Raut wajah kawanku muram. Terlihat lelah setelah diguncang dengan puluhan tugas yang tak ubahnya kasih sayang seorang ibu, tidak ada habisnya. Aku tersenyum memandangnya, seraya ku tepuk pundaknya "innallaha ma anna". Dia tersenyum kembali. Ya. Inilah perjuangan kami. Demi mendapatkan gelar S.Pd.I kami bergelut dengan diri sendiri. Lelah, kami tetap bertahan. Tak jarang kami menangis disaat hati, kepala dan tubuh sudah sangat lelah.
Tumpukan buku semakin tahun semakin bertambah. Kamar tak ubahnya perpustakaan mungil. Dan kamar, adalah satu-satunya tempat ternyaman didunia ini dikala lelah menghampiri.
Isi kepalaku bertawaf. Aku terdiam sembari memandang langit-langit kamar yang dihias oleh bintang-bintang fosfor. Berulang kali menatap tembok merah marun yang di hias bintang-bintang dan aku tak nyaman dengan posisi apapun. Untuk apa aku sampai di tahap ini? Mati-matian belajar, mati-matian belajar, mati-matian bergerak seolah tak kenal lelah. Untuk siapa? Tak ada satupun jawaban.
-kelak aku hanya akan jadi ibu rumah tangga, itupun kalau aku bertemu dengan imam yg tidak mengizinkan ku berkerja. Lalu, buat apa ilmu ku? Gelar ku? Kalau aku bertemu dengan imam yang mengizinkan ku berkerja, ilmu dan ijazah S1 ku berguna untuk membantunya mencari nafkah. Ya, setidaknya bisa untuk ku mencukupi hal yg sifatnya pribadi."
Terlintas pikiran yang sedikit absurd. Lalu kembali aku berpikir, kuliah ku di pendidikan. Tak ada yg sia-sia belajar mengenai pendidikan. Apa lagi untuk anak usia dini. Kelak aku menjadi ibu, jadi ummi atau sebutan yang lain yang mungkin akan disematkan oleh bibir mungil itu untukku kelak. Tugas menjadi ibu tak semudah yang kita kira. Ustadzah, madrasah pertama adalah ibu. Ummi!
Kenapa aku harus belajar giat dan setinggi-tingginya sekolah? Kini aku temui jawabannya. Karena dia (anak ku kelak) berhak untuk mendapatkan ibu yang cerdas, ibu yang pintar, ibu yang wawasannya luas layaknya langit yang membentang kebiruan. Dunia anak adalah ibunya. Akulah dunia bagi ia kelak. Aku tidak ingin mempersembahkan baginya dunia yang kerdil. Aku ingin mempersembahkan baginya dunia yang begitu luas tak bertepi, melalui diriku, ibunya. Kala ia bertanya, aku mampu menjawab. Kala ia mulai penasaran dengan sesuatu, aku mampu membimbingnya. Saat ia mulai kesulitan, aku bisa menemaninya menemukan jawaban. Aku ingin menjadi langit untuk dia. Kemanapun dia pergi dan kelak dewasa, akulah yang ia cari dan ia datangi dalam berbagai kondisi.
Untuk suamiku kelak. Wahai engkau yang tengah di simpan Allah dengan baik. Sebaik mungkin aku belajar mati-matian hingga tak jarang aku lupa makan, lupa minum, lupa akan semua hal. Bahkan sesekali melupakan ibadah hingga bersujud diakhir waktu. Sungguh, maafkanlah sepenggal rusuk mu ini yang lalai. Sebagai seorang istri, aku sedikit banyak sudah belajar ilmunya. Alhamdulillah, kelak bila sudah bersama, insyaaAllah aku sudah memiliki bekal yang ala kadarnya. Sepahit-pahitnya tugas dosen, itulah cara seorang pendidik mendewasakan isi kepala yang dididik. Dan kedewasaan yang di tanamkan oleh dosenku, sedikit banyak mengubah pola pikirku, mengubah caraku beribadah dan berbagai macam perubahan yang ada. Dan aku yakini, inilah yang mendekatkan ku kepada Rabbku dan kembali, ini pula yang mendekatkan ku padamu. Aku belajar mati-matian, meneliti hingga kesana kemari ikut lembaga, aku belajar menjadi pemecah masalah. Untuk kelak siap untuk mengarungi bahtera yang rumah tangga yang tidak mungkin luput dari masalah yang datang. Bila ada masalah yang datang, aku bisa memecahkannya bersamamu hingga bahtera kita mampu mengarungi samudra kehidupan yang begitu ganas. Kamupun berhak memiliki istri yang wawasannya luas, cerdas dan pintar. Menjadi kebanggaan bagimu. "Ini loh istriku! Dia memang tidak cantik, dia tidak sempurna, tapi dia istri yang membanggakan karena dia ibu yang luar biasa bagi anakku dan istri yang penurut." Dan untuk itu, aku belajar.
Untuk kedua orang tuaku. Mereka adalah langit dan samudra ku. Bapak sebagai langit dan mamak sebagai samudra. Mamak sangat menginginkan ku dapat meraih gelar S.Pd.I. Beliau sangat ingin anaknya ini kelak bisa menjadi guru dan menjadi kebanggaan bagi bapak dan mamak. "Sak apik-apik e wong kerjo, sak dipandang-pandang e wong kerjo, guru." Begitu besar harapan bapak dan mamak untuk ku kelak dapat menjadi seorang guru. Dan mungkin, aku hanya dapat mengabulkan 1 harapan mamak. Lulus S1 tepat waktu dan membanggakan mamak dan bapak dengan IPK diatas 3. Namun untuk menjadi guru, aku belum tahu. Tergantung imamku kelak mengizinkan ku atau tidak. Sungguh, bukannya ingin mengecewakan mamak. Jujur, aku ingin menjadi guru kembali, namun, aku lebih ingin menjadi ibu rumah tangga yang bisa meluangkan seluruh waktuku hanya untuk suami dan anakku kelak. Agar anakku tidak kehilangan sosok ibunya, agar suamiku tidak kehilangan sosok istrinya. Mamak, maafkanlah anakmu.
Ingatkah dengan sebuah hadist mengenai muslimin yang ingin bahagia didunia dan akhirat harus mempunyai ilmu? Iya! Ilmu adalah salah satu dari 3 perkara yang akan kita bawa hingga kita meninggal. Dan kewajiban setiap muslim adalah menuntut ilmu. Bahkan hingga muncul bahwa bagi setiap muslim, dia harus belajar/menuntut ilmu dari dalam kandungan hingga berakhir di liang lahat. Menuntut ilmu itu termasuk ibadah.
Seorang akhwat tidaklah sia-sia dia belajar. Seorang akhwat haruslah cerdas, berwawasan luas dan pintar! Ingatkan dengan istri kecintaan Rasulullah, Aisyah? Beliau adalah seorang istri dan muslimah yang sangat cerdas. Tidak inginkah seperti Aisyah? Karena dimasa depan, tugas seorang muslimah tak seremeh temeh dulu. Menjadi ibu, istri dan anak yang luar biasa. Itulah yang kini aku perjuangkan. Menjadi muslimah yang luar biasa. Bismillah.