Rabu, 24 September 2014

teruntuk ibu calon mertua saya

Begitu banyak hal yang membuat saya bertanya pada diri saya sendiri. Kenapa saya jadi seperti ini? Dan bla bla bla bla. Setiap melihat wajah itu di foto, saya hanya bisa diam. Lalu meneteslah air mata di pipi-pipi saya. Ada apa dengan saya? Satu bulan, dua bulan. Mengumpulkan recehan sisa uang saku. Ada keinginan yang begitu besar dihati saya. Saya ingin membeli sesuatu demi beliau. Membahagiakan beliau sesuai kemampuan saya. Tidak mau ngoyo meskipun terkadang merelakan untuk tidak makan siang. Ya. Inilah pengorbanan saya. Banyak hal yang ingin saya sampaikan kepada seorang wanita yang sudah mengandung Tino selama sembilan bulan sepuluh hari dan membesarkan Tino penuh akan kasih sampai detik ini. Terimakasih sudah menghadirkan Tino di dunia ini. Terimakasih sudah menjadikan Tino sebagai lelaki yang memiliki sikap kasih. Dan masih banyak terimakasih yang lainnya. Terimakasih pula sudah melahirkan Rahmanita yang begitu lucu dan manis. Pelepas dahaga saya ketika menghadapi dunia yang begitu kering. Ungkapan terimakasih tak akan pernah dapat membalas semua hal yang telah beliau lakukan. Setiap orang bertanya kepada saya. Apakah saya sangat menyayangi beliau? Apa yang bisa saya ucapkan ketika semua kata tak bisa mengungkapkan seberapa sayang saya kepada beliau? Saya hanya diam. Saya diam karena saya sangat menyayangi beliau. Meskipun saya tidak pernah mengungkapkan, saya benar-benar menyayangi beliau. Hanya saja, saya hanya bisa diam. Dari awal pertama melihat sosok seorang ibu yang tengah menyuapi putri kecilnya makan, membuat saya terdiam. Saat sekecil Rahma, saya tidak pernah disuapi Ibu saya. Saya makan sendiri dan semua saya lakukan sendiri. Tersisip rasa iri. Namun sudahlah. Itu hanya bagian dari masalalu saya. Melihat sosok Ibu di depan mata saya ini membuat hati saya bergetar. Apakah saya bisa menjadi bagian dari Ibu ini? Lambat laun semua berubah. Layaknya puting beliung memporak porandakan setiap apa yang ia lintasi. Ibuknya Tino tidak menyetujui hubungan saya dengan Tino. Apa yang bisa saya perbuat? Tidak ada. Umpatan demi umpatan saya terima. Dari disamakan dengan pelacurlah, dengan apalah, sudah saya terima. Rasanya dunia saya benar-benar hancur. Hancur-sehancur-hancurnya. Terbesit keinginan untuk mengakhiri hubungan ini bila memang hubungan ini tidak direstui oleh beliau. Ya. Saya benar-benar pasrah. Mungkin ini ketakutan seorang Ibu saat melihat anak laki-lakinya sudah dekat dengan seorang wanita. Takut bahwa anak lelakinya akan melupakan Ibunya. Tapi saya berjanji, saya tidak akan pernah memisahkan anak dan ibu ini. Sudah cukup saya yg dipisahkan dgn ibu saya. Cukup saya!!! Melihat kebahagiaan di tengah keluarga Tino itu membahagiakan. Mbak Dani benar-benar menikah dan saya di undang. Mau tidak mau saya harus masuk ke rumah Tino yang begitu banyak orang disana. Saya hanya diam dan tersenyum saat semua orang menyapa saya. "Maaf ya kalau ucapan ku tidak berkenan dihati mu." Ungkap Ibuknya Tino. Seketika rasa jengkel itu sirna secepat angin yang berhembus didepan wajah saya. Alhamdulillah saya bisa di terima. Walaupun saya tahu, belum seratus persen. Satu, dua dan tiga. Ini adalah tahun ketiga saya mengenal Tino. Mengenal keluarga besarnya pula. Harapan saya makin besar, rasa sayang saya juga semakin besar untuk keluarga Tino yg sebentar lagi benar-benar akan jadi keluarga saya juga. Apalagi dengan keadaan kami sudah lamaran. Rasanya ingin mencurahkan rasa sayang saya ke Ibuknya Tino. Tapi saya ngga tahu dengan cara apa. Saya tidak tahu banyak soal Ibuknya Tino. Untuk mendekat selayaknya calon menantu dengan calon mertua rasanya berat. Saya takut di hujat kembali. Saya beneran takut! Beberapa hari yang lalu saya melihat sekotak peralatan dapur milik teman saya. Bagus ya. "Saya pengen beliin ini buat Ibuk." Ungkap saya dalam hati. Berhari-hari dan sudah hampir satu bulan saya seperti anak SD yang ingin sekali membeli sepeda baru! Mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dari sebagian besar uang saku saya. Uang saku saya sehari sepuluh ribu. Saya berangkat kuliah 4 hari dalam 1 minggu. 40rb dalam 1 minggu. Itupun yang dua puluh ribu saya buat untuk mencicil tas yang saya beli dari teman saya. Setiap siang sebelum kuliah dimulai ada do'a yang tertuju kepada Allah dan juga perut saya. "Yaa Allah, berikanlah saya kekuatan untuk menahan lapar yang menyerang perut saya." Saya mengakali hal tersebut dengan membawa air minum dari rumah. Lumayan. Bisa jadi pengganjal perut. Ini adalah bulan kedua saya "menabung" untuk Ibuk calon mertua saya. Ya. Keajaiban muncul begitu dahsyatnya. Target tiga bulan saya baru bisa beli apa yang saya ingin berikan kepada Ibu calon mertua saya, kelihatannya maju. Dengan tiba-tiba diberikan uang oleh bu lek saya, bapak saya dan itu sangat membantu saya. Uang saku saya 1 bulan juga di berikan oleh Ibuk saya. Rp. 250.000,00/bulan. Miris? Tidak! Rp. 100.000,00 saya masukkan ke celengan saya. Hanya dengan RP 150.000,00 saya harus berjuang selama satu bulan kedepan. Saya harus bisa!!! Seperti apa yang di ungkapkan oleh Pak Sultoni, "minta sama Allah." Ya. Saya benar-benar minta sama Allah dan di permudah dalam segala perjuangan. Dapat uang dari berbagai arah yg tidak pernah saya duga. Allah akan memberikan apa yang hamba-Nya minta. Dengan catatan, hamba-Nya haruslah yakin dengan apa yang dia inginkan dapat terwujud dan ucapkan terimakasih kepada Allah meskipun apa yang kita minta belum terkabul. Ya saya mulai sangat percaya dengan semua itu. Allah akan membantu saya ketika saya minta dan tanpa saya memintapun Allah akan membantu saya. The power of pray. Gaung gaung suara itu masih terdengar begitu jelas di telinga saya di Kamis sore. Perkuliahan Ahlak Tasawuf. Setelah mendapatkan uang, saya menghubungi Mbak Dewi untuk memberikan bantuan untuk membelikan apa yang saya inginkan. Tapi, sampai hari Selasa, 8 April 2014 mbak Dewi tidak dapat memberikan kabar pasti. Saya putar otak di Selasa malam(rencana B. Akan datang apabila rencana A gagal). Kemana saya akan mencari barang yang saya inginkan itu? Sementara kalau saya pesan sama Mbak Dewi bakalan memakan biaya yang banyak dan tentu saja waktu yang banyak. Saya tanya-tanya ke teman-teman saya. Dimana di Salatiga yang jual produk yang saya inginkan. Sebagian besar menunjukkan ke sebuah toko peralatan rumah tangga yang berada di tengah kota. tapi, siang hari Mbak Dewi mengabari bahwa barang yg saya inginkan ada. Dan sudah pesan. Yap. Alhamdulillah. Hari Kamis bakalan di kirim lewat pos. Semoga saja hari Jum'at saya bisa dapetin barang itu dan hari Minggu bisa kasih itu buat Ibuk camer saya. Hmmm sayangnya hari Jum'at barangnya belum dateng. Baru aja dikirim. Uangnya juga baru saya kirim juga sih. Hehehehe insyaAllah Selasa udah nyampe. Amin amin amin. Berharap banget bisa cepetan dapet barangnya. --- Ini sudah satu minggu saya nungguin seperangkat alat masak yang saya pesan. Belum juga datang. Menyebalkan sekali. Kenapa lama banget sih? Katanya dikirim pake paket kilat. Ini udah 1 minggu belum nyampe. Pengen cepet-cepet nyenengin Ibuknya Tino. Semoga besok barangnya bisa nyampe. Amiiiin :( Teruntuk calon ibu mertua saya, ibuk tidak harus tahu bagaimana pengorbanan saya untuk membahagiakan Ibuk. Yang harus Ibuk tahu hanya satu. "Fitria sayang kalih Ibuk." Senyum Ibuknya Tino itu seperti charger yang bisa memberikan kekuatan lebih kepada saya. Hanya dengan melihat ke arah foto beliau saja, tersirat semangat yang luar biasa didalam hati saya untuk dapatkan sedikiiiiit saja ruang di hati beliau untuk saya. Ya inilah perjuangan saya. Jalan hidup yang saya ukir dengan rasa ingin membahagiakan semua orang yang ada disekitar saya. Pengen peluk Ibuk... Fitria sayang kalih Ibuk.... :*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar