Minggu, 05 April 2015

LINGKUNGAN PENDIDIKAN BERPENGARUH PADA SISWA

Sejak kecil, aku memang gemar sekolah. Bahkan mendesak orang tua ku untuk segera menyekolahkan ku seperti teman-teman seusiaku. Melihat orang berseragam sekolah membuatku ingin mencobanya. Dan akhirnya saya di "titip" kan untuk sekolah di RA Falahul Mukminin, Cikalan, Padaan, Pabelan. Menyenangkan? Iya. Tapi jujur aku takuk dengan bu guru. Badan beliau lebih besar dari pada orang lain dan beliau orang yang baru. Lalu, lambat laun semangatku sekolah pudar. Saat menyadari teman-temanku naik kelas dan saya masih di TK. Beberapa kali melarikan diri dari sekolahan berbekalkan "mau pipis". Dan saya masih selamat. Ya. Sampai di rumah dengan rasa tidak bersalah. (Namanya juga anak kecil). Hingga beberapa hari kemudian saya di bully habis-habisan oleh teman-teman senior saya. Pulang berjama'ah dan saat sampai di jalan dekat kuburan, saya di tinggal lari. Sontak pasti saya yang kalah dan paling belakang. Badan saya terlalu berat untuk di ajak berlari dan usia saya yang masih terlalu kecil. Itulah bully-an pertama saya. Ditinggal lari. Saya bisa apa? Nangis kejer sampe rumah. Dan sejak saat itu, saya tidak mau sekolah di TK. Somplak sekali hehee Tahun ajaran baru teman-teman saya yang udah kelas 1 MI bersorak sorai dengan kepindahan mereka ke SD yang berada dipusat desa. Sontak, saya pun ingin di sekolahkan seperti mereka. Orang tua mengusahakan sebisanya. Mendorong saya sangat. Dan benar, saya di sekolahkan di SD. Seneng? Iyak. Banget. Tapi, tragedi dimulai dengan mereka "para senior" ditetapkan tetap tinggal di kelas 1 SD dulu. Kelas 1 masih baik-baik saja. Masih berangkat bareng. Kelas 2, ya masih. Kelas 3, berkurang. Kelas 4, saya beneran berangkat sekolah sendirian jalan kaki dari Dompon sampai Giling. Melewati kebun karet PTPN IX yang luas, serta beberapa kuburan angker yang sudah terkenal. Berani? Iya. psikologis saya mulai terganggu dengan adanya "pilih kasih" di kelas. Jujur, saya ini orang yang biasa-biasa saja. Rangking selalu dibawah 10 dan diatas 5 dari 17 orang. Rata-rata? Iyak. Kelas mulai berubah saat teman-teman saya yang pintar lebih di perhatikan. Sedangkan saya, terabaikan dan terkucilkan. Bahkan oleh teman-teman sekelas. Sedih? Iyak. Hal itu membuat saya malas untuk datang kesekolah dan berimbas dengan saya alfa. Naik kekelas 5, wali kelas saya adalah guru ibu saya sewaktu SD dahulu. Orangnya sangar. Sedikit salah (dibilangnya nakal), jiwit (cubit). Bahkan dulu pernah, tangan saya beneran memar biru, 4hari nggak ilang. :( Kelas 6, saya masih suka alfa. Menggampangkan semua dan tak pernah belajar. Saat ujian nasional, ya dikerjain sebisanya aja. Saat pengumuman, peringkat 3. Whaaaat? Kok bisa??? Ya. Itu juga pertanyaan saya. Kok bisa saya peringkat 3? Menggeser teman saya yang dari kelas 1-3 rangking 1 mulu. Bangga, iya. SMP. Masa paling nyebelin di hidup saya. Kalau bisa, memorynya mending saya delete saja dari otak saya. Parah. 3 tahun hidup sebagai laskar putih biru, kehidupan saya penuh bullying. Dari dilabrak sampai di jauhi teman-teman karena saya nggak modis dan saya biasa-biasa saja. Sedih? Sedikit. Namun Allah Maha Baik, mengenalkan rasa yang nggak enak, lalu memberikan rasa yang menyenangkan. My first love in Junior high school. With my senior. SMK. Masa gokil, masa nyenengin, masa yang apa aja ada. Di tingkat ini saya benar-benar di orangkan. Bertemu teman dari berbagai macam daerah dan di TERIMA. Catet!!! DITERIMA. Kehidupan saya ya seperti anak SMA pada umumnya. Having fun. Jalan-jalan. Belajar. Ngegokil. Ngomongin guru ganteng. ngegosipin guru yang belum married (padahal udah married). Ya seperti itulah. Saya masih tetap jadi siswa yang biasa-biasa saja. KULIAH. Masa ini untuk pertama kalinya saya mengenal banyak ragam muka orang. Dari sabang sampai merauke. Muaknaya beda-beda. Seperti tengah merasakan masuk kedalam Indonesia yang mini. Berjalan baik? Iya. Punya sahabat baru dari Maluku dan Kalimantan dan mereka menyenangkan. IPK menyentuh angka 3 dapat saya banggakan di hadapan orang tua. Tapi, semua tak semudah itu. Orang asli membuat saya geram dengan ocehan mereka dan kesyirikan mereka. Celoteh mereka membuat saya "keep silent please." Tapi mereka tetap berbicara. Seakan-akan bangga dengan tingkatan mereka sebagai anak pengusaha. Ya, jelas. Saya tidak mungkin jadi bagian mereka. Saya ini cuma orang biasa. Lambat laun, ocehan mereka benar-benar mengganggu. SANGAT MENGGANGGU. Usaha mereka untuk mendepak saya pun, sukses! I'm out from the campus. Lingkungan pendidikan yang kacau!!!! 2013 saya kembali masuk kuliah. Disebuah PTN di Salatiga. Masuk kesini sungguh seperti masuk kedalam keluarga. Saya benar-benar di ORANGkan dan diTERIMA. Hal yang sungguh sulit untuk di dapatkan. Teman-teman saya beragam. Dari adik-adik (karena umur mereka dibawah saya), mbak-mbak (karena mereka lebih tua) dan ibuk-ibuk (karena udah punya anak). Ya seperti itulah. Tapi saya bersyukur. Kami sebagai mahasiswa angkatan pertama cukup solid dan tercipta ruang lingkup pendidikan yang sehat. Saling membantu dan tidak saling menindas. Mau kaya atau miskin, kami saudara. Nyaman. Imbasnya, IPK saya diatas 3 bahkan menyentuh cumloude. Sesuatu yang dapat saya benar-benar banggakan kepada orang tua. Bagaimanapun, ruang pendidikan adalah ruang berkembangnya seorang anak manusia. Bagaimana ruang pendidikannya, dapat mencerminkan kepribadian anak manusia itu. Bila lingkungan pendidikan sehat, (insyaAllah) maka hasilnya maksimal. Begitu pula sebaliknya. Tak perlu sekolahan favorit untuk menjadi berprestasi. Cukup dengan lingkungan pendidikan yang mendukung dan sehatlah, anak dapat mengembangkan kepribadiannya, bakatnya, kecerdasannya, dan mengembangkan semua aspek dalam dirinya. For parent!!!!! Jangan paksakan anak untuk pintar disegala bidang!!!!!!! >:o Setidaknya itulah yang saya pelajari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar