Kadang dunia tak sebaik yang kamu kira. Bahkan terkadang dunia tak seburuk yang kamu bayangkan. Lakukan dan nikmati saja. Pelangi akan datang. Tuhan tak akan menciptakan sesuatu tanpa alasan. Mari bercerita bersama saya. Burung kecil yang lahir di hari ke 4 idul fitri. Selamat membaca gih...
Kamis, 25 September 2014
lebih dari yang terpikirkan. Allah Maha Keren!
Surat Ar-Rahman. Surat urutan ke 55 didalam Al-Qur’an terlantun merdu dibaca oleh Al-Aafaasee di handphone ku. Ya. Aku mencintai surat Ar-Rahman karena surat ini begitu menggugahku untuk selalu ingat dengan Allah yang selalu memberiku tanpa aku harus meminta. Ya. Allah Maha Keren kalau kata anak muda zaman sekarang. Allah Sang Maha Segalanya. Allah Yang mencintaiku tanpa sedikitpun syarat. Ya. Aku mulai mencintai Rabb ku dengan ikhlas.
Sebuah pesanpun bersandar di pelabuhan handpone ku.
Mbak Titi : pluk gon q bth gru brmint r? (pluk, ditempatku butuh guru, berminat atau nggak?)
Aku : boleh. :D syaratnya apa?
Mbak Titi : biasa. lamaran biasa.
Ambil? Tidak? Ambil? Tidak? Hati ku mendadak girang meskipun jujur aku belum merasa siap. Perkuliahan baru 2 semester ku jalani. Belum banyak ilmu yang ku punyai. “apalah salahnya untuk mencoba.” Ungkapku dalam hati.
Aku keluar dari kamar dengan wajah yang sedikit sempringah.
Aku : Bapak, aku ditawarin ngajar. Boleh ndak?
Bapak : Ya ngga papa to. Sekalian belajar. Asal kamu pinter bagi waktu saja.
Aku : iya pak.
Dan aku mulai memantapkan hatiku untuk menulis lamaran pekerjaan itu.
Keesokan harinya
Entah mengapa rasa ragu itu muncul dnegan tiba-tiba menyerang hatiku. Apa ya aku bisa ngajar? Apa aku harus menyelesaikan S1 ku dulu baru mengajar? Jadi guru? Apa ini keputusan yang baik? Ah sudahlah.
Awalnya aku ingin melamar tapi, melihat kondisiku yang tengah sakit, mana mungkin aku bisa. Hingga ku urungkan saja niatku untuk melamar sebagai tenaga pendidik di sebuah TK Islam di Salatiga ini. Lagi pula, siang nanti aku harus mengikuti tes akhir semester.
Bimbang sekali. Datang kekampus sudah seperti tengah datang ke penjara. Kali ini aku datang terlalu cepat. Al hasil harus menunggu teman-teman kurang lebih setengah jam. Ya sudahlah nikmati saja. Toh ini hanya sebentar.
Pengawas ujian terlihat nampak aneh dengan kelas PGRA ini. ya kelas yang memiliki mahasiswa sebanyak 37 mahasiswa, kali ini kurang dari 15 mahasiswa yang datang untuk mengikuti ujian akhir semester. Tak usah meributkan mengenai jumlah sedikit ini! kali ini hanya tanda tangan dan selesai. Tugas mandiri yang di berikan oleh dosen termuda kami sudah kami kirim via e-mail.
Mau apa? pulang? Dengan kondisi seperti ini? Salatiga kali ini semena-mena sekali! Ya. Semena-mena dengan hawa dinginnya yang dua hari ini menyergapku dalam-dalam.
Pulang dengan langkah goyah. Disebabkan oleh flu dan pilek yang datang tak diundang. Sakit di abgian pinggangku juga masihlah betah di tempatnya. Sudah berapa malam saya hanya terjaga didepan laptop sembari mengetik tugas yang datang semena-mena.
Keesokan harinya.
Terjaga setelah tidur lebih awal itu lebih menyiksa. Batuk menjadi lebih berat. Ah sudahlah. Terdiam sembari memainkan amplop coklat yang didalamnya berisi lamaran pekerjaan, foto dan daftar riwayat hidup. Entah mengapa rasa itu hadir kembali. Rasanya ingin mengabdikan ilmu ini untuk mereka. Siswa-siswa mungil yang masih dalam tahapan golden age. Huh. Apa yang harus ku perbuat. Berulang kali menghela nafas tak juga membuatku sedikit nyaman.
Pagi ini lebih cepat. Ya cepat sekali. Hingga muka ku yang sembab akibat belum tidur semalaman pun terlihat jelas ketika menempatkan diri di depan cermin. Ah wajah itu membuatku risih.
Mempersiapkan sebuah rok hitam, batik berwarna hijau dan sebuah jilbab segi empat berwarna hijau tua. Huuuh ku hela nafasku dalam-dalam. Mungkin ini sudah waktunya untuk ku mengabdi.
Dadaku tak juga berhenti berdebar dengan hebatnya. Menyusuri jalanan kota Salatiga yang mulai di kuasai oleh adik-adik berseragam warna-warni yang duduk di depan ayah ibunya. Ahhh aku akan segera meninggalkan jabatanku sebagai pengangguran di pagi hingga siang hari. Huuuh selamat datang untuk waktu istirahatku yang semakin berkurang.
Laju sepeda motorku terhenti di sebuah komplek Madrasah Ibtidaiyah. Ku hela nafas ku semakin dalam. Apa ini keputusan yang benar? Ah sungguh membingungkan.
Ku terdiam di atas motorku untuk menenangkan hati yang tengah gusar. Beberapa pasang mata menelanjangiku dalam-dalam. Barisan ibu-ibu muda yang mengantarkan anak-anak mereka untuk menjadi murid di sebuah taman kanak-kanak sederhana ini. Ah. Malu sekali.
Terlihat sibuk seorang wanita dengan seragam khas milik beliau. Menyapu dan menyalami anak-anak dengan begitu cerianya. Senyumannya begitu menenangkan meskipun kali ini terlihat menakutkan untuk ku. Beliau menyapu teras kelas dengan begitu telatennya. Sesekali ia berbicara dengan wali murid yang mulai bertambah banyak. “Aku pasti bisa.”
Kepala sekolah : oh adiknya bu Titi. Ada apa ya?
Ungkap beliau dengan ramahnya dan juga senyuman yang kali ini membuat ku mati kaku.
Aku : ini bu saya mau melamar disini untuk jadi guru.
Kepala sekolah : oh iya. Sebenatr ya mbak.
Akhirnya ku dipersilahkan untuk masuk ke sebuah sekolahan yang memiliki ruangan yang disekat. Untuk TK kecil dan TK besar. Ya. Terakhir kali aku kemari tak seperti ini. Ada kelas baru di samping. “pantas saja membutuhkan guru.” Pikirku dalam-dalam.
Kepala sekolah : ya begini mbak. Disini itu istilahnya kita beribadah. Apa mbak ini ndak apa-apa?
Kau : iya bu ndak apa-apa. niat saya juga ibadah.
Kepala sekolah : tentunya kami tidak bisa memberikan gaji yang banyak. Sudah tahu kan berapa gajinya dari Bu Titi?
Aku : iya bu, saya sudah tahu.
“Kepala sekolah : tapi mbaknya ini PGMI kan?
Aku : bukan bu. Saya dari PGRA.
Kepala sekolah : oh ya Alhamdulillah kalau begitu. Ini lamarannya akan kami pertimbangkan.
Selepas itu aku menikmati suguhan indah yang sudah di kirimkan oleh Allah Sang Maha Segalanya. Wajah-wajah innocent yang selalu membuatku melemparkan senyuman hangat untuk anak-anak yang hangat ini. ya. Itulah mengapa aku menyukai anak kecil (bukan menyukai layaknya ke lawan jenis! CATAT ITU!!!). wajah-wajah itulah yang akan segera mengajariku. Mengajariku setiap berharganya sebuah rasa. Rasa sayang yang tanpa pamrih. Rasa sayang yang tak harus berhubungan darah. Rasa sayang tanpa embel-embel seberapa uang yang ada di depositomu.
Seorang gadis kecil datang padaku dan menjabat tangan ku. wajahnya sedikit cubby.
Anak itu : bu guru, kok aku ndak ada ya di foto ini? (sembari mengarahkan telunjuknya kea rah foto yang berfigura hitam yang tergeletak di atas kardus).
Dadaku berdetak dnegan begtu cepatnya. Apa aku sedang bermimpi? Bu guru? Panggilan yang sudah 13 tahun ku sematkan untuk mereka bidadari-bidadari tak bersayap. Yang menemaniku tanpa rasa terpaksa. Mengantarkan ku ke gerbang dunia yang begitu nyata. Apa aku pantas mendapatkannya? Hati ku gusar. Air mata tiba-tiba jatuh tak terbendung.
Aku : (jawaban apa yang harus aku berikan?) kamu TK besar atau tK kecil? (ini sesungguhnya demi mengalihkan perhatian anak itu saja).
Anak itu : TK besar.
Lalu anak itu bermain kembali dengan bebasnya bersama teman-teman sejawatnya. Ya. Wajah-wajah itulah yang akan menghiasi hari-hariku kedepannya. Wajah-wajah manis tanpa beban berat yang harus dipikul dalam-dalam.
Selepas itu aku mengawasi dari luar kelas. Jujur aku bingung aku harus bagaimana. Didalam atau diluar. Ah membingungkan. Sedangkan tugasku untuk belajar demi tes saja belum juga bisa ku lakukan. Aduh bingung.
Cara mengajarnya tak jauh berbeda dengan cara mengajar yang di praktekkan oleh teman sejawatku yang sudah mengajar. Ya. Aku mulai yakin kalau aku bisa. Disini aku ingin mengabdi. Disini aku ingin belajar dan disini aku ingin mendapatkan pengalaman secara langsung. Bukan hanya berceloteh mengenai teori yang ku dapatkan di kelas yang selalu dibumbui dengan diskusi yang terasa belum nyata.
Jujur, aku tidak sedikitpun mempersoalkan gaji. Pengalaman menurutku adalah hal yang paling mahal yang bisa aku dapatkan lebih dari gaji yang setiap bulannya akan ku terima. I want be hero without merit token. Seperti halnya mimpi ku. aku ingin mengabdi bukan mengenai uang. Aku ingin berdedikasi demi anak-anak bangsa yang nantinya menjadi lebih dari aku. ya tunas-tunas bangsa yang akan menggantikan ku. tunas-tunas bangsa yang akan menjadikan bangsa dan Negara lebih baik. Tunas-tunas bangsa yang akan membawa agama ku lebih baik. Ya. Disana sebenarnya harapan ku tertuju. Di pundak-pundak kecil yang esok akan menjadi garuda yang begitu gagah menantang dunia dnegan segala kehebatan yang mereka miliki.
Allah memang benar-benar mencintaiku tanpa syarat. Didalam keraguan yang terselip manispun Allah membawa kepastian. Ya. Aku diterima di sekolahan itu. Ya. Kini aku benar-benar menjadi seorang guru. Guru TK kecil. Yang harus ku hadapi adalah barisan anak-anak berusia 4 hingga lima tahun. Tentunya aku bukan guru utama. Aku guru pendamping. Sungguh leganya. Inilah langkah awalku mengenal dunia yang sebenarnya.
Lalu nikmat apa lagi yang dapat aku dustakan? Tidak ada. Ini jauh lebih baik dari pada yang ku bayangkan. Allah Maha Keren :’)
Rabu, 24 September 2014
sudut pandang orang lain
Dari pulang mengajar, aku sudah hilang akal. Jadwalku hancur seketika. Nilai ku belum juga bisa keluar. Padahal isi KRS sudah di mulai. Mencoba untuk mengisi kartu rencana study, ada gangguan. Aku sudah membayar, namun di system akademik di tulis aku belum membayar. Akhirnya harus mengurus dulu di akademik.
Bak anak yang kehilangan ibunya. Aku berjalan seperti orang yang pertama kalinya menginjakkan kaki-kaki ku ke kampus I. melihat kesana kemari demi mendapatkan satu teman yang aku do’akan bernasip sama dengan ku.
“Hey Fiani….” Suara seorang mahasiswa berwajah lebih muda satu tahun dariku memanggilku.
Aku mendatanginya. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, aku mendapati kenyataan bahwa KRS miliknya bisa di akses. Makin kalutlah otakku.
Diajaknya aku kesebuah tempat yang baru pertama kalinya dalam sejarah hidup ku dan selama kuliah di sekolah tinggi ini yang menurut ku angker. Hanya berisi orang-orang yang terlalu menyibukkan diri mereka dengan berbagai rutinitas kegiatan intra kampus yang tak jarang mereka merelakan untuk alfa ketika kegiatan intra kampus dimulai. Dan kali ini, aku menginjakkan kedua kaki ku ditengah-tengah mereka.
Waktu secepat kilat berlalu. Akses sebisa mungkin meskipun laptop milik orang di serobot demi mendapatkan waktu untuk sekedar memberi tanda centang () di beberapa matakuliah yang disediakan disemester 3 ini.
Mari mengurus masalah milikku di akademik! Sebelum siang menjelang!
Setelah bergulat dengan bagian akademik untuk meyakinkan bahwa slip pembayaran ku sudah ku kumpulkan, akhirnya! Krs ku dapat diakses. Dan kemudian terselip kekecewaan yang menambah berat kepala ku. Nilai ku di semester 2 belum seutuhnya diberikan oleh dosen ku. Ada 5-6 matakuliah yang nilainya belum keluar. Dan imbasnya adalah, beban maksimal sks ku skak mat diangka 14sks.
Dengan wajah kecewa, aku dan Ajeng berjalan menuju aula kampus 1. Memandangi wajah maba yang mulai berseliweran demi mendapatkan kesempatan pertama untuk mendaftarkan diri di acara OPAK atau mungkin kalau di kampus lain lebih di kenal dengan OMB (orientasi Mahasiswa Baru).
“Wah jadi inget satu tahun yang lalu aku. di temenin sama Dhafi.” Ungkapku sembari tersenyum.
“Kok mereka masih kecil-kecil gitu ya Fi?” ungkap Ajeng nyeletuk khas miliknya.
“Stttt satu tahun yang lalu kamu juga kek gitu Jeng!” ungkapku.
Dia hanya tersenyum.
Entah dari mana asalnya, pembicaraan mulai mengarah kepada seorang mahasiswa progdi lain yang aku dan Ajeng kenal. Ngrundeli. Sebenarnya aku tak sedikitpun membicarakan hal buruk mengenai si X (nama disamarkan). Tapi, tiba-tiba Ajeng membuatku tersentak dan membuatku kaget bukan kepalang.
“Aku sebenarnya nyaman kalo ngomong sama Mbak Mellya. Tapi, ada satu yang aku tidak suka darinya.” Ungkap Ajeng dengan begitu seriusnya.
“Apa?” kepo ku mulai datang.
“Mbak Mellya itu kalau sudah pacaran sama cowok itu… gimana ya. Dia itu Cuma mau sama cowok itu aja trus. ngga mau putus. Itu yang aku ngga suka!”
Aku terdiam kaget. Baru saja syarafku dipukul mati oleh Ajeng. Ini pemikiranku yang salah atau dia?
“bukannya kalau emang cinta gitu ya Jeng? Ngga mudah melepaskan?” aku bertanya dengan nada yang begitu menekankan. Aku cukup hafal dengan kisah Ajeng dan beberapa mantan kekasihnya.
Kisah Ajeng dan beberapa mantannya berakhir dnegan masalah yang sama. Saling menerima untuk terlepas tanpa ada rasa untuk mempertahankan.
“Sedikit. Tapi, kalau emang ngga cocok ngga usah di paksa kan?” ungkapnya kekeuh dneggan pendiriannya.
“Ya namanya hubungan Jeng. Ada diatas dan ada dibawah. Ngga selamanya bisa romantic-romantisan, ada saatnya harus mempertahankan dan sedih-sedihan.” Ungkapku.
“Buat apa pacaran kalau cuma satu yang mempertahankan?” dia memojokkan ku dengan pertanyaan yang sungguh benar-benar sulit ku jawab.
“Lalu, buat apa pacaran kalau mudah melepas saat ada masalah? Apakah itu bentuk kedewasaan?” ungkapku dengan nada sumbang.
Dia terdiam tak bisa menjawab.
“Masalah itu pasti ada Jeng. Kita ngga bisa dengan mudahnya melepaskan. Apa lagi hanya karena sejengkal masalah, hubungan yang terbangun selama bertahun-tahun bubar. Dewasa dalam berhubungan itu kalau ada masalah yaaa di musyawarahkan berdua. Cari solusi terbaik.”
“Tapi untuk kasus Mbak Mel ini beda!!!! Dia kekeuh sama Mas Rendi!” eyelnya.
“Coba deh kamu jadi Mbak Mellya. Masalalunya cukup hancur gara-gara laki-laki yang sering membuatnya jatuh hati lalu meninggalkan begitu saja. Mas Rendi? Setahuku, dia yang bisa mengimbangi Mbak Mellya dari segala aspek. Coba deh kamu memposisikan sebagai Mellya! Sudah 2 tahun bersama, ikhlas utnuk melepas?”
Ajeng mulai berpikir keras demi menggoyahkan apa yang ku katakan.
“Kalau satu masih mempertahankan, berarti masih ada harapan utnuk memperbaiki. Kenapa saat pendekatan dan memutuskan untuk bersama dengan cara baik-baik, lalu saat ada masalah ingin terlepas dengan tidak baik-baik?”
“Tapi kan kalo udah ngga cocok mending putus kan? Padahal si cowok udah ngga cinta-cinta amat.” Ungkapnya ketus.
“Ya ngga bisa gitu to Jeng. Rasa cinta itu seperti rupiah di mata dollar. Kadang menguat dan kadang melemah. Saat menguat, rasanya dunia milik sendiri. Tapi, saat melemah, terkadang pemikiran untuk selesai juga mampir. Sebenarnya itu ujian dalam berhubungan. Kuat atau lemahnya, kita sendiri yang buat.” Ungkapku.
Ajeng terdiam dari posisi duduknya. Terlihat ia tengah berpikir keras untuk membaantah setiap perkataan yang keluar dengan mudahnya dari mulutku.
“uwis. Aku ngaku kalah nak debat ro kowe.”
“Ini tu bukan debat jeng. Sharing. Kadang kita harus menggunakan sudut pandang orang lain dan itu bukan sudut pandang milik kita. Kita harus memeakai sudut pandang a, b, c sampai z. agar kita ngga mudah terpengaruh.” Ungkapku. diakhiri dengan senyuman yang ku ukir manis.
Dan kala pemmbicaraan mati terskakmat tanpa ada bahan utnuk menyangkal, akhirnya seorang penyelamat datang dengan sepeda motornya. Akupun pulang dengan calon suami ku.
hati seorang teman part 1
T: kasihan si U (menyebut nama), udah suka sama cewek bertahun-tahun tapi belum juga diterima. Padahal mereka deket. Parahnya lagi, si cewek malah udah punya cowok. Kasihan kan?
F: iya sih. Trus kenapa si U (menyebut nama) masih aja kekeuh nungguin si D (menyebut nama)?
T: katanya sih karena si U (menyebut nama) cinta banget sama si D (menyebut nama).
*sruput teh hangat tawar*
F: ya kalau si D (menyebut nama) nggak cinta sama si U ya udah dong, si U cari aja cewek yang lain. Yang lebih baik dan belum punya pasangan kan banyak? Simple kan?
T: nah ituuuu….
***
Segelintir percakapan yang berlangsung di tengah makan siang. Kami tengah membicarakan seorang sahabat yang kisah cintanya begitu rumit. Ya. Aku mengenal lelaki itu. Untuk ukuran seorang lelaki berusia 2 tahun diatas ku, dia cukup menarik. Berpenampilan casual dengan celana jeans dan jaket. Wajahnya tak begitu hancur, ya cukup untuk ukuran laki-laki. Bahkan membuatku iri bukan main. Kulitnya putih dan bersih. Aku kalah. *melambaikan tangan ke kamera*.
Begini awal ceritanya. (sotoy ini, tapi kayaknya emang gini). Si U kagum sama seorang mahasiswa satu angkatan dengannya. Mereka cuma beda progdi. Nah si U ini, lama-lama jadi suka dan jatuh cinta sama si D. mereka dekat dan mereka nggak jadian. Malahan si D ini jadian sama cowok lain. *sakitnya tuh di sini -nunjuk dada-*. Si U ya sakit hati lah. Tapi agak bodohnya, si U masih deket aja sama si D. mereka sering ketemuan di kampus. Si D emang sering minta bantuan si U buat bikinin tugas. Si U berpikiran kalo si D emang punya rasa sama si U. menurut si U, kondisi emang maksa mereka buat teman tapi rasa pacaran. Naaaaaah padahal itu mah namanya di gantungin. Nggak mati-mati malah batuk-batuk tuh di gantungan baju! Bertahun-tahun cuman kek baju yang digantungin di hanger. Bodohnya, si U nungguin aja tanpa mikir buat nyari cewek lain yang lebih baik dari pada si D. padahal di kampus banyak jomblo-jomblo bermartabat. Kasihan.
F: ngapain nggak cari cewek lain? Yang jomblo banyakkan?
U: pengennya sih aku juga nyari cewek lain tapiiii hatiku mentok di D.
F: trus sekarang mau apa?
U: nunggu D putus sama pacarnya. *nyengir kuda*.
Kambing deh ini anak. Aku rasa dia emang bener-bener udah dicuci otak sama si D. ampe segitunya. Padahal si D cuman PHP-in ni anak. Iya kalo si D bakalan putus sama cowoknya. Nah kalo si D sama cowoknya nikah? Apa nggak remuk seremuk-remuknya itu hati? Banyak orang yang begonya keterlaluan kek si U ini! banyak! Padahal udah jelas banget deh itu cewek cuman manfaatin si U ajah. Tapi masih aja di tungguin. *garuk-garuk tembok gara-gara kesel*. Kalo emang ada seseorang yang cinta sama kamu, dia nggak bakalan jadiin kamu selingan ataupun cadangan. Dia akan selalu menjadikanmu yang pertama dan dia tidak akan memberikan tempat bagi yang ketiga dan seterusnya di hatinya. Cinta itu hanya satu. *** Lagi makan siang. Lagi enaknya suap-suapan sama si Tino. Padahal cuman makan soto. Hahaha (lagi sok romantis). Diliatin sama orang juga terserah. Padahal seragam PGRI pun masih terlihat jelas melekat di tubuhku.
T: tuh yang kamu cariin!
F: (menengok kebelaknag dan ada si U). loh itu orang baru nongol. Ilang kemana aja coba? Berbulan-bulan kek di telan bumi.
U: Dan, lihat M nggak? Dia udah kesini? (clingak clinguk mencari seseorang).
F: (menyeruput teh hangat yang manis) kemana ajah? Baru nongol gitu. (salaman)
U: hehehe biasa.
Dan tiba-tiba, datang seorang perempuan berwajah bulat seperti ku. badannya tak begitu berbeda jauh dengan badanku. Tinggi tak sampai 155cm dan sedikit berlebihan lemak. Tapi, kelihatan anggun dengan jilbab biru muda miliknya. U dan M makanan. Dan acraa bisik-bisikan sama si T pun akhirnya dimulai kembali.
F: itu siapa ay? T: pacarnya si U.
F: nggak sama si D. trus kapan mereka jadian?
T: aku juga baru tahu setelah PPL. Si M sering di jemput sama si U.
F: ya syukurlah kalo gitu.
U dan M duduk disamping kami. ya karena si U, M dan Tino satu progdi dan satu angkatan, mereka ngobrol bareng dan aku nggak tahu apa yang mereka omongin. Nggak jauh-jauh dari PPL sih. Soalnya Tino sama si M 1 tempat PPL. Ngobrol sama mbaknya bikin gimana gitu. kelihatan dewasa. Ngejomplang deh kalo sama aku. (faktor angkatan dan belum kenal). Yaaaa dari gerak gerik mereka sih udah lama pacaran. Tapi, kapan? Trus kapan si U move on? Kok aku nggak tahu? kapan? Kapan? Kapan? Yaaaa aku dan Tino sih sama-sama berdo’a agar mereka bisa bener-bener jadi suami istri (entah kapan terjadinya). Tapi yakin deh, mereka cocok! Cocok banget malahan.
Usut punya usut, ternyata si U udah kagum sama si M dari semester 1. ciyeeee :P Tapi, si U takut buat nembak karena si M pendiam di kelas. (yes. chicken vegetables.) dan ternyata semester 6 atau 7 baru deh berani nembak dan mereka jadian. Selamat!!!!!! Kadang kita nggak harus tahu semua mengenai sahabat kita. Kita juga nggak usah terlalu kepo sama urusan orang. Biarkan mereka berjalan dijalan yang mereka inginkan. Kita cukup mendo’akan dalam diam. Bukankah Allah selalu mengijabah do’a-do’a dalam diam? Yang terucap tanpa di dengar oleh orang yang dido’akan? Cukuplah menunggu. Biarkan waktu berlalu dan mereka (sahabat-sahabat) datang dengan kabar gembira yang tak terduga. Selamat gih buat Mas U dan Mbak M. semoga langgeng dan cepetan nyusul. Ngeduluin nikah juga boleh kok :D
F: iya sih. Trus kenapa si U (menyebut nama) masih aja kekeuh nungguin si D (menyebut nama)?
T: katanya sih karena si U (menyebut nama) cinta banget sama si D (menyebut nama).
*sruput teh hangat tawar*
F: ya kalau si D (menyebut nama) nggak cinta sama si U ya udah dong, si U cari aja cewek yang lain. Yang lebih baik dan belum punya pasangan kan banyak? Simple kan?
T: nah ituuuu….
***
Segelintir percakapan yang berlangsung di tengah makan siang. Kami tengah membicarakan seorang sahabat yang kisah cintanya begitu rumit. Ya. Aku mengenal lelaki itu. Untuk ukuran seorang lelaki berusia 2 tahun diatas ku, dia cukup menarik. Berpenampilan casual dengan celana jeans dan jaket. Wajahnya tak begitu hancur, ya cukup untuk ukuran laki-laki. Bahkan membuatku iri bukan main. Kulitnya putih dan bersih. Aku kalah. *melambaikan tangan ke kamera*.
Begini awal ceritanya. (sotoy ini, tapi kayaknya emang gini). Si U kagum sama seorang mahasiswa satu angkatan dengannya. Mereka cuma beda progdi. Nah si U ini, lama-lama jadi suka dan jatuh cinta sama si D. mereka dekat dan mereka nggak jadian. Malahan si D ini jadian sama cowok lain. *sakitnya tuh di sini -nunjuk dada-*. Si U ya sakit hati lah. Tapi agak bodohnya, si U masih deket aja sama si D. mereka sering ketemuan di kampus. Si D emang sering minta bantuan si U buat bikinin tugas. Si U berpikiran kalo si D emang punya rasa sama si U. menurut si U, kondisi emang maksa mereka buat teman tapi rasa pacaran. Naaaaaah padahal itu mah namanya di gantungin. Nggak mati-mati malah batuk-batuk tuh di gantungan baju! Bertahun-tahun cuman kek baju yang digantungin di hanger. Bodohnya, si U nungguin aja tanpa mikir buat nyari cewek lain yang lebih baik dari pada si D. padahal di kampus banyak jomblo-jomblo bermartabat. Kasihan.
F: ngapain nggak cari cewek lain? Yang jomblo banyakkan?
U: pengennya sih aku juga nyari cewek lain tapiiii hatiku mentok di D.
F: trus sekarang mau apa?
U: nunggu D putus sama pacarnya. *nyengir kuda*.
Kambing deh ini anak. Aku rasa dia emang bener-bener udah dicuci otak sama si D. ampe segitunya. Padahal si D cuman PHP-in ni anak. Iya kalo si D bakalan putus sama cowoknya. Nah kalo si D sama cowoknya nikah? Apa nggak remuk seremuk-remuknya itu hati? Banyak orang yang begonya keterlaluan kek si U ini! banyak! Padahal udah jelas banget deh itu cewek cuman manfaatin si U ajah. Tapi masih aja di tungguin. *garuk-garuk tembok gara-gara kesel*. Kalo emang ada seseorang yang cinta sama kamu, dia nggak bakalan jadiin kamu selingan ataupun cadangan. Dia akan selalu menjadikanmu yang pertama dan dia tidak akan memberikan tempat bagi yang ketiga dan seterusnya di hatinya. Cinta itu hanya satu. *** Lagi makan siang. Lagi enaknya suap-suapan sama si Tino. Padahal cuman makan soto. Hahaha (lagi sok romantis). Diliatin sama orang juga terserah. Padahal seragam PGRI pun masih terlihat jelas melekat di tubuhku.
T: tuh yang kamu cariin!
F: (menengok kebelaknag dan ada si U). loh itu orang baru nongol. Ilang kemana aja coba? Berbulan-bulan kek di telan bumi.
U: Dan, lihat M nggak? Dia udah kesini? (clingak clinguk mencari seseorang).
F: (menyeruput teh hangat yang manis) kemana ajah? Baru nongol gitu. (salaman)
U: hehehe biasa.
Dan tiba-tiba, datang seorang perempuan berwajah bulat seperti ku. badannya tak begitu berbeda jauh dengan badanku. Tinggi tak sampai 155cm dan sedikit berlebihan lemak. Tapi, kelihatan anggun dengan jilbab biru muda miliknya. U dan M makanan. Dan acraa bisik-bisikan sama si T pun akhirnya dimulai kembali.
F: itu siapa ay? T: pacarnya si U.
F: nggak sama si D. trus kapan mereka jadian?
T: aku juga baru tahu setelah PPL. Si M sering di jemput sama si U.
F: ya syukurlah kalo gitu.
U dan M duduk disamping kami. ya karena si U, M dan Tino satu progdi dan satu angkatan, mereka ngobrol bareng dan aku nggak tahu apa yang mereka omongin. Nggak jauh-jauh dari PPL sih. Soalnya Tino sama si M 1 tempat PPL. Ngobrol sama mbaknya bikin gimana gitu. kelihatan dewasa. Ngejomplang deh kalo sama aku. (faktor angkatan dan belum kenal). Yaaaa dari gerak gerik mereka sih udah lama pacaran. Tapi, kapan? Trus kapan si U move on? Kok aku nggak tahu? kapan? Kapan? Kapan? Yaaaa aku dan Tino sih sama-sama berdo’a agar mereka bisa bener-bener jadi suami istri (entah kapan terjadinya). Tapi yakin deh, mereka cocok! Cocok banget malahan.
Usut punya usut, ternyata si U udah kagum sama si M dari semester 1. ciyeeee :P Tapi, si U takut buat nembak karena si M pendiam di kelas. (yes. chicken vegetables.) dan ternyata semester 6 atau 7 baru deh berani nembak dan mereka jadian. Selamat!!!!!! Kadang kita nggak harus tahu semua mengenai sahabat kita. Kita juga nggak usah terlalu kepo sama urusan orang. Biarkan mereka berjalan dijalan yang mereka inginkan. Kita cukup mendo’akan dalam diam. Bukankah Allah selalu mengijabah do’a-do’a dalam diam? Yang terucap tanpa di dengar oleh orang yang dido’akan? Cukuplah menunggu. Biarkan waktu berlalu dan mereka (sahabat-sahabat) datang dengan kabar gembira yang tak terduga. Selamat gih buat Mas U dan Mbak M. semoga langgeng dan cepetan nyusul. Ngeduluin nikah juga boleh kok :D
teruntuk ibu calon mertua saya
Begitu banyak hal yang membuat saya bertanya pada diri saya sendiri. Kenapa saya jadi seperti ini? Dan bla bla bla bla. Setiap melihat wajah itu di foto, saya hanya bisa diam. Lalu meneteslah air mata di pipi-pipi saya. Ada apa dengan saya?
Satu bulan, dua bulan. Mengumpulkan recehan sisa uang saku. Ada keinginan yang begitu besar dihati saya. Saya ingin membeli sesuatu demi beliau. Membahagiakan beliau sesuai kemampuan saya. Tidak mau ngoyo meskipun terkadang merelakan untuk tidak makan siang. Ya. Inilah pengorbanan saya.
Banyak hal yang ingin saya sampaikan kepada seorang wanita yang sudah mengandung Tino selama sembilan bulan sepuluh hari dan membesarkan Tino penuh akan kasih sampai detik ini. Terimakasih sudah menghadirkan Tino di dunia ini. Terimakasih sudah menjadikan Tino sebagai lelaki yang memiliki sikap kasih. Dan masih banyak terimakasih yang lainnya. Terimakasih pula sudah melahirkan Rahmanita yang begitu lucu dan manis. Pelepas dahaga saya ketika menghadapi dunia yang begitu kering. Ungkapan terimakasih tak akan pernah dapat membalas semua hal yang telah beliau lakukan.
Setiap orang bertanya kepada saya. Apakah saya sangat menyayangi beliau? Apa yang bisa saya ucapkan ketika semua kata tak bisa mengungkapkan seberapa sayang saya kepada beliau? Saya hanya diam. Saya diam karena saya sangat menyayangi beliau. Meskipun saya tidak pernah mengungkapkan, saya benar-benar menyayangi beliau. Hanya saja, saya hanya bisa diam.
Dari awal pertama melihat sosok seorang ibu yang tengah menyuapi putri kecilnya makan, membuat saya terdiam. Saat sekecil Rahma, saya tidak pernah disuapi Ibu saya. Saya makan sendiri dan semua saya lakukan sendiri. Tersisip rasa iri. Namun sudahlah. Itu hanya bagian dari masalalu saya. Melihat sosok Ibu di depan mata saya ini membuat hati saya bergetar. Apakah saya bisa menjadi bagian dari Ibu ini?
Lambat laun semua berubah. Layaknya puting beliung memporak porandakan setiap apa yang ia lintasi. Ibuknya Tino tidak menyetujui hubungan saya dengan Tino. Apa yang bisa saya perbuat? Tidak ada. Umpatan demi umpatan saya terima. Dari disamakan dengan pelacurlah, dengan apalah, sudah saya terima. Rasanya dunia saya benar-benar hancur. Hancur-sehancur-hancurnya. Terbesit keinginan untuk mengakhiri hubungan ini bila memang hubungan ini tidak direstui oleh beliau. Ya. Saya benar-benar pasrah. Mungkin ini ketakutan seorang Ibu saat melihat anak laki-lakinya sudah dekat dengan seorang wanita. Takut bahwa anak lelakinya akan melupakan Ibunya. Tapi saya berjanji, saya tidak akan pernah memisahkan anak dan ibu ini. Sudah cukup saya yg dipisahkan dgn ibu saya. Cukup saya!!!
Melihat kebahagiaan di tengah keluarga Tino itu membahagiakan. Mbak Dani benar-benar menikah dan saya di undang. Mau tidak mau saya harus masuk ke rumah Tino yang begitu banyak orang disana. Saya hanya diam dan tersenyum saat semua orang menyapa saya.
"Maaf ya kalau ucapan ku tidak berkenan dihati mu." Ungkap Ibuknya Tino.
Seketika rasa jengkel itu sirna secepat angin yang berhembus didepan wajah saya. Alhamdulillah saya bisa di terima. Walaupun saya tahu, belum seratus persen.
Satu, dua dan tiga. Ini adalah tahun ketiga saya mengenal Tino. Mengenal keluarga besarnya pula. Harapan saya makin besar, rasa sayang saya juga semakin besar untuk keluarga Tino yg sebentar lagi benar-benar akan jadi keluarga saya juga. Apalagi dengan keadaan kami sudah lamaran. Rasanya ingin mencurahkan rasa sayang saya ke Ibuknya Tino. Tapi saya ngga tahu dengan cara apa. Saya tidak tahu banyak soal Ibuknya Tino. Untuk mendekat selayaknya calon menantu dengan calon mertua rasanya berat. Saya takut di hujat kembali. Saya beneran takut!
Beberapa hari yang lalu saya melihat sekotak peralatan dapur milik teman saya. Bagus ya. "Saya pengen beliin ini buat Ibuk." Ungkap saya dalam hati. Berhari-hari dan sudah hampir satu bulan saya seperti anak SD yang ingin sekali membeli sepeda baru! Mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dari sebagian besar uang saku saya. Uang saku saya sehari sepuluh ribu. Saya berangkat kuliah 4 hari dalam 1 minggu. 40rb dalam 1 minggu. Itupun yang dua puluh ribu saya buat untuk mencicil tas yang saya beli dari teman saya. Setiap siang sebelum kuliah dimulai ada do'a yang tertuju kepada Allah dan juga perut saya. "Yaa Allah, berikanlah saya kekuatan untuk menahan lapar yang menyerang perut saya." Saya mengakali hal tersebut dengan membawa air minum dari rumah. Lumayan. Bisa jadi pengganjal perut.
Ini adalah bulan kedua saya "menabung" untuk Ibuk calon mertua saya. Ya. Keajaiban muncul begitu dahsyatnya. Target tiga bulan saya baru bisa beli apa yang saya ingin berikan kepada Ibu calon mertua saya, kelihatannya maju. Dengan tiba-tiba diberikan uang oleh bu lek saya, bapak saya dan itu sangat membantu saya. Uang saku saya 1 bulan juga di berikan oleh Ibuk saya. Rp. 250.000,00/bulan. Miris? Tidak! Rp. 100.000,00 saya masukkan ke celengan saya. Hanya dengan RP 150.000,00 saya harus berjuang selama satu bulan kedepan. Saya harus bisa!!!
Seperti apa yang di ungkapkan oleh Pak Sultoni, "minta sama Allah." Ya. Saya benar-benar minta sama Allah dan di permudah dalam segala perjuangan. Dapat uang dari berbagai arah yg tidak pernah saya duga. Allah akan memberikan apa yang hamba-Nya minta. Dengan catatan, hamba-Nya haruslah yakin dengan apa yang dia inginkan dapat terwujud dan ucapkan terimakasih kepada Allah meskipun apa yang kita minta belum terkabul. Ya saya mulai sangat percaya dengan semua itu. Allah akan membantu saya ketika saya minta dan tanpa saya memintapun Allah akan membantu saya. The power of pray. Gaung gaung suara itu masih terdengar begitu jelas di telinga saya di Kamis sore. Perkuliahan Ahlak Tasawuf.
Setelah mendapatkan uang, saya menghubungi Mbak Dewi untuk memberikan bantuan untuk membelikan apa yang saya inginkan. Tapi, sampai hari Selasa, 8 April 2014 mbak Dewi tidak dapat memberikan kabar pasti. Saya putar otak di Selasa malam(rencana B. Akan datang apabila rencana A gagal). Kemana saya akan mencari barang yang saya inginkan itu? Sementara kalau saya pesan sama Mbak Dewi bakalan memakan biaya yang banyak dan tentu saja waktu yang banyak. Saya tanya-tanya ke teman-teman saya. Dimana di Salatiga yang jual produk yang saya inginkan. Sebagian besar menunjukkan ke sebuah toko peralatan rumah tangga yang berada di tengah kota. tapi, siang hari Mbak Dewi mengabari bahwa barang yg saya inginkan ada. Dan sudah pesan. Yap. Alhamdulillah. Hari Kamis bakalan di kirim lewat pos. Semoga saja hari Jum'at saya bisa dapetin barang itu dan hari Minggu bisa kasih itu buat Ibuk camer saya.
Hmmm sayangnya hari Jum'at barangnya belum dateng. Baru aja dikirim. Uangnya juga baru saya kirim juga sih. Hehehehe insyaAllah Selasa udah nyampe. Amin amin amin. Berharap banget bisa cepetan dapet barangnya.
---
Ini sudah satu minggu saya nungguin seperangkat alat masak yang saya pesan. Belum juga datang. Menyebalkan sekali. Kenapa lama banget sih? Katanya dikirim pake paket kilat. Ini udah 1 minggu belum nyampe. Pengen cepet-cepet nyenengin Ibuknya Tino. Semoga besok barangnya bisa nyampe. Amiiiin :(
Teruntuk calon ibu mertua saya, ibuk tidak harus tahu bagaimana pengorbanan saya untuk membahagiakan Ibuk. Yang harus Ibuk tahu hanya satu. "Fitria sayang kalih Ibuk." Senyum Ibuknya Tino itu seperti charger yang bisa memberikan kekuatan lebih kepada saya. Hanya dengan melihat ke arah foto beliau saja, tersirat semangat yang luar biasa didalam hati saya untuk dapatkan sedikiiiiit saja ruang di hati beliau untuk saya. Ya inilah perjuangan saya. Jalan hidup yang saya ukir dengan rasa ingin membahagiakan semua orang yang ada disekitar saya.
Pengen peluk Ibuk... Fitria sayang kalih Ibuk.... :*
Langganan:
Komentar (Atom)