B: nanti jangan ikut lembaga kemahasiswaan lagi!
F: kan buat kesibukan pak.
B: kamu dulu saja ngga betah di tempat yang dulu
gara-gara kesibukanmu. Wiyata saja kan malah bagus to?
F: …………..
Sekilas percakapan seorang
anak bersama dengan bapaknya. Intinya sih ngga dibolehin untuk mengikuti
kegiatan organisasi intrakampus. Ya maklum lah. Pengalaman terdahulu, kesibukan
disana-sini membuatku sedikit kehilangan waktu. Sering pulang malam demi rapat.
Dan akhirnya, jadilah tubuhku melemah pasti.
Sebenarnya sih bapak tidak
terlalu mengkhawatirkan mengenai lembaga kemahasiswaan yang sering aku ikuti.
Bahkan mendukung untuk mengikuti seminar-seminar. Buktinya setiap aku minta
uang buat seminar, selalu dikasih tepat waktu. Tapi ya itu tadi. Mengingat
kondisi tubuh!
Menjadi anggota organisasi
intrakampus sebenarnya salah satu keinginan ku. Awal masuk sebagai mahasiswa
langsung di masukkan kedalam jajaran terdepan mahasiswa pgra. Di iyain aja lah.
Meski harus sadar diri dengan pertentangan bapak yang tidak menginginkan ku
untuk sibuk lagi sama lembaga kemahasiswaan. Tapi setelah nyempung di sini,
cukup menyesakkan kala harus berkerjasama dengan mereka yang “katanya lebih
senior”. Dan hawa pun menjadi sedikit panas dengan adanya kegagalan dalam
melaksanakan lomba yang sudah dipersiapkan selama dua bulan tanpa bekas
apa-apa. Dan itulah kegagalan pertama yang membuat ku merasa, “i’m quit”.
Sebenarnya, dalam masa
jabatan kemarin, ada segelintir orang yang hanya menginginkan untuk “hey ini
aku loh! Noh lihat my blo***! So big!!!”
Dan ada juga hanya setengah hati. Mungkin aku awalnya sangat exited. I want make my organization like my last organization. Success.
Tapi sayangnya, itu semua hanya jadi mimpi di tengah perjalanan. Ada yang cuma
pengen exsis sendiri. Dan akhirnya terbengkalai. Apalagi dengan masuknya mereka
yang bukan anggota hmps yang nyerobot ingin masuk seenaknya sendiri. Makinlah
membuat ku menaikkan satu kaki ku dari “nyempungin kaki ke lembaga
kemahasiswaan”.
Dari awal, i don’t know how
about my jobdisk. Pekerjaan ku apa sebagai bendahara? Kaku. Tak ada celah utnuk tahu. Jajaran hmj
pun hanya berkutat dengan dirinya sendiri. Yang mulai menyiapkan kegiatan yang
tak ada hingar bingarnya terdengar hingga progdi ku. Sesekali terdengar dan
diikuti, kagiatan itupun hanya berisikan segelintir mahasiswa. Gagal! Dan
mereka hanya diam, tak ada niatan sosialisasi kepada anggota hmps baru mengenai
lembaga kemahasiswaan yang baru menetas seperti kami. Ya. Kami buta!!! Aku
sedikit melihat cahaya. Itupun berkat masalalu ku yang juga aku pernah
menyemplungkan kaki ku ke lembaga kemahasiswaan. Aku tidak pernah merasa
menyesal menyemplungkan kedua kaki ku di lembaga kemahasiswaan sebelumnya.
Demokrasi yang benar-benar di tangan
mahasiswa. Mahasiswa yang harus aktif demi dirinya sendiri dan demi fakultas
ataupun program study mereka. Akhirnya, terciptalah aku yang ingin memajukan
pgogdi ku. Dan sayangnya, disini aku sama sekali tak dapat bergerak. Tak ada
transparansi dari tingkat atas hingga bawah. Dana yang aslinya milik hmps
tempatku bernaung pun entah kemana aku tak tahu. Wallahualam.
Demokrasi setengah hati pun
terasa. Ya. Jujur, sebagai mahasiswa yang ingin aktif dan benar-benar menjadi
“pelayan mahasiswa” akupun harus menelan pil yang snagat pahit. Semua kegiatan
di selesaikan oleh dosen. Seminar dan semua! Mahasiswa hanya ikut-ikutan saja.
Jadi peserta dan tidak boleh jadi panitia!!!! Dari mana anda-anda ingin
menciptakan mamasiswa yang aktif dan kreatif? Sedangkan semua anda lahap
sendiri? “ya namanya indonesia mini. Setengah demokrasi ya sudah biasa.” Ungkap
seorang mahasiswa progdi lain yang juga bernasip sama dengan ku. “jangan
berharap banyak dengan lembaga kemahasiswaan di kampus ini! Kamu ingin maju,
kamu ditendang!” Ya. Demokrasi setengah hati.
Sampai detik ini aku masih
tercatat sebagai mahasiswa yang nyempungin satu kakinya ke lembaga
kemahsiswaan. Sudah bilang sama teman-teman kalau “aku udah ngga bisa” tapi,
tetap saja dipaksa dengan berbagai macam alasan. Dari buah pikiranku yang bisa
di andalkan, cara ngomong ku yang sudah mahir, dan bla bla bla. Dan akhirnya
aku tetap jadi anggota lembaga kemahasiswaan. Sampai detik ini!
Kadang kamu harus nurutin
kata bapak! Bapak itu kadang firasatnya lumayan canggih. Lebih canggih daripada
hanphone keluaran terbaru yang kadang malah supercopy. Mereka bukan peramal
tapi kadang mereka tahu pasti dimana anaknya bakalan jatuh. Ya, mereka sekedar
mengingatkan anaknya utnuk tidak menyemplungkan kedua kaki, tapi sayangnya anak
selalu beralibi demi menjadi apa yang di harap. Dan aku benar-benar kecewa.
Menyemplungkan sebelah kaki ku diantara setengah hatinya demokrasi. Kapan
perubahan itu dimulai? Saat aku ada kawan untuk mengubah REZIM ORBA yang KATANYA
REFORMASI. Ya seperti itulah.
Menurut ku. lembaga
kemahasiswaan yang sehat itu lembaga kemahasiswaan yang benar-benar demokratis.
Lembaga kemahasiswaan di tujukan untuk mahasiswa, oleh mahasiswa dan dari
mahasiswa. Dan lebih sehat lagi yaitu regenerasi, yang tiap tahun ada yang
masuk dan keluar. Selama ini yang aku lihat mereka para semester belasan yang
jadi anggota SENAT ataupun DEMA. Terus kapan yang muda-muda mengambil alih?
Kapan yang muda-muda belajar berdemokrasi? Katanya demokratis? Bagaimana
mungkin yang muda dapat tempat? Tatkala yang uzur lebih terkenal, bahkan
pekerjaannyapun belum tentu meyakinkan? Toh yang selama ini terlihat oleh ku,
kegiatan dalam satu tahunpun hanya beberapa yang nongol. Itupun kala mahasiswa
baru datang. Selepas itu, tak ada kabar dari dewan mahasiswa yang terhormat. Wallahualam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar