Malam memasuki puncaknya. Hatiku bergetar hebat. Tanpa aku sadari, wajahku sudah hampir basah dengan air mata. Entahlah apa yang tengah merasuki tubuh ku. Yang aku tahu, aku hanya ingin kehadiranmu secara nyata.
Akhi, mungkin di jauh sana kamu tengah merasakan disekitar dadamu sakit atau sekedar sesak, tahanlah. Itu karena aku tengah patah hanya karena ingin segera bertemu denganmu. Maafkanlah hati ku yang terlalu payah akan jarak yang terpisah.
Teruslah berjuang. Aku berada di belakangmu sembari menghantarkan doa yang hangat agar kamu tak pernah merasa sendiri. Aku hadirkan diriku dalam setiap hangat yang menyelimuti tubuhmu. Yakinlah, ini tak akan lama.
Jarak mengajarkan kita untuk saling menjaga. Namun waktu yang tak kunjung tiba, mengajarkan kita untuk bertekuk lutut terhadap takdir yang Ia rancang dengan hebat.
Pejamkanlah matamu, bila kau temui sebuah bayangan, itulah aku. Maafkanlah aku yang tak kunjung hadir dalam nyatamu. Hanya mampu bersembunyi diantara maya yang tak kunjung berakhir. Namun yakinlah, aku tengah berusaha keras untuk bertemu dengan mu.
Jika suatu hari kita saling bertatap muka dan tersembul senyuman hangat, yakinilah, itulah aku. Yang selalu hadir dalam mimpi dan bayanganmu. Aku yang selalu memelukmu tanpa menyentuhmu.
Akhi, jangan pernah berhenti berdoa. Mungkin bukan esok atau seminggu lagi kita dapat bertemu. Tapi aku yakin, waktu yang tepat tak lama lagi.
Saat kamu mulai lelah, berdoalah pada-Nya agar aku merasakan lelahmu. Aku ikhlas berbagi tenaga untukmu.
Akhi, aku tahu kamu laki-laki yang hebat. Yang sengaja dikirimkan oleh-Nya untuk ku. Kita adalah dua manusia yang diciptakan Allah dgn kekuatan yang sama hebatnya. Selamat berjuang gih. Jangan pernah berhenti. Akupun tengah berjuang untuk mu dengan cara ku.
Sampai berjumpa di suatu tempat yang sudah tertulis di lauhul mahfudz kita masing-masing.
Salam cinta yang hangat yang tersembunyi dibawah arsy-Nya.
Riri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar