Senin, 13 April 2015

Esok

Esok. 14 April 2015. Hari bersejarah dalam rentetan timeline kehidupan ku. Sebuah tanggal yang begitu lekat dalam pikiranku. Dalam dan sangat dalam. Dekat dan bahkan sangaaaat dekat. Minggu, 14 April 1991. Seorang anak laki-laki terlahir didunia dengan selamat. Anak pertama dari pasangan guru muda. Mereka memberi nama anak itu Agung Adi Hartanto. Berharap agar anak tersebut kelak bila telah dewasa, akan menjadi anak yang "besar". Anak itu tumbuh menjadi anak yang memang besar. Tubuhnya sedang bahkan terlihat sedikit kurus. Tapi, tubuh itu memiliki milyaran bahkan triliyunan sel otak yang dapat diandalkan. Benar. Dia tumbuh sebagai anak yang begitu cerdas dan pintar. Di jenjang sekolah menengah pertama, dia menjadi wakil ketua osis dan dia masuk kekelas A. Kelas incaran banyak orang. Kelas yang menjadi impian banyak orang. Wajahnya pun tampan. Dengan rambut belah tengahnya, membuatnya terlihat rapi dan benar-benar rapi. Jangan tanyakan tentang kepemimpinan! Aku mengenalnya. Sebatas mengenal namanya. Berbicarapun aku tak pernah. Dia terlalu bercahaya kala itu. Masuk ke sekolah menengah atas, tubuhnya masih terlihat kurus. Namun, dia terlihat lebih tinggi. Aktif di banyak lembaga intrasekolah. Membuatnya banyak di kenal orang, bahkan adik-adik kelasnya dan teman-temannya menghormatinya dengan sangat. Lulus dengan nilai jajaran terbaik itu menjadi kebanggaan bagi bapak dan ibuknya. Melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Ingin sekali ke Semarang. Tapi, orang tuanya tidak mengizinkan. Akhirnya, ia memilih untuk kuliah disebuah universitas ternama di Salatiga. PGSD FKIP adalah tempatnya bernaung. Badannya mulai menggembul disaat ia mulai kuliah. Aku mulai dekat dengannya berkat sosial media Facebook. Laki-laki bertubuh gembul itu mendekatiku. Awalnya aku tak begitu percaya dengan ajakannya untuk bersama. Berkali-kali ia meminta ku untuk menjadi kekasihnya dan akhirnya kami memutuskan untuk menjalani hubungan itu. Bahagia? Sangat. Bahkan sangat bahagia memiliki laki-laki seperti dia. Sebulan dua bulan, kami masih baik-baik saja. Besar harapanku untuk bersamanya. Dia adalah laki-laki pertama yang memelukku dan mengecup keningku. Dia adalah laki-laki pertamaku yang mencintaiku dengan apa adanya dan dengan ketulusan. Telpon pun sering kami lakukan. Demi membunuh rindu yang menyesakkan. Setiap hari kami berkiriman foto lewat multimedia. Ya seperti itu. Dia laki-laki yang dewasa. Cara berpikirnya hampir membuatku mati bangga. "Dik, kalau kita menikah nanti. Aku ingin memiliki sebuah rumah yang sederhana. Tapi, dalamnya ada semua. Setuju nggak?" Tanya lelaki itu sembari menatap langit yang cerah. Aku hanya tersenyum mendengarnya. "Dik, kalo kita menikah, aku pingin punya anak 4. Semua harus mirip aku. Nggak ada yang boleh mirip kamu. Hahaha" ungkapnya sambil tertawa. Akupun mengiyakan atas segala mimpinya. Bagaimana tidak, aku pasti akan begitu bangga bila kelak anak-anakku seganteng dia. Hehehe Kepalanya mulai jatuh dibahuku. Hening begitu terasa. "Dik, aku begitu nyaman dengan mu. Entahlah kenapa. Bahkan dengan ibuku, aku tak bisa merasakan senyaman ini." Ungkapnya dengan memejamkan matanya. Ia bangkitkan kepalanya dan memelukku dengan erat. "Aku sayang kamu dik." Bisiknya. "Aku juga mas." Begitu lamanya kami berpelukan. Tak peduli dengan siapapun yang melihat. Laki-laki ku mulai drop kondisinya. Batuk-batuk dan sebagainya. Beberapa kali ia harus oprasi dan harus opname di rumah sakit. Ingin sekali menemaninya, namun, dia tidak mengizinkan. Setiap keluar dr rumah sakit, dia mengajakku jalan-jalan. Kali ini ke bukit cinta. Laki-laki dengan celana jeans dan jaket merah dan seorang anak perempuan bercelana jeans dan jaket putih. Ya itu kami. Pasangan absurd. "Pernah kesini?" Tanyanya. "Belum." "Anginnya sepoi-sepoi." Ungkapnya dengan tersenyum. Mencetakkan lesung pipi di kedua pipinya yang berjerawat. "Iya." "Kenapa dari tadi pegang HP? Takut dicari bapak?" "Iya." "Ya udah kita pulang aja ya?" Dia berjalan lebih dulu. Sementara aku, masih duduk. Saat aku mulai berdiri dan mencari dia, dia tidak ada dimanapun. Sontak aku menangis. Terduduklah aku kembali. Tuk! Sebuah buah pinus jatuh di kepalaku. Tuk! Tuk! Ada lagi. Dan pas di kepalaku. sontak aku kebingungan. "Hahahahahaha" suara tawapun pecah. Dari laki-laki itu. Menyebalkan sekali. Dia mendatangiku dan duduk kembali disampingku. Merangkulkan tangan kanannya di bahuku. "Tuhkan, kalo cemberut malah persis bebek. Hehehe" ia menggodaku. Aku meliriknya marah. "Sudah ah. Jangan cengeng! Mosok pacarnya Mas Agung Adi kok cengeng." Ungkapnya dengan tersenyum. "Jadilah perempuan yang kuat! Setelah aku nggak ada nanti, siapa ya yang akan melindungi kamu?" Ucapnya dengan melemahkan nada bicaranya. "Ngawur! Emang kamu mau kemana? Kamu nggak akan kemana-mana! Titik!". Ungkapku dengan marah. "Aku nggak bakalan bisa menjagamu terus dik." Ucapnya diakhiri dengan senyuman yang memperlihatkan gigi gingsulnya. Aku terdiam dan menangis. Dibawanya kepalaku kepundaknya. Dan tangisanku segera berhenti saat bibirnya menyentuh keningku. Akhir tahun kami habiskan dengan jalan-jalan kegedung songo. Entah berapa kali ia memelukku dan mencium ku disana. Ya laki-laki ini memang hebat. Esok chemoterapy dan hari ini jalan-jalan dengan ku. Selalu seperti itu. "Siapa yang akan menjagamu dik. Aku kapan saja bisa pergi." Ungkapnya dengan air mata terlihat di sudut matanya. "Kamu yang akan menjagaku!" Ucapku marah. Sejak saat itu, dia mulai lemah. Bahkan sering menghilang tanpa kabar. Hidupku mulai goyah. Bahkan di hari ulang tahun ku, aku malah dimarahinya dengan seenaknya. Tanggal 3 April 2011 adalah hari terakhir aku mendapatkan kabar tentangnya. Dia meninggal dunia. Ya. Laki-laki itu benar-benar meninggalkan ku sendiri. Ia tertidur untuk selamanya. Sejak saat itu, aku mengejar semua mimpi kami berdua. Dan hari ini. Aku ingin mengejar mimpi kami dan mewujudkannya. Semata-mata untuk dia. Laki-laki yang membuatku belajar bermimpi. Laki-laki yang suaranya begitu melekat dalam hatiku. Bahkan sampai detik ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar