Kadang dunia tak sebaik yang kamu kira. Bahkan terkadang dunia tak seburuk yang kamu bayangkan. Lakukan dan nikmati saja. Pelangi akan datang. Tuhan tak akan menciptakan sesuatu tanpa alasan. Mari bercerita bersama saya. Burung kecil yang lahir di hari ke 4 idul fitri. Selamat membaca gih...
Senin, 13 April 2015
Kita
Menikah. Menyatukan dua hati yang sama, menyatukan dua kepala yang berbeda. Sebuah hubungan yang begitu sakral dihadapan agama dan juga dihadapan negara. Menjadi mimpi untuk semua wanita didunia ini. Bukan hanya itu! Menikah merupakan sebuah sunah dari Rasulullah SAW. Menjadikan yang haram menjadi halal dan sebuah gerbang untuk kebahagiaan dan pula gerbang menuju surga.
Siapa sih yang tidak ingin menikah? Kalau ada orang yang tidak ingin menikah, rasanya pengen jitakin aja deh.
Dua kepala mulai merasakan getaran yang akan datang sejak pertama mereka saling melihat atau mengenal, atau karena terbiasa. Ya itulah cinta. Sebuah rasa yang tidak bisa di anggap biasa dan di logika menggunakan akal pikiran kita sebagai manusia. Cinta adalah salah satu rasa yang ada disurga lalu di turunkan kedunia.
Siapa yang belum pernah jatuh cinta? Meski tak dapat dipungkiri, selama kita hidup didunia ini, kita merasakan cinta dan rasa ingin memiliki seutuhnya.
Berawal dari cinta, dua hati mengikatkan hati mereka untuk saling bersama disebuah hubungan "pacaran". Ya. Masa penjajakan dan masa saling mengerti. Tak sedikit orang yang pernah melakukan hubungan ini. Bahkan hampir semua orang didunia ini pernah pacaran. Setelah merasa cocok, mereka kembali bertanya "kita mau bawa kemana hubungan ini?" Hingga muncullah keinginan untuk memiliki seutuhnya dengan menikah. Tapi sayangnya, tak semua orang bisa menikah. Karena usia, karena kuliah, karena belum siap, karena pekerjaan atau bahkan karena tidak mendapat restu. Seberapapun seseorang berjuang, kalau pasangannya belum mau berjuang bersamanya, pernikahan itu tidak akan terjadi. Karena pada dasarnya, menikah butuh saling memperjuangkan, butuh menyatukan visi dan misi.
Ya. Meski aku harus jujur. Bertahun-tahun hidup dan menggantungkan keinginan untuk bersama dengan laki-laki yang sama. Namun, lambat laun, kini rasa ingin menikah begitu semu. Cincin yang melingkar di jari manispun terasa tak punyai arti. Disaat kesibukannya berhasil membuatnya abai terhadap keberadaanku. Bahkan aku mulai merasakan, dia tidak ada. Ungkapnya, "cobalah mengerti aku! Disini aku sedang KKN." Ya. Aku mengerti. Aku mengerti dengan tidak menghubunginya sewaktu-waktu. Aku menunggunya untuk menyapaku di pesan ataupun blackberry masanger. Tapi, tidak ada. Tak pernah berkomunikasi dan bahkan, hanya menyisakan pertengkaran. Aku kehilangan dia. Hatiku mendadak kosong.
Mencoba untuk jangan mengosongkan hatiku, meyakinkan hatiku dengan "ini sudah hampir 4 tahun, aku harus kuat." Tapi hasilnya, dia terus abaikanku dengan alasan yang sama. Akankah aku berhenti? Sedangkan rasa itu terasa masih ada. Karena aku masih menangis dalam merindukannya yang abai.
Bukankah apa yang kita abaikan, lambat laun akan pergi? Seperti halnya aku mengabaikan dia (alm), dan akhirnya aku benar-benar kehilangan dia untuk selamanya? Ya. Aku masih menunggu DTA untuk tak mengabaikanku. Hingga anniversary yg ke 4. Selama itu aku bertahan dengannya? Iya. Karena dia buatku hangat dengan rasanya. Tapi kali ini, sangat dingin.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar