Senin, 14 Desember 2015

untuk kalian

Detik berganti. Menitpun bergulir. Jam semakin cepat merambat. Hari demi hari berlalu selaras helaan nafas yang kian memberat. Dunia, tak lagi sama. 
Raut wajah kawanku muram. Terlihat lelah setelah diguncang dengan puluhan tugas yang tak ubahnya kasih sayang seorang ibu, tidak ada habisnya. Aku tersenyum memandangnya, seraya ku tepuk pundaknya "innallaha ma anna". Dia tersenyum kembali. Ya. Inilah perjuangan kami. Demi mendapatkan gelar S.Pd.I kami bergelut dengan diri sendiri. Lelah, kami tetap bertahan. Tak jarang kami menangis disaat hati, kepala dan tubuh sudah sangat lelah. 
Tumpukan buku semakin tahun semakin bertambah. Kamar tak ubahnya perpustakaan mungil. Dan kamar, adalah satu-satunya tempat ternyaman didunia ini dikala lelah menghampiri. 
Isi kepalaku bertawaf. Aku terdiam sembari memandang langit-langit kamar yang dihias oleh bintang-bintang fosfor. Berulang kali menatap tembok merah marun yang di hias bintang-bintang dan aku tak nyaman dengan posisi apapun. Untuk apa aku sampai di tahap ini? Mati-matian belajar, mati-matian belajar, mati-matian bergerak seolah tak kenal lelah. Untuk siapa? Tak ada satupun jawaban. 
-kelak aku hanya akan jadi ibu rumah tangga, itupun kalau aku bertemu dengan imam yg tidak mengizinkan ku berkerja. Lalu, buat apa ilmu ku? Gelar ku? Kalau aku bertemu dengan imam yang mengizinkan ku berkerja, ilmu dan ijazah S1 ku berguna untuk membantunya mencari nafkah. Ya, setidaknya bisa untuk ku mencukupi hal yg sifatnya pribadi."
Terlintas pikiran yang sedikit absurd. Lalu kembali aku berpikir, kuliah ku di pendidikan. Tak ada yg sia-sia belajar mengenai pendidikan. Apa lagi untuk anak usia dini. Kelak aku menjadi ibu, jadi ummi atau sebutan yang lain yang mungkin akan disematkan oleh bibir mungil itu untukku kelak. Tugas menjadi ibu tak semudah yang kita kira. Ustadzah, madrasah pertama adalah ibu. Ummi! 
Kenapa aku harus belajar giat dan setinggi-tingginya sekolah? Kini aku temui jawabannya. Karena dia (anak ku kelak) berhak untuk mendapatkan ibu yang cerdas, ibu yang pintar, ibu yang wawasannya luas layaknya langit yang membentang kebiruan. Dunia anak adalah ibunya. Akulah dunia bagi ia kelak. Aku tidak ingin mempersembahkan baginya dunia yang kerdil. Aku ingin mempersembahkan baginya dunia yang begitu luas tak bertepi, melalui diriku, ibunya. Kala ia bertanya, aku mampu menjawab. Kala ia mulai penasaran dengan sesuatu, aku mampu membimbingnya. Saat ia mulai kesulitan, aku bisa menemaninya menemukan jawaban. Aku ingin menjadi langit untuk dia. Kemanapun dia pergi dan kelak dewasa, akulah yang ia cari dan ia datangi dalam berbagai kondisi.  
Untuk suamiku kelak. Wahai engkau yang tengah di simpan Allah dengan baik. Sebaik mungkin aku belajar mati-matian hingga tak jarang aku lupa makan, lupa minum, lupa akan semua hal. Bahkan sesekali melupakan ibadah hingga bersujud diakhir waktu. Sungguh, maafkanlah sepenggal rusuk mu ini yang lalai. Sebagai seorang istri, aku sedikit banyak sudah belajar ilmunya. Alhamdulillah, kelak bila sudah bersama, insyaaAllah aku sudah memiliki bekal yang ala kadarnya. Sepahit-pahitnya tugas dosen, itulah cara seorang pendidik mendewasakan isi kepala yang dididik. Dan kedewasaan yang di tanamkan oleh dosenku, sedikit banyak mengubah pola pikirku, mengubah caraku beribadah dan berbagai macam perubahan yang ada. Dan aku yakini, inilah yang mendekatkan ku kepada Rabbku dan kembali, ini pula yang mendekatkan ku padamu. Aku belajar mati-matian, meneliti hingga kesana kemari ikut lembaga, aku belajar menjadi pemecah masalah. Untuk kelak siap untuk mengarungi bahtera yang rumah tangga yang tidak mungkin luput dari masalah yang datang. Bila ada masalah yang datang, aku bisa memecahkannya bersamamu hingga bahtera kita mampu mengarungi samudra kehidupan yang begitu ganas. Kamupun berhak memiliki istri yang wawasannya luas, cerdas dan pintar. Menjadi kebanggaan bagimu. "Ini loh istriku! Dia memang tidak cantik, dia tidak sempurna, tapi dia istri yang membanggakan karena dia ibu yang luar biasa bagi anakku dan istri yang penurut." Dan untuk itu, aku belajar. 
Untuk kedua orang tuaku. Mereka adalah langit dan samudra ku. Bapak sebagai langit dan mamak sebagai samudra. Mamak sangat menginginkan ku dapat meraih gelar S.Pd.I. Beliau sangat ingin anaknya ini kelak bisa menjadi guru dan menjadi kebanggaan bagi bapak dan mamak. "Sak apik-apik e wong kerjo, sak dipandang-pandang e wong kerjo, guru." Begitu besar harapan bapak dan mamak untuk ku kelak dapat menjadi seorang guru. Dan mungkin, aku hanya dapat mengabulkan 1 harapan mamak. Lulus S1 tepat waktu dan membanggakan mamak dan bapak dengan IPK diatas 3. Namun untuk menjadi guru, aku belum tahu. Tergantung imamku kelak mengizinkan ku atau tidak. Sungguh, bukannya ingin mengecewakan mamak. Jujur, aku ingin menjadi guru kembali, namun, aku lebih ingin menjadi ibu rumah tangga yang bisa meluangkan seluruh waktuku hanya untuk suami dan anakku kelak. Agar anakku tidak kehilangan sosok ibunya, agar suamiku tidak kehilangan sosok istrinya. Mamak, maafkanlah anakmu. 
Ingatkah dengan sebuah hadist mengenai muslimin yang ingin bahagia didunia dan akhirat harus mempunyai ilmu? Iya! Ilmu adalah salah satu dari 3 perkara yang akan kita bawa hingga kita meninggal. Dan kewajiban setiap muslim adalah menuntut ilmu. Bahkan hingga muncul bahwa bagi setiap muslim, dia harus belajar/menuntut ilmu dari dalam kandungan hingga berakhir di liang lahat. Menuntut ilmu itu termasuk ibadah. 
Seorang akhwat tidaklah sia-sia dia belajar. Seorang akhwat haruslah cerdas, berwawasan luas dan pintar! Ingatkan dengan istri kecintaan Rasulullah, Aisyah? Beliau adalah seorang istri dan muslimah yang sangat cerdas. Tidak inginkah seperti Aisyah? Karena dimasa depan, tugas seorang muslimah tak seremeh temeh dulu. Menjadi ibu, istri dan anak yang luar biasa. Itulah yang kini aku perjuangkan. Menjadi muslimah yang luar biasa. Bismillah. 

Rabu, 09 Desember 2015

mereka sayang saya

(Tulisan ini ditulis dibulan september 2015)
Jatuh cinta? Bagaimana rasanya? Entahlah bagaimana rasanya. Sampai detik ini belum merasakan apapun yang bersangkutan dengan cinta. Hanya kagum, kagum, dan kagum.
Saya takut untuk menyerahkan cinta saya. Saya takut terluka kembali. Meski saya sudah memaafkan semua kesalahan yang pernah saya lakukan dimasa silam. Dan tengah berjuang untuk berkhusnudzon akan masa depan.
Kesendirian memberikan kesempatan bagi saya untuk introspeksi diri dan lebih banyak mengenal ikhwan. Satu, dua, tiga ikhwan yang saya kenal memiliki pribadi yg menarik, dewasa, serta agama yang tangguh. Saya sempat berkhusnudzon dan berdoa kepada Allah semoga jodoh saya seperti mereka.
Usia saya memang bukan usia remaja. Setidaknya itu terasa sangat pekat saat memasuki ruangan perkuliahan dan di todong dengan "gimana? Mau nggak sama adikku?" Ungkap seorang kawan seperjuangan yang usia beliau sudah mapan. Saya hanya bisa tertawa. Seabsurd itukah hidup saya?
"Mbak, temennya suamiku lagi cari istri. Siapa tahu cocok. Mau aku kenalin?" Ungkap Faizah di sela kuliah. Jujur, saya merasa makin absurd dgn tawaran-tawaran seperti itu.
Dikost Adiba dan Oiph. Sudah lama saya menunggu di depan kost mereka. Akhirnya mereka datang. Baru saya berbasa basi lalu... "Temennya mas ku ada yang lagi cari istri. Kamu mau tak kenalin?" Ungkap Oiph. Kelabakan saya jawabnya. Dan sampai sekarang belum saya jawab tawaran itu.
Entahlah. Sudah berapa puluh tawaran yang mampir ke saya untuk berkenalan dengan ikhwan dari teman-teman saya. Terimakasih atas tawaran yang menggiurkan serta membuat saya mati malu. Tapi whatever with all, saya tahu, teman-teman saya sayang sama saya. Mereka tidak mau melihat saya sendirian. Aaaaah jadi terharu, love you all. *pelukinsatu2*
Siapa sih yang tidak ingin menikah? Adakah? Tentu saya sangat ingin menikah. Tapi, jodoh adalah rahasia Allah. Jadi saya menunggu saja. Memperbaiki semaksimalnya dan ceria kepada hari yang selalu berubah. :D

Selasa, 24 November 2015

Puisi : Kerinduan

Yaa akhi syauqillah
Dalam hening malam ku berdoa
Agar langkahmu disegerakan oleh-Nya
Agar langkahmu dimudahkan tuk bersama

Hening malam aku bersimpuh
Harapkan engkau dapat ku rengkuh
Dengan segala rasa patuh
Akan hanya untuk-Nya-lah aku bersungguh

Duhai hati yang tengah terjaga
Maafkanlah aku yang enggan mencoba
Datangimu secara nyata
Agar kau tahu hadirku adanya

Duhai engkau bidadara dunia
Parasmu sejuk disapa mata
Tapi aku tetap pada jalan yang sama
Memandangmu ketika kelak tlah bersama

Kau yang ada dijauh sana
Kala rinduku menyapa, akupun ingin berontak tuk lepaskannya
Kepada pemilik rindu yang sesungguhnya
Tapi aku akan tetap diam adanya
Hingga kau tak lagi jadi maya, menjadi nyata

Kau pemilik hati yang ada dijauh sana
Bila dadamu terasa sesak, berdoalah
Agar aku dikuatkan
Agar aku diberikan keyakinan lebih akan harapan tuk bersua
Bila masih terasa berat, maafkanlah
Rinduku lebih hebat dari pada yang kau tahu adanya

Yaa akhi syauqillah
Hening malam otakku bertawwaf pada singgasana
Akan hadirmu yang kini masih maya
Membawaku pada ruang sesak yang tak kunjung reda
Apakah kau rasakan hal yang sama?

Selasa, 17 November 2015

kepo sama ta'aruf aaah...

Assalamu’alaikum
Salam semangat dan salam ceria. Jangan lupa senyumnya. ^_^
Saya kali ini mau bahas mengenai ta’aruf. Siapa yang mau kepo? Mari kita bahas bersama. :D
menurut Wikipedia, ta’aruf adalah kegiatan bersilaturahmi, kalau pada masa ini kita bisa bilang berkenalan bertatap muka, atau main/bertamu kerumah seseorang dengan tujuan berkenalan dengan penghuninya. Namun pada masa ini ta’aruf biasa dikerucutkan dengan definisi perkenalan untuk mendapatkan jodoh.
 Ta’aruf itu yang gimana Ri? Belum jelas. Hehe saya masih minim ilmu ini. Tapi insyaAllah semoga jawaban saya ini bener. Ta’aruf itu masa perkenalan untuk dua orang yang sudah siap menikah. Siap menikah disini yaitu dia sudah siap menikah kapanpun meskipun dalam hitungan hari ataupun bulan. Yang pasti bukan hitungan tahun gih, nanti dikira kredit motor kalau ta'arufnya bertahun-tahun hehehe. singkatnya, ta’aruf itu untuk perkenalan akhwat dan ikhwan sebelum menikah. Dicatat ya, SUDAH SIAP MENIKAH.
Adakah tahapan-tahapannya? Iya. Ada. Mari disimak. Berikut ini adalah tahapan-tahapan dalam ta’aruf.
Pertukaran biodata
Dalam proses ta’aruf ikhwan dan akhwat diminta untuk menulis biodata dan akan diserahkan kepada mediator. Mediator ini akan memberikan biodata akhwat kepada ikhwan. Setelah pihak dari si ikhwan menyetujui untuk berkenalan dengan si akhwat, mediator akan memberikan biodata si ikhwan kepada akhwat. Biodata berisi info pribadi. Seperti saat kita melamar pekerjaan. Tapi ditambahi dengan konten visi misi pernikahan. Kalau cocok, lanjut!
Mempersiapkan informasi tentang pribadi dan keluarganya.
Tahapan ini lebih mengarah ke cari informasi sebanyak-banyaknya mengenai ikhwan/akhwt serta keluarganya seperti apa. Hal ini bisa di lakukan dengan bantuan informan. Hal ini bisa ditanyakan juga dari teman-teman, tetangga, atau siapapun yang sekiranya dapat memberikan info yang akurat nan netral mengenai akhwat/ikhwan tersebut. Kalau cocok, lanjut!
Perkenalan keluarga (silaturahmi)
Biasanya hal ini dilakukan oleh pihak ikhwan yang mendatangi rumah sang akhwat. Boleh membawa teman ataupun orang tua langsung bagi yg ikhwan. Bagi sang akhwat, harus didampingi mahramnya. Disini akan terjadi perkenalan lebih dalam. Dianjurkan untuk tidak ada kebohongan sedikitpun dan tidak boleh ada paksaan. Kalau dirasa cocok lagi, lanjutkan!
  Saling memahami (tafahum)
Tahapan ini yaitu kedua belah pihak saling memperkenalkan diri secara terperinci. Agar kedua pihak saling mengetahui apa kesukaan, apa yang tidak disukai, apa kebiasaannya, apakahjh kegemarannya dan masih banyak yang lainnya. Kalau lagi-lagi cocok dan bisa saling memahami, lanjutkan.
Khitbah
Alhamdulillah memasuki fase terakhir dari ta’aruf. Ciye ciye. Hehehe khitbah menurut Dr. Wahbah Az-Zuhaili, khitbah yaitu kegiatan untuk menampakkan keinginan menikah pada diri seseorang terhadap seorang wanita tertentu dengan memberitahu wanita yang dimaksud atau keluarganya (walinya).
Yang missed yaitu mengenai waktu ta’aruf. Waktu ta’aruf itu masih jadi perbincangan karena tidak ada patokannya. Namun dari beberapa literature yang pernah saya baca, ta’aruf maksimal dilakukan dalam waktu 12 pekan. Sebentar… sebentar… sebentar… jangan pada gelisah dulu! Jangan ada yang complain dulu gih! Ada juga yang mengatakan ta’aruf itu maksimal 6 bulan. Tapi sesuai keyakinan saja. kalau saya lebih memilih yang 3 bulan. Yang sudah pasti, saya sebutkan diatas, ta’aruf tidak bertahun-tahun. :D
Kenapa harus 12 pekan? apa tidak tergesa-gesa? Untuk saya, 12 pekan adalah waktu yang cukup untuk mengenali seseorang. 12x7 hari, coba itung aja jumlah hari yang kita gunakan untuk mengenali seseorang. Diwaktu sekian puluh hari itu, kita pasti udah puyeng "mau nanya apa lagi? Lha wong sudah ditanyakan semua". Didalam kurun waktu 84 hari itu kita bisa tahu semua hal yang pengen kita tahu. Diwaktu itu juga kita bisa istikharah sehebat-hebatnya sama Allah. Kalau memang cocok, lanjut ke khitbah lalu menikah. Kalau nggak cocok, kapanpun bisa mengundurkan diri.
Kenapa sih harus 12 pekan? Segerakanlah niat baik. Kalaupun 12 pekan itu gagal, hatinya nggak sakit-sakit bgt. Hehehe. Cukup itu saja untuk pertanyaan ngeyel. :P
Apakah ta'aruf selalu berhasil? Tidak. Banyak kok ta'aruf yg gagal. Khusnudzon aja. Belum jodohnya, mau diganti sama Allah dgn jodoh yang lebih baik. Tapi juga dicatat ya, ta'aruf boleh dibatalkan sekiranya ada alasan syar'i. Kalau nggak ada alasan syar'i untuk membatalkan, siap-siap kehilangan bidadari/bidadara dunia dan siap-siap galau.
Inti dari ta'aruf adalah perkenalan dgn tujuan pernikahan. Disana kita harus banyak-banyak berserah ke Allah. Apapun hasilnya, pasrah sama Allah. Ikhlas. Ikhlas memberi, ikhlas menerima dan melepaskan. Jangan baper sama yg dita'arufin ya. :D
Semoga tulisan kali ini bermanfaat gih. Bermanfaat bagi saya dan bermanfaat pula bagi yang sudah baca. Say no to pacaran, say yes to ta’auf. INGET!!!! Ta’aruf itu bagi yang sudah siap nikah, bukan yang belum siap nikah :D
Wassalamu’alaikum.

Salam hangat,
Riri

Jumat, 13 November 2015

Cek Ulang, pelajari ilmunya, dewasalah! menikahlah!

Assalamu’alaikum
Memasuki fase dewasa awal membuat saya lebih banyak mikir tentang tulisan yang akan saya post di blog pribadi saya ini. Ditunjang pula dengan beberapa teman yang rajin menanyakan “ada new post apa lagi Ri?”. Saya nggak bisa main-main lagi akhirnya dalam menulis. Setidaknya tulisan saya tidak akan 100% curhatan dan akan beralih ke “ada isinya”.
Kali ini saya akan membahas tentang pernikahan. Post ini saya buat karena banyak dari teman-teman saya yang bertanya tentang menikah dan kenapa ini kenapa itu. Saya bukan ahlinya, namun diminta untuk menjawab. Semoga saja jawaban saya ini benar.
Bismillahirrohmanirrohim.
“Kenapa orang menikah baru seumur jagung, pernikahannya sudah kandas?” tanya sahabat saya yang kebetulas sekarang bertempat tinggal di Magelang.
Pertanyaan yang benar-benar sulit untuk dijawab oleh seorang akhwat single yang belum pernah menikah.
Saya punya banyak teman dan mereka suka curhat dengan saya. Kebanyakan dari mereka sudah menikah, divorce/cerai, ditinggalkan suaminya, bahagia dengan pernikahan, ada juga beberapa yang masih menikmati kesendirian, ada pula yang sudah puyeng “jodoh mana jodoh?” dan masih banyak yang lainnya. Pertanyaan ini berkorelasi dengan kisah nyata beberapa teman yang kini telah divorce dengan suami/istrinya.
Setiap orang yang menikah, pasti memiliki impian yang membumbung tinggi untuk bisa menghabiskan usia bersama. Menemani saat lemah ataupun kuat. Menerima apa adanya dan saling menguatkan. Merekapun tidak ingin bercerai! Tapi apalah mau dikata, memang sudah tidak bisa dipertahankan.
 Menikah adalah sunnah Rasulullah. Bahkan Rasulullah melaknat mereka yang memiliki kemauan untuk tidak menikah atau membujang.
Kebanyakan dari mereka yang memutuskan menikah dan akhirnya divorce di tahun pertama hingga tahun kelima pernikahan alasannya adalah UDAH BEDA PRINSIP. (Prinisp apa? Kenapa dulu bisa bersama? Memutuskan menikah?) Ada alasan lain UDAH NGGAK COCOK. (What? Kalau dulunya cocok, kenapa sekarang bisa nggak cocok?)
Whatever with all reason yang mereka ungkapkan. Alasan yang ada mungkin hanya jadi tameng agar tidak disalahkan atas bubarnya pernikahan itu. Ok. Cerai memang tidak diharamkan. Tapi sangat di benci oleh Allah meskipun itu halal. (semoga kita kelak bisa mendapatkan pendamping hidup untuk pertama dan terakhir) aamiin.
Menurut saya, ada 2 alasan yang sudah pasti adanya. Dan menurut saya alasan ini tidak bisa disangkal oleh mereka. Bukan menghakimi. Hanya menarik hasil dari, mayoritas.
Yang pertama. Alasan menikah. Setiap orang pasti memiliki alasan tersendiri untuk menikah. Karena adanya rasa cinta, rasa nyaman, karena kepentok umur, dijodohin, dan masih banyak yang lainnya. Tapiiii, kebanyakan sih bilangnya “aku nikah karena aku cinta dia kok.” Kalau cinta, kok bubar jalan? Cinta yang terbungkus nafsu kali ya? hehehe please, jangan dibully. Kalau kamu cinta sama seseorang, yakinkanlah hatimu dulu, cinta tak akan pernah hilang sampai batasan apapun. Cinta tak akan mati. Cinta yang akan membuatmu bertahan untuk tetap hidup dengan mereka yang dahulunya diluar lingkaranmu dan kamu sedia setiap saat atas ke-absurd-an yang dia punya. Dan bila alasanmu menikah karena cinta, saya yakin, pernikahan Anda akan baik-baik saja. :D
Yang kedua. Kurangnya ilmu tentang pernikahan. Menikah tanpa ilmu pernikahan sama aja kayak lagi bikin nastar tapi bahan yang ada cuma terigu sama telor. Jadi nastar? Kagak! Udah tau hak dan kewajiban suami/istri? Udah tau hakikat pernikahan? Udah tahu cara bersikap? Biasanya yang minim ilmu pernikahan bakalan seenak jidat sendiri mempertahankan ego yang dibawa di kepala. Dan biasanya juga karena hal tersebut mereka dengan mudah mengatakan “Kita cerai”. Naudzubillahimin dzalik.
Mau diakui apa tidak, itulah jawaban dari mayoritas yang baru sebentar nikah, mereka cerai. Cinta yang salah dan minim ilmu yang akhirnya lalai dalam bersikap dan membuat mahligai yang mereka bangun, runtuh tak dapat diselamatkan.
Terus aku harus gimana biar nggak ikut-ikutan?
Pertama. Cek ulang. Apanya yang harus di cek ulang? Niatnya. Alasan menikah itu karena apa? Jadikanlah Ia sebagai satu-satunya alasan utnuk menikah. Untuk beribadah, menyempurnakan agama dan menjalankan sunnah dari Rasulullah. insyaAllah, pernikahan yang dilandasi oleh rasa cinta dan patuh kepada Allah, maka insyaAllah Allah akan selalu mendampingi dan selalu menjaga mahligai pernikahan itu.
Yang kedua. Pelajari ilmunya. Seperti yang saya tulis diatas tadi. Mau bikin nastar ya kudu ngerti resepnya dulu. Seperti itu dengan menikah. Pelajari dulu semua hal mengenai pernikahan dari a-z. sehingga kalau memang sudah siap nikah, sudah siap juga ilmunya. Jadi nggak kebanyakan terjadi trial error. Walaupun trial error itu pasti terjadi juga. Setidaknya meminimalisir. Kemana kita mencari ilmunya? Buku tentang pernikahan udah banyak. Beli aja! 15ribu juga udah kebeli bukunya. Ikut seminar pra-nikah dan banyak-banyak kepo sama mereka yang udah nikah.
Yang ketiga. Dewasalah! Kedewasaan antar suami istri itu perlu. Mengarungi bahtera pernikahan bukanlah hal yang mudah. Ada ombaknya, ada badainya, ada riaknya, ada arum jeramnya, ada tebingnya, ada batuannya, ada krikilnya, ada masalah yang akan datang silih berganti. Untuk menyelesaikannya, dituntut adanya kedewasaan dalam menyikapi setiap masalah yang ada. Kalau ada yang ngambek, ya ada yang menenangkan. Kalau ada yang marah, ya yang satu juga jangan marah, ngademin. Hadapi setiap masalah dengan dewasa yaitu dengan cara kalau ada masalah diselesaikan dgn musyawarah bersama.
Ukhti dan akhi sekalian yang disayangi Allah dengan sangat, menikah bukanlah hanya tentang menyatukan dua kepala untuk menjadi satu, bukan pula tentang always happy, apalagi hanya untuk bersama dan memperbarui status di KTP atau facebook. Menikah adalah ibadah. Disetiap ibadah, kita akan diuji oleh Allah sudah seberapa kuatkah kita. Jadi saat kita memutuskan untuk menikah, kita harus sudah siap untuk mengahadapi lika liku pernikahan bersama suami/istri kita kelak. Sudah siap dengan nafkah, sudah siap menjadi bapak/ibu, sudah siap dengan segala hal yang mungkin tak pernah kita bayangkan.
“wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya” HR. Bukhari (no. 5066), Muslim (no. 1402)
Pernikahan adalah hubungan antara ikhwan dan akhwat yang sangat suci dihadapan Allah. Menikahlah karena Allah, maka insyaAllah, Allahpun akan selalu menjaga pernikahan itu. Sebelum memutuskan menikah, usahakan untuk istikharah sekuat-kuatnya. Minta bantuan Allah dalam memutuskan. Gunakanlah cara yang islami/syar’I dalam memutuskan dan memilih calon pendamping hidup, ta’aruf, khitbah, akad, walimah. Jangan pacaran!
Sekian tulisan yang bisa saya tulis. Kalau ada hal-hal yang kurang berkenan, saya mohon maaf. Semoga tulisan saya ini tidak menghakimi dan memberikan manfaat bagi saya sediri maupun kita semua.
Duuh Riri jadi deg-deg-an kalau yang dibahas seserius ini. Hehe *usap kringet sambil benerin jilbab*. Udah dulu ya. see you at the next post.
Wassalamu’alaikum.

Salam hangat,
Riri


Jumat, 30 Oktober 2015

KALA KU JATUH HATI

Jatuh hati. Falling in love. Siapa disini yang belum pernah merasakan? Sangsi banget kalau ada yang belum pernah jatuh hati hehehe rasa yang hadir dengan dahsyat. Bisa membuat tersenyum kala membaca pesan dari si dia dan bisa tersenyum geli saat memandangi wajah yang terpampang di layar handphone. Mungkin disini yang membacapun tengah merasakan jatuh hati?
Bagaimana pandangan islam mengenai jatuh hati?
Apa yang harus saya lakukan?
Ngomongin jatuh cinta mah nggak ada habisnya. Makanan sehari-hari akhwat, yang juga tiap hari bisa bikin nangis sampe garuk-garuk tembok. Hehehe
Selow ukhti… selooow…. Hehehehe :D
Cinta adalah sebuah rasa yang merupakan fitrah bagi setiap manusia. Rasa yang hadir dan tumbuh dalam hati setiap insan. Tapi kita selalu salah dalam menyikapi rasa yang luar biasa itu. Terutama akhwat. Biasanya tambah rieweuh kalau lagi jatuh hati. Saya ngeliatnya aja bisa puyeng. Hehehe (mungkin itu juga yang dirasakan temen-temen saya kalau ngeliat saya lagi kasmaran. Hehehe)
Sebagai seorang muslimah, kita pasti merasakan cinta yang bergemuruh didalam dada kala didepan mata tengah berdiri seorang ikhwan beragama yang kuat. Lalu kita gelisah, apa yang harus saya lakukan? Dan kadang kita jadi heboh sendiri karena hadirnya rasa itu.
Teringatlah saya kepada kisah Fatimah Az-zahra dan Ali bin Abu Thalib. Siapa yang tidak ingin seperti Fatimah? Yang dalam diam tapi mendapatkan cintanya yang sempurna. Menyimpan rasanya hingga setanpun tak dapat mengetahui kedalaman cinta yang ia miliki. Mencintai dalam diam. Seperti itulah yang seharusnya akhwat lakukan agar rasa cintanya tetap terjaga.
Cinta dalam diam itu seperti apa? Cinta dalam diam itu adalah cinta yang tidak diungkapkan secara verbal maupun nonverbal. Tersimpan manis didalam hati dan juga didalam doa. Diungkapkan kepada Allah, bukan kepada si pengobrak abrik hatinya. (alah, bahasanya mulai celeneh). Cinta adalah sebuah rasa yang kalau diungkapin ke yang non muhrim maka nilainya adalah haram. Lagian biar menjaga satu sama lain agar rasa itu tetap bersih. Setan masuk diantara dua insan non mahram yang saling mengungkapkan cinta dan mempelosokkan mereka kedalam hubungan yang haram. Ngeri kaaaan?! :’(
Inti dari jatuh cinta/jatuh hati hanyalah 1. Ikhlas. Ikhlas memberi, ikhlas menerima dan ikhlas melepaskan. Nggak semua yang saling mencintai harus bersama. Mungkin saja lagi keblinger karena rasa nyaman yang menjelma seperti cinta. Itulah mengapa saat kita jatuh cinta harus semakin mendekat sama Allah. Why? Karena agar kita terhindar dari cinta yang salah.
Implementasi dari aku mencintaimu karena Allah adalah diam mu. Kepasrahanmu. Keikhlasanmu. Berjuanglah semampunya. Jangan pernah nekat ataupun melukai koridor agama hanya karena cinta. Tapi kalau dirasa inilah yang terbaik dan nggak ada alasan syar'i untuk meninggalkan cinta itu, nekat juga butuh dilakukan. Biasanya lakik nih yang bakalan nekat. Tapiiii cinta emang butuh nekat untuk bersama. Kalau nggak nekat, trus kapan bisa bersamanya? Saling mengusahakan dalam sikap dan doa aja! Pasrah sih boleh pasrah, tapi ya tetep kudu ngusahain. Mau diem aja gitu ngikutin air? Emang situ ranting patah yang kebawa di air comberan? Yuk nekat berjama'ah dalam hal positif. Hehehe. (Ngajari elek nih Riri). Bukankah baiti jannati adalah tujuannya? Bukankah bertemu kembali di jannah-Nya adalah tujuannya? Maka mari restart niat. Restart iman. Restart apapun yang selayaknya di restart.
Simpan rasamu! Ungkapkan bagi yang berani menghalalkan mu. Bukan untuk pengecut yang hanya memberimu angan dunia. Karena bukti cinta seorang ikhwan adalah menikahi, bukan memberi angan tak pasti. Keep istiqomah dalam rasa indah. Deketin yang punya hati dan mari menyamakan niat Lillah.
Semoga yang saat ini ta’aruf, ta’arufnya dimudahkan dan di sukseskan. Yang belum berani ta’aruf, puasanya di kencengin ya. Yang mau nikah, semoga dimudahkan dalam proses menunggu akad. Yang sudah menikah, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah dan barokah.

Salam hangat
Riri

SAYA YANG TIDAK MEMPERJUANGKAN

Disepi malam hatiku menyesak. Ada rasa lelah yang etah datangnya dari mana. Mood hancur lebur bersama isi kepala yang bertawaf semaunya. Rasanya ingin berteriak yang hebat. Melepaskan segala beban yang merasuk dan mengisi jiwa.
Hal seperti ini tak sekali dua kali saya alami. Ketika ada ikhwan yang cenderung kepada saya, saya tidak dapat memperjuangkan mereka. Tapi kali ini lebih sesak. Entahlah mengapa.
Apakah saya hanya diam? Apakah saya tidak mengusahakan?
Entahlah. Prasaan, saya ya masih kayak gini saja. Tapi, ada sebuah rotasi yang berubah. Dulu tak ada 1pun nama yang saya sebut dalam doa. Tapi kali ini, saya menyebut nama seorang ikhwan. Bahkan beberapa hari yang lalu nangis parah saking emosionalnya.
Saya benar-benar jatuh hati. Bersamanya, rasanya tengah bercermin. Terlampau absurd untuk berbicara mengenai masa depan dan kedepannya macam apa. Mungkin dia sekarang tengah merasakan tidak saya perjuangkan. Padahal, saya tengah hebat-hebatnya merayu Allah hanya untuk bersamanya dan menemaninya menghabiskan usia. Ada air mata yang menetes kala "Yaa Allah, dia laki-laki yang baik. Yg insyaAllah mampu membawaku mewujudkan baiti jannati dan menuju jannah-Mu. Jadikanlah ia imam ku. Pelengkap imanku. Aku mencintainya karena agamanya Yaa Allah. Aku mencintainya karena Mu." Lalu saya ingat. Ikhlaskan! Sejatuh hati apapun saya kepada ikhwan itu, tetap saja takdir membimbing pada jalanan yang tak seperti yang saya targetkan. Dan saya menyimpan rasa ini untuk saya sendiri tanpa saya ucapkan kepada ikhwan itu. Saya memperjuangkannya dengan cara ku. Cara yang menjaga ku dan menjaganya dari dosa yang bisa saja hadir karena rasa cinta ini.
Beberapa pekan setelah memutuskan untuk mengenalnya lebih dekat, ada sebuah perubahan terbesar dalam hidup saya. Mendewasa. Karenanya saya merasakan nyamannya mendewasa. Dibimbing mendewasa oleh orang yang baru 1x bertemu dan entah ada bait obrolan yang hadir nyata atau belum, sayapun tak ingat. Dan karenanya, saya berani belajar mencintai dari jauh.
Saya akan tetap mempertahankan doa saya. Apapun hasilnya kelak. Masih tersisa 8pekan. Tak terasa, waktu cepat bergulir. Dan inilah cara saya berjuang untuk cinta saya. Saya yang diam seribu bahasa mengenai perasaan saat chat dengan dia.
Untuk kamu yang berjuang untuk saya, tetaplah berjuang. Sayapun berjuang untuk kamu dengan caraku. Kita jatuh cinta karena-Nya. Pasti ada rencana indah dibalik semua.
Jangan cemberut! Nanti keliatan umurnya. Jangan lupa senyum ya Mas. :)

Jumat, 23 Oktober 2015

KAPAN PENDIDIKAN ANAK DIMULAI?



Bismillahirrohmanirrohim.
Tulisan saya kali ini terkesan lebih serius dibandingkan tulisan-tulisan saya sebelumnya. Kali ini saya ingin membahas mengenai parenting dan pentingnya pendidikan anak sebelum dia lahir didunia. What? Berat bener bahasannya. Slow yak! Disini saya bakalan kupas hal tersebut secara santai.
Kapan sih seorang anak itu harus diberikan pendidikan? Mungkin kita sebagai calon ayah/ibu seharusnya wajib kepo sama hal yang terkesan simple ini. Tapi kalau ditanya kayak gitu, kita nggak bisa jawab kan? Hihihi
Baiklah mari kita bahas bersama. Begini, anak itu bukan dididik dari sesudah dia lahir. Inilah kesalahan orang-orang dalam menafsirkan mendidik anak. Jadi, mendidik anak itu dimulai saat ayah dan ibunya saling mencari jodoh. Loh, hubungannya apa coba?
“Bila datang kepadamu orang yang kamu sukai agama dan akhlaknya, maka kawinilah. Jika tidak  kamu lakukan, niscahya terjadi fitnah dimuka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi)
Jadi dalam memilih pasangan merupakan factor yang penting dalam mewujudkan lahirny generasi yang unggul serta membentuk keluarga yang sakinah.
Konsep memilih jodoh inipun selaras dengan hadist Rasulullah
“Wanitan itu diikahi karena 4 hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan  karena agamanya. Pilihlah yang beragama agar kamu beruntung.” (HR. Bukhari)
Untuk mewujudkan generasi unggul dimulai dari masa prakonsepsi yang merupakan salah satu upaya dalam mempersiapkan pendidikan yang dimulai sejak seseorang memilih pasangan hidup hingga terjadi pembuahan dalam rahhim sang ibu.
Faktor agama memanglah penting. Namun ada faktor lain yang harus dijadikan patokan pula. Faktor niat, iktikad, maksud dan tujuan pernikahan yang semata-mata untuk meraih cinta-Nya serta ridha-Nya akan sangat berpengaruh terhadap jiwa religious sang embrio. Secara tidak langsung Islam sangat mengistimewakan calon-calon khalifah dunia dengan memilihkan ayah dan ibu yang memiliki kepribadian dan akhlak yang mulia.
Setelah menemukan jodoh dan menikah, maka agar meningkatkan keturunan yang baik, suami haruslah menggauli istri dengan baik. Sebelum melakukan hubungan suami istri maka di sunnahkan untuk sholat serta berdoa. Agar syetan tidak dapat turut andil dalam proses tersebut. Hubungan suami istri adalah pertemuan mulia akan keduanya dan oleh sebab itu di anjurkan dalam keadaan suci bersih. Dan ini harus dicatat baik-baik ya, hubungan suami-istri adalah bertemunya sel-sel benih terciptanya manusia, sehingga dalam proses tersebut dapat membentuk kepribadian atau perkembangan anak selanjutnya.
Setalah sang ibu dinyatakan hamil, maka tugas berikutnya yaitu ibu dan ayah wajib mengajarkan pendidikan kepada sang calon anak yang masih didalam perut. Emang sih nggak bisa secara langsung. Trus gimana? Caranya yaitu kedua calon orang tua sama-sama memperbanyak amal shalih, memperbaiki qualitas ibadah, lebih khusuk dalam sholat, perbanyak sholat sunnah, puasa sunnah, banyak-banyak membaca Al Qur’an dan masih banyak yag lainnya. Tapi jangan lupa, hablum minan naas juga kudu tetap dijaga.
Menurut Mastuhu, semua yang dilakukan oleh sang ibu dan ayah adalah self suggestion agar sifat-sifat terpuji itu dapat masuk kedalam jiwa sang calon bayi. Bukan hanya itu saja, calon orang tua juga wajib tahu dan paham mengenai asal usul serta proses terjadinya manusia sehingga dapat mengetahui apa yang harus dilakukan.
Sekarang udah tahu dong mulai kapan anak dikenalkan dengan pendidikan? Sejak dia belum lahir. Jadi kurang tepat tuh kalau ada pendapat pendidikan itu diberikan kepada anak saat ia sudah lahir didunia saja.
Semoga tulisan kali ini bermanfaat bagi akhwat dan ikhwan yang tengah berusaha  menemukan jodoh, sedang menunggu hadirnya senyum mungil yang menggemaskan. Tulisan ini referensinya berasal dari “BUKU PINTAR PAUD dalam perspektif islam” karya Imam Musbikin.
sebagai muslim dan muslimah, kita diwajibkan untuk terus belajar sepanjang hayat. sesedikit apapun ilmu yang dipunya, insyaAllah akan tetap bermanfaat. sharing ilmu itu ibadah.

salam hangat,
riry

Senin, 19 Oktober 2015

menuju 23

Tak terasa. Kini hanya menunggu bulan usiaku berpindah. Bukan lagi fase dimana tinggi badan dapat bertambah dan bukan pula fase untuk bersikap seperti saat ini. Usia 23 tahun sangat menakutkan untukku. Karena sampai detik ini banyak hal yg belum dapat aku wujudkan. Abdurrahman. Lelaki kecil yang sangat akan aku rugikan. Lelaki berwajah tembem dengan mata sipit khas ibunya. Maafkan ibu nak, belum dapat menghadirkanmu didunia. Ayahmu sedang berjuang dengan hebatnya. Ibupun tak tinggal diam nak, ibu juga tengah berjuang untuk mu dan ayahmu. Sabar gih hafidznya ibu. :'* 
Udah udah. Fase somplaknya udahan dulu. 
Mendewasa. Fase diusia 23 tahun yang akan datang, mau tidak mau pola pikir dan semua sikap harus dewasa. Ini yang sangat saya benci. Dewasa. Tapi, apaboleh buat, fase inipun akan tetap datang sekuat apapun aku menolak. Iman masih terombang ambing. Introspeksi disana sini dan ternyata banyak banget yang kudu di perbaiki. PRnya banyak bener. But, i know, aku pasti bisa. Demi ayahnya Rahman, Rahman dan adik-adiknya. Be muslimah yang punya otak dalam bersikap. Beraaat. InsyaAllah nanti dimudahkan sama Allah. Aamiin. 
About marriage. Hmmm belum ada kepastian sampe kapan bisa ketemu sama jodoh. Udah berusaha sebaik mungkin. Let's see, siapa yg bakalan kerumah. Sampun pasrah maksud e. Hehehe Allah tahu manakah yang terbaik. Jodoh nggak akan datang tepat waktu, tapi akan datang diwaktu yang tepat. Fyuuuh. Ya sudahlah. Sampun ikhtiar, sampun berdo'a, mari jalani saja dan tunggu hasilnya. Pengennya sih bisa married di 2015 ini. But, ya sutralah, nunggu aja dulu. Someday i'll marriage with someone special from heaven. He will come and make our family to feel baiti jannati and insyaAllah our family will met again in heaven of Allah. Aamiin. 
About college. Semangat untuk menuju akhir semester. Awal tahun depan udah semester 6. KKL butuh dana yg gede. Semoga dimudahkan dalam rezeki. Aamiin. Oh ya, nggak sabar nih 1,5tahun lagi pakek toga trus disamping ada suami dan diperut ada Rahman. Hihihihiih mimpinya gede bener yak. Hehehe insyaAllah semua akan terwujud. Biar bisa cerita ke Rahman "mas, dulu mas Rahman ikut munaqosah loh. Kecik-kecik udah jadi sarjana." Lah, yang jadi sarjana mah ibunya. Ayahnya puyeng mikir bayar kuliah ibunya. Hehehe 
About family of Mr. Muhammad Sugiyono. Difase umur 23 itu saya yakin banget. Saya udah diboyong sama lakik. Dan mimpi mamak buat punya anak lakik terwujud. Yeay. *ini ngayalnya tingkat dewa*. 
About fashion. Entahlah mulai berpikir untuk pakek kaos kaki susah bener. Iya. Diluaran mah Riri pakek kaos kaki mulu. Lhah kalau dirumah pakek kaos kaki itu yang susah. InsyaAllah nanti lebih diistiqomahin lagi. 
About book. Huwaaaaah ancur dah. Banyak buku baru yang muncul dan seluruhnya dr penulis-penulis kesayangan. InsyaAllah nanti 23 udah kebeli semua bukunya. *nabung nabung nabung* 
About nanjak. Hmmm embuh! Pengen ke Pangrango, Lawu, Rinjani, Sindoro, aaaaaaargh pengen ke Kelinci. Ups. Kerinci maksudnya. *muter-muter nyari mahram* 
Saya nggak butuh diterima siapapun dengan segala bentuk keabsurd-an yang saya punya. Karena suatu saat nanti akan datang pangeran dengan berkuda besi yang akan menerima saya apa adanya. Masih yakin dengan konsep An Nur 26. Dia pun pasti tak jauh berbeda dari saya. See you at the right time my hubby. I'm waiting you with all about my obedient. Enough Allah. Only Allah. Seperti halnya perjanjian luar biasa "inna sholati wamah yaya wama mati lillahi ta'ala yang artinya sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah ta'ala" *usap kringet* *benerin jilbab*. 
22tahun. Fase hidup paling berat. Dan saya insyaAllah lulus. Mau manjangin jilbab lagi, tapi, mikir-mikir. Segini dulu aja deh. :D 
Waktu membawamu (lebih tepatnya memaksamu) untuk lebih dewasa. Dan saya merasakan itu. Mendewasa itu mutlak. Mau ditolak kek apapun, mendewasa itu pasti akan menghampiri mereka yang sudah mulai matang dalam berpikir. Salam super. *salah acara*. 
Kamu harus bahagia! Senyumnya yang lebar ya! Jangan lupa sama ibadahnya! Bersyukur sebanyak-banyaknya! Mohon ampun atas segalanya! Ia akan berikan imbalan yang pantas bagi umat-Nya yang mau manut. 
Sekian dan terimakasih. 

Salam hangat 
Riri yang lagi somplak di subuh hari. Hehehe

Kamis, 08 Oktober 2015

UNTUK KAMU

Untuk siapapun kamu yang tengah Allah persiapkan.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Setiap hati, berrotasi sesuai alur yang telah di tuliskan oleh Allah dilauhul mahfudz. Setiap hati pernah berkutat dengan rasa cinta yang hebat dan lemah. Setiap hati pernah membawa tawa dan tangis. Setiap hati pernah terbang melayang dan patah. Kamu pernah berjuang untuk dia yang pernah kamu peluk dengan hangat. Akupun pernah berjuang untuk dia yang pernah memelukku hingga aku sesak nafas. Kita pernah berjanji dengan mereka, bahwa kita akan menemaninya menua. Lalu, kita patah tidak dapat memperjuangkan mereka karena Allah meminta kita untuk berhenti.
Maaf. Maafkanlah aku yang tidak sempurna. Maafkanlah aku atas masalaluku yang kelam. Maafkanlah aku yang lalai akan kewajiban ku. Maafkanlah aku atas segala kesalahanku. Maaf, karena aku hanya dapat meminta maaf padamu atas segala yang pernah terjadi pada masalaluku.
Akhi, jika suatu hari nanti kita dapat bersua, jangan pernah mengatakan satu patah katapun tentang masalalumu. Aku tidak peduli dengan apapun yang pernah kamu lakukan dimasalalumu. Bagiku, aku cukup dengan kamu saat ini dan dimasa yang akan datang. Aku telah sebenar-benarnya memaafkanmu atas masalalumu.
Akhi, bila suatu hari nanti hatimu ragu, bersujudlah. Sentuhkanlah kening dan ujung hidungmu. Berdialoglah dengan-Nya. Agar hatimu tentram dan dapati yang terbaik sebagai jarum petunjuk langkah berikutnya. Bila ada namaku, maka datanglah padaku. Bila tidak ada namaku, maka berhentilah.
Akhi, bila hatimu telah yakin atas diriku, terimakasih. Terimakasih sudah mengizinkan ku hidup dari sepenggal tulang rusukmu. Datanglah lebih cepat! Bila kamu datang untuk memintaku kepada wali ku, maka ada 2 syarat bagimu. Yang pertama adalah aku ikhlas serta ridha untuk kamu nikahi dengan syarat kamu tidak akan mempoligami ku dan kamu tidak akan main hati dibelakang ku (kamu boleh menikah lagi kalau aku sudah berjumpa dgn ajalku). Bila kamu melakukannya, maka jatuhlah talak mu atas diriku. Yang kedua, bila kamu mengkhitbahku, maka hari itu juga kamu akan ikhlas dan ridha menikahiku. Bawalah mahar seperangkat alat sholat untukku dan apapun yang kamu ridhai untuk dijadikan mahar bagiku. Akhi, aku tidak main-main. Hanya itulah mahar yang aku inginkan. Karena sesungguhnya, niatku untuk menikah dengan mu hanya untuk beribadah kepada-Nya.
Akhi, kita pernah sama-sama salah. Kita pernah sama-sama jahatnya. Tapi aku ingin berhijrah atas cinta suci yang Ia karuniakan kepada kita berdua. Biarlah masalalu menjadi pelajaran bagi kita. Bahwa kita adalah manusia. Yang pernah lalai dan pernah salah. Mari sama-sama berjalan, meraih cinta-Nya, agar kita dapat membangun baiti jannati hingga suatu saat nanti kita dapat kembali bersatu di jannah-Nya.
Akhi, i miss you. I'll waiting you with my obidient too Allah. I love you because Allah and your obedient. See you in the right time.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Kekasih duniamu yang insyaAllah akan menemanimu hingga jannah-Nya.
Cici Fitria binti Muhammad Sugiyono

Senin, 05 Oktober 2015

RAYAKAN DENGAN BERSYUKUR

Mataku masih enggan terpejam. Pikiran ku melanglang buana mengikuti udara dini hari yang mulai mendingin. Kakiku masih berada diluar selimut. Sedangkan sebagian badan hingga lutut sudah tentram dipeluk kehangatan selimut.
Gelap. Membuatku sesak nafas. Membuatku takut jikalau ada sesuatu yang datang tiba-tiba. Hingga ku jadikan saja rasa takut itu ku alihkan dengan menulis. Diselingi makhluk di sampingku sudah mengigau kesana kemari. Cukup menghibur di dini hari.
Notification BBM pun berbunyi. Dari sahabat lama semasa SMK. Sebut saja mbak Li. Seperti biasa. Dia suka sekali curhat dengan ku. Tapi kali ini saya nggak mau ngomongin soal apa yang dia curhatin. Pamali. Tapi saya sedikit terhibur dengan pertanyaan yang kerap dia berikan.
"Kamu nggak punya masalah? Kok hidupmu bahagia-bahagia aja sih?" Yaaa seperti itulah.
Hidup. Kalau bahasa enggresnya "life" adalah waktu dimana kita menjalani sebuah amanah dari Allah. Amanah yang amatlah berat pertanggung jawaban kita di akhirat kelak, be khalifah. Entah itu untuk diri kita sendiri ataupun untuk orang lain. Definisi hidup yang lainnya yaitu waktu dimana kita diwajibkan untuk beribadah kepada Allah serta menuntut ilmu dari dalam kandungan hingga berakhir di liang lahat. Ya itulah hidup.
Menjalani hidup layaknya kita mendaki sebuah gunung. Kadang jalannya landai, kadang nemu bonus, kadang nemu trek bebatuan, dan kadang nemu trek climbing yang bikin kaki gemeteran. Menjalani hidup itu serasa bawa carrier gede. Intinya sama. Jalani saja dulu! Nanti juga tahu hasilnya. Hehehe
Hidup itu adalah mindset kita. Kalau mindset kita "I'm happy" ya bakalan happy-happy aja. Kalau udah bilang "I'm quit from this game" ya kamu payah. Hidup perlu keyakinan hati sebagai tongkat untuk berjalan. :)
I'm happy? Alhamdulillah. Itulah yang tengah saya perjuangkan dengan sangat. Udah nggak usah diomongin yak saya sepatah apa beberapa bulan yang lalu. Heheehe but, inilah hasilnya. Sekarang saya bahagia. Kok bisa gitu? Ini rahasianya. Disimak baik-baik yak. Hehehe
Sudah bener sholatnya? Udah nambah sunnah? Udah puasa senin-kamis? Udah ketutup bolongnya puasa ramadhan? Udah mantab berhijrah? Udah senyum? Udah berteman dengan orang sholeh/ah? Udah buka Al Qur'annya? Udah belajar bersyukur? Masih ngeluh? Sudah bisa LILLAH? Sudah banyak berdzikir? Sudah tobat? Sudah banyak-banyak beristighfar? Sudah taubatan nasuha? Sudah nambah baca? Sudah yakin ke Allah? And then, the last is sudah bersedekah? Hihiihi banyak bener yak? Bacanya jangan ampe mewek yak! Tenang, saya juga belum sepenuhnya bisa ngelakuin itu semua! Tapi Alhamdulillah dengan menjadikan yang wajib tepat waktu dan sunnah yang "berasa wajib" alias sudah seperti rutinitas, hidup saya lebih terarah dan saya bisa merayakan hidup saya dengan bersyukur. Hasilnya saya lebih enjoy menghadapi hidup.
Apakah saya punya masalah? Banyak! Setiap orang pasti memiliki masalah. Begitupun saya. Kalau di pikir banget-banget, masalah saya banyak bener. Tugas yang kadang nyita waktu, jodoh yang tak kunjung datang, belum kesampean beli sepatu muncak, harus hemat demi bayar cicilan, nggak bisa jalan layaknya perempuan biasanya (ini asli yg paling jadi masalah saya dari kecik sampe sekarang) dan masih banyak yang lainnya. Tapi, saya nggak ambil pusing. Nikmati saja. Itu cara Allah untuk mendewasakan saya. Sebut saja seperti itu. Hehehe kembali, rayakan dengan bersyukur. Masalah itu nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan segala macam rahmat dan anugerah yang udah dikasih Allah secara cuma-cuma. Syukuri apapun yang udah dikasih Allah. Nanti pasti nikmatnya akan di tambah. Sekecil apapun, syukuri. Dikasih air putih doang, alhamdulillah. Dikasih rezeki nasi+tahu goreng aja, alhamdulillah. Dikasih seribu ya alhamdulillah. Dikasih jodoh? Alhamdulillah banget. Wkwkkw. Masalah mah bakalan lewat kalau kita merayakan hidup kita dengan bersyukur. Kalau versi Ustadz Yusuf Mansur jadi orang kerener yang bisa bersyukur itu. Jadikanlah Allah sebagai partner hidup dan sandarkan apapun hanya untuk-Nya. Kerener people! :D
Yang harus kita ingat, Allah memberikan beban, tidak akan pernah melebihi kapasitas kita. Ya masak saya mau dikasih beban 50kg, ya nggak bisa kan ya. Lha wong berat saya cuma 43kg. Beban kita samadengan dengan qualitas diri kita alias kemampuan kita. Semakin berat, maka semakin kuatlah kita.
Kenapa Allah kasih kita masalah? Itu tadi udah dijelasin. Biar tambah jleb nih. Kalau kita bahagia, inget Allah nggak? Kalau kita lagi dikasih rezeki, bilang makasih ma Allah nggak? I know jawabannya bakalan beda-beda. But rata-rata pasti, lupa. Iya kan? Masalah itu ada karena kasih sayang Allah. Allah suka lihat kita sholat malem sampe nangis minta dibantuin masalahnya biar cepetan rampung, Allah suka ngeliat kita berdoa pada-Nya, Allah suka ngeliat kita bersimpuh mohon ampun, Allah suka lihat kita taubat, Allah suka dgn sholawatan kita. Hal-hal itu sering kita lakukan saat kita "down". Ngaku! Ngaku! Ngaku!!! (Iya deh, Riri ngaku.) Kalau kita nggak ada masalah, bisakah kita seperti itu?????
 Sertakan Allah, sertakan Allah, setakan Allah dan sertakan Allah. Let's be kerener! Don't be kerdiler! Allah bersama hamba-Nya yang mau mendekat kepada-Nya. Rayakan hidup dengan bersyukur. Alhamdulillah alhamdulillah dan alhamdulillah. ;)

Semoga bermanfaat. InsyaAllah itu yang saya tulis sudah terbukti disaya sendiri. Itulah mengapa saya sekarang lebih enjoy menikmati hidup. Be kerener yak. Jangan lupa ya, RAYAKAN HIDUP DENGAN BERSYUKUR :D

Salam hangat.
Riri

*kenapa sekarang ganti salam hangat? Kenapa nggak salam sayang seperti kemarin? *bisik2* ada ikhwan yang baca blog saya. Jagain dia biar nggak dosa karena saya. Jadi ya saya ganti saja salam hangat.hihihi :D
s