Jumat, 04 September 2015

4 Tahun 8 Hari

Sudah lama rasanya bagiku tidak menuliskan apapun tentang dia. Laki-laki yang pernah bersama ku 4thn lamanya. 
Seperti perjalanan waktu. Seperti menanjaki sebuah gunung. Kita punya target untuk mencapai puncaknya. Sudah tertata rapi dari basecamp. "Kita akan sampai puncak 4 jam" dan teman seperjuangapun mengiyakan. 
Berjalan seiring waktu. Trackpun tak semudah yang dibayangkan. Beberapa kali hampir terjatuh, namun saling mempertahankan. Bersma lalui setiap detik, menit dan jam bersama peluh yang terus menerus membasahi baju. Ada semangat yang membuncah dan ada senyuman yang menguatkan. 
Itulah aku dengan kamu. 4tahun berama. Menguatkan, mempertahankan, memperjuangkan dan mengorbankan segalanya untuk bersama. Kamu laki-laki yang hebat. Bertahan dgn ku dalam waktu yang sangat lama. Mengantarkan ku dari 18tahun hingga kini usia ku tak lagi remaja. Kita pasangan yang hebat, kita pasangan yang kuat, tak jarang puluhan orang begitu iri melihat genggaman tangan kita. 
Tak ada yang sama. Begitupun kita. Hatimu patah. Hatiku jauh lebih patah. Itu yang disampaikan jarak hampir 70km yang telah membuat kita berpisah paling jauh dalam waktu yang cukup lama. Disana, ada kisah baru mu yang terbangun entah dgn siapa. Disini, aku masih mencoba mempertahankan dgn sisa semangat yang ada. 
Ditepat usiaku yang ke 22tahun. Kamu sejenak hadir bersama serpihan penyesalanmu. Tidak dapat menemaniku melewati pergantian usiaku. Ya. Itu sudah biasa bagiku. Kamu memang tak pernah ada dihari spesialku. Pernah. 1x. Diusiaku 21tahun. Itupun membawa rasa sesak yg mendalam. Dan berkatmu, diusia 22thn, aku merasakan kembali mulutku di penuhi dgn darah akibat dari setiap pukulan dan cekikan yang dilayangkan oleh bapakku demi menguatkan mu. Sejak saat itu kamu harus tahu, rasaku berangsur mati untukmu. 
Kamu kembali. Pada duniamu yang biasa. Lalu disana, terasa sekat yang begitu tebal. Aku tak mengenalimu sedikitpun. Begitu pula orang tua mu merasakan hal yg sama dgn ku. Aku bertahan. Why? Demi 4thn agar tidak sia-sia. 
"Yang baik kita gunakan, yang ndak baik kita hapus saja." Kalimat itu berputar pada kepalaku yang payah. Lalu kamu pada rotasimu yang tak lagi sama dgn rotasi ku. Aku bersabar. 
(Kalau dia tidak punya niatan untuk menikah, aku harus melepaskannya! 4tahun waktu yang cukup banyak hanya untuk di habiskan untuk menunggunya yang tak miliki keberanian menantang dunia bersama ku) sebuah janji terucap dalam hati. 
Perayaan 4tahun tepat. Disana hanya tertinggal kegaduhan dan tak ada obrolan mengenai masa depan. Mati. Anggap saja seperti itu rasa yang ku punya. Ditambah permintaan mu untukku, menunggu mu (lagi) untuk 2tahun kedepan agar kita bisa menikah. Permintaan tergila yang pernah ku dengar. Disana, ada keyakinan yang makin runtuh. Anggap saja, itu benar-benar mati. 
Sore itu aku memberanikan diri mendatangi seorang wanita setengah baya. Wanita yang telah menghadirkanmu hampur 23tahun yang lalu itu. Tak ada niatan pasti atas kedatangan ku. Hanya ingin sharing. Dan di akhir permbicaraan, lidahku kelu. "Buk, ini cincinnya Tino saya kembalikan. Saya tidak bisa menunggu Tino lagi. Maaf." Dan ada ribuan doa baik dari bibir wanita setengah baya itu akan kebaikan ku dimasa yang akan datang. Meski tidak dapat ku tampik, getaran suara beliau menyembunyikan rasa kecewa. Maaf gih buk. 30 Juni 2015, aku berhenti darinya. Tepat 4tahun lebih 8hari. JKT48 banget yak. Hehehee udah, jangan sedih bacanya! Wkkwkwk
Dia bukan laki-laki brengsek kok. Dia laki-laki hebat. Dia membahagiakan ku dgn apapun yang bisa dia berikan. Dia memanjakanku dgn sangat. Dia mengalah dari ku lebih banyak dr pada aku mengalah untuknya. Dia hanya laki-laki biasa. Yang bahagia dgn hidup barunya dan meninggalkan masalalunya (aku). Dia hanya laki-laki biasa yang belum siap untuk menikah. Dia laki-laki biasa yang masih ingin having fun dan menemukan cinta yang lebih baik. Jangan salahkan dia! Dia hanya laki-laki biasa, manusia biasa! 
And what do you know? Now, I'm very happy without him. Aku tak pernah sebahagia saat ini. Kala hanya ada perbaikan diri disana sini dan Allah bersama ku dimanapun aku berada. Ya. Inilah pelangiku yang datang setelah hujan selama 4tahun 8hari. Inilah hidup ku yang sesungguhnya tanpa aturan A-Z hanya untuk membahagiakan hatinya. 
Sebagai seorang perempuan, akupun punya hak untuk tegas. Ini hidup ku. Semua keputusan ku tak jauh dari hasil istikharah kok. Jadi pas lepas, aku nggak pernah 1xpun merasa menyesal melepaskan dia. 
---
Perbincangan di sore hari selepas sholat asyar di mushola kampus 2 bersama Fatih menuju kelas. 
"Mbak, kamu setelah move on dari mas yang itu auramu beda ya." Ungkap Fatih. 
"Beda gimana Tih?" Telisikku lebih dalam. Tapi dia hanya tersenyum saja. "Positifkan?" 
"Iya mbak. Lebih agamis." 
Alhamdulillah. Alhamdulillah. 

Siang hari. Kamis, di matakuliah Pembelajaran Tematik dan terintegrasi. 
"Sa, emang apa yang berubah dari aku setelah putus dari Tino? Kata Fatih aku berubah." Tanyaku kepada Risa. 
"Beda banget mbak. Sekarang kamu lebih ceria. Ndak seperti dulu."Jawab Risa atas pertanyaan ku. 
"Kalau menurutmu Ti?" Tanyaku kepada Adiba. 
"Sama" 
"Ada lagi?" Tanyaku. 
"Kamu dulu cuek banget mbak pas sama Tino." Tambah Risa. 

So, keputusan saya untuk melepaskan Tino, saya yakin adalah keputusan yang tepat setepat-tepatnya. 
Teruntuk Dhanang Tino Ardhianto, berbahagialah dgn hidupmu sekarang. Bisa nggak sedikit menjauh dari hari-hari ku? Please. Bukannya bisa bikin aku galau, tapi karena harus ada hati yang harus dijaga. Dia yang sedang kamu perjuangkan. Bukankah kamu sudah belajar dari 4tahun?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar