Sabtu, 02 Mei 2015

Anak mulai berkata kotor, bagaimana mengatasinya?

Pada usia 4 sampai 6 tahun anak sedang mengalami fase dimana rasa ingin tahunya semakin memuncak serta kosakata yang ia serap semakin banyak. Takelak bila orang tua sebagai pembimbing ketika anak dirumah, terkadang bisa terdiam melihat perkembangan anak yang begitu pesat. Rasa ingin tahu yang tinggi mengenai semua hal yang dia lihat, dapat mengakibatkan orang tua “bingung sendiri” dengan jawaban apa yang akan diberikan. Pada masa kini anak lebih kritis bila dibandingkan dengan masa kecil orang tuanya dulu. Bahasa yang mulai dikenal anak bukan lagi bahasa yang hanya ia dapatkan dirumah ataupun dilingkungan keluarga. Pada fase 4-6 tahun, anak mulai bergaul dengan teman seusianya yang dikenal disekolahan dan teman di sekitar rumahnya. Hal tersebut menyebabkan kosakata yang dikenal oleh anak semakin bertambah. Hal tersebut seperti mata pisau bermata dua. Bisa saja anak mengenal kosakata negatif maupun kosakata positif. Pada usia tersebut, anak belum dapat memahami dengan baik dengan apa yang dia ucapkan. Dia meniru saja. “Delta, kamu babi!” ucap seorang anak usia 5 tahun kepada temannya. Selepas berkata, anak tersebut tertawa lepas. Hal tersebut sangat miris bila dapat di dengar didunia anak-anak. Tapi, hal ini sering terjadi didunia anak. Termasuk disekolahan. Lalu muncul pertanyaan “dari mana dia mendapatkan kata-kata itu?” “apakah dia mengerti dengan apa yang diucapkannya?” “apakah anak tersebut mengejek temannya?” Pada hari yang sama, perkataan “babi” tersebut terus keluar dari anak yang sama. Bagaimana mengatasi anak tersebut? Yang pertama dapat dilakukan oleh guru yaitu mengajak anak untuk berbincang mengenai kata tersebut, bertanya kepada anak tersebut apakah ia mengerti maksud dari kata tersebut atau tidak, mencari tahu dari mana anak mendapatkan kata tersebut. Setelah anak di tanya, dia hanya menggelengkan kepalanya saat ditanya mengenai “babi” yang sering dia ucapkan. Saat ditanya “kamu mendengar itu dari siapa dik?” maka dijawab dengan “Bapak ku kok yang sering ngomong babi.” Anak tersebut tidak tahu apakah itu babi dan bagaimana bentuk babi. Hal tersebut lumrah ditemukan di taman kanak-kanak. Karena anak adalah sponge yang menyerap apapun yang dia lihat, dengar, perhatikan. Apa yang dapat dilakukan guru atau orang tua? 1. Tidak Perlu Marah Kepada Anak. Dengan memarahi anak, tidak akan menyelesaikan semua. Malah membuat mental anak jatuh dan memutuskan jutaan neutron otak anak. 1 kali bentakan dapat mengakibatkan 1 juta neutron orak anak terputus. Sangat disayangkan bukan? 2. Menjelaskan Kepada Anak. Sebagian besar ucapan kotor yang keluar dari bibir anak, anak belum mengerti maksud dari yang dia ucapkan. Pada fase AUD, anak hanya meniru tanpa mengetahui maksud dari ucapannya sehingga guru harus menjelaskan kepada anak agar anak mengetahui arti atau maksud dari kata yang dia ucapkan. Tentu saja, dengan bahasa sederhana sehingga anak mudah mngerti. 3. Membimbing Dan Mengarahkan. Tentulah kita mendapati anak yang sudah di nasehati tetapi tetap mengucapkan kata kotor tersebut kembali. Tugas guru harus terus berusaha dalam mengubah anak tersebut seperti mengalihkan pembicaraan saat anak kembali mengucapkan kata kotor. Disaat istirahat, anak diajak untuk ngobrol bersama mengenai buruknya mengucapkan kata-kata kotor. 4. Jangan Dihukum! Pada fase AUD, hukuman adalah hal yang sepatutnya dihindarkan. Hukuman dapat berdampak ketika anak tersebut melakukan sesuatu pasti merasa takut salah. Bahkan hal tersebut akan dibawa oleh sang anak ketika dia dewasa. 5. Berpura-Pura Tidak Mendengar Anak Ketika Anak Berkata Kotor. Beberapa anak mengucapkan kata kotor dengan tujuan “caper” atau cari perhatian kepada gurunya. Semakin anak diladeni atau diingatkan untuk tidak mengucapkan kata tersebut di depan teman-temannya maka dia semakin merasa diperhatikan oleh gurunya dan berimbas ketika gurunya sedang mengajarkan hal lain ke temannya, dia akan mengulanginya kembali. Dengan mendiamkan anak, dapat berakibat dia merasa “tidak sukses” merebut perhatian gurunya. Sehingga anak tersebut kecewa dan tidak mengulangi kata-kata kotor tersebut. 6. Beri “Bintang” Ketika Anak Melakukan Hal Positif Saat anak dapat mengerjakan tugasnya lebih cepat atau lebih baik dari temannya, berikan reward kepada anak tersebut dengan memberikan kertas berbentuk bintang di fotonya yang ada dikelas. Dengan cara tersebut anak merasa bangga hingga mulai mengerti bahwa dia tak harus berkata kotor untuk merebut perhatian gurunya. Hal tersebut dapat bernilai lebih positif ketika guru dan orang tua dapat berkerjasama dalam merubah sikap dan kebiasaan anak dalam berbahasa. Namun, akan gagal ketika guru dan orang tua tidak dapat berkerjasama. Karena pada dasarnya, bahsa anak adalah cerminan dari apa yang dia lihat, dengar dan perhatikan. Sebagai orang yang lebih dewasa, kita sebaiknya lebih menjaga ucapan ketika berada di samping anak. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar