Jatuh hati. Falling in love. Siapa disini yang belum pernah merasakan? Sangsi banget kalau ada yang belum pernah jatuh hati hehehe rasa yang hadir dengan dahsyat. Bisa membuat tersenyum kala membaca pesan dari si dia dan bisa tersenyum geli saat memandangi wajah yang terpampang di layar handphone. Mungkin disini yang membacapun tengah merasakan jatuh hati?
Bagaimana pandangan islam mengenai jatuh hati?
Apa yang harus saya lakukan?
Ngomongin jatuh cinta mah nggak ada habisnya. Makanan sehari-hari akhwat, yang juga tiap hari bisa bikin nangis sampe garuk-garuk tembok. Hehehe
Selow ukhti… selooow…. Hehehehe :D
Cinta adalah sebuah rasa yang merupakan fitrah bagi setiap manusia. Rasa yang hadir dan tumbuh dalam hati setiap insan. Tapi kita selalu salah dalam menyikapi rasa yang luar biasa itu. Terutama akhwat. Biasanya tambah rieweuh kalau lagi jatuh hati. Saya ngeliatnya aja bisa puyeng. Hehehe (mungkin itu juga yang dirasakan temen-temen saya kalau ngeliat saya lagi kasmaran. Hehehe)
Sebagai seorang muslimah, kita pasti merasakan cinta yang bergemuruh didalam dada kala didepan mata tengah berdiri seorang ikhwan beragama yang kuat. Lalu kita gelisah, apa yang harus saya lakukan? Dan kadang kita jadi heboh sendiri karena hadirnya rasa itu.
Teringatlah saya kepada kisah Fatimah Az-zahra dan Ali bin Abu Thalib. Siapa yang tidak ingin seperti Fatimah? Yang dalam diam tapi mendapatkan cintanya yang sempurna. Menyimpan rasanya hingga setanpun tak dapat mengetahui kedalaman cinta yang ia miliki. Mencintai dalam diam. Seperti itulah yang seharusnya akhwat lakukan agar rasa cintanya tetap terjaga.
Cinta dalam diam itu seperti apa? Cinta dalam diam itu adalah cinta yang tidak diungkapkan secara verbal maupun nonverbal. Tersimpan manis didalam hati dan juga didalam doa. Diungkapkan kepada Allah, bukan kepada si pengobrak abrik hatinya. (alah, bahasanya mulai celeneh). Cinta adalah sebuah rasa yang kalau diungkapin ke yang non muhrim maka nilainya adalah haram. Lagian biar menjaga satu sama lain agar rasa itu tetap bersih. Setan masuk diantara dua insan non mahram yang saling mengungkapkan cinta dan mempelosokkan mereka kedalam hubungan yang haram. Ngeri kaaaan?! :’(
Inti dari jatuh cinta/jatuh hati hanyalah 1. Ikhlas. Ikhlas memberi, ikhlas menerima dan ikhlas melepaskan. Nggak semua yang saling mencintai harus bersama. Mungkin saja lagi keblinger karena rasa nyaman yang menjelma seperti cinta. Itulah mengapa saat kita jatuh cinta harus semakin mendekat sama Allah. Why? Karena agar kita terhindar dari cinta yang salah.
Implementasi dari aku mencintaimu karena Allah adalah diam mu. Kepasrahanmu. Keikhlasanmu. Berjuanglah semampunya. Jangan pernah nekat ataupun melukai koridor agama hanya karena cinta. Tapi kalau dirasa inilah yang terbaik dan nggak ada alasan syar'i untuk meninggalkan cinta itu, nekat juga butuh dilakukan. Biasanya lakik nih yang bakalan nekat. Tapiiii cinta emang butuh nekat untuk bersama. Kalau nggak nekat, trus kapan bisa bersamanya? Saling mengusahakan dalam sikap dan doa aja! Pasrah sih boleh pasrah, tapi ya tetep kudu ngusahain. Mau diem aja gitu ngikutin air? Emang situ ranting patah yang kebawa di air comberan? Yuk nekat berjama'ah dalam hal positif. Hehehe. (Ngajari elek nih Riri). Bukankah baiti jannati adalah tujuannya? Bukankah bertemu kembali di jannah-Nya adalah tujuannya? Maka mari restart niat. Restart iman. Restart apapun yang selayaknya di restart.
Simpan rasamu! Ungkapkan bagi yang berani menghalalkan mu. Bukan untuk pengecut yang hanya memberimu angan dunia. Karena bukti cinta seorang ikhwan adalah menikahi, bukan memberi angan tak pasti. Keep istiqomah dalam rasa indah. Deketin yang punya hati dan mari menyamakan niat Lillah.
Semoga yang saat ini ta’aruf, ta’arufnya dimudahkan dan di sukseskan. Yang belum berani ta’aruf, puasanya di kencengin ya. Yang mau nikah, semoga dimudahkan dalam proses menunggu akad. Yang sudah menikah, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah dan barokah.
Salam hangat
Riri
Kadang dunia tak sebaik yang kamu kira. Bahkan terkadang dunia tak seburuk yang kamu bayangkan. Lakukan dan nikmati saja. Pelangi akan datang. Tuhan tak akan menciptakan sesuatu tanpa alasan. Mari bercerita bersama saya. Burung kecil yang lahir di hari ke 4 idul fitri. Selamat membaca gih...
Jumat, 30 Oktober 2015
SAYA YANG TIDAK MEMPERJUANGKAN
Disepi malam hatiku menyesak. Ada rasa lelah yang etah datangnya dari mana. Mood hancur lebur bersama isi kepala yang bertawaf semaunya. Rasanya ingin berteriak yang hebat. Melepaskan segala beban yang merasuk dan mengisi jiwa.
Hal seperti ini tak sekali dua kali saya alami. Ketika ada ikhwan yang cenderung kepada saya, saya tidak dapat memperjuangkan mereka. Tapi kali ini lebih sesak. Entahlah mengapa.
Apakah saya hanya diam? Apakah saya tidak mengusahakan?
Entahlah. Prasaan, saya ya masih kayak gini saja. Tapi, ada sebuah rotasi yang berubah. Dulu tak ada 1pun nama yang saya sebut dalam doa. Tapi kali ini, saya menyebut nama seorang ikhwan. Bahkan beberapa hari yang lalu nangis parah saking emosionalnya.
Saya benar-benar jatuh hati. Bersamanya, rasanya tengah bercermin. Terlampau absurd untuk berbicara mengenai masa depan dan kedepannya macam apa. Mungkin dia sekarang tengah merasakan tidak saya perjuangkan. Padahal, saya tengah hebat-hebatnya merayu Allah hanya untuk bersamanya dan menemaninya menghabiskan usia. Ada air mata yang menetes kala "Yaa Allah, dia laki-laki yang baik. Yg insyaAllah mampu membawaku mewujudkan baiti jannati dan menuju jannah-Mu. Jadikanlah ia imam ku. Pelengkap imanku. Aku mencintainya karena agamanya Yaa Allah. Aku mencintainya karena Mu." Lalu saya ingat. Ikhlaskan! Sejatuh hati apapun saya kepada ikhwan itu, tetap saja takdir membimbing pada jalanan yang tak seperti yang saya targetkan. Dan saya menyimpan rasa ini untuk saya sendiri tanpa saya ucapkan kepada ikhwan itu. Saya memperjuangkannya dengan cara ku. Cara yang menjaga ku dan menjaganya dari dosa yang bisa saja hadir karena rasa cinta ini.
Beberapa pekan setelah memutuskan untuk mengenalnya lebih dekat, ada sebuah perubahan terbesar dalam hidup saya. Mendewasa. Karenanya saya merasakan nyamannya mendewasa. Dibimbing mendewasa oleh orang yang baru 1x bertemu dan entah ada bait obrolan yang hadir nyata atau belum, sayapun tak ingat. Dan karenanya, saya berani belajar mencintai dari jauh.
Saya akan tetap mempertahankan doa saya. Apapun hasilnya kelak. Masih tersisa 8pekan. Tak terasa, waktu cepat bergulir. Dan inilah cara saya berjuang untuk cinta saya. Saya yang diam seribu bahasa mengenai perasaan saat chat dengan dia.
Untuk kamu yang berjuang untuk saya, tetaplah berjuang. Sayapun berjuang untuk kamu dengan caraku. Kita jatuh cinta karena-Nya. Pasti ada rencana indah dibalik semua.
Jangan cemberut! Nanti keliatan umurnya. Jangan lupa senyum ya Mas. :)
Hal seperti ini tak sekali dua kali saya alami. Ketika ada ikhwan yang cenderung kepada saya, saya tidak dapat memperjuangkan mereka. Tapi kali ini lebih sesak. Entahlah mengapa.
Apakah saya hanya diam? Apakah saya tidak mengusahakan?
Entahlah. Prasaan, saya ya masih kayak gini saja. Tapi, ada sebuah rotasi yang berubah. Dulu tak ada 1pun nama yang saya sebut dalam doa. Tapi kali ini, saya menyebut nama seorang ikhwan. Bahkan beberapa hari yang lalu nangis parah saking emosionalnya.
Saya benar-benar jatuh hati. Bersamanya, rasanya tengah bercermin. Terlampau absurd untuk berbicara mengenai masa depan dan kedepannya macam apa. Mungkin dia sekarang tengah merasakan tidak saya perjuangkan. Padahal, saya tengah hebat-hebatnya merayu Allah hanya untuk bersamanya dan menemaninya menghabiskan usia. Ada air mata yang menetes kala "Yaa Allah, dia laki-laki yang baik. Yg insyaAllah mampu membawaku mewujudkan baiti jannati dan menuju jannah-Mu. Jadikanlah ia imam ku. Pelengkap imanku. Aku mencintainya karena agamanya Yaa Allah. Aku mencintainya karena Mu." Lalu saya ingat. Ikhlaskan! Sejatuh hati apapun saya kepada ikhwan itu, tetap saja takdir membimbing pada jalanan yang tak seperti yang saya targetkan. Dan saya menyimpan rasa ini untuk saya sendiri tanpa saya ucapkan kepada ikhwan itu. Saya memperjuangkannya dengan cara ku. Cara yang menjaga ku dan menjaganya dari dosa yang bisa saja hadir karena rasa cinta ini.
Beberapa pekan setelah memutuskan untuk mengenalnya lebih dekat, ada sebuah perubahan terbesar dalam hidup saya. Mendewasa. Karenanya saya merasakan nyamannya mendewasa. Dibimbing mendewasa oleh orang yang baru 1x bertemu dan entah ada bait obrolan yang hadir nyata atau belum, sayapun tak ingat. Dan karenanya, saya berani belajar mencintai dari jauh.
Saya akan tetap mempertahankan doa saya. Apapun hasilnya kelak. Masih tersisa 8pekan. Tak terasa, waktu cepat bergulir. Dan inilah cara saya berjuang untuk cinta saya. Saya yang diam seribu bahasa mengenai perasaan saat chat dengan dia.
Untuk kamu yang berjuang untuk saya, tetaplah berjuang. Sayapun berjuang untuk kamu dengan caraku. Kita jatuh cinta karena-Nya. Pasti ada rencana indah dibalik semua.
Jangan cemberut! Nanti keliatan umurnya. Jangan lupa senyum ya Mas. :)
Jumat, 23 Oktober 2015
KAPAN PENDIDIKAN ANAK DIMULAI?
Bismillahirrohmanirrohim.
Tulisan saya kali ini terkesan lebih serius dibandingkan
tulisan-tulisan saya sebelumnya. Kali ini saya ingin membahas mengenai parenting dan pentingnya pendidikan anak
sebelum dia lahir didunia. What?
Berat bener bahasannya. Slow yak!
Disini saya bakalan kupas hal tersebut secara santai.
Kapan sih seorang anak itu harus diberikan pendidikan?
Mungkin kita sebagai calon ayah/ibu seharusnya wajib kepo sama hal yang
terkesan simple ini. Tapi kalau
ditanya kayak gitu, kita nggak bisa jawab kan? Hihihi
Baiklah mari kita bahas bersama. Begini, anak itu bukan
dididik dari sesudah dia lahir. Inilah kesalahan orang-orang dalam menafsirkan
mendidik anak. Jadi, mendidik anak itu dimulai saat ayah dan ibunya saling mencari
jodoh. Loh, hubungannya apa coba?
“Bila datang kepadamu orang
yang kamu sukai agama dan akhlaknya, maka kawinilah. Jika tidak kamu lakukan, niscahya terjadi fitnah dimuka
bumi dan kerusakan yang besar.”
(HR. Tirmidzi)
Jadi dalam memilih pasangan merupakan factor yang penting
dalam mewujudkan lahirny generasi yang unggul serta membentuk keluarga yang
sakinah.
Konsep memilih jodoh inipun selaras dengan hadist
Rasulullah
“Wanitan itu diikahi karena
4 hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah yang beragama agar
kamu beruntung.” (HR. Bukhari)
Untuk mewujudkan generasi unggul dimulai dari masa
prakonsepsi yang merupakan salah satu upaya dalam mempersiapkan pendidikan yang
dimulai sejak seseorang memilih pasangan hidup hingga terjadi pembuahan dalam
rahhim sang ibu.
Faktor agama memanglah penting. Namun ada faktor lain
yang harus dijadikan patokan pula. Faktor niat, iktikad, maksud dan tujuan
pernikahan yang semata-mata untuk meraih cinta-Nya serta ridha-Nya akan sangat berpengaruh
terhadap jiwa religious sang embrio. Secara tidak langsung Islam sangat
mengistimewakan calon-calon khalifah dunia dengan memilihkan ayah dan ibu yang
memiliki kepribadian dan akhlak yang mulia.
Setelah menemukan jodoh dan menikah, maka agar meningkatkan
keturunan yang baik, suami haruslah menggauli istri dengan baik. Sebelum
melakukan hubungan suami istri maka di sunnahkan untuk sholat serta berdoa.
Agar syetan tidak dapat turut andil dalam proses tersebut. Hubungan suami istri
adalah pertemuan mulia akan keduanya dan oleh sebab itu di anjurkan dalam
keadaan suci bersih. Dan ini harus dicatat baik-baik ya, hubungan suami-istri
adalah bertemunya sel-sel benih terciptanya manusia, sehingga dalam proses
tersebut dapat membentuk kepribadian atau perkembangan anak selanjutnya.
Setalah sang ibu dinyatakan hamil, maka tugas berikutnya
yaitu ibu dan ayah wajib mengajarkan pendidikan kepada sang calon anak yang
masih didalam perut. Emang sih nggak bisa secara langsung. Trus gimana? Caranya
yaitu kedua calon orang tua sama-sama memperbanyak amal shalih, memperbaiki
qualitas ibadah, lebih khusuk dalam sholat, perbanyak sholat sunnah, puasa
sunnah, banyak-banyak membaca Al Qur’an dan masih banyak yag lainnya. Tapi
jangan lupa, hablum minan naas juga kudu tetap dijaga.
Menurut Mastuhu, semua yang dilakukan oleh sang ibu dan
ayah adalah self suggestion agar
sifat-sifat terpuji itu dapat masuk kedalam jiwa sang calon bayi. Bukan hanya
itu saja, calon orang tua juga wajib tahu dan paham mengenai asal usul serta
proses terjadinya manusia sehingga dapat mengetahui apa yang harus dilakukan.
Sekarang udah tahu dong mulai kapan anak dikenalkan
dengan pendidikan? Sejak dia belum lahir. Jadi kurang tepat tuh kalau ada
pendapat pendidikan itu diberikan kepada anak saat ia sudah lahir didunia saja.
Semoga tulisan kali ini bermanfaat bagi akhwat dan ikhwan
yang tengah berusaha menemukan jodoh,
sedang menunggu hadirnya senyum mungil yang menggemaskan. Tulisan ini
referensinya berasal dari “BUKU PINTAR
PAUD dalam perspektif islam” karya Imam Musbikin.
sebagai muslim dan muslimah, kita diwajibkan untuk terus belajar sepanjang hayat. sesedikit apapun ilmu yang dipunya, insyaAllah akan tetap bermanfaat. sharing ilmu itu ibadah.
salam hangat,
riry
Senin, 19 Oktober 2015
menuju 23
Tak terasa. Kini hanya menunggu bulan usiaku berpindah. Bukan lagi fase dimana tinggi badan dapat bertambah dan bukan pula fase untuk bersikap seperti saat ini.
Usia 23 tahun sangat menakutkan untukku. Karena sampai detik ini banyak hal yg belum dapat aku wujudkan.
Abdurrahman. Lelaki kecil yang sangat akan aku rugikan. Lelaki berwajah tembem dengan mata sipit khas ibunya. Maafkan ibu nak, belum dapat menghadirkanmu didunia. Ayahmu sedang berjuang dengan hebatnya. Ibupun tak tinggal diam nak, ibu juga tengah berjuang untuk mu dan ayahmu. Sabar gih hafidznya ibu. :'*
Udah udah. Fase somplaknya udahan dulu.
Mendewasa. Fase diusia 23 tahun yang akan datang, mau tidak mau pola pikir dan semua sikap harus dewasa. Ini yang sangat saya benci. Dewasa. Tapi, apaboleh buat, fase inipun akan tetap datang sekuat apapun aku menolak.
Iman masih terombang ambing. Introspeksi disana sini dan ternyata banyak banget yang kudu di perbaiki. PRnya banyak bener. But, i know, aku pasti bisa. Demi ayahnya Rahman, Rahman dan adik-adiknya. Be muslimah yang punya otak dalam bersikap. Beraaat. InsyaAllah nanti dimudahkan sama Allah. Aamiin.
About marriage. Hmmm belum ada kepastian sampe kapan bisa ketemu sama jodoh. Udah berusaha sebaik mungkin. Let's see, siapa yg bakalan kerumah. Sampun pasrah maksud e. Hehehe Allah tahu manakah yang terbaik. Jodoh nggak akan datang tepat waktu, tapi akan datang diwaktu yang tepat. Fyuuuh. Ya sudahlah. Sampun ikhtiar, sampun berdo'a, mari jalani saja dan tunggu hasilnya. Pengennya sih bisa married di 2015 ini. But, ya sutralah, nunggu aja dulu. Someday i'll marriage with someone special from heaven. He will come and make our family to feel baiti jannati and insyaAllah our family will met again in heaven of Allah. Aamiin.
About college. Semangat untuk menuju akhir semester. Awal tahun depan udah semester 6. KKL butuh dana yg gede. Semoga dimudahkan dalam rezeki. Aamiin. Oh ya, nggak sabar nih 1,5tahun lagi pakek toga trus disamping ada suami dan diperut ada Rahman. Hihihihiih mimpinya gede bener yak. Hehehe insyaAllah semua akan terwujud. Biar bisa cerita ke Rahman "mas, dulu mas Rahman ikut munaqosah loh. Kecik-kecik udah jadi sarjana." Lah, yang jadi sarjana mah ibunya. Ayahnya puyeng mikir bayar kuliah ibunya. Hehehe
About family of Mr. Muhammad Sugiyono. Difase umur 23 itu saya yakin banget. Saya udah diboyong sama lakik. Dan mimpi mamak buat punya anak lakik terwujud. Yeay. *ini ngayalnya tingkat dewa*.
About fashion. Entahlah mulai berpikir untuk pakek kaos kaki susah bener. Iya. Diluaran mah Riri pakek kaos kaki mulu. Lhah kalau dirumah pakek kaos kaki itu yang susah. InsyaAllah nanti lebih diistiqomahin lagi.
About book. Huwaaaaah ancur dah. Banyak buku baru yang muncul dan seluruhnya dr penulis-penulis kesayangan. InsyaAllah nanti 23 udah kebeli semua bukunya. *nabung nabung nabung*
About nanjak. Hmmm embuh! Pengen ke Pangrango, Lawu, Rinjani, Sindoro, aaaaaaargh pengen ke Kelinci. Ups. Kerinci maksudnya. *muter-muter nyari mahram*
Saya nggak butuh diterima siapapun dengan segala bentuk keabsurd-an yang saya punya. Karena suatu saat nanti akan datang pangeran dengan berkuda besi yang akan menerima saya apa adanya. Masih yakin dengan konsep An Nur 26. Dia pun pasti tak jauh berbeda dari saya. See you at the right time my hubby. I'm waiting you with all about my obedient.
Enough Allah. Only Allah. Seperti halnya perjanjian luar biasa "inna sholati wamah yaya wama mati lillahi ta'ala yang artinya sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah ta'ala" *usap kringet* *benerin jilbab*.
22tahun. Fase hidup paling berat. Dan saya insyaAllah lulus. Mau manjangin jilbab lagi, tapi, mikir-mikir. Segini dulu aja deh. :D
Waktu membawamu (lebih tepatnya memaksamu) untuk lebih dewasa. Dan saya merasakan itu. Mendewasa itu mutlak. Mau ditolak kek apapun, mendewasa itu pasti akan menghampiri mereka yang sudah mulai matang dalam berpikir. Salam super. *salah acara*.
Kamu harus bahagia! Senyumnya yang lebar ya! Jangan lupa sama ibadahnya! Bersyukur sebanyak-banyaknya! Mohon ampun atas segalanya! Ia akan berikan imbalan yang pantas bagi umat-Nya yang mau manut.
Sekian dan terimakasih.
Salam hangat
Riri yang lagi somplak di subuh hari. Hehehe
Kamis, 08 Oktober 2015
UNTUK KAMU
Untuk siapapun kamu yang tengah Allah persiapkan.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Setiap hati, berrotasi sesuai alur yang telah di tuliskan oleh Allah dilauhul mahfudz. Setiap hati pernah berkutat dengan rasa cinta yang hebat dan lemah. Setiap hati pernah membawa tawa dan tangis. Setiap hati pernah terbang melayang dan patah. Kamu pernah berjuang untuk dia yang pernah kamu peluk dengan hangat. Akupun pernah berjuang untuk dia yang pernah memelukku hingga aku sesak nafas. Kita pernah berjanji dengan mereka, bahwa kita akan menemaninya menua. Lalu, kita patah tidak dapat memperjuangkan mereka karena Allah meminta kita untuk berhenti.
Maaf. Maafkanlah aku yang tidak sempurna. Maafkanlah aku atas masalaluku yang kelam. Maafkanlah aku yang lalai akan kewajiban ku. Maafkanlah aku atas segala kesalahanku. Maaf, karena aku hanya dapat meminta maaf padamu atas segala yang pernah terjadi pada masalaluku.
Akhi, jika suatu hari nanti kita dapat bersua, jangan pernah mengatakan satu patah katapun tentang masalalumu. Aku tidak peduli dengan apapun yang pernah kamu lakukan dimasalalumu. Bagiku, aku cukup dengan kamu saat ini dan dimasa yang akan datang. Aku telah sebenar-benarnya memaafkanmu atas masalalumu.
Akhi, bila suatu hari nanti hatimu ragu, bersujudlah. Sentuhkanlah kening dan ujung hidungmu. Berdialoglah dengan-Nya. Agar hatimu tentram dan dapati yang terbaik sebagai jarum petunjuk langkah berikutnya. Bila ada namaku, maka datanglah padaku. Bila tidak ada namaku, maka berhentilah.
Akhi, bila hatimu telah yakin atas diriku, terimakasih. Terimakasih sudah mengizinkan ku hidup dari sepenggal tulang rusukmu. Datanglah lebih cepat! Bila kamu datang untuk memintaku kepada wali ku, maka ada 2 syarat bagimu. Yang pertama adalah aku ikhlas serta ridha untuk kamu nikahi dengan syarat kamu tidak akan mempoligami ku dan kamu tidak akan main hati dibelakang ku (kamu boleh menikah lagi kalau aku sudah berjumpa dgn ajalku). Bila kamu melakukannya, maka jatuhlah talak mu atas diriku. Yang kedua, bila kamu mengkhitbahku, maka hari itu juga kamu akan ikhlas dan ridha menikahiku. Bawalah mahar seperangkat alat sholat untukku dan apapun yang kamu ridhai untuk dijadikan mahar bagiku. Akhi, aku tidak main-main. Hanya itulah mahar yang aku inginkan. Karena sesungguhnya, niatku untuk menikah dengan mu hanya untuk beribadah kepada-Nya.
Akhi, kita pernah sama-sama salah. Kita pernah sama-sama jahatnya. Tapi aku ingin berhijrah atas cinta suci yang Ia karuniakan kepada kita berdua. Biarlah masalalu menjadi pelajaran bagi kita. Bahwa kita adalah manusia. Yang pernah lalai dan pernah salah. Mari sama-sama berjalan, meraih cinta-Nya, agar kita dapat membangun baiti jannati hingga suatu saat nanti kita dapat kembali bersatu di jannah-Nya.
Akhi, i miss you. I'll waiting you with my obidient too Allah. I love you because Allah and your obedient. See you in the right time.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Kekasih duniamu yang insyaAllah akan menemanimu hingga jannah-Nya.
Cici Fitria binti Muhammad Sugiyono
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Setiap hati, berrotasi sesuai alur yang telah di tuliskan oleh Allah dilauhul mahfudz. Setiap hati pernah berkutat dengan rasa cinta yang hebat dan lemah. Setiap hati pernah membawa tawa dan tangis. Setiap hati pernah terbang melayang dan patah. Kamu pernah berjuang untuk dia yang pernah kamu peluk dengan hangat. Akupun pernah berjuang untuk dia yang pernah memelukku hingga aku sesak nafas. Kita pernah berjanji dengan mereka, bahwa kita akan menemaninya menua. Lalu, kita patah tidak dapat memperjuangkan mereka karena Allah meminta kita untuk berhenti.
Maaf. Maafkanlah aku yang tidak sempurna. Maafkanlah aku atas masalaluku yang kelam. Maafkanlah aku yang lalai akan kewajiban ku. Maafkanlah aku atas segala kesalahanku. Maaf, karena aku hanya dapat meminta maaf padamu atas segala yang pernah terjadi pada masalaluku.
Akhi, jika suatu hari nanti kita dapat bersua, jangan pernah mengatakan satu patah katapun tentang masalalumu. Aku tidak peduli dengan apapun yang pernah kamu lakukan dimasalalumu. Bagiku, aku cukup dengan kamu saat ini dan dimasa yang akan datang. Aku telah sebenar-benarnya memaafkanmu atas masalalumu.
Akhi, bila suatu hari nanti hatimu ragu, bersujudlah. Sentuhkanlah kening dan ujung hidungmu. Berdialoglah dengan-Nya. Agar hatimu tentram dan dapati yang terbaik sebagai jarum petunjuk langkah berikutnya. Bila ada namaku, maka datanglah padaku. Bila tidak ada namaku, maka berhentilah.
Akhi, bila hatimu telah yakin atas diriku, terimakasih. Terimakasih sudah mengizinkan ku hidup dari sepenggal tulang rusukmu. Datanglah lebih cepat! Bila kamu datang untuk memintaku kepada wali ku, maka ada 2 syarat bagimu. Yang pertama adalah aku ikhlas serta ridha untuk kamu nikahi dengan syarat kamu tidak akan mempoligami ku dan kamu tidak akan main hati dibelakang ku (kamu boleh menikah lagi kalau aku sudah berjumpa dgn ajalku). Bila kamu melakukannya, maka jatuhlah talak mu atas diriku. Yang kedua, bila kamu mengkhitbahku, maka hari itu juga kamu akan ikhlas dan ridha menikahiku. Bawalah mahar seperangkat alat sholat untukku dan apapun yang kamu ridhai untuk dijadikan mahar bagiku. Akhi, aku tidak main-main. Hanya itulah mahar yang aku inginkan. Karena sesungguhnya, niatku untuk menikah dengan mu hanya untuk beribadah kepada-Nya.
Akhi, kita pernah sama-sama salah. Kita pernah sama-sama jahatnya. Tapi aku ingin berhijrah atas cinta suci yang Ia karuniakan kepada kita berdua. Biarlah masalalu menjadi pelajaran bagi kita. Bahwa kita adalah manusia. Yang pernah lalai dan pernah salah. Mari sama-sama berjalan, meraih cinta-Nya, agar kita dapat membangun baiti jannati hingga suatu saat nanti kita dapat kembali bersatu di jannah-Nya.
Akhi, i miss you. I'll waiting you with my obidient too Allah. I love you because Allah and your obedient. See you in the right time.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Kekasih duniamu yang insyaAllah akan menemanimu hingga jannah-Nya.
Cici Fitria binti Muhammad Sugiyono
Senin, 05 Oktober 2015
RAYAKAN DENGAN BERSYUKUR
Mataku masih enggan terpejam. Pikiran ku melanglang buana mengikuti udara dini hari yang mulai mendingin. Kakiku masih berada diluar selimut. Sedangkan sebagian badan hingga lutut sudah tentram dipeluk kehangatan selimut.
Gelap. Membuatku sesak nafas. Membuatku takut jikalau ada sesuatu yang datang tiba-tiba. Hingga ku jadikan saja rasa takut itu ku alihkan dengan menulis. Diselingi makhluk di sampingku sudah mengigau kesana kemari. Cukup menghibur di dini hari.
Notification BBM pun berbunyi. Dari sahabat lama semasa SMK. Sebut saja mbak Li. Seperti biasa. Dia suka sekali curhat dengan ku. Tapi kali ini saya nggak mau ngomongin soal apa yang dia curhatin. Pamali. Tapi saya sedikit terhibur dengan pertanyaan yang kerap dia berikan.
"Kamu nggak punya masalah? Kok hidupmu bahagia-bahagia aja sih?" Yaaa seperti itulah.
Hidup. Kalau bahasa enggresnya "life" adalah waktu dimana kita menjalani sebuah amanah dari Allah. Amanah yang amatlah berat pertanggung jawaban kita di akhirat kelak, be khalifah. Entah itu untuk diri kita sendiri ataupun untuk orang lain. Definisi hidup yang lainnya yaitu waktu dimana kita diwajibkan untuk beribadah kepada Allah serta menuntut ilmu dari dalam kandungan hingga berakhir di liang lahat. Ya itulah hidup.
Menjalani hidup layaknya kita mendaki sebuah gunung. Kadang jalannya landai, kadang nemu bonus, kadang nemu trek bebatuan, dan kadang nemu trek climbing yang bikin kaki gemeteran. Menjalani hidup itu serasa bawa carrier gede. Intinya sama. Jalani saja dulu! Nanti juga tahu hasilnya. Hehehe
Hidup itu adalah mindset kita. Kalau mindset kita "I'm happy" ya bakalan happy-happy aja. Kalau udah bilang "I'm quit from this game" ya kamu payah. Hidup perlu keyakinan hati sebagai tongkat untuk berjalan. :)
I'm happy? Alhamdulillah. Itulah yang tengah saya perjuangkan dengan sangat. Udah nggak usah diomongin yak saya sepatah apa beberapa bulan yang lalu. Heheehe but, inilah hasilnya. Sekarang saya bahagia. Kok bisa gitu? Ini rahasianya. Disimak baik-baik yak. Hehehe
Sudah bener sholatnya? Udah nambah sunnah? Udah puasa senin-kamis? Udah ketutup bolongnya puasa ramadhan? Udah mantab berhijrah? Udah senyum? Udah berteman dengan orang sholeh/ah? Udah buka Al Qur'annya? Udah belajar bersyukur? Masih ngeluh? Sudah bisa LILLAH? Sudah banyak berdzikir? Sudah tobat? Sudah banyak-banyak beristighfar? Sudah taubatan nasuha? Sudah nambah baca? Sudah yakin ke Allah? And then, the last is sudah bersedekah? Hihiihi banyak bener yak? Bacanya jangan ampe mewek yak! Tenang, saya juga belum sepenuhnya bisa ngelakuin itu semua! Tapi Alhamdulillah dengan menjadikan yang wajib tepat waktu dan sunnah yang "berasa wajib" alias sudah seperti rutinitas, hidup saya lebih terarah dan saya bisa merayakan hidup saya dengan bersyukur. Hasilnya saya lebih enjoy menghadapi hidup.
Apakah saya punya masalah? Banyak! Setiap orang pasti memiliki masalah. Begitupun saya. Kalau di pikir banget-banget, masalah saya banyak bener. Tugas yang kadang nyita waktu, jodoh yang tak kunjung datang, belum kesampean beli sepatu muncak, harus hemat demi bayar cicilan, nggak bisa jalan layaknya perempuan biasanya (ini asli yg paling jadi masalah saya dari kecik sampe sekarang) dan masih banyak yang lainnya. Tapi, saya nggak ambil pusing. Nikmati saja. Itu cara Allah untuk mendewasakan saya. Sebut saja seperti itu. Hehehe kembali, rayakan dengan bersyukur. Masalah itu nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan segala macam rahmat dan anugerah yang udah dikasih Allah secara cuma-cuma. Syukuri apapun yang udah dikasih Allah. Nanti pasti nikmatnya akan di tambah. Sekecil apapun, syukuri. Dikasih air putih doang, alhamdulillah. Dikasih rezeki nasi+tahu goreng aja, alhamdulillah. Dikasih seribu ya alhamdulillah. Dikasih jodoh? Alhamdulillah banget. Wkwkkw. Masalah mah bakalan lewat kalau kita merayakan hidup kita dengan bersyukur. Kalau versi Ustadz Yusuf Mansur jadi orang kerener yang bisa bersyukur itu. Jadikanlah Allah sebagai partner hidup dan sandarkan apapun hanya untuk-Nya. Kerener people! :D
Yang harus kita ingat, Allah memberikan beban, tidak akan pernah melebihi kapasitas kita. Ya masak saya mau dikasih beban 50kg, ya nggak bisa kan ya. Lha wong berat saya cuma 43kg. Beban kita samadengan dengan qualitas diri kita alias kemampuan kita. Semakin berat, maka semakin kuatlah kita.
Kenapa Allah kasih kita masalah? Itu tadi udah dijelasin. Biar tambah jleb nih. Kalau kita bahagia, inget Allah nggak? Kalau kita lagi dikasih rezeki, bilang makasih ma Allah nggak? I know jawabannya bakalan beda-beda. But rata-rata pasti, lupa. Iya kan? Masalah itu ada karena kasih sayang Allah. Allah suka lihat kita sholat malem sampe nangis minta dibantuin masalahnya biar cepetan rampung, Allah suka ngeliat kita berdoa pada-Nya, Allah suka ngeliat kita bersimpuh mohon ampun, Allah suka lihat kita taubat, Allah suka dgn sholawatan kita. Hal-hal itu sering kita lakukan saat kita "down". Ngaku! Ngaku! Ngaku!!! (Iya deh, Riri ngaku.) Kalau kita nggak ada masalah, bisakah kita seperti itu?????
Sertakan Allah, sertakan Allah, setakan Allah dan sertakan Allah. Let's be kerener! Don't be kerdiler! Allah bersama hamba-Nya yang mau mendekat kepada-Nya. Rayakan hidup dengan bersyukur. Alhamdulillah alhamdulillah dan alhamdulillah. ;)
Semoga bermanfaat. InsyaAllah itu yang saya tulis sudah terbukti disaya sendiri. Itulah mengapa saya sekarang lebih enjoy menikmati hidup. Be kerener yak. Jangan lupa ya, RAYAKAN HIDUP DENGAN BERSYUKUR :D
Salam hangat.
Riri
*kenapa sekarang ganti salam hangat? Kenapa nggak salam sayang seperti kemarin? *bisik2* ada ikhwan yang baca blog saya. Jagain dia biar nggak dosa karena saya. Jadi ya saya ganti saja salam hangat.hihihi :D
s
Gelap. Membuatku sesak nafas. Membuatku takut jikalau ada sesuatu yang datang tiba-tiba. Hingga ku jadikan saja rasa takut itu ku alihkan dengan menulis. Diselingi makhluk di sampingku sudah mengigau kesana kemari. Cukup menghibur di dini hari.
Notification BBM pun berbunyi. Dari sahabat lama semasa SMK. Sebut saja mbak Li. Seperti biasa. Dia suka sekali curhat dengan ku. Tapi kali ini saya nggak mau ngomongin soal apa yang dia curhatin. Pamali. Tapi saya sedikit terhibur dengan pertanyaan yang kerap dia berikan.
"Kamu nggak punya masalah? Kok hidupmu bahagia-bahagia aja sih?" Yaaa seperti itulah.
Hidup. Kalau bahasa enggresnya "life" adalah waktu dimana kita menjalani sebuah amanah dari Allah. Amanah yang amatlah berat pertanggung jawaban kita di akhirat kelak, be khalifah. Entah itu untuk diri kita sendiri ataupun untuk orang lain. Definisi hidup yang lainnya yaitu waktu dimana kita diwajibkan untuk beribadah kepada Allah serta menuntut ilmu dari dalam kandungan hingga berakhir di liang lahat. Ya itulah hidup.
Menjalani hidup layaknya kita mendaki sebuah gunung. Kadang jalannya landai, kadang nemu bonus, kadang nemu trek bebatuan, dan kadang nemu trek climbing yang bikin kaki gemeteran. Menjalani hidup itu serasa bawa carrier gede. Intinya sama. Jalani saja dulu! Nanti juga tahu hasilnya. Hehehe
Hidup itu adalah mindset kita. Kalau mindset kita "I'm happy" ya bakalan happy-happy aja. Kalau udah bilang "I'm quit from this game" ya kamu payah. Hidup perlu keyakinan hati sebagai tongkat untuk berjalan. :)
I'm happy? Alhamdulillah. Itulah yang tengah saya perjuangkan dengan sangat. Udah nggak usah diomongin yak saya sepatah apa beberapa bulan yang lalu. Heheehe but, inilah hasilnya. Sekarang saya bahagia. Kok bisa gitu? Ini rahasianya. Disimak baik-baik yak. Hehehe
Sudah bener sholatnya? Udah nambah sunnah? Udah puasa senin-kamis? Udah ketutup bolongnya puasa ramadhan? Udah mantab berhijrah? Udah senyum? Udah berteman dengan orang sholeh/ah? Udah buka Al Qur'annya? Udah belajar bersyukur? Masih ngeluh? Sudah bisa LILLAH? Sudah banyak berdzikir? Sudah tobat? Sudah banyak-banyak beristighfar? Sudah taubatan nasuha? Sudah nambah baca? Sudah yakin ke Allah? And then, the last is sudah bersedekah? Hihiihi banyak bener yak? Bacanya jangan ampe mewek yak! Tenang, saya juga belum sepenuhnya bisa ngelakuin itu semua! Tapi Alhamdulillah dengan menjadikan yang wajib tepat waktu dan sunnah yang "berasa wajib" alias sudah seperti rutinitas, hidup saya lebih terarah dan saya bisa merayakan hidup saya dengan bersyukur. Hasilnya saya lebih enjoy menghadapi hidup.
Apakah saya punya masalah? Banyak! Setiap orang pasti memiliki masalah. Begitupun saya. Kalau di pikir banget-banget, masalah saya banyak bener. Tugas yang kadang nyita waktu, jodoh yang tak kunjung datang, belum kesampean beli sepatu muncak, harus hemat demi bayar cicilan, nggak bisa jalan layaknya perempuan biasanya (ini asli yg paling jadi masalah saya dari kecik sampe sekarang) dan masih banyak yang lainnya. Tapi, saya nggak ambil pusing. Nikmati saja. Itu cara Allah untuk mendewasakan saya. Sebut saja seperti itu. Hehehe kembali, rayakan dengan bersyukur. Masalah itu nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan segala macam rahmat dan anugerah yang udah dikasih Allah secara cuma-cuma. Syukuri apapun yang udah dikasih Allah. Nanti pasti nikmatnya akan di tambah. Sekecil apapun, syukuri. Dikasih air putih doang, alhamdulillah. Dikasih rezeki nasi+tahu goreng aja, alhamdulillah. Dikasih seribu ya alhamdulillah. Dikasih jodoh? Alhamdulillah banget. Wkwkkw. Masalah mah bakalan lewat kalau kita merayakan hidup kita dengan bersyukur. Kalau versi Ustadz Yusuf Mansur jadi orang kerener yang bisa bersyukur itu. Jadikanlah Allah sebagai partner hidup dan sandarkan apapun hanya untuk-Nya. Kerener people! :D
Yang harus kita ingat, Allah memberikan beban, tidak akan pernah melebihi kapasitas kita. Ya masak saya mau dikasih beban 50kg, ya nggak bisa kan ya. Lha wong berat saya cuma 43kg. Beban kita samadengan dengan qualitas diri kita alias kemampuan kita. Semakin berat, maka semakin kuatlah kita.
Kenapa Allah kasih kita masalah? Itu tadi udah dijelasin. Biar tambah jleb nih. Kalau kita bahagia, inget Allah nggak? Kalau kita lagi dikasih rezeki, bilang makasih ma Allah nggak? I know jawabannya bakalan beda-beda. But rata-rata pasti, lupa. Iya kan? Masalah itu ada karena kasih sayang Allah. Allah suka lihat kita sholat malem sampe nangis minta dibantuin masalahnya biar cepetan rampung, Allah suka ngeliat kita berdoa pada-Nya, Allah suka ngeliat kita bersimpuh mohon ampun, Allah suka lihat kita taubat, Allah suka dgn sholawatan kita. Hal-hal itu sering kita lakukan saat kita "down". Ngaku! Ngaku! Ngaku!!! (Iya deh, Riri ngaku.) Kalau kita nggak ada masalah, bisakah kita seperti itu?????
Sertakan Allah, sertakan Allah, setakan Allah dan sertakan Allah. Let's be kerener! Don't be kerdiler! Allah bersama hamba-Nya yang mau mendekat kepada-Nya. Rayakan hidup dengan bersyukur. Alhamdulillah alhamdulillah dan alhamdulillah. ;)
Semoga bermanfaat. InsyaAllah itu yang saya tulis sudah terbukti disaya sendiri. Itulah mengapa saya sekarang lebih enjoy menikmati hidup. Be kerener yak. Jangan lupa ya, RAYAKAN HIDUP DENGAN BERSYUKUR :D
Salam hangat.
Riri
*kenapa sekarang ganti salam hangat? Kenapa nggak salam sayang seperti kemarin? *bisik2* ada ikhwan yang baca blog saya. Jagain dia biar nggak dosa karena saya. Jadi ya saya ganti saja salam hangat.hihihi :D
s
Langganan:
Komentar (Atom)