Kadang dunia tak sebaik yang kamu kira. Bahkan terkadang dunia tak seburuk yang kamu bayangkan. Lakukan dan nikmati saja. Pelangi akan datang. Tuhan tak akan menciptakan sesuatu tanpa alasan. Mari bercerita bersama saya. Burung kecil yang lahir di hari ke 4 idul fitri. Selamat membaca gih...
Rabu, 24 September 2014
sudut pandang orang lain
Dari pulang mengajar, aku sudah hilang akal. Jadwalku hancur seketika. Nilai ku belum juga bisa keluar. Padahal isi KRS sudah di mulai. Mencoba untuk mengisi kartu rencana study, ada gangguan. Aku sudah membayar, namun di system akademik di tulis aku belum membayar. Akhirnya harus mengurus dulu di akademik.
Bak anak yang kehilangan ibunya. Aku berjalan seperti orang yang pertama kalinya menginjakkan kaki-kaki ku ke kampus I. melihat kesana kemari demi mendapatkan satu teman yang aku do’akan bernasip sama dengan ku.
“Hey Fiani….” Suara seorang mahasiswa berwajah lebih muda satu tahun dariku memanggilku.
Aku mendatanginya. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, aku mendapati kenyataan bahwa KRS miliknya bisa di akses. Makin kalutlah otakku.
Diajaknya aku kesebuah tempat yang baru pertama kalinya dalam sejarah hidup ku dan selama kuliah di sekolah tinggi ini yang menurut ku angker. Hanya berisi orang-orang yang terlalu menyibukkan diri mereka dengan berbagai rutinitas kegiatan intra kampus yang tak jarang mereka merelakan untuk alfa ketika kegiatan intra kampus dimulai. Dan kali ini, aku menginjakkan kedua kaki ku ditengah-tengah mereka.
Waktu secepat kilat berlalu. Akses sebisa mungkin meskipun laptop milik orang di serobot demi mendapatkan waktu untuk sekedar memberi tanda centang () di beberapa matakuliah yang disediakan disemester 3 ini.
Mari mengurus masalah milikku di akademik! Sebelum siang menjelang!
Setelah bergulat dengan bagian akademik untuk meyakinkan bahwa slip pembayaran ku sudah ku kumpulkan, akhirnya! Krs ku dapat diakses. Dan kemudian terselip kekecewaan yang menambah berat kepala ku. Nilai ku di semester 2 belum seutuhnya diberikan oleh dosen ku. Ada 5-6 matakuliah yang nilainya belum keluar. Dan imbasnya adalah, beban maksimal sks ku skak mat diangka 14sks.
Dengan wajah kecewa, aku dan Ajeng berjalan menuju aula kampus 1. Memandangi wajah maba yang mulai berseliweran demi mendapatkan kesempatan pertama untuk mendaftarkan diri di acara OPAK atau mungkin kalau di kampus lain lebih di kenal dengan OMB (orientasi Mahasiswa Baru).
“Wah jadi inget satu tahun yang lalu aku. di temenin sama Dhafi.” Ungkapku sembari tersenyum.
“Kok mereka masih kecil-kecil gitu ya Fi?” ungkap Ajeng nyeletuk khas miliknya.
“Stttt satu tahun yang lalu kamu juga kek gitu Jeng!” ungkapku.
Dia hanya tersenyum.
Entah dari mana asalnya, pembicaraan mulai mengarah kepada seorang mahasiswa progdi lain yang aku dan Ajeng kenal. Ngrundeli. Sebenarnya aku tak sedikitpun membicarakan hal buruk mengenai si X (nama disamarkan). Tapi, tiba-tiba Ajeng membuatku tersentak dan membuatku kaget bukan kepalang.
“Aku sebenarnya nyaman kalo ngomong sama Mbak Mellya. Tapi, ada satu yang aku tidak suka darinya.” Ungkap Ajeng dengan begitu seriusnya.
“Apa?” kepo ku mulai datang.
“Mbak Mellya itu kalau sudah pacaran sama cowok itu… gimana ya. Dia itu Cuma mau sama cowok itu aja trus. ngga mau putus. Itu yang aku ngga suka!”
Aku terdiam kaget. Baru saja syarafku dipukul mati oleh Ajeng. Ini pemikiranku yang salah atau dia?
“bukannya kalau emang cinta gitu ya Jeng? Ngga mudah melepaskan?” aku bertanya dengan nada yang begitu menekankan. Aku cukup hafal dengan kisah Ajeng dan beberapa mantan kekasihnya.
Kisah Ajeng dan beberapa mantannya berakhir dnegan masalah yang sama. Saling menerima untuk terlepas tanpa ada rasa untuk mempertahankan.
“Sedikit. Tapi, kalau emang ngga cocok ngga usah di paksa kan?” ungkapnya kekeuh dneggan pendiriannya.
“Ya namanya hubungan Jeng. Ada diatas dan ada dibawah. Ngga selamanya bisa romantic-romantisan, ada saatnya harus mempertahankan dan sedih-sedihan.” Ungkapku.
“Buat apa pacaran kalau cuma satu yang mempertahankan?” dia memojokkan ku dengan pertanyaan yang sungguh benar-benar sulit ku jawab.
“Lalu, buat apa pacaran kalau mudah melepas saat ada masalah? Apakah itu bentuk kedewasaan?” ungkapku dengan nada sumbang.
Dia terdiam tak bisa menjawab.
“Masalah itu pasti ada Jeng. Kita ngga bisa dengan mudahnya melepaskan. Apa lagi hanya karena sejengkal masalah, hubungan yang terbangun selama bertahun-tahun bubar. Dewasa dalam berhubungan itu kalau ada masalah yaaa di musyawarahkan berdua. Cari solusi terbaik.”
“Tapi untuk kasus Mbak Mel ini beda!!!! Dia kekeuh sama Mas Rendi!” eyelnya.
“Coba deh kamu jadi Mbak Mellya. Masalalunya cukup hancur gara-gara laki-laki yang sering membuatnya jatuh hati lalu meninggalkan begitu saja. Mas Rendi? Setahuku, dia yang bisa mengimbangi Mbak Mellya dari segala aspek. Coba deh kamu memposisikan sebagai Mellya! Sudah 2 tahun bersama, ikhlas utnuk melepas?”
Ajeng mulai berpikir keras demi menggoyahkan apa yang ku katakan.
“Kalau satu masih mempertahankan, berarti masih ada harapan utnuk memperbaiki. Kenapa saat pendekatan dan memutuskan untuk bersama dengan cara baik-baik, lalu saat ada masalah ingin terlepas dengan tidak baik-baik?”
“Tapi kan kalo udah ngga cocok mending putus kan? Padahal si cowok udah ngga cinta-cinta amat.” Ungkapnya ketus.
“Ya ngga bisa gitu to Jeng. Rasa cinta itu seperti rupiah di mata dollar. Kadang menguat dan kadang melemah. Saat menguat, rasanya dunia milik sendiri. Tapi, saat melemah, terkadang pemikiran untuk selesai juga mampir. Sebenarnya itu ujian dalam berhubungan. Kuat atau lemahnya, kita sendiri yang buat.” Ungkapku.
Ajeng terdiam dari posisi duduknya. Terlihat ia tengah berpikir keras untuk membaantah setiap perkataan yang keluar dengan mudahnya dari mulutku.
“uwis. Aku ngaku kalah nak debat ro kowe.”
“Ini tu bukan debat jeng. Sharing. Kadang kita harus menggunakan sudut pandang orang lain dan itu bukan sudut pandang milik kita. Kita harus memeakai sudut pandang a, b, c sampai z. agar kita ngga mudah terpengaruh.” Ungkapku. diakhiri dengan senyuman yang ku ukir manis.
Dan kala pemmbicaraan mati terskakmat tanpa ada bahan utnuk menyangkal, akhirnya seorang penyelamat datang dengan sepeda motornya. Akupun pulang dengan calon suami ku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar