Jumat, 17 Oktober 2014

#Kata Bapak Kepada Anaknya Part 1


B: nanti jangan ikut lembaga kemahasiswaan lagi!
F: kan buat kesibukan pak.
B: kamu dulu saja ngga betah di tempat yang dulu gara-gara kesibukanmu. Wiyata saja kan malah bagus to?
F: …………..

Sekilas percakapan seorang anak bersama dengan bapaknya. Intinya sih ngga dibolehin untuk mengikuti kegiatan organisasi intrakampus. Ya maklum lah. Pengalaman terdahulu, kesibukan disana-sini membuatku sedikit kehilangan waktu. Sering pulang malam demi rapat. Dan akhirnya, jadilah tubuhku melemah pasti.
Sebenarnya sih bapak tidak terlalu mengkhawatirkan mengenai lembaga kemahasiswaan yang sering aku ikuti. Bahkan mendukung untuk mengikuti seminar-seminar. Buktinya setiap aku minta uang buat seminar, selalu dikasih tepat waktu. Tapi ya itu tadi. Mengingat kondisi tubuh!
Menjadi anggota organisasi intrakampus sebenarnya salah satu keinginan ku. Awal masuk sebagai mahasiswa langsung di masukkan kedalam jajaran terdepan mahasiswa pgra. Di iyain aja lah. Meski harus sadar diri dengan pertentangan bapak yang tidak menginginkan ku untuk sibuk lagi sama lembaga kemahasiswaan. Tapi setelah nyempung di sini, cukup menyesakkan kala harus berkerjasama dengan mereka yang “katanya lebih senior”. Dan hawa pun menjadi sedikit panas dengan adanya kegagalan dalam melaksanakan lomba yang sudah dipersiapkan selama dua bulan tanpa bekas apa-apa. Dan itulah kegagalan pertama yang membuat ku merasa, “i’m quit”.
Sebenarnya, dalam masa jabatan kemarin, ada segelintir orang yang hanya menginginkan untuk “hey ini aku loh! Noh lihat my blo***! So big!!!” Dan ada juga hanya setengah hati. Mungkin aku awalnya sangat exited. I want make my organization like my last organization. Success. Tapi sayangnya, itu semua hanya jadi mimpi di tengah perjalanan. Ada yang cuma pengen exsis sendiri. Dan akhirnya terbengkalai. Apalagi dengan masuknya mereka yang bukan anggota hmps yang nyerobot ingin masuk seenaknya sendiri. Makinlah membuat ku menaikkan satu kaki ku dari “nyempungin kaki ke lembaga kemahasiswaan”.
Dari awal, i don’t know how about my jobdisk. Pekerjaan ku apa sebagai bendahara?  Kaku. Tak ada celah utnuk tahu. Jajaran hmj pun hanya berkutat dengan dirinya sendiri. Yang mulai menyiapkan kegiatan yang tak ada hingar bingarnya terdengar hingga progdi ku. Sesekali terdengar dan diikuti, kagiatan itupun hanya berisikan segelintir mahasiswa. Gagal! Dan mereka hanya diam, tak ada niatan sosialisasi kepada anggota hmps baru mengenai lembaga kemahasiswaan yang baru menetas seperti kami. Ya. Kami buta!!! Aku sedikit melihat cahaya. Itupun berkat masalalu ku yang juga aku pernah menyemplungkan kaki ku ke lembaga kemahasiswaan. Aku tidak pernah merasa menyesal menyemplungkan kedua kaki ku di lembaga kemahasiswaan sebelumnya. Demokrasi yang  benar-benar di tangan mahasiswa. Mahasiswa yang harus aktif demi dirinya sendiri dan demi fakultas ataupun program study mereka. Akhirnya, terciptalah aku yang ingin memajukan pgogdi ku. Dan sayangnya, disini aku sama sekali tak dapat bergerak. Tak ada transparansi dari tingkat atas hingga bawah. Dana yang aslinya milik hmps tempatku bernaung pun entah kemana aku tak tahu. Wallahualam.
Demokrasi setengah hati pun terasa. Ya. Jujur, sebagai mahasiswa yang ingin aktif dan benar-benar menjadi “pelayan mahasiswa” akupun harus menelan pil yang snagat pahit. Semua kegiatan di selesaikan oleh dosen. Seminar dan semua! Mahasiswa hanya ikut-ikutan saja. Jadi peserta dan tidak boleh jadi panitia!!!! Dari mana anda-anda ingin menciptakan mamasiswa yang aktif dan kreatif? Sedangkan semua anda lahap sendiri? “ya namanya indonesia mini. Setengah demokrasi ya sudah biasa.” Ungkap seorang mahasiswa progdi lain yang juga bernasip sama dengan ku. “jangan berharap banyak dengan lembaga kemahasiswaan di kampus ini! Kamu ingin maju, kamu ditendang!” Ya. Demokrasi setengah hati.
Sampai detik ini aku masih tercatat sebagai mahasiswa yang nyempungin satu kakinya ke lembaga kemahsiswaan. Sudah bilang sama teman-teman kalau “aku udah ngga bisa” tapi, tetap saja dipaksa dengan berbagai macam alasan. Dari buah pikiranku yang bisa di andalkan, cara ngomong ku yang sudah mahir, dan bla bla bla. Dan akhirnya aku tetap jadi anggota lembaga kemahasiswaan. Sampai detik ini! 
Kadang kamu harus nurutin kata bapak! Bapak itu kadang firasatnya lumayan canggih. Lebih canggih daripada hanphone keluaran terbaru yang kadang malah supercopy. Mereka bukan peramal tapi kadang mereka tahu pasti dimana anaknya bakalan jatuh. Ya, mereka sekedar mengingatkan anaknya utnuk tidak menyemplungkan kedua kaki, tapi sayangnya anak selalu beralibi demi menjadi apa yang di harap. Dan aku benar-benar kecewa. Menyemplungkan sebelah kaki ku diantara setengah hatinya demokrasi. Kapan perubahan itu dimulai? Saat aku ada kawan untuk mengubah REZIM ORBA yang KATANYA REFORMASI. Ya seperti itulah.
Menurut ku. lembaga kemahasiswaan yang sehat itu lembaga kemahasiswaan yang benar-benar demokratis. Lembaga kemahasiswaan di tujukan untuk mahasiswa, oleh mahasiswa dan dari mahasiswa. Dan lebih sehat lagi yaitu regenerasi, yang tiap tahun ada yang masuk dan keluar. Selama ini yang aku lihat mereka para semester belasan yang jadi anggota SENAT ataupun DEMA. Terus kapan yang muda-muda mengambil alih? Kapan yang muda-muda belajar berdemokrasi? Katanya demokratis? Bagaimana mungkin yang muda dapat tempat? Tatkala yang uzur lebih terkenal, bahkan pekerjaannyapun belum tentu meyakinkan? Toh yang selama ini terlihat oleh ku, kegiatan dalam satu tahunpun hanya beberapa yang nongol. Itupun kala mahasiswa baru datang. Selepas itu, tak ada kabar dari dewan mahasiswa yang terhormat. Wallahualam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar