Jumat, 23 Oktober 2015

KAPAN PENDIDIKAN ANAK DIMULAI?



Bismillahirrohmanirrohim.
Tulisan saya kali ini terkesan lebih serius dibandingkan tulisan-tulisan saya sebelumnya. Kali ini saya ingin membahas mengenai parenting dan pentingnya pendidikan anak sebelum dia lahir didunia. What? Berat bener bahasannya. Slow yak! Disini saya bakalan kupas hal tersebut secara santai.
Kapan sih seorang anak itu harus diberikan pendidikan? Mungkin kita sebagai calon ayah/ibu seharusnya wajib kepo sama hal yang terkesan simple ini. Tapi kalau ditanya kayak gitu, kita nggak bisa jawab kan? Hihihi
Baiklah mari kita bahas bersama. Begini, anak itu bukan dididik dari sesudah dia lahir. Inilah kesalahan orang-orang dalam menafsirkan mendidik anak. Jadi, mendidik anak itu dimulai saat ayah dan ibunya saling mencari jodoh. Loh, hubungannya apa coba?
“Bila datang kepadamu orang yang kamu sukai agama dan akhlaknya, maka kawinilah. Jika tidak  kamu lakukan, niscahya terjadi fitnah dimuka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi)
Jadi dalam memilih pasangan merupakan factor yang penting dalam mewujudkan lahirny generasi yang unggul serta membentuk keluarga yang sakinah.
Konsep memilih jodoh inipun selaras dengan hadist Rasulullah
“Wanitan itu diikahi karena 4 hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan  karena agamanya. Pilihlah yang beragama agar kamu beruntung.” (HR. Bukhari)
Untuk mewujudkan generasi unggul dimulai dari masa prakonsepsi yang merupakan salah satu upaya dalam mempersiapkan pendidikan yang dimulai sejak seseorang memilih pasangan hidup hingga terjadi pembuahan dalam rahhim sang ibu.
Faktor agama memanglah penting. Namun ada faktor lain yang harus dijadikan patokan pula. Faktor niat, iktikad, maksud dan tujuan pernikahan yang semata-mata untuk meraih cinta-Nya serta ridha-Nya akan sangat berpengaruh terhadap jiwa religious sang embrio. Secara tidak langsung Islam sangat mengistimewakan calon-calon khalifah dunia dengan memilihkan ayah dan ibu yang memiliki kepribadian dan akhlak yang mulia.
Setelah menemukan jodoh dan menikah, maka agar meningkatkan keturunan yang baik, suami haruslah menggauli istri dengan baik. Sebelum melakukan hubungan suami istri maka di sunnahkan untuk sholat serta berdoa. Agar syetan tidak dapat turut andil dalam proses tersebut. Hubungan suami istri adalah pertemuan mulia akan keduanya dan oleh sebab itu di anjurkan dalam keadaan suci bersih. Dan ini harus dicatat baik-baik ya, hubungan suami-istri adalah bertemunya sel-sel benih terciptanya manusia, sehingga dalam proses tersebut dapat membentuk kepribadian atau perkembangan anak selanjutnya.
Setalah sang ibu dinyatakan hamil, maka tugas berikutnya yaitu ibu dan ayah wajib mengajarkan pendidikan kepada sang calon anak yang masih didalam perut. Emang sih nggak bisa secara langsung. Trus gimana? Caranya yaitu kedua calon orang tua sama-sama memperbanyak amal shalih, memperbaiki qualitas ibadah, lebih khusuk dalam sholat, perbanyak sholat sunnah, puasa sunnah, banyak-banyak membaca Al Qur’an dan masih banyak yag lainnya. Tapi jangan lupa, hablum minan naas juga kudu tetap dijaga.
Menurut Mastuhu, semua yang dilakukan oleh sang ibu dan ayah adalah self suggestion agar sifat-sifat terpuji itu dapat masuk kedalam jiwa sang calon bayi. Bukan hanya itu saja, calon orang tua juga wajib tahu dan paham mengenai asal usul serta proses terjadinya manusia sehingga dapat mengetahui apa yang harus dilakukan.
Sekarang udah tahu dong mulai kapan anak dikenalkan dengan pendidikan? Sejak dia belum lahir. Jadi kurang tepat tuh kalau ada pendapat pendidikan itu diberikan kepada anak saat ia sudah lahir didunia saja.
Semoga tulisan kali ini bermanfaat bagi akhwat dan ikhwan yang tengah berusaha  menemukan jodoh, sedang menunggu hadirnya senyum mungil yang menggemaskan. Tulisan ini referensinya berasal dari “BUKU PINTAR PAUD dalam perspektif islam” karya Imam Musbikin.
sebagai muslim dan muslimah, kita diwajibkan untuk terus belajar sepanjang hayat. sesedikit apapun ilmu yang dipunya, insyaAllah akan tetap bermanfaat. sharing ilmu itu ibadah.

salam hangat,
riry

1 komentar: