Senin, 20 April 2015

Mungkin Kamu Sedang Hujan

Pernah kau melihat pelangi? Indah ya? Merah, kuning, hijau, nila, orange, biru, ungu. Aku suka pelangi. Pelangi menurutku adalah sebuah hiasan yang terjatuh di bumi. Padahal asal aslinya dari surga. Pelangi selalu datang setelah hujan. Hasil pembiasan rintik hujan dan sinar mentari yang mulai kembali gagahi bumi. Bukan. Bukan selalu datang. Tapi kata yang lebih tepat adalah "pelangi terkadang datang selepas hujan". Aku rasa itu lebih benar. Karena tak semua kondisi selepas hujan, bisa memunculkan pelangi yang indah. Manusia hidup memiliki mimpi, harapan dan kisah hidup masing-masing. Jalanan takdirpun tak serta merta sama dengan orang satu dan orang lainnya. Seperti pelangi. Berwarna warni. Mungkin akan terdengar sama, namun hakikatnya berbeda. Bukankah itu adalah keindahan yang diciptakan oleh Dzat Maha Penulis Naskah Yang Maha Agung? Ya. Ia penulis hebat yang menulis satu kisah dengan kisah lainnya berbeda. Siapa penulis favorit ku? Tuhan. Tuhan menghadirkan rasa yang banyak. Ada beberapa rasa yang sengaja Ia turunkan dari surga. Kebahagiaan, cinta, kasih sayang, dan segala macam bentuk keindahan yang sudah hadir dari Allah menciptakan bumi dan seisinya ini tanpa campur tangan manusia. Namun, ada beberapa rasa juga yang ia hadirkan di bumi ini yang berasal dari neraka. Segala bentuk rasa sakit, rasa kecewa dan kawan-kawannya. Aaah aku tidak ingin bercerita tentang rasa. Aku ingin bercerita mengenai sebuah rasa yang sedang ku rasakan. Curhat sebisanya. Entahlah, betapa sulitnya bagiku untuk bercerita kepada manusia secara langsung. Aku belum bisa percaya kepada seorangpun didunia ini. Rasaku tengah diombang ambingkan angin barat. Porak poranda. Semua serasa berubah saat dia mulai KKN. Sikap dan sifarnya bukan lagi "milikku". Tanpa disadari, sikapnya begitu acuh atas kehadiran ku. Apakah aku kecewa? Sangat. Bahkan, aku tak mengenali dia yang dulu. Aku merasa asing atas tubuh tinggi dan gigi gingsul itu. Senyumannya lebih kaku. Ungkapannya dan perkataannya lebih kasar dari pada dulu. Dia seperti bukan kekasihku. Beberapa kali aku menghubunginya, nihil. Mencoba untuk mengirimkan pesan, ditanggapi dengan hambar. Bahkan terkadang dengan luapan emosi yang tak senang. Apakah salah aku merindukannya? Apakah salah aku merindukannya? Apakah salah aku merindukannya? Kalau salah, kan ku pendam rasaku sendiri dan ku alihkan kepada orang lain yang berbahagia dapat merasakan di rindukan. Mungkinkah dia sedang hujan? Lalu, kapan pelangi itu muncul? Janganlah berharap banyak. Kapan hujan itu akan berhenti? Aku paham disana kamu sibuk. Aku paham disana kamu banyak pikiran. Aku paham disana kamu nyaman. Aku paham disana kau punya teman (lagi). Aku paham disana kamu dibahagiakan dengan hidup jauh dari orang tua yang selalu menghujatmu. Aku paham disana kamu bisa lebih bebas. Aku tahu disana kamu bisa beristirahat lebih baik. Aku tahu disana kamu mendapatkan dunia yang baru. Dan aku adalah bagian dari dunia mu disini yang ingin kamu lupakan sejenak dan belum tentu akan kau peluk lagi dengan hangat. Terserah kamu akan seperti apa padaku. Apapun pandanganmu, aku adalah orang yang sama yang mencintaimu selama 4tahun. Aku menghubungimu, demi kita sama-sama tidak merasa kosong dan kamu slalu menghujatku. Tak apa. Aku menerimanya. Aku benar-benar mulai lelah hadapi sikapnya. Aku ingin berlari sejauh mungkin. Meredamkan rasa kecewa ini agar mati bersama rasa sakit hati. Tuhan, kapan dia akan kembali menjadi milikku?

Sabtu, 18 April 2015

Jatuh Cinta Pada Laki-laki Baru

Aku menemukan rasa yang tak asing dalam diriku. Rasa bahagia setiap mengingat sebuah nama. Rasa nyaman saat mendapati pikiranku tertuju kepada laki-laki itu. Mungkinkah aku tengah jatuh cinta? Rasa yang sama dengan beberapa tahun yang lalu saat aku mendengar namanya. Nahkan rasa jatuh cinta ini lebih hebat dari pada terakhir kali aku jatuh cinta dengan laki-laki sebayaku. Perkenalkan. Namanya Abdurrahman. Aku biasa memanggilnya Rahman. Entahlah, aku selalu bahagia kala harus memanggilnya “Rahman”. Laki-laki ini begitu lucu dan menggemaskan. Pipinya tembem, wajahnya bulat, senyumannya manis sekali, rambutnya sedikit tipis namun hitam dank ala ia tertawa atau tersenyum, matanya berubah menjadi sebuah garis. Itu disebabkan oleh matanya yang sipit sepertiku. Setiap aku memanggil namanya, ia selalu tersenyum. Seolah ingin menjawab setiap apa yang aku ceritakan kepadanya. Hatiku terpaut dengannya. Laki-laki baru yang membuatku jatuh cinta dengan begitu hebatnya. Bahkan, dapat membuatku jatuh cinta melebihi rasaku kepada laki-laki yang sejak 22 Juni 2011 menemaniku hidup. Rahman adalah laki-laki baru yang membuatku benar-benar hidup. Benar-benar hidup sebagai manusia dan seorang wanita. Langkah kakiku begitu berat kala harus berpisah darinya. Aku ingin selalu menemaninya. Ingin mendampinginya dari membuka mata hingga menutup mata kembali. Begitu seterusnya. Aku sudah berjanti kepadanya, aku tak akan meninggalkannya walaupun sejenak (kecuali untuk kuliah). Aku benar-benar tidak ikhlas saat meninggalkannya walaupun untuk sejenak. Kalau bisa, aku ingin mengajaknya agar tetap berada disampingku. Sebegitu hebatnya aku jatuh cinta denganya? Iya. Aku benar-benar jatuh cinta kepada lelaki ini. Mataku selalu berkaca-kaca kala harus menceritakan tentang arti keberadaan Rahman bagi ku. Dia sangat luar biasa bagiku. Dia adalah bagian hidupku. Detak jantungnya adalah hidup bagiku. Dia adalah harta yang paling berharga yang ku miliki. Hadirnya adalah anugrah terindah yang diberikan oleh Allah untukku. “Rahmaaaaan…” panggilku kepada laki-laki itu. Ia menjawab dengan senyuman dan tawa yang begitu indah. Menggoyangkan tangan dan kakinya beriringan. Kala ku melihatnya, semua rasa lelah terbayar lunas dan tak berbekas. Kamu sungguh luar biasa Rahman. Rahman, terimkasih sudah hadir dalam tubuh ibu. Dalam pikiran ibu, dalam ingatan ibu, dalam hati ibu dan dalam hidup ibu. Ibu menunggumu benar-benar hadir nyata dalam hidup ibu. Menemani ibu menua dan melihatmu dewasa. Mengajarkanmu tentang semua hal dan melihat pertumbuhanmu yang sangatlah pesat adalah keinginan yang ingin segera ibu wujudkan. Rahman, kelak ibu akan menjadi ustadzah pertama yang akan engkau kenal. Dengarkan ibu baik-baik kala ibu berbicara, sholatlah 5 waktu seperti ajaran agama, hormatilah siapapun yang kamu temui baik lebih muda darimu, seusiamu atau diatasmu usianya, jangan sakiti wanita dengan alasan apapun, bila kelak kau sudah dewasa dan menemukan seorang wanita yang kau yakini sebagai jodohmu, jangan kau tunda. Nak, perempuan memiliki hati yang begitu sensitive, tapi kamu harus tetap jujur! Bila kamu menemukan rasa cinta kepada seorang wanita dan belum berani untuk berkomitment, jangan dekati dia dengan hubungan semu. Datangi dia saat kamu sudah siap berkomitmen (dengan 1 syarat, kamu harus siap saat kau siap, dia sudah dimiliki oleh orang lain dan akhirnya hatimu terluka). Nak, tak ada satupun wanita yang ingin berada dihubungan yang semu. Kamu harus tahu itu. Jika kau membuat kesalahan, ibu tak akan segan-segan untuk memberikan ceramah panjang lebar padamu! Nak, ibu merindukan kehadiran mu. Benar-benar hidup disamping ibu. I love you my hero, Rahman. Anak ibu yang panjang umur, sehat, pintar, cerdas, bertanggung jawab, membanggakan dan memiliki akhlak yang mulia. Abdurrahman, ibu saynag kamu. Ibu mencintaimu dengan sangat. Terimakasih atas kehadiranmu dalam hidup ibu. Salam sayang Ibu *ditulis dengan hati yang berbahagia dan mata yang berkaca-kaca. Bahkan entah berapa kali air mata menetes jatuh ke baju. Bahagia saat menghadirkan Rahman. Merasakan bahwa saat ini ia benar-benar ada*

Kamis, 16 April 2015

Seperti dia, dulu

Beberapa hari yang lalu check up. Kembali berjumpa dengan Pak Widodo yang begitu lucu dan serius. Setelah berbulan-bulan aku menghindari rumah sakit itu, akhirnya harus kembali menginjakkan kakiku kesana. Bukan untuk menjenguk seseorang yang sedang sakit. Bukan! Check up pun dimulai dari jam 11. Setelah sekian lama menunggu. Deg deg an waktu masuk ke ruangan pak dokter yang sudah bertahun-tahun belakangan ini menghandle tubuhku. "Sudah lama ya ndak check up? Sibuk?" Tanya dokter penyakit dalam tersebut. "Hehehe" aku hanya bisa tertawa kecil untuk menjawab pertanyaan itu. "Bagaimana pola makanmu? Masih susah?" Ungkap beliau dengan tersenyum manis. "Berat badan saya naik drastis dok. Melebihi ekspektasi saya. Hehe" "Nah begitu! Sekarang tiduran dulu ya! USG dulu." Kembali hatiku berdebar hebat. USG berlangsung dengan cepat. Sesekali Pak Wid menjelaskan tentang keadaan organ dalam tubuhku yang berhasil beliau lihat melalui USG. Sesekali beliau menggelengkan kepalanya. Aku tahu itu signal buruk. Aku siap. Aku harus siap!!! Setidaknya itu caraku untuk meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. USG selesai, ambil sampel darah dan Pak Wid menuliskan resep obat. "Sejak kapan mualnya?" Ungkap beliau dgn begitu seriusnya. "Beberapa minggu ini dok. Memangnya kenapa gih?" Aku tahu itu pertanyaan yang berujung dengan kabar berita buruk. "Kita harus segera mungkin mengambil tindakan." menyodorkan resep obat yang harus ku tebus. "Memangnya kenapa ya dok?" Tanya ku untuk memperjelas apa yang terjadi pada badanku. Beliau menjelaskan keadaan yang diluar ekspektasi saya. Mual itu bukan mual yang biasa. Dan saat dijelaskan itu, hatiku hancur sehancur-hancurnya. Bagaimana saya bisa menjelaskan tentang penyakit saya kepada keluarga dan pasangan saya? "Kalau mualnya masih, kita naikkan dosisnya." Dengan gontai, saya melalui jalanan yang mulai ramai. Kepala saya kembali mengingat penjelasan dokter saya. Obat-obatan ini akan menemani saya untuk beberapa hari kedepan, meredam mual yang mengganggu. Hanya meredam. Bukan menyembuhkan. Beberapa hari setelah mengkonsumsi obat itu, sungguh diluar nalar saya. Efek sampingnya benar-benar menyiksa. Rambut saya benar-benar rontok. Hingga pada akhirnya untuk mengkamuflase hal tersebut, rambut saya, saya potong lebih pendek. Bahkan saya sempat frustasi melihat rambut saya yang tertinggal di sisir setiap kali saya menyisir rambut. Mualnya bagaimana? Masih. Meski agak berkurang. Hari ini adalah 2 minggu setelah check up tersebut. Obatpun sudah habis. Tapi, untuk check up lagi, saya harus berpikir ulang. Saya nggak mau makan obat yang bakalan membuat rambut saya rontok parah. Saya nggak mau di infus. Saya nggak mau!!!! Sekarang, saya hanya ingin menikmati rasa sakit dan mual yang ada. Menyembunyikan dari siapa saja. Toh, tak ada yang peduli akan hadirnya hidup saya didunia. Dia ataupun mereka, mengabaikan ku dengan indah. Jadi, kalau saya ada apa-apa, nggak bakalan penting buat mereka. Aku hanya ingin menjudge bahwa "aku sehat". :)

Diingatkan untuk mendoakan

Aku benar-benar sendiri! Benar-benar sendiri. Hatiku kacau. Pengabaian terus berulang disetiap harinya. Buatku kehilangan sosoknya yang sudah hampir 4 tahun bersamaku. Mendadak mengingat 1 nama yang dulu pernah hadir dalam hidup ku.
Seakan berjalan pada ruang waktu. Mengembalikan setiap ingatan yang sudah lama ku lupakan. Seperti kembali melihat wajahnya, mendapati kehadirannya, mendengar suaranya dan dia benar-benar terasa dekat. Berulang kali ku yakinkan bahwa dia, sudah benar-benar tidak ada! Bahkan mem-flashback kepada tanggal 3 April 2011. Dan ku sadari, dia benar-benar sudah tidak ada.
Hari ini, kepalaku mulai berfikir jernih. Sejak seorang kawan memberikan pencerahan kepada kepala ku yang tengah kacau.
 "Kamu mengingatnya, kamu merindukannya, kamu merasakan itu semua karena dia mengingatmu. Memintamu untuk mengirimnya do'a yang sudah lama kau lupakan untuknya. Dulu, saat dia hidup, dalam do'amu slalu kau sebut namanya. Sekarang, dia menginginkan hal yang sama." Ungkap Jo.
Kepalaku mulai berfikir dan tetap kacau. Merindukannya yang sudah tiada. Kacau!!!! Hingga pada 14 April yg lalu, ku temukan jawabannya. Benar! Benar halnya. Hatiku yang kacau pun berhenti random saat langkah kakiku meninggalkan tempat peristirahatan terakhir laki-laki itu.
 Dan saat ini, kepala ku tak serta merta terisi oleh nama ataupun apapun mengenai laki-laki itu. Dan benar, dia mengingatkan ku untuk kembali mengingatnya, mengunjunginya dan mendoakannya. Setelah bertahun-tahun aku tak sedikitpun ingat akan dia yang pernah ada. Kali ini. Sudah waktunya untukku kembali pada dunia ku yang normal....

Abaikan

Setiap jengkal langkah ku mulai goyah. Tatapan mataku mulai kosong pasti. Hati ku tengah bertanya? Ada apa gerangan tentang kita? Setiap hari berlalu begitu saja. Pagi, siang, malam. Sama saja. Berkutat dengan pekerjaan dan kuliah membuat kepala ku lebih pening dari pada sebelum-sebelumnya. Badanku melemah pasti. Lihatlah! Dirumah inipun aku merasakan hanya menumpang sesaat. Bila esok kembali datang, rutinitas ku kembali berulang. Kerja dan kuliah. Semester ini tak jauh berbeda dengan semester sebelumnya. Hanya saja, semester ini lebih banyak praktek saja. Cukup lelah? Sangat lelah!!! Bahkan berkali-kali badan ku melemas pasti. Batuk pun tak lekas pulih karena kondisi yang tak juga membaik. Tapi, alhamdulillah masih bisa kuliah dan kerja. Waktuku hampir benar-benar habis. Namun, aku masih sering menyempatkan waktu untuk menghubungi kekasih ku. Ya. Aku hanya ingin dia merasakan aku ADA. Walaupun pada kenyataannya, tubuh kami terpisah 63km. Ya. Aku ingin tetap terasa ADA ditengah LDR yang tengah kami jalani. Tak dapat dipungkiri. Semenjak dia KKN, sikapnya benar-benar berubah. Sering marah, sering ngambeg dan lebih sering mengabaikanku. Seharian inipun dia belum menghubungi ku 1x pun. Ya. Aku dapat menerimanya meskipun aku menangis mendapati kenyataan sikapnya yang berubah. Bahkan, aku merasa bahwa disini, hanya aku yang berusaha ADA. Hingga memory ku kembali mengingat seorang laki-laki yang dulu pernah selalu ada untuk ku dan itu, bukan dia. Berulang kali aku menghela nafas dalam-dalam. Diselingi batuk yang tak kunjung reda. Kepalaku mulai pusing. Mencoba menghilangkan rasa apapun yang tengah berkecambuk dalam hatiku. Hatiku mengosong. Bukan hilang! Bukan! Bukan hilang dan tak berbekas!!! Aku masih mencintainya. Dengan sangat mencintainya. Aku masih merindukannya dengan sangat pula. Aku masih ingin mendengar suaranya. Aku masih ingin hidup dengannya. Menghabiskan sisa hidupku untuk bersamanya. Tapi, tetap saja ku diabaikan olehnya. Membuat hati ku "kosong". Kapan kamu tak dingin lagi? Kapan kamu berhenti menganggapku tidak ada? Kapan kamu tak mengabaikanku? Benar. Aku benar merindukan mu. Yang hangat. Yang ADA.

Selasa, 14 April 2015

Selamat Ulang Tahun yang Ke 24 Tahun Jagoanku

Apa yang harus ku katakan untuk hari ini? Aku begitu bahagia. Sangat bahagia. Menyempatkan waktu untuk merayakan awal hidup seseorang. Selamat ulang tahun yang ke 24 almarhum mas Agung Adi Hartanto. :') Hanya memiliki keberanian untuk mendatangi makamnya. Merasakan kehadirannya yang begitu dekat dan merasakan hatiku yang kembali nyaman. Ya. Didekatnya, aku begitu nyaman. Sangat nyaman. Sok romantis dengan bunga. Ku bawakan sebuket bunga yang berhasil ku beli di pasar. 3 tangkai bunga mawar merah, 1 tangkai bunga sedap malam dan setengah ikat bunga krisan. Aku menyukai ketiga bunga itu. Menyertakan sebuah kartu ucapan yang bisa ku sebut dengan kertas ucapan yang begitu sederhana. Teriring doa untuknya yang kini disurga, ada hati yang berharap ia bangkit dan hidup kembali bersamaku. Bukan. Bukan dengan kondisinya seperti saat ini. Namun kondisinya seperti dulu. Bukan! Aku tidak mau dia hidup lagi bila dia masih sakit! Suatu saat nanti, ragakupun akan ditinggalkan jiwa ku. Dan harapanku hanya 1. Aku ingin hidup dengannya dengan kekal. Ya. Aku ingin menjadi bidadarinya kelak. Menemaninya selama hidup didunia yang kekal. Menebus setiap perpisahan yang sudah bertahun-tahun kami rasakan. Biarlah raga kami saling berpisah didunia. Biarlah hati terkecilku menjadi miliknya. Nyaman memanggil namanya, nyaman merindukannya, nyaman berkisah tentangnya. Terimakasih sudah pernah hidup dengan membahagiakan hidupku, menyamankan hati ku. Bila ada sebuah kalimat yang bisa lebih tinggi dari pada "aku merindukanmu" maka ku gunakan kata itu untukmu. Ya. Aku sangat merindukanmu Agung Adi Hartanto.

Senin, 13 April 2015

Esok

Esok. 14 April 2015. Hari bersejarah dalam rentetan timeline kehidupan ku. Sebuah tanggal yang begitu lekat dalam pikiranku. Dalam dan sangat dalam. Dekat dan bahkan sangaaaat dekat. Minggu, 14 April 1991. Seorang anak laki-laki terlahir didunia dengan selamat. Anak pertama dari pasangan guru muda. Mereka memberi nama anak itu Agung Adi Hartanto. Berharap agar anak tersebut kelak bila telah dewasa, akan menjadi anak yang "besar". Anak itu tumbuh menjadi anak yang memang besar. Tubuhnya sedang bahkan terlihat sedikit kurus. Tapi, tubuh itu memiliki milyaran bahkan triliyunan sel otak yang dapat diandalkan. Benar. Dia tumbuh sebagai anak yang begitu cerdas dan pintar. Di jenjang sekolah menengah pertama, dia menjadi wakil ketua osis dan dia masuk kekelas A. Kelas incaran banyak orang. Kelas yang menjadi impian banyak orang. Wajahnya pun tampan. Dengan rambut belah tengahnya, membuatnya terlihat rapi dan benar-benar rapi. Jangan tanyakan tentang kepemimpinan! Aku mengenalnya. Sebatas mengenal namanya. Berbicarapun aku tak pernah. Dia terlalu bercahaya kala itu. Masuk ke sekolah menengah atas, tubuhnya masih terlihat kurus. Namun, dia terlihat lebih tinggi. Aktif di banyak lembaga intrasekolah. Membuatnya banyak di kenal orang, bahkan adik-adik kelasnya dan teman-temannya menghormatinya dengan sangat. Lulus dengan nilai jajaran terbaik itu menjadi kebanggaan bagi bapak dan ibuknya. Melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Ingin sekali ke Semarang. Tapi, orang tuanya tidak mengizinkan. Akhirnya, ia memilih untuk kuliah disebuah universitas ternama di Salatiga. PGSD FKIP adalah tempatnya bernaung. Badannya mulai menggembul disaat ia mulai kuliah. Aku mulai dekat dengannya berkat sosial media Facebook. Laki-laki bertubuh gembul itu mendekatiku. Awalnya aku tak begitu percaya dengan ajakannya untuk bersama. Berkali-kali ia meminta ku untuk menjadi kekasihnya dan akhirnya kami memutuskan untuk menjalani hubungan itu. Bahagia? Sangat. Bahkan sangat bahagia memiliki laki-laki seperti dia. Sebulan dua bulan, kami masih baik-baik saja. Besar harapanku untuk bersamanya. Dia adalah laki-laki pertama yang memelukku dan mengecup keningku. Dia adalah laki-laki pertamaku yang mencintaiku dengan apa adanya dan dengan ketulusan. Telpon pun sering kami lakukan. Demi membunuh rindu yang menyesakkan. Setiap hari kami berkiriman foto lewat multimedia. Ya seperti itu. Dia laki-laki yang dewasa. Cara berpikirnya hampir membuatku mati bangga. "Dik, kalau kita menikah nanti. Aku ingin memiliki sebuah rumah yang sederhana. Tapi, dalamnya ada semua. Setuju nggak?" Tanya lelaki itu sembari menatap langit yang cerah. Aku hanya tersenyum mendengarnya. "Dik, kalo kita menikah, aku pingin punya anak 4. Semua harus mirip aku. Nggak ada yang boleh mirip kamu. Hahaha" ungkapnya sambil tertawa. Akupun mengiyakan atas segala mimpinya. Bagaimana tidak, aku pasti akan begitu bangga bila kelak anak-anakku seganteng dia. Hehehe Kepalanya mulai jatuh dibahuku. Hening begitu terasa. "Dik, aku begitu nyaman dengan mu. Entahlah kenapa. Bahkan dengan ibuku, aku tak bisa merasakan senyaman ini." Ungkapnya dengan memejamkan matanya. Ia bangkitkan kepalanya dan memelukku dengan erat. "Aku sayang kamu dik." Bisiknya. "Aku juga mas." Begitu lamanya kami berpelukan. Tak peduli dengan siapapun yang melihat. Laki-laki ku mulai drop kondisinya. Batuk-batuk dan sebagainya. Beberapa kali ia harus oprasi dan harus opname di rumah sakit. Ingin sekali menemaninya, namun, dia tidak mengizinkan. Setiap keluar dr rumah sakit, dia mengajakku jalan-jalan. Kali ini ke bukit cinta. Laki-laki dengan celana jeans dan jaket merah dan seorang anak perempuan bercelana jeans dan jaket putih. Ya itu kami. Pasangan absurd. "Pernah kesini?" Tanyanya. "Belum." "Anginnya sepoi-sepoi." Ungkapnya dengan tersenyum. Mencetakkan lesung pipi di kedua pipinya yang berjerawat. "Iya." "Kenapa dari tadi pegang HP? Takut dicari bapak?" "Iya." "Ya udah kita pulang aja ya?" Dia berjalan lebih dulu. Sementara aku, masih duduk. Saat aku mulai berdiri dan mencari dia, dia tidak ada dimanapun. Sontak aku menangis. Terduduklah aku kembali. Tuk! Sebuah buah pinus jatuh di kepalaku. Tuk! Tuk! Ada lagi. Dan pas di kepalaku. sontak aku kebingungan. "Hahahahahaha" suara tawapun pecah. Dari laki-laki itu. Menyebalkan sekali. Dia mendatangiku dan duduk kembali disampingku. Merangkulkan tangan kanannya di bahuku. "Tuhkan, kalo cemberut malah persis bebek. Hehehe" ia menggodaku. Aku meliriknya marah. "Sudah ah. Jangan cengeng! Mosok pacarnya Mas Agung Adi kok cengeng." Ungkapnya dengan tersenyum. "Jadilah perempuan yang kuat! Setelah aku nggak ada nanti, siapa ya yang akan melindungi kamu?" Ucapnya dengan melemahkan nada bicaranya. "Ngawur! Emang kamu mau kemana? Kamu nggak akan kemana-mana! Titik!". Ungkapku dengan marah. "Aku nggak bakalan bisa menjagamu terus dik." Ucapnya diakhiri dengan senyuman yang memperlihatkan gigi gingsulnya. Aku terdiam dan menangis. Dibawanya kepalaku kepundaknya. Dan tangisanku segera berhenti saat bibirnya menyentuh keningku. Akhir tahun kami habiskan dengan jalan-jalan kegedung songo. Entah berapa kali ia memelukku dan mencium ku disana. Ya laki-laki ini memang hebat. Esok chemoterapy dan hari ini jalan-jalan dengan ku. Selalu seperti itu. "Siapa yang akan menjagamu dik. Aku kapan saja bisa pergi." Ungkapnya dengan air mata terlihat di sudut matanya. "Kamu yang akan menjagaku!" Ucapku marah. Sejak saat itu, dia mulai lemah. Bahkan sering menghilang tanpa kabar. Hidupku mulai goyah. Bahkan di hari ulang tahun ku, aku malah dimarahinya dengan seenaknya. Tanggal 3 April 2011 adalah hari terakhir aku mendapatkan kabar tentangnya. Dia meninggal dunia. Ya. Laki-laki itu benar-benar meninggalkan ku sendiri. Ia tertidur untuk selamanya. Sejak saat itu, aku mengejar semua mimpi kami berdua. Dan hari ini. Aku ingin mengejar mimpi kami dan mewujudkannya. Semata-mata untuk dia. Laki-laki yang membuatku belajar bermimpi. Laki-laki yang suaranya begitu melekat dalam hatiku. Bahkan sampai detik ini.

Kita

Menikah. Menyatukan dua hati yang sama, menyatukan dua kepala yang berbeda. Sebuah hubungan yang begitu sakral dihadapan agama dan juga dihadapan negara. Menjadi mimpi untuk semua wanita didunia ini. Bukan hanya itu! Menikah merupakan sebuah sunah dari Rasulullah SAW. Menjadikan yang haram menjadi halal dan sebuah gerbang untuk kebahagiaan dan pula gerbang menuju surga. Siapa sih yang tidak ingin menikah? Kalau ada orang yang tidak ingin menikah, rasanya pengen jitakin aja deh. Dua kepala mulai merasakan getaran yang akan datang sejak pertama mereka saling melihat atau mengenal, atau karena terbiasa. Ya itulah cinta. Sebuah rasa yang tidak bisa di anggap biasa dan di logika menggunakan akal pikiran kita sebagai manusia. Cinta adalah salah satu rasa yang ada disurga lalu di turunkan kedunia. Siapa yang belum pernah jatuh cinta? Meski tak dapat dipungkiri, selama kita hidup didunia ini, kita merasakan cinta dan rasa ingin memiliki seutuhnya. Berawal dari cinta, dua hati mengikatkan hati mereka untuk saling bersama disebuah hubungan "pacaran". Ya. Masa penjajakan dan masa saling mengerti. Tak sedikit orang yang pernah melakukan hubungan ini. Bahkan hampir semua orang didunia ini pernah pacaran. Setelah merasa cocok, mereka kembali bertanya "kita mau bawa kemana hubungan ini?" Hingga muncullah keinginan untuk memiliki seutuhnya dengan menikah. Tapi sayangnya, tak semua orang bisa menikah. Karena usia, karena kuliah, karena belum siap, karena pekerjaan atau bahkan karena tidak mendapat restu. Seberapapun seseorang berjuang, kalau pasangannya belum mau berjuang bersamanya, pernikahan itu tidak akan terjadi. Karena pada dasarnya, menikah butuh saling memperjuangkan, butuh menyatukan visi dan misi. Ya. Meski aku harus jujur. Bertahun-tahun hidup dan menggantungkan keinginan untuk bersama dengan laki-laki yang sama. Namun, lambat laun, kini rasa ingin menikah begitu semu. Cincin yang melingkar di jari manispun terasa tak punyai arti. Disaat kesibukannya berhasil membuatnya abai terhadap keberadaanku. Bahkan aku mulai merasakan, dia tidak ada. Ungkapnya, "cobalah mengerti aku! Disini aku sedang KKN." Ya. Aku mengerti. Aku mengerti dengan tidak menghubunginya sewaktu-waktu. Aku menunggunya untuk menyapaku di pesan ataupun blackberry masanger. Tapi, tidak ada. Tak pernah berkomunikasi dan bahkan, hanya menyisakan pertengkaran. Aku kehilangan dia. Hatiku mendadak kosong. Mencoba untuk jangan mengosongkan hatiku, meyakinkan hatiku dengan "ini sudah hampir 4 tahun, aku harus kuat." Tapi hasilnya, dia terus abaikanku dengan alasan yang sama. Akankah aku berhenti? Sedangkan rasa itu terasa masih ada. Karena aku masih menangis dalam merindukannya yang abai. Bukankah apa yang kita abaikan, lambat laun akan pergi? Seperti halnya aku mengabaikan dia (alm), dan akhirnya aku benar-benar kehilangan dia untuk selamanya? Ya. Aku masih menunggu DTA untuk tak mengabaikanku. Hingga anniversary yg ke 4. Selama itu aku bertahan dengannya? Iya. Karena dia buatku hangat dengan rasanya. Tapi kali ini, sangat dingin.

Selasa, 07 April 2015

TENANG

Hidup layaknya kita tengah menaiki roalcoaster. Naik turun bahkan membuat jantung kita berhenti sejenak merasakan sensasinya. Tuhan benar-benar Maha Penulis Naskah yang hebat. Menyatukan dua hati lalu membuat mereka menjalani kehidupan bak roalcoaster. 5tahun yang lalu. Sebutlah namanya Adi. Laki-laki ini sungguh biasa-biasa saja. Badannya gempal, tingginya menyentuh 170cm, kulitnya putih, pipinya dihias lesung pipit dan gingsul. Menarik? Iya. Hingga gagal untuk dikatakan "dia biasa-biasa saja". Dan hal lain yang bisa ku jadikan alasan "dia gagal biasa-biasa saja" adalah dia laki-laki yang cerdas. Kami membangun semuanya secara sederhana. Seperti tengah menaiki parahu di tengah lautan. Ada tenangnya, ada kacaunya. Namun, kami sama-sama menguatkan. Dia yang dewasa, mengcover sikapku yang masih remaja. (Beda usia kami 2tahun). "Jika suatu saat nanti kita menikah, aku ingin punya 4 anak. Semuanya harus mirip dengan ku." Ucapnya dengan tersenyum. Setidaknya aku tenang setiap mendengarnya bercerita tentang hidup bersama ku (kelak). Laki-laki itu sangat semangat saat mengisahkan hidup kami kelak. Dia yang berkerja, membangun istana sederhana, jalan-jalan, ya, selalu membuatku berani berharap. Membuatku lebih nyaman dengan semua yang ia persiapkan. Laki-laki tinggi itu selalu mengirimkan pesan yang terkadang membuatku merasa dibutuhkan. Saat bertemu, ia menyempatkan waktu untuk setidaknya mandi dulu baru bertemu dengan ku. Laki-laki ini luar biasa dimata ku. Laki-laki ini adalah laki-laki yang pernah memelukku erat. Seakan-akan ia tak ingin melepaskanku walau sejenak. Dia laki-laki yang sangat membutuhkanku. Saat menyadari esok ia harus chemoteraphy, dia selalu mengajakku untuk menghabiskan waktu seharian bersama. Ya. Laki-laki ini jarang membuatku menangis. Sesekali aku menangis karena rindu. Dan ia cekatan untuk mengajakku membunuh rindu itu. Laki-laki itu lebih sempurna kala celana pendek sedengkul, kaos dan jaket melekat di tubuhnya. Ya aku suka gayanya. Casual. Selama bersamanya, aku tak pernah takut akan hari esok. Bagaimana kedepannya dan apapun soal masa depan. Aku tenang disampingnya. Aku bangga, pernah memilikinya. Pernah memeluknya erat. Pernah bersandar di bahunya. Dan aku lebih bangga, aku pernah setenang itu bersamanya. Hanya bersamanya.

Minggu, 05 April 2015

LINGKUNGAN PENDIDIKAN BERPENGARUH PADA SISWA

Sejak kecil, aku memang gemar sekolah. Bahkan mendesak orang tua ku untuk segera menyekolahkan ku seperti teman-teman seusiaku. Melihat orang berseragam sekolah membuatku ingin mencobanya. Dan akhirnya saya di "titip" kan untuk sekolah di RA Falahul Mukminin, Cikalan, Padaan, Pabelan. Menyenangkan? Iya. Tapi jujur aku takuk dengan bu guru. Badan beliau lebih besar dari pada orang lain dan beliau orang yang baru. Lalu, lambat laun semangatku sekolah pudar. Saat menyadari teman-temanku naik kelas dan saya masih di TK. Beberapa kali melarikan diri dari sekolahan berbekalkan "mau pipis". Dan saya masih selamat. Ya. Sampai di rumah dengan rasa tidak bersalah. (Namanya juga anak kecil). Hingga beberapa hari kemudian saya di bully habis-habisan oleh teman-teman senior saya. Pulang berjama'ah dan saat sampai di jalan dekat kuburan, saya di tinggal lari. Sontak pasti saya yang kalah dan paling belakang. Badan saya terlalu berat untuk di ajak berlari dan usia saya yang masih terlalu kecil. Itulah bully-an pertama saya. Ditinggal lari. Saya bisa apa? Nangis kejer sampe rumah. Dan sejak saat itu, saya tidak mau sekolah di TK. Somplak sekali hehee Tahun ajaran baru teman-teman saya yang udah kelas 1 MI bersorak sorai dengan kepindahan mereka ke SD yang berada dipusat desa. Sontak, saya pun ingin di sekolahkan seperti mereka. Orang tua mengusahakan sebisanya. Mendorong saya sangat. Dan benar, saya di sekolahkan di SD. Seneng? Iyak. Banget. Tapi, tragedi dimulai dengan mereka "para senior" ditetapkan tetap tinggal di kelas 1 SD dulu. Kelas 1 masih baik-baik saja. Masih berangkat bareng. Kelas 2, ya masih. Kelas 3, berkurang. Kelas 4, saya beneran berangkat sekolah sendirian jalan kaki dari Dompon sampai Giling. Melewati kebun karet PTPN IX yang luas, serta beberapa kuburan angker yang sudah terkenal. Berani? Iya. psikologis saya mulai terganggu dengan adanya "pilih kasih" di kelas. Jujur, saya ini orang yang biasa-biasa saja. Rangking selalu dibawah 10 dan diatas 5 dari 17 orang. Rata-rata? Iyak. Kelas mulai berubah saat teman-teman saya yang pintar lebih di perhatikan. Sedangkan saya, terabaikan dan terkucilkan. Bahkan oleh teman-teman sekelas. Sedih? Iyak. Hal itu membuat saya malas untuk datang kesekolah dan berimbas dengan saya alfa. Naik kekelas 5, wali kelas saya adalah guru ibu saya sewaktu SD dahulu. Orangnya sangar. Sedikit salah (dibilangnya nakal), jiwit (cubit). Bahkan dulu pernah, tangan saya beneran memar biru, 4hari nggak ilang. :( Kelas 6, saya masih suka alfa. Menggampangkan semua dan tak pernah belajar. Saat ujian nasional, ya dikerjain sebisanya aja. Saat pengumuman, peringkat 3. Whaaaat? Kok bisa??? Ya. Itu juga pertanyaan saya. Kok bisa saya peringkat 3? Menggeser teman saya yang dari kelas 1-3 rangking 1 mulu. Bangga, iya. SMP. Masa paling nyebelin di hidup saya. Kalau bisa, memorynya mending saya delete saja dari otak saya. Parah. 3 tahun hidup sebagai laskar putih biru, kehidupan saya penuh bullying. Dari dilabrak sampai di jauhi teman-teman karena saya nggak modis dan saya biasa-biasa saja. Sedih? Sedikit. Namun Allah Maha Baik, mengenalkan rasa yang nggak enak, lalu memberikan rasa yang menyenangkan. My first love in Junior high school. With my senior. SMK. Masa gokil, masa nyenengin, masa yang apa aja ada. Di tingkat ini saya benar-benar di orangkan. Bertemu teman dari berbagai macam daerah dan di TERIMA. Catet!!! DITERIMA. Kehidupan saya ya seperti anak SMA pada umumnya. Having fun. Jalan-jalan. Belajar. Ngegokil. Ngomongin guru ganteng. ngegosipin guru yang belum married (padahal udah married). Ya seperti itulah. Saya masih tetap jadi siswa yang biasa-biasa saja. KULIAH. Masa ini untuk pertama kalinya saya mengenal banyak ragam muka orang. Dari sabang sampai merauke. Muaknaya beda-beda. Seperti tengah merasakan masuk kedalam Indonesia yang mini. Berjalan baik? Iya. Punya sahabat baru dari Maluku dan Kalimantan dan mereka menyenangkan. IPK menyentuh angka 3 dapat saya banggakan di hadapan orang tua. Tapi, semua tak semudah itu. Orang asli membuat saya geram dengan ocehan mereka dan kesyirikan mereka. Celoteh mereka membuat saya "keep silent please." Tapi mereka tetap berbicara. Seakan-akan bangga dengan tingkatan mereka sebagai anak pengusaha. Ya, jelas. Saya tidak mungkin jadi bagian mereka. Saya ini cuma orang biasa. Lambat laun, ocehan mereka benar-benar mengganggu. SANGAT MENGGANGGU. Usaha mereka untuk mendepak saya pun, sukses! I'm out from the campus. Lingkungan pendidikan yang kacau!!!! 2013 saya kembali masuk kuliah. Disebuah PTN di Salatiga. Masuk kesini sungguh seperti masuk kedalam keluarga. Saya benar-benar di ORANGkan dan diTERIMA. Hal yang sungguh sulit untuk di dapatkan. Teman-teman saya beragam. Dari adik-adik (karena umur mereka dibawah saya), mbak-mbak (karena mereka lebih tua) dan ibuk-ibuk (karena udah punya anak). Ya seperti itulah. Tapi saya bersyukur. Kami sebagai mahasiswa angkatan pertama cukup solid dan tercipta ruang lingkup pendidikan yang sehat. Saling membantu dan tidak saling menindas. Mau kaya atau miskin, kami saudara. Nyaman. Imbasnya, IPK saya diatas 3 bahkan menyentuh cumloude. Sesuatu yang dapat saya benar-benar banggakan kepada orang tua. Bagaimanapun, ruang pendidikan adalah ruang berkembangnya seorang anak manusia. Bagaimana ruang pendidikannya, dapat mencerminkan kepribadian anak manusia itu. Bila lingkungan pendidikan sehat, (insyaAllah) maka hasilnya maksimal. Begitu pula sebaliknya. Tak perlu sekolahan favorit untuk menjadi berprestasi. Cukup dengan lingkungan pendidikan yang mendukung dan sehatlah, anak dapat mengembangkan kepribadiannya, bakatnya, kecerdasannya, dan mengembangkan semua aspek dalam dirinya. For parent!!!!! Jangan paksakan anak untuk pintar disegala bidang!!!!!!! >:o Setidaknya itulah yang saya pelajari.