“Aku mah mau pakai jilbab setelah berumah tangga saja.” itu adalah keinginan saya sekaligus niat saya untuk berjilbab 2-3tahun yang lalu. Nunggu berkeluarga dulu. Absurd banget yak? Hehehe tapi sahabatiku yang cantik iman dan akhlaknya, kita memang harus berjilbab. Perintahnya wajib! Tapi niat kayak saya yang itu jangan ditiru gih! Berjilbablah segera. Jangan menunggu menikah barulah berjilbab. Iya kalau kita bisa menikah dulu, kalau keduluan ajal? Nah loh, gimana coba? Saat kamu menikah, kamu menjaga auratmu agar kamu tidak membebani dosa untuk suamimu, tapi sebelum bersuami, kamu membebani dosa untuk ayahmu kalau kamu tidak berjilbab. Bapak, maafin Riri :’(
Beberapa bulan yang lalu saya mulai bertekat untuk menyembunyikan aurat saya dibalik jilbab saja. Berbekal nekat dan yakin bahwa Allah akan membantu saya dalam segala urusan, and hasilnya benar. Allah menyertai saya dan membuat saya nyaman dengan keistiqomahan saya mengenaka jilbab. Dan saya berniat, ini karena saya ingin taat untuk-Nya.
Orang taat kalau tidak diuji dulu ketaatannya pasti akan lalai dikemudian hari. Saya percaya itu. Why? Disaat saya membenahi diri saya, Allah memberikan surprise yang bikin nyesek. Harus merelakan untuk melepas status saya sebagai guru, melepaskan status saya yang sudah dikhitbah dan yang paling sedih, konflik dengan mamak. Dan ketiga hal tersebut saya alami diwaktu yang bersamaan. Bagaimana perasaan saya saat itu? Kalau saya bilang “no problem” itu pasti tidak mungkin. Patah. Sangat patah. Tapi hanya sebentar. Saya tahu inilah cara Allah untuk menguji keseriusan saya. Lulus? Alhamdulillah iya.
“LEBIH BAIK KEHILANGAN SESUATU KARENA ALLAH DARI PADA KEHILANGAN ALLAH KARENA SESUATU. –sesungguhnya kamu tidak meninggalkan sesuatu karena takwamu kepada Allah, melainkan Allah pasti akan memberikan ganti yang lebih baik darinya- HR. Ahmad”
Saya membaca kata-kata itu di display picture yang dipasang oleh seorang teman baru. Terhenyaklah saya. Semakin yakin untuk meninggalkan semua yang dulu pernah saya rangkai, saya tinggalkan karena Allah. Lalu, apakah Allah akan mengingkari janji-Nya untuk mengganti apa yang sudah saya ikhlaskan untuk terlepas? TIDAK.
Awalnya ragu. Tapi satu persatu gantinya pun muncul dan membuat saya speechless. Hanya terucap syukur yang tak henti-hentinya. Alhamdulillah.
Saya sedikit “kehilangan” komunikasi dengan mamak, diganti sama Allah diberikan teman-teman yang super luar biasa kuat nan tangguh agamanya dan selalu mensuport saya dengan semangat yang tak henti-hentinya. Mereka meyakinkan saya kalau “ini yang terbaik bagimu”. Bersama mereka saya bisa beristiqomah pakai khimar double yang panjangnya sesiku. Setelah itu, hubungan saya dan mamak kembali seperti semula. Yeaaaay. Alhamdulillah.
Meninggalkan pekerjaan. Ya saya tahu apa yang ada dipikiran kamu, jadi guru itu kan enak. Perkerjaan yang sungguh ibadahnya bernilai besar. Tapi, ada sebuah masalah yang emang memaksa saya untuk hengkang dari pekerjaan saya. Bapak sudah tidak merestui saya untuk berkerja di lembaga pendidikan tempat saya bernaung. Jadi, saya manut kalian bapak. Gantinya? Saya bisa fokus ke kuliah, organisasi kampus dan saya bisa nanjak kesana kemari. Menyenangkan bukan? Stttt dan didalam jalan-jalan itu, saya juga bisa sekalian berdakwah looooh. Mengenai pakaian seorang akhwat yang seharusnya. Berjilbab menutupi dada, longgar dan menutup aurat. Menyenangkaaaan. Hehehe :D
Soal meninggalkan laki-laki itu, hmmm sampai sekarang belum dapet gantinya sih. Tapi saya percaya, waktu yang tepat bagi saya dan jodoh saya bisa bertemu dan menghalalkan kami atas dasar ibadah, akan segera tiba. Sementara waktu saya menikmati tugas saya sebagai seorang muslimah. Memperbaiki diri (baik itu akhlak maupun iman), memperbanyak ilmu, berbakti kepada orang tua dan bersosialisasi. Jodoh kita adalah cerminan diri kita. Saya yakin, kalau saya membaik, jodoh sayapun akan baik. Trust to Allah dan Khusnudzon to Allah. Semangaaaat :D
Lalu kamu masih mempertahankan sesuatu yang jelas-jelas memudhorotkan? Yakin hal itu akan bertahan lama dan bisa membuatmu bahagia? Allah bersama orang-orang yang taat kok. Kalau kamu taat, yang mendekatpun yang taat juga. Saat kamu ikhlas melepaskan karena Allah, Allah akan mengganti dengan apa yang lebih baik dari pada yang sudah kamu lepaskan. Semangat berhijrah saudara ku yang imannya kian menebal. ;)
Salam sayang.
Riri
Kadang dunia tak sebaik yang kamu kira. Bahkan terkadang dunia tak seburuk yang kamu bayangkan. Lakukan dan nikmati saja. Pelangi akan datang. Tuhan tak akan menciptakan sesuatu tanpa alasan. Mari bercerita bersama saya. Burung kecil yang lahir di hari ke 4 idul fitri. Selamat membaca gih...
Kamis, 24 September 2015
Selasa, 22 September 2015
untuk kamu: BERJUANGLAH!
Malam memasuki puncaknya. Hatiku bergetar hebat. Tanpa aku sadari, wajahku sudah hampir basah dengan air mata. Entahlah apa yang tengah merasuki tubuh ku. Yang aku tahu, aku hanya ingin kehadiranmu secara nyata.
Akhi, mungkin di jauh sana kamu tengah merasakan disekitar dadamu sakit atau sekedar sesak, tahanlah. Itu karena aku tengah patah hanya karena ingin segera bertemu denganmu. Maafkanlah hati ku yang terlalu payah akan jarak yang terpisah.
Teruslah berjuang. Aku berada di belakangmu sembari menghantarkan doa yang hangat agar kamu tak pernah merasa sendiri. Aku hadirkan diriku dalam setiap hangat yang menyelimuti tubuhmu. Yakinlah, ini tak akan lama.
Jarak mengajarkan kita untuk saling menjaga. Namun waktu yang tak kunjung tiba, mengajarkan kita untuk bertekuk lutut terhadap takdir yang Ia rancang dengan hebat.
Pejamkanlah matamu, bila kau temui sebuah bayangan, itulah aku. Maafkanlah aku yang tak kunjung hadir dalam nyatamu. Hanya mampu bersembunyi diantara maya yang tak kunjung berakhir. Namun yakinlah, aku tengah berusaha keras untuk bertemu dengan mu.
Jika suatu hari kita saling bertatap muka dan tersembul senyuman hangat, yakinilah, itulah aku. Yang selalu hadir dalam mimpi dan bayanganmu. Aku yang selalu memelukmu tanpa menyentuhmu.
Akhi, jangan pernah berhenti berdoa. Mungkin bukan esok atau seminggu lagi kita dapat bertemu. Tapi aku yakin, waktu yang tepat tak lama lagi.
Saat kamu mulai lelah, berdoalah pada-Nya agar aku merasakan lelahmu. Aku ikhlas berbagi tenaga untukmu.
Akhi, aku tahu kamu laki-laki yang hebat. Yang sengaja dikirimkan oleh-Nya untuk ku. Kita adalah dua manusia yang diciptakan Allah dgn kekuatan yang sama hebatnya. Selamat berjuang gih. Jangan pernah berhenti. Akupun tengah berjuang untuk mu dengan cara ku.
Sampai berjumpa di suatu tempat yang sudah tertulis di lauhul mahfudz kita masing-masing.
Salam cinta yang hangat yang tersembunyi dibawah arsy-Nya.
Riri.
Akhi, mungkin di jauh sana kamu tengah merasakan disekitar dadamu sakit atau sekedar sesak, tahanlah. Itu karena aku tengah patah hanya karena ingin segera bertemu denganmu. Maafkanlah hati ku yang terlalu payah akan jarak yang terpisah.
Teruslah berjuang. Aku berada di belakangmu sembari menghantarkan doa yang hangat agar kamu tak pernah merasa sendiri. Aku hadirkan diriku dalam setiap hangat yang menyelimuti tubuhmu. Yakinlah, ini tak akan lama.
Jarak mengajarkan kita untuk saling menjaga. Namun waktu yang tak kunjung tiba, mengajarkan kita untuk bertekuk lutut terhadap takdir yang Ia rancang dengan hebat.
Pejamkanlah matamu, bila kau temui sebuah bayangan, itulah aku. Maafkanlah aku yang tak kunjung hadir dalam nyatamu. Hanya mampu bersembunyi diantara maya yang tak kunjung berakhir. Namun yakinlah, aku tengah berusaha keras untuk bertemu dengan mu.
Jika suatu hari kita saling bertatap muka dan tersembul senyuman hangat, yakinilah, itulah aku. Yang selalu hadir dalam mimpi dan bayanganmu. Aku yang selalu memelukmu tanpa menyentuhmu.
Akhi, jangan pernah berhenti berdoa. Mungkin bukan esok atau seminggu lagi kita dapat bertemu. Tapi aku yakin, waktu yang tepat tak lama lagi.
Saat kamu mulai lelah, berdoalah pada-Nya agar aku merasakan lelahmu. Aku ikhlas berbagi tenaga untukmu.
Akhi, aku tahu kamu laki-laki yang hebat. Yang sengaja dikirimkan oleh-Nya untuk ku. Kita adalah dua manusia yang diciptakan Allah dgn kekuatan yang sama hebatnya. Selamat berjuang gih. Jangan pernah berhenti. Akupun tengah berjuang untuk mu dengan cara ku.
Sampai berjumpa di suatu tempat yang sudah tertulis di lauhul mahfudz kita masing-masing.
Salam cinta yang hangat yang tersembunyi dibawah arsy-Nya.
Riri.
Selasa, 08 September 2015
KENAPA HARUS GALAU?
Malam semakin larut. Kepala ku terdiam. Mata ku memandang langit-langit yang tinggi. Namun, ada otakku yang terus bertawaf dengan semua yang ada dalam pikiran. Sejatinya aku terdiam. Tapi, sebenarnya terbang melayang.
Helaan nafas panjang mengiringi setiap kedipan mataku yang mulai terasa lebih perih. Tengah malam, hatiku gundah bukan kepalang. Sejenak aku terdiam dan fokus memandangi wajah diri dicermin. "Ah, tak ada yang aneh diwajahku. Cukup cantik. Memang agak lebih hitam dibandingkan dulu. Mungkin efek dari hobby ku mendaki." Hanya itu yang terucap dalam hatiku. Lalu, aku pun menghela nafas panjang kembali.
Usia ku tidak lagi remaja. Sudah kepala 2 lebih 2 tahun. Tahun depan, usiaku sudah 23 tahun. Teman-teman seusiaku mungkin saat ini sedang disibukkan dengan urusan dapur mereka, suami dan pekerjaan. Sedangkan aku, masih berkutat dgn pendidikan dan masa sendiri yang baru memasuki bulan ketiga. Seperti dua sahabat ku Mbak Dian yang tengah berjuang habis-habisan demi 2 detak. Lydia yang mulai terlihat menggemuk seiring bertambah bulannya si jabang bayi yg ada dalam perutnya. Dan Erni yg tengah berbahagia dengan segala polah lucu Adam. Aku? Sendiri. Lalu muncul pertanyaan dalam hati yang cukup menyesakkan, "Kapan aku akan menikah? Kenapa jodoh begitu jauh?"
Berulang kali membaca artikel dan membahas tentang jodoh bersama sahabat-sahabat ku yang juga tengah menikmati masa sendiri. Hati mulai berkata, "ini yang terbaik bagimu Ri!".
Sejak memutuskan untuk single/jomblo/tdk berpasangan, sudah bulat tekat saya untuk tidak pacaran lagi. Why? Because saya ingin menikmati kesendirian saya ini dengan memperbaiki apapun yang bisa saya perbaiki. Walaupun tidak dapat ditampik, semua terasa sepi saat tidak lagi ada seseorang yang bisa diajak jalan-jalan atau bercengkrama dgn hangat. Tapi itu lebih baik sih. Sendiri membuat saya sadar bahwa saya masih punya sahabat-sahabat yang luar biasa.
Nanjak kesana kemari. Mendapati pendaki-pendaki yang nanjak bareng sama pacarnya. Bikin pengen? Sangat! Huhuhuhu kapan ya saya bisa nanjak sama mahram saya? ):
Hobby saya memang sedikit mainstream. Jalan kaki berjam-jam. Nanjak ke gunung. Pake rok dan jilbab lebar. Tidak jarang saya jatuh atau ketemu sama track yang ajib. Ada yang nolong? Ada sih yang nolong. Tapi saya tolak. Why? Bukan muhrim. Jadi bisa ngerti dong perjuangan saya macam apa? Tapi disanalah saya mengerti satu hal, saya benar-benar mandiri. Berdiri di atas kaki saya sendiri.
Sekarang. Kepala ku kembali mengingat tentang jodoh. Mendadak kepala ku lebih pening ketika mendapati hal tersebut berputar mengitari kepalaku.
"Nok, kamu kapan nikah?"
"Ri, kamu kapan nyusul?"
"Masih jomblo juga?"
Pertanyaan kayak gitu emang ngerusak mood. Pengen teriak buat jawabnya.
"KAPAN-KAPAN SAYA NIKAHNYA. DOAIN DONG MOGA AJA SEBENTAR LAGI SAYA NIKAH!!!"
"NYUSUL NIKAH? DOAIN AJA DEH!"
"IYE, SAYA EMANG MASIH SENDIRI."
Tapiiiiii ada 1 hal yang membuat saya tertegun dan sedikit nyesek melebihi itu semua. Saya macam anak orang yang nggak percaya sama ajaibnya Gusti Allah. Soal jodoh kan udah di tulis sama Allah di lauhul mahfudz ku, jadi kenapa harus galau cuma gara-gara jodoh?
Mungkin yang memiliki perasaan seperti saya ini banyak sekali. Apalagi yang perempuan-perempuan duapuluhan tahun yang belum juga mendapati jodohnya.
What do you know girls, Allah tengah menjaga kita dari segala macam maksiat dan segala macam kemudhorotan. And one again, Allah tengah mempersiapkan seseorang yang begitu luar biasa akhlak nan teguh imannya untuk kita (itupun kalau kita memperbaiki akhlak dan agama kita). Seperti disurat An Nur 26 ukhti. Laki-laki keji untuk perempuan keji, perempuan keji untuk laki-laki keji dan perempuan baik untuk laki-laki baik, laki-laki baik untuk perempuan baik ukhti. Luar biasa bukan imbalannya? Dengak kesendirian kita ini ukhti, ternyata adalah tanda Allah sayang kita, Allah ingin menjaga kita untuk yang terbaik.
Dan apa tugas kita saat ini girls? Ada yang tahu? Menikmati tugas sebagai muslimah. Memperbaiki keimanan plus akhlak, berbakti kepada orang tua, menuntut ilmu sebanyak mungkin, and then bersilaturahmi dengan banyak orang
So, jangan galau karena masih sendiri ukhti. Allah selalu bersama kita. Kita tidak pernah sendiri kok. Semangat ya ukhti-ukhti cantik.
Salam sayang.
Riry.
Jumat, 04 September 2015
4 Tahun 8 Hari
Sudah lama rasanya bagiku tidak menuliskan apapun tentang dia. Laki-laki yang pernah bersama ku 4thn lamanya.
Seperti perjalanan waktu. Seperti menanjaki sebuah gunung. Kita punya target untuk mencapai puncaknya. Sudah tertata rapi dari basecamp. "Kita akan sampai puncak 4 jam" dan teman seperjuangapun mengiyakan.
Berjalan seiring waktu. Trackpun tak semudah yang dibayangkan. Beberapa kali hampir terjatuh, namun saling mempertahankan. Bersma lalui setiap detik, menit dan jam bersama peluh yang terus menerus membasahi baju. Ada semangat yang membuncah dan ada senyuman yang menguatkan.
Itulah aku dengan kamu. 4tahun berama. Menguatkan, mempertahankan, memperjuangkan dan mengorbankan segalanya untuk bersama. Kamu laki-laki yang hebat. Bertahan dgn ku dalam waktu yang sangat lama. Mengantarkan ku dari 18tahun hingga kini usia ku tak lagi remaja. Kita pasangan yang hebat, kita pasangan yang kuat, tak jarang puluhan orang begitu iri melihat genggaman tangan kita.
Tak ada yang sama. Begitupun kita. Hatimu patah. Hatiku jauh lebih patah. Itu yang disampaikan jarak hampir 70km yang telah membuat kita berpisah paling jauh dalam waktu yang cukup lama. Disana, ada kisah baru mu yang terbangun entah dgn siapa. Disini, aku masih mencoba mempertahankan dgn sisa semangat yang ada.
Ditepat usiaku yang ke 22tahun. Kamu sejenak hadir bersama serpihan penyesalanmu. Tidak dapat menemaniku melewati pergantian usiaku. Ya. Itu sudah biasa bagiku. Kamu memang tak pernah ada dihari spesialku. Pernah. 1x. Diusiaku 21tahun. Itupun membawa rasa sesak yg mendalam. Dan berkatmu, diusia 22thn, aku merasakan kembali mulutku di penuhi dgn darah akibat dari setiap pukulan dan cekikan yang dilayangkan oleh bapakku demi menguatkan mu. Sejak saat itu kamu harus tahu, rasaku berangsur mati untukmu.
Kamu kembali. Pada duniamu yang biasa. Lalu disana, terasa sekat yang begitu tebal. Aku tak mengenalimu sedikitpun. Begitu pula orang tua mu merasakan hal yg sama dgn ku. Aku bertahan. Why? Demi 4thn agar tidak sia-sia.
"Yang baik kita gunakan, yang ndak baik kita hapus saja." Kalimat itu berputar pada kepalaku yang payah. Lalu kamu pada rotasimu yang tak lagi sama dgn rotasi ku. Aku bersabar.
(Kalau dia tidak punya niatan untuk menikah, aku harus melepaskannya! 4tahun waktu yang cukup banyak hanya untuk di habiskan untuk menunggunya yang tak miliki keberanian menantang dunia bersama ku) sebuah janji terucap dalam hati.
Perayaan 4tahun tepat. Disana hanya tertinggal kegaduhan dan tak ada obrolan mengenai masa depan. Mati. Anggap saja seperti itu rasa yang ku punya. Ditambah permintaan mu untukku, menunggu mu (lagi) untuk 2tahun kedepan agar kita bisa menikah. Permintaan tergila yang pernah ku dengar. Disana, ada keyakinan yang makin runtuh. Anggap saja, itu benar-benar mati.
Sore itu aku memberanikan diri mendatangi seorang wanita setengah baya. Wanita yang telah menghadirkanmu hampur 23tahun yang lalu itu. Tak ada niatan pasti atas kedatangan ku. Hanya ingin sharing. Dan di akhir permbicaraan, lidahku kelu. "Buk, ini cincinnya Tino saya kembalikan. Saya tidak bisa menunggu Tino lagi. Maaf." Dan ada ribuan doa baik dari bibir wanita setengah baya itu akan kebaikan ku dimasa yang akan datang. Meski tidak dapat ku tampik, getaran suara beliau menyembunyikan rasa kecewa. Maaf gih buk. 30 Juni 2015, aku berhenti darinya. Tepat 4tahun lebih 8hari. JKT48 banget yak. Hehehee udah, jangan sedih bacanya! Wkkwkwk
Dia bukan laki-laki brengsek kok. Dia laki-laki hebat. Dia membahagiakan ku dgn apapun yang bisa dia berikan. Dia memanjakanku dgn sangat. Dia mengalah dari ku lebih banyak dr pada aku mengalah untuknya. Dia hanya laki-laki biasa. Yang bahagia dgn hidup barunya dan meninggalkan masalalunya (aku). Dia hanya laki-laki biasa yang belum siap untuk menikah. Dia laki-laki biasa yang masih ingin having fun dan menemukan cinta yang lebih baik. Jangan salahkan dia! Dia hanya laki-laki biasa, manusia biasa!
And what do you know? Now, I'm very happy without him. Aku tak pernah sebahagia saat ini. Kala hanya ada perbaikan diri disana sini dan Allah bersama ku dimanapun aku berada. Ya. Inilah pelangiku yang datang setelah hujan selama 4tahun 8hari. Inilah hidup ku yang sesungguhnya tanpa aturan A-Z hanya untuk membahagiakan hatinya.
Sebagai seorang perempuan, akupun punya hak untuk tegas. Ini hidup ku. Semua keputusan ku tak jauh dari hasil istikharah kok. Jadi pas lepas, aku nggak pernah 1xpun merasa menyesal melepaskan dia.
---
Perbincangan di sore hari selepas sholat asyar di mushola kampus 2 bersama Fatih menuju kelas.
"Mbak, kamu setelah move on dari mas yang itu auramu beda ya." Ungkap Fatih.
"Beda gimana Tih?" Telisikku lebih dalam. Tapi dia hanya tersenyum saja. "Positifkan?"
"Iya mbak. Lebih agamis."
Alhamdulillah. Alhamdulillah.
Siang hari. Kamis, di matakuliah Pembelajaran Tematik dan terintegrasi.
"Sa, emang apa yang berubah dari aku setelah putus dari Tino? Kata Fatih aku berubah." Tanyaku kepada Risa.
"Beda banget mbak. Sekarang kamu lebih ceria. Ndak seperti dulu."Jawab Risa atas pertanyaan ku.
"Kalau menurutmu Ti?" Tanyaku kepada Adiba.
"Sama"
"Ada lagi?" Tanyaku.
"Kamu dulu cuek banget mbak pas sama Tino." Tambah Risa.
So, keputusan saya untuk melepaskan Tino, saya yakin adalah keputusan yang tepat setepat-tepatnya.
Teruntuk Dhanang Tino Ardhianto, berbahagialah dgn hidupmu sekarang. Bisa nggak sedikit menjauh dari hari-hari ku? Please. Bukannya bisa bikin aku galau, tapi karena harus ada hati yang harus dijaga. Dia yang sedang kamu perjuangkan. Bukankah kamu sudah belajar dari 4tahun?
Langganan:
Komentar (Atom)