Selasa, 26 Mei 2015

#HatiTeman Allah Maha Pencemburu

Bertahun-tahun menjalin rasa yang sama. Menunggu dan terus menunggu. Tubuhnya begitu berjarak pada tubuhku. Berjarak ratusan kilo meter yang buat ku merasa "dia benar-benar jauh". Ditunjang dengan sikapnya yang semakin menjauh, semakin yakin aku menyebutnya, laki-laki yang jauh.
Sudah hampir 3tahun aku bersama laki-laki itu. Laki-laki yang membuatku kagum tanpa batas. Laki-laki yang buatku tersenyum dengan akhlaknya yang dapat ku banggakan kelak.
Disaat semua lelaki berbincang tentang masa muda dan hura-hura, aku tak menemui itu ada didalam tubuh itu. Lelaki itu sungguh sederhana. Dan aku terpikat oleh agamanya.
2 tahun ku jalani dengan berjalan pada poros yang sama bersamanya. Dibahagiakan dan membahagiakan meskipun fisik kami tak pernah bersentuhan. Biarkan aku memeluknya dalam setiap doa yang ku panjatkan kepada Tuhan ku. Biar ku menciumnya dalam doa yang tak henti terucap bagi kebaikannya.
Aku benar-benar mengaguminya tanpa batas. Lelaki yang usianya terpaut 2 tahun di atasku.
Long distance relationship. Itu yang kami lakukan. Saling mengabari dari jauh, biasa kami rasakan. Ya. Aku menyebutnya mengagumi dari jauh. Biarlah tubuh kami terpisah ratusan kilometer! Aku mencintainya dan aku percaya padanya. Bagiku itu lebih dari pada cukup.
Ini menginjak tahun ketiga kami bersama. Sungguh diluar ekspektasiku. Aku bisa bersamanya. Menghabiskan waktu dan menunggunya. Tuhan, jaga ia baik-baik dalam pelukan-Mu yang begitu hangat.
Hari demi hari ku jalani dengan seadanya. Dengan semua yang masih sama. Setidaknya tugas semakin banyak menyita waktuku. Dengan dia? Tidak ada yang akan sama. Dia mulai berubah. Aku tak ambil pusing atas "ketidak ada-annya". Lagipula, aku ingin fokus dengan jalan hidupku sebagai seorang mahasiswa.
Setahun berlalu.
Kami benar-benar seperti orang asing. Setelah lost komunikasi selama setahun, dia kembali. Membawa pertanyaan yang membuatku kelingsutan harus ku jawab apa.
"Ukh, apa kamu masih mencintai aku?" Tulisan itu bersarang pada layar handphone ku.
"Memangnya kenapa akh?"
"Kalau masih, aku ingin memperbaiki seperti semula. Kalau nggak, kita bangun lagi dari awal. Bagaimana?"
"Nggak." Jawab ku singkat. Padahal dalam hatiku, abai yang ia lakukan membuatku hampir mati rasa. Namun, tak dapat aku pungkiri, rasa itu masih miliknya. Meski tak sebesar dulu. "Kita sudah lama tidak saling memberi kabar. Bukankah ini akan sia-sia? Menunggu dan terus menunggu."
"Iya ukh. Aku terima jawabanmu."
Dan entah mengapa, chat kami berakhir pada titik itu. Dan hatiku mendadak kehilangan yang memang benar-benar kehilangan. Tanpa ku sadari, air mata jatuh membasahi pipiku. Aku menangis.
Sungguh hal ini di luar nalar ku. Aku bisa menangis karena laki-laki itu. Laki-laki yang dulunya membuatku tertawa terkekeh dan tersenyum manis.
Tuhan tengah menegurku dalam. Begitu dalam rasa yang ku berikan kepada laki-laki itu hingga aku dibuatnya nyaman. Hingga tanpa ku sadari, aku mencintainya terlalu berlebihan. Hingga kali ini, Tuhan menariknya menjauh dari hidupku.
"Kalau akhi ingin berlanjut tentang hubungan kita, silahkan main ke rumah." Pesan itu terkirim dengan sempurna bersama hatiku yang siap tidak siap dgn jawaban yang ia berikan.
Aku mengaharapkannya untuk menjadi milikku yang nyata. Namun, aku tak mengharapkannya tetap membawa ku pada ruang abu-abu miliknya.
Meski terasa begitu menyakitkan aku harus ikhlas melepaskan cerita kami. Bersama kenangan yang pernah terjalin. Ku biarkan Tuhan membimbingku ke masa depan.
"Allah itu Maha Pencemburu Diba. Kita disuruh untuk mencintai-Nya dulu baru mencintai ciptaannya." Ungkap seorang teman kampus ku yang begitu menyimak cerita yang ku ungkapkan panjang lebar.
Aku tersentak. "Allah Maha Pencemburu". Kata-kata itu benar mengganggu setiap sel otakku. Mungkin benar kata Mbak Fitri, Allah tengah mencemburui setiap rasaku kepada Mas Rifki. Hingga jalan ini kami lalui. Berjalan pada poros yang tak lagi sama.

*cerita ini terinspirasi dari sebuah kisah yg di lalui oleh teman saya. Tagar #ceritateman ini saya buat semata-mata untuk kembali diingat ketika saya merindukan teman-teman saya yang sudah sabar dan cerewet bercerita kepada saya tentang kisah hidupnya. Terima kasih mbak **** (disamarkan) atas ceritanya. Keep fighting. Jodoh nggak akan kemana kok.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar