Jumat, 17 Oktober 2014

idealisme untuk memilih cowok berkulit putih

Idealisme Untuk Lebih Memilih Lelaki Berkulit Putih

7 kali merajut kasih dengan makhluk yang lebih suka main ps dari pada baca buku. Lebih baik malam mingguan futsal dari pada nemenin belanja. Ya. Lelaki. Dari yang hobby ps sampai hobby ngerokokpun sudah pernah aku temui. Namun, seabsurd apapun lelaki, mereka pasti memiliki kelebihan masing-masing. Hmmm aku memang tidak terlalu suka membanding-bandingkan mereka. Rasanya tidak etis. Mereka sama-sama pernah mendampingiku dan menjadi orang yang paling terdekat denganku.
Laki-laki. Tercipta dengan berbagaimacam keistimewaan yang dibawa masing-masing. Entah itu berasal dari hasil konvergensi, heriditas atau nativisme. Yang pasti, tidak ada laki-laki yang sama! Allah dengan segala keajaiban-nya menciptakan manusia dengan berbagai sikap dan penampilan yang berbeda. Not any someone can be perfect dan tidak ada orang kembar identik yang punya sikap dan perilaku yang sama!!!!
Lelaki punya kebiasaan masing-masing. Membunuh jenuh mungkin tujuannya. Ya, itu juga beragam keistimewaan yang mereka memiliki.
Dari tujuh orang yang ku kenal dengan baik (walaupun saat putus belum tentu baik juga), aku mendapati tipe yang hampir sama. Lelaki berkulit putih dan isi kepala yang cukup dapat diandalkan. Ya. Isi kepala.
Cowok yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata itu membuatku terpesona. Ditambah dengan penampilan yang rapi dan berkulit bersih membuatku makin terpikat. Setidaknya itu juga berpengaruh terhadap lamanya pacaran.
Pertama jatuh cinta. Kepada si pemilik tubuh tinggi, penampilan rapi serta kulit yang bersih (putih bersih). Ya, aku dibuatnya mabuk kepayang bak bulan akan runtuh. Namun, sayangnya jalanannya terlalu mainstream, jadi tidak dapat dilanjutkan.
Lelakiku yang hitam manis. Lelaki itu adalah kakak kelasku. Wajahnya manis. Matanya yang indha membuatku jatuh cinta! Kulitnya hitam manis. Sebenarnya sih tidak hitam, tapi keciklatan. Sawo matang. Tak ada yang salah. Mungkin karena jatuh cinta yang “salah”. Mungkin belum jodoh. Hanya bertahan 1 bulan!!!!
Akhir-akhir mendapati seorang lelaki berpenampilan rapi namun tetap casual. Otaknya tak usah diragukan dengan ipk cumloud. Aktifitasnya sebagai aktifis kampus juga tak usah dipertanyakan. Meksi dia baru semester 3 namun sudah banyak orang yang mengenalnya dengan berbagai alasan. Ya. Aku menyukainya. He is perfect in my eyes. Otak cerdas dan badan tinggi bersih terawatt membuatku betah dengannya! Setidaknya aku tahu pasti, dia mandi 2x sehari. Aku mengaguminya dari tubuhnya. Meski tubuhnya sedikit obesitas, namun tetap terlihat bagus dengan tinggi badan hampir menyentuh 170cm. Aku snagat mengaguminya. Wajahnya yang ganteng, untuk ku adalah suatu bonus! Aku tidak terlalu mempersoalkan rupa. Ya akhirnya aku sadar, ada 3 hal yang  membuatku bertahan. Sikap, otak dan fisik. Sikapnya yang selalu menghargaiku sebagai perempuan, otaknya yang dapat diandalkan (setidaknya memperbaiki keturunan) dan fisiknya yang terawatt. Namun sayangnya dia dipanggil untuk pulang duluan. Bertahan 11 bulan.
Diakhri cerita, aku menemui seorang lelaki yang memiliki tubuh tinggi, putih dan berwajah oriental. Ya, itulah Tino ku. Aku mengaguminya tanpa batas. Penampilannya sedikit agak tidak karuan (seadanya kalau pakai, asal bersih). Otaknya, cukup dapat diandalkan. Sikapnya yang kadang baik dan kadang nyebelin mau tidak mau membuatku belajar betah. Namun tetap membuatku kagum. Tubuhnya yang terawat. Putih tidak seperti lelaki kebanyakan. Bertahan hingga detik ini.
Entahlah. Mungkin ini tidaklah patut untuk di contoh. Setiap melihat lelaki berkulit bersih, aku kagum. Entahlah mengapa. Diotakku: cowok putih itu cowok yang bersih dan dia bisa ngerawat badan. Sedangkan setiap melihat cowok hitam, hawanya pengen mandiin aja! Entahlah kenapa begitu. Aku lebih suka cowok yang bersih. Sebanding lurus dengan kesuksesan percintaan juga keknya. Tapi, aku tidak terlalu suka cowok yang berlebihan dalam merawat badan. Ya masak ngerawat badan saja harus sampe ke salon, itu sudah lebay!!!! Mandi 2x sehari aja sudah cukup! Sampai detik ini, aku lebih memiliih cowok berkulit puitih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar