Kadang dunia tak sebaik yang kamu kira. Bahkan terkadang dunia tak seburuk yang kamu bayangkan. Lakukan dan nikmati saja. Pelangi akan datang. Tuhan tak akan menciptakan sesuatu tanpa alasan. Mari bercerita bersama saya. Burung kecil yang lahir di hari ke 4 idul fitri. Selamat membaca gih...
Senin, 20 April 2015
Mungkin Kamu Sedang Hujan
Pernah kau melihat pelangi? Indah ya? Merah, kuning, hijau, nila, orange, biru, ungu. Aku suka pelangi. Pelangi menurutku adalah sebuah hiasan yang terjatuh di bumi. Padahal asal aslinya dari surga.
Pelangi selalu datang setelah hujan. Hasil pembiasan rintik hujan dan sinar mentari yang mulai kembali gagahi bumi. Bukan. Bukan selalu datang. Tapi kata yang lebih tepat adalah "pelangi terkadang datang selepas hujan". Aku rasa itu lebih benar. Karena tak semua kondisi selepas hujan, bisa memunculkan pelangi yang indah.
Manusia hidup memiliki mimpi, harapan dan kisah hidup masing-masing. Jalanan takdirpun tak serta merta sama dengan orang satu dan orang lainnya. Seperti pelangi. Berwarna warni. Mungkin akan terdengar sama, namun hakikatnya berbeda. Bukankah itu adalah keindahan yang diciptakan oleh Dzat Maha Penulis Naskah Yang Maha Agung? Ya. Ia penulis hebat yang menulis satu kisah dengan kisah lainnya berbeda. Siapa penulis favorit ku? Tuhan.
Tuhan menghadirkan rasa yang banyak. Ada beberapa rasa yang sengaja Ia turunkan dari surga. Kebahagiaan, cinta, kasih sayang, dan segala macam bentuk keindahan yang sudah hadir dari Allah menciptakan bumi dan seisinya ini tanpa campur tangan manusia.
Namun, ada beberapa rasa juga yang ia hadirkan di bumi ini yang berasal dari neraka. Segala bentuk rasa sakit, rasa kecewa dan kawan-kawannya.
Aaah aku tidak ingin bercerita tentang rasa. Aku ingin bercerita mengenai sebuah rasa yang sedang ku rasakan. Curhat sebisanya. Entahlah, betapa sulitnya bagiku untuk bercerita kepada manusia secara langsung. Aku belum bisa percaya kepada seorangpun didunia ini.
Rasaku tengah diombang ambingkan angin barat. Porak poranda. Semua serasa berubah saat dia mulai KKN. Sikap dan sifarnya bukan lagi "milikku". Tanpa disadari, sikapnya begitu acuh atas kehadiran ku. Apakah aku kecewa? Sangat. Bahkan, aku tak mengenali dia yang dulu. Aku merasa asing atas tubuh tinggi dan gigi gingsul itu. Senyumannya lebih kaku. Ungkapannya dan perkataannya lebih kasar dari pada dulu. Dia seperti bukan kekasihku.
Beberapa kali aku menghubunginya, nihil. Mencoba untuk mengirimkan pesan, ditanggapi dengan hambar. Bahkan terkadang dengan luapan emosi yang tak senang. Apakah salah aku merindukannya? Apakah salah aku merindukannya? Apakah salah aku merindukannya? Kalau salah, kan ku pendam rasaku sendiri dan ku alihkan kepada orang lain yang berbahagia dapat merasakan di rindukan. Mungkinkah dia sedang hujan? Lalu, kapan pelangi itu muncul? Janganlah berharap banyak. Kapan hujan itu akan berhenti?
Aku paham disana kamu sibuk. Aku paham disana kamu banyak pikiran. Aku paham disana kamu nyaman. Aku paham disana kau punya teman (lagi). Aku paham disana kamu dibahagiakan dengan hidup jauh dari orang tua yang selalu menghujatmu. Aku paham disana kamu bisa lebih bebas. Aku tahu disana kamu bisa beristirahat lebih baik. Aku tahu disana kamu mendapatkan dunia yang baru. Dan aku adalah bagian dari dunia mu disini yang ingin kamu lupakan sejenak dan belum tentu akan kau peluk lagi dengan hangat. Terserah kamu akan seperti apa padaku. Apapun pandanganmu, aku adalah orang yang sama yang mencintaimu selama 4tahun. Aku menghubungimu, demi kita sama-sama tidak merasa kosong dan kamu slalu menghujatku. Tak apa. Aku menerimanya.
Aku benar-benar mulai lelah hadapi sikapnya. Aku ingin berlari sejauh mungkin. Meredamkan rasa kecewa ini agar mati bersama rasa sakit hati. Tuhan, kapan dia akan kembali menjadi milikku?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar