Kamis, 25 September 2014

lebih dari yang terpikirkan. Allah Maha Keren!

Surat Ar-Rahman. Surat urutan ke 55 didalam Al-Qur’an terlantun merdu dibaca oleh Al-Aafaasee di handphone ku. Ya. Aku mencintai surat Ar-Rahman karena surat ini begitu menggugahku untuk selalu ingat dengan Allah yang selalu memberiku tanpa aku harus meminta. Ya. Allah Maha Keren kalau kata anak muda zaman sekarang. Allah Sang Maha Segalanya. Allah Yang mencintaiku tanpa sedikitpun syarat. Ya. Aku mulai mencintai Rabb ku dengan ikhlas. Sebuah pesanpun bersandar di pelabuhan handpone ku. Mbak Titi : pluk gon q bth gru brmint r? (pluk, ditempatku butuh guru, berminat atau nggak?) Aku : boleh. :D syaratnya apa? Mbak Titi : biasa. lamaran biasa. Ambil? Tidak? Ambil? Tidak? Hati ku mendadak girang meskipun jujur aku belum merasa siap. Perkuliahan baru 2 semester ku jalani. Belum banyak ilmu yang ku punyai. “apalah salahnya untuk mencoba.” Ungkapku dalam hati. Aku keluar dari kamar dengan wajah yang sedikit sempringah. Aku : Bapak, aku ditawarin ngajar. Boleh ndak? Bapak : Ya ngga papa to. Sekalian belajar. Asal kamu pinter bagi waktu saja. Aku : iya pak. Dan aku mulai memantapkan hatiku untuk menulis lamaran pekerjaan itu. Keesokan harinya Entah mengapa rasa ragu itu muncul dnegan tiba-tiba menyerang hatiku. Apa ya aku bisa ngajar? Apa aku harus menyelesaikan S1 ku dulu baru mengajar? Jadi guru? Apa ini keputusan yang baik? Ah sudahlah. Awalnya aku ingin melamar tapi, melihat kondisiku yang tengah sakit, mana mungkin aku bisa. Hingga ku urungkan saja niatku untuk melamar sebagai tenaga pendidik di sebuah TK Islam di Salatiga ini. Lagi pula, siang nanti aku harus mengikuti tes akhir semester. Bimbang sekali. Datang kekampus sudah seperti tengah datang ke penjara. Kali ini aku datang terlalu cepat. Al hasil harus menunggu teman-teman kurang lebih setengah jam. Ya sudahlah nikmati saja. Toh ini hanya sebentar. Pengawas ujian terlihat nampak aneh dengan kelas PGRA ini. ya kelas yang memiliki mahasiswa sebanyak 37 mahasiswa, kali ini kurang dari 15 mahasiswa yang datang untuk mengikuti ujian akhir semester. Tak usah meributkan mengenai jumlah sedikit ini! kali ini hanya tanda tangan dan selesai. Tugas mandiri yang di berikan oleh dosen termuda kami sudah kami kirim via e-mail. Mau apa? pulang? Dengan kondisi seperti ini? Salatiga kali ini semena-mena sekali! Ya. Semena-mena dengan hawa dinginnya yang dua hari ini menyergapku dalam-dalam. Pulang dengan langkah goyah. Disebabkan oleh flu dan pilek yang datang tak diundang. Sakit di abgian pinggangku juga masihlah betah di tempatnya. Sudah berapa malam saya hanya terjaga didepan laptop sembari mengetik tugas yang datang semena-mena. Keesokan harinya. Terjaga setelah tidur lebih awal itu lebih menyiksa. Batuk menjadi lebih berat. Ah sudahlah. Terdiam sembari memainkan amplop coklat yang didalamnya berisi lamaran pekerjaan, foto dan daftar riwayat hidup. Entah mengapa rasa itu hadir kembali. Rasanya ingin mengabdikan ilmu ini untuk mereka. Siswa-siswa mungil yang masih dalam tahapan golden age. Huh. Apa yang harus ku perbuat. Berulang kali menghela nafas tak juga membuatku sedikit nyaman. Pagi ini lebih cepat. Ya cepat sekali. Hingga muka ku yang sembab akibat belum tidur semalaman pun terlihat jelas ketika menempatkan diri di depan cermin. Ah wajah itu membuatku risih. Mempersiapkan sebuah rok hitam, batik berwarna hijau dan sebuah jilbab segi empat berwarna hijau tua. Huuuh ku hela nafasku dalam-dalam. Mungkin ini sudah waktunya untuk ku mengabdi. Dadaku tak juga berhenti berdebar dengan hebatnya. Menyusuri jalanan kota Salatiga yang mulai di kuasai oleh adik-adik berseragam warna-warni yang duduk di depan ayah ibunya. Ahhh aku akan segera meninggalkan jabatanku sebagai pengangguran di pagi hingga siang hari. Huuuh selamat datang untuk waktu istirahatku yang semakin berkurang. Laju sepeda motorku terhenti di sebuah komplek Madrasah Ibtidaiyah. Ku hela nafas ku semakin dalam. Apa ini keputusan yang benar? Ah sungguh membingungkan. Ku terdiam di atas motorku untuk menenangkan hati yang tengah gusar. Beberapa pasang mata menelanjangiku dalam-dalam. Barisan ibu-ibu muda yang mengantarkan anak-anak mereka untuk menjadi murid di sebuah taman kanak-kanak sederhana ini. Ah. Malu sekali. Terlihat sibuk seorang wanita dengan seragam khas milik beliau. Menyapu dan menyalami anak-anak dengan begitu cerianya. Senyumannya begitu menenangkan meskipun kali ini terlihat menakutkan untuk ku. Beliau menyapu teras kelas dengan begitu telatennya. Sesekali ia berbicara dengan wali murid yang mulai bertambah banyak. “Aku pasti bisa.” Kepala sekolah : oh adiknya bu Titi. Ada apa ya? Ungkap beliau dengan ramahnya dan juga senyuman yang kali ini membuat ku mati kaku. Aku : ini bu saya mau melamar disini untuk jadi guru. Kepala sekolah : oh iya. Sebenatr ya mbak. Akhirnya ku dipersilahkan untuk masuk ke sebuah sekolahan yang memiliki ruangan yang disekat. Untuk TK kecil dan TK besar. Ya. Terakhir kali aku kemari tak seperti ini. Ada kelas baru di samping. “pantas saja membutuhkan guru.” Pikirku dalam-dalam. Kepala sekolah : ya begini mbak. Disini itu istilahnya kita beribadah. Apa mbak ini ndak apa-apa? Kau : iya bu ndak apa-apa. niat saya juga ibadah. Kepala sekolah : tentunya kami tidak bisa memberikan gaji yang banyak. Sudah tahu kan berapa gajinya dari Bu Titi? Aku : iya bu, saya sudah tahu. “Kepala sekolah : tapi mbaknya ini PGMI kan? Aku : bukan bu. Saya dari PGRA. Kepala sekolah : oh ya Alhamdulillah kalau begitu. Ini lamarannya akan kami pertimbangkan. Selepas itu aku menikmati suguhan indah yang sudah di kirimkan oleh Allah Sang Maha Segalanya. Wajah-wajah innocent yang selalu membuatku melemparkan senyuman hangat untuk anak-anak yang hangat ini. ya. Itulah mengapa aku menyukai anak kecil (bukan menyukai layaknya ke lawan jenis! CATAT ITU!!!). wajah-wajah itulah yang akan segera mengajariku. Mengajariku setiap berharganya sebuah rasa. Rasa sayang yang tanpa pamrih. Rasa sayang yang tak harus berhubungan darah. Rasa sayang tanpa embel-embel seberapa uang yang ada di depositomu. Seorang gadis kecil datang padaku dan menjabat tangan ku. wajahnya sedikit cubby. Anak itu : bu guru, kok aku ndak ada ya di foto ini? (sembari mengarahkan telunjuknya kea rah foto yang berfigura hitam yang tergeletak di atas kardus). Dadaku berdetak dnegan begtu cepatnya. Apa aku sedang bermimpi? Bu guru? Panggilan yang sudah 13 tahun ku sematkan untuk mereka bidadari-bidadari tak bersayap. Yang menemaniku tanpa rasa terpaksa. Mengantarkan ku ke gerbang dunia yang begitu nyata. Apa aku pantas mendapatkannya? Hati ku gusar. Air mata tiba-tiba jatuh tak terbendung. Aku : (jawaban apa yang harus aku berikan?) kamu TK besar atau tK kecil? (ini sesungguhnya demi mengalihkan perhatian anak itu saja). Anak itu : TK besar. Lalu anak itu bermain kembali dengan bebasnya bersama teman-teman sejawatnya. Ya. Wajah-wajah itulah yang akan menghiasi hari-hariku kedepannya. Wajah-wajah manis tanpa beban berat yang harus dipikul dalam-dalam. Selepas itu aku mengawasi dari luar kelas. Jujur aku bingung aku harus bagaimana. Didalam atau diluar. Ah membingungkan. Sedangkan tugasku untuk belajar demi tes saja belum juga bisa ku lakukan. Aduh bingung. Cara mengajarnya tak jauh berbeda dengan cara mengajar yang di praktekkan oleh teman sejawatku yang sudah mengajar. Ya. Aku mulai yakin kalau aku bisa. Disini aku ingin mengabdi. Disini aku ingin belajar dan disini aku ingin mendapatkan pengalaman secara langsung. Bukan hanya berceloteh mengenai teori yang ku dapatkan di kelas yang selalu dibumbui dengan diskusi yang terasa belum nyata. Jujur, aku tidak sedikitpun mempersoalkan gaji. Pengalaman menurutku adalah hal yang paling mahal yang bisa aku dapatkan lebih dari gaji yang setiap bulannya akan ku terima. I want be hero without merit token. Seperti halnya mimpi ku. aku ingin mengabdi bukan mengenai uang. Aku ingin berdedikasi demi anak-anak bangsa yang nantinya menjadi lebih dari aku. ya tunas-tunas bangsa yang akan menggantikan ku. tunas-tunas bangsa yang akan menjadikan bangsa dan Negara lebih baik. Tunas-tunas bangsa yang akan membawa agama ku lebih baik. Ya. Disana sebenarnya harapan ku tertuju. Di pundak-pundak kecil yang esok akan menjadi garuda yang begitu gagah menantang dunia dnegan segala kehebatan yang mereka miliki. Allah memang benar-benar mencintaiku tanpa syarat. Didalam keraguan yang terselip manispun Allah membawa kepastian. Ya. Aku diterima di sekolahan itu. Ya. Kini aku benar-benar menjadi seorang guru. Guru TK kecil. Yang harus ku hadapi adalah barisan anak-anak berusia 4 hingga lima tahun. Tentunya aku bukan guru utama. Aku guru pendamping. Sungguh leganya. Inilah langkah awalku mengenal dunia yang sebenarnya. Lalu nikmat apa lagi yang dapat aku dustakan? Tidak ada. Ini jauh lebih baik dari pada yang ku bayangkan. Allah Maha Keren :’)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar