanfaat pula bagi yang sudah baca. Say no to pacaran, say yes to ta’auf. INGET!!!! Ta’aruf itu bagi yang sudah siap nikah, bukan yang belum siap nikah :D
Wassalamu’alaikum.

Salam hangat,
Riri

Jumat, 13 November 2015

Cek Ulang, pelajari ilmunya, dewasalah! menikahlah!

Assalamu’alaikum
Memasuki fase dewasa awal membuat saya lebih banyak mikir tentang tulisan yang akan saya post di blog pribadi saya ini. Ditunjang pula dengan beberapa teman yang rajin menanyakan “ada new post apa lagi Ri?”. Saya nggak bisa main-main lagi akhirnya dalam menulis. Setidaknya tulisan saya tidak akan 100% curhatan dan akan beralih ke “ada isinya”.
Kali ini saya akan membahas tentang pernikahan. Post ini saya buat karena banyak dari teman-teman saya yang bertanya tentang menikah dan kenapa ini kenapa itu. Saya bukan ahlinya, namun diminta untuk menjawab. Semoga saja jawaban saya ini benar.
Bismillahirrohmanirrohim.
“Kenapa orang menikah baru seumur jagung, pernikahannya sudah kandas?” tanya sahabat saya yang kebetulas sekarang bertempat tinggal di Magelang.
Pertanyaan yang benar-benar sulit untuk dijawab oleh seorang akhwat single yang belum pernah menikah.
Saya punya banyak teman dan mereka suka curhat dengan saya. Kebanyakan dari mereka sudah menikah, divorce/cerai, ditinggalkan suaminya, bahagia dengan pernikahan, ada juga beberapa yang masih menikmati kesendirian, ada pula yang sudah puyeng “jodoh mana jodoh?” dan masih banyak yang lainnya. Pertanyaan ini berkorelasi dengan kisah nyata beberapa teman yang kini telah divorce dengan suami/istrinya.
Setiap orang yang menikah, pasti memiliki impian yang membumbung tinggi untuk bisa menghabiskan usia bersama. Menemani saat lemah ataupun kuat. Menerima apa adanya dan saling menguatkan. Merekapun tidak ingin bercerai! Tapi apalah mau dikata, memang sudah tidak bisa dipertahankan.
 Menikah adalah sunnah Rasulullah. Bahkan Rasulullah melaknat mereka yang memiliki kemauan untuk tidak menikah atau membujang.
Kebanyakan dari mereka yang memutuskan menikah dan akhirnya divorce di tahun pertama hingga tahun kelima pernikahan alasannya adalah UDAH BEDA PRINSIP. (Prinisp apa? Kenapa dulu bisa bersama? Memutuskan menikah?) Ada alasan lain UDAH NGGAK COCOK. (What? Kalau dulunya cocok, kenapa sekarang bisa nggak cocok?)
Whatever with all reason yang mereka ungkapkan. Alasan yang ada mungkin hanya jadi tameng agar tidak disalahkan atas bubarnya pernikahan itu. Ok. Cerai memang tidak diharamkan. Tapi sangat di benci oleh Allah meskipun itu halal. (semoga kita kelak bisa mendapatkan pendamping hidup untuk pertama dan terakhir) aamiin.
Menurut saya, ada 2 alasan yang sudah pasti adanya. Dan menurut saya alasan ini tidak bisa disangkal oleh mereka. Bukan menghakimi. Hanya menarik hasil dari, mayoritas.
Yang pertama. Alasan menikah. Setiap orang pasti memiliki alasan tersendiri untuk menikah. Karena adanya rasa cinta, rasa nyaman, karena kepentok umur, dijodohin, dan masih banyak yang lainnya. Tapiiii, kebanyakan sih bilangnya “aku nikah karena aku cinta dia kok.” Kalau cinta, kok bubar jalan? Cinta yang terbungkus nafsu kali ya? hehehe please, jangan dibully. Kalau kamu cinta sama seseorang, yakinkanlah hatimu dulu, cinta tak akan pernah hilang sampai batasan apapun. Cinta tak akan mati. Cinta yang akan membuatmu bertahan untuk tetap hidup dengan mereka yang dahulunya diluar lingkaranmu dan kamu sedia setiap saat atas ke-absurd-an yang dia punya. Dan bila alasanmu menikah karena cinta, saya yakin, pernikahan Anda akan baik-baik saja. :D
Yang kedua. Kurangnya ilmu tentang pernikahan. Menikah tanpa ilmu pernikahan sama aja kayak lagi bikin nastar tapi bahan yang ada cuma terigu sama telor. Jadi nastar? Kagak! Udah tau hak dan kewajiban suami/istri? Udah tau hakikat pernikahan? Udah tahu cara bersikap? Biasanya yang minim ilmu pernikahan bakalan seenak jidat sendiri mempertahankan ego yang dibawa di kepala. Dan biasanya juga karena hal tersebut mereka dengan mudah mengatakan “Kita cerai”. Naudzubillahimin dzalik.
Mau diakui apa tidak, itulah jawaban dari mayoritas yang baru sebentar nikah, mereka cerai. Cinta yang salah dan minim ilmu yang akhirnya lalai dalam bersikap dan membuat mahligai yang mereka bangun, runtuh tak dapat diselamatkan.
Terus aku harus gimana biar nggak ikut-ikutan?
Pertama. Cek ulang. Apanya yang harus di cek ulang? Niatnya. Alasan menikah itu karena apa? Jadikanlah Ia sebagai satu-satunya alasan utnuk menikah. Untuk beribadah, menyempurnakan agama dan menjalankan sunnah dari Rasulullah. insyaAllah, pernikahan yang dilandasi oleh rasa cinta dan patuh kepada Allah, maka insyaAllah Allah akan selalu mendampingi dan selalu menjaga mahligai pernikahan itu.
Yang kedua. Pelajari ilmunya. Seperti yang saya tulis diatas tadi. Mau bikin nastar ya kudu ngerti resepnya dulu. Seperti itu dengan menikah. Pelajari dulu semua hal mengenai pernikahan dari a-z. sehingga kalau memang sudah siap nikah, sudah siap juga ilmunya. Jadi nggak kebanyakan terjadi trial error. Walaupun trial error itu pasti terjadi juga. Setidaknya meminimalisir. Kemana kita mencari ilmunya? Buku tentang pernikahan udah banyak. Beli aja! 15ribu juga udah kebeli bukunya. Ikut seminar pra-nikah dan banyak-banyak kepo sama mereka yang udah nikah.
Yang ketiga. Dewasalah! Kedewasaan antar suami istri itu perlu. Mengarungi bahtera pernikahan bukanlah hal yang mudah. Ada ombaknya, ada badainya, ada riaknya, ada arum jeramnya, ada tebingnya, ada batuannya, ada krikilnya, ada masalah yang akan datang silih berganti. Untuk menyelesaikannya, dituntut adanya kedewasaan dalam menyikapi setiap masalah yang ada. Kalau ada yang ngambek, ya ada yang menenangkan. Kalau ada yang marah, ya yang satu juga jangan marah, ngademin. Hadapi setiap masalah dengan dewasa yaitu dengan cara kalau ada masalah diselesaikan dgn musyawarah bersama.
Ukhti dan akhi sekalian yang disayangi Allah dengan sangat, menikah bukanlah hanya tentang menyatukan dua kepala untuk menjadi satu, bukan pula tentang always happy, apalagi hanya untuk bersama dan memperbarui status di KTP atau facebook. Menikah adalah ibadah. Disetiap ibadah, kita akan diuji oleh Allah sudah seberapa kuatkah kita. Jadi saat kita memutuskan untuk menikah, kita harus sudah siap untuk mengahadapi lika liku pernikahan bersama suami/istri kita kelak. Sudah siap dengan nafkah, sudah siap menjadi bapak/ibu, sudah siap dengan segala hal yang mungkin tak pernah kita bayangkan.
“wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya” HR. Bukhari (no. 5066), Muslim (no. 1402)
Pernikahan adalah hubungan antara ikhwan dan akhwat yang sangat suci dihadapan Allah. Menikahlah karena Allah, maka insyaAllah, Allahpun akan selalu menjaga pernikahan itu. Sebelum memutuskan menikah, usahakan untuk istikharah sekuat-kuatnya. Minta bantuan Allah dalam memutuskan. Gunakanlah cara yang islami/syar’I dalam memutuskan dan memilih calon pendamping hidup, ta’aruf, khitbah, akad, walimah. Jangan pacaran!
Sekian tulisan yang bisa saya tulis. Kalau ada hal-hal yang kurang berkenan, saya mohon maaf. Semoga tulisan saya ini tidak menghakimi dan memberikan manfaat bagi saya sediri maupun kita semua.
Duuh Riri jadi deg-deg-an kalau yang dibahas seserius ini. Hehe *usap kringet sambil benerin jilbab*. Udah dulu ya. see you at the next post.
Wassalamu’alaikum.

Salam hangat,
Riri