Selasa, 07 April 2015

TENANG

Hidup layaknya kita tengah menaiki roalcoaster. Naik turun bahkan membuat jantung kita berhenti sejenak merasakan sensasinya. Tuhan benar-benar Maha Penulis Naskah yang hebat. Menyatukan dua hati lalu membuat mereka menjalani kehidupan bak roalcoaster. 5tahun yang lalu. Sebutlah namanya Adi. Laki-laki ini sungguh biasa-biasa saja. Badannya gempal, tingginya menyentuh 170cm, kulitnya putih, pipinya dihias lesung pipit dan gingsul. Menarik? Iya. Hingga gagal untuk dikatakan "dia biasa-biasa saja". Dan hal lain yang bisa ku jadikan alasan "dia gagal biasa-biasa saja" adalah dia laki-laki yang cerdas. Kami membangun semuanya secara sederhana. Seperti tengah menaiki parahu di tengah lautan. Ada tenangnya, ada kacaunya. Namun, kami sama-sama menguatkan. Dia yang dewasa, mengcover sikapku yang masih remaja. (Beda usia kami 2tahun). "Jika suatu saat nanti kita menikah, aku ingin punya 4 anak. Semuanya harus mirip dengan ku." Ucapnya dengan tersenyum. Setidaknya aku tenang setiap mendengarnya bercerita tentang hidup bersama ku (kelak). Laki-laki itu sangat semangat saat mengisahkan hidup kami kelak. Dia yang berkerja, membangun istana sederhana, jalan-jalan, ya, selalu membuatku berani berharap. Membuatku lebih nyaman dengan semua yang ia persiapkan. Laki-laki tinggi itu selalu mengirimkan pesan yang terkadang membuatku merasa dibutuhkan. Saat bertemu, ia menyempatkan waktu untuk setidaknya mandi dulu baru bertemu dengan ku. Laki-laki ini luar biasa dimata ku. Laki-laki ini adalah laki-laki yang pernah memelukku erat. Seakan-akan ia tak ingin melepaskanku walau sejenak. Dia laki-laki yang sangat membutuhkanku. Saat menyadari esok ia harus chemoteraphy, dia selalu mengajakku untuk menghabiskan waktu seharian bersama. Ya. Laki-laki ini jarang membuatku menangis. Sesekali aku menangis karena rindu. Dan ia cekatan untuk mengajakku membunuh rindu itu. Laki-laki itu lebih sempurna kala celana pendek sedengkul, kaos dan jaket melekat di tubuhnya. Ya aku suka gayanya. Casual. Selama bersamanya, aku tak pernah takut akan hari esok. Bagaimana kedepannya dan apapun soal masa depan. Aku tenang disampingnya. Aku bangga, pernah memilikinya. Pernah memeluknya erat. Pernah bersandar di bahunya. Dan aku lebih bangga, aku pernah setenang itu bersamanya. Hanya bersamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar