(Tulisan ini ditulis dibulan september 2015)
Jatuh cinta? Bagaimana rasanya? Entahlah bagaimana rasanya. Sampai detik ini belum merasakan apapun yang bersangkutan dengan cinta. Hanya kagum, kagum, dan kagum.
Saya takut untuk menyerahkan cinta saya. Saya takut terluka kembali. Meski saya sudah memaafkan semua kesalahan yang pernah saya lakukan dimasa silam. Dan tengah berjuang untuk berkhusnudzon akan masa depan.
Kesendirian memberikan kesempatan bagi saya untuk introspeksi diri dan lebih banyak mengenal ikhwan. Satu, dua, tiga ikhwan yang saya kenal memiliki pribadi yg menarik, dewasa, serta agama yang tangguh. Saya sempat berkhusnudzon dan berdoa kepada Allah semoga jodoh saya seperti mereka.
Usia saya memang bukan usia remaja. Setidaknya itu terasa sangat pekat saat memasuki ruangan perkuliahan dan di todong dengan "gimana? Mau nggak sama adikku?" Ungkap seorang kawan seperjuangan yang usia beliau sudah mapan. Saya hanya bisa tertawa. Seabsurd itukah hidup saya?
"Mbak, temennya suamiku lagi cari istri. Siapa tahu cocok. Mau aku kenalin?" Ungkap Faizah di sela kuliah. Jujur, saya merasa makin absurd dgn tawaran-tawaran seperti itu.
Dikost Adiba dan Oiph. Sudah lama saya menunggu di depan kost mereka. Akhirnya mereka datang. Baru saya berbasa basi lalu... "Temennya mas ku ada yang lagi cari istri. Kamu mau tak kenalin?" Ungkap Oiph. Kelabakan saya jawabnya. Dan sampai sekarang belum saya jawab tawaran itu.
Entahlah. Sudah berapa puluh tawaran yang mampir ke saya untuk berkenalan dengan ikhwan dari teman-teman saya. Terimakasih atas tawaran yang menggiurkan serta membuat saya mati malu. Tapi whatever with all, saya tahu, teman-teman saya sayang sama saya. Mereka tidak mau melihat saya sendirian. Aaaaah jadi terharu, love you all. *pelukinsatu2*
Siapa sih yang tidak ingin menikah? Adakah? Tentu saya sangat ingin menikah. Tapi, jodoh adalah rahasia Allah. Jadi saya menunggu saja. Memperbaiki semaksimalnya dan ceria kepada hari yang selalu berubah. :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar