Kadang dunia tak sebaik yang kamu kira. Bahkan terkadang dunia tak seburuk yang kamu bayangkan. Lakukan dan nikmati saja. Pelangi akan datang. Tuhan tak akan menciptakan sesuatu tanpa alasan. Mari bercerita bersama saya. Burung kecil yang lahir di hari ke 4 idul fitri. Selamat membaca gih...
Kamis, 16 April 2015
Seperti dia, dulu
Beberapa hari yang lalu check up. Kembali berjumpa dengan Pak Widodo yang begitu lucu dan serius. Setelah berbulan-bulan aku menghindari rumah sakit itu, akhirnya harus kembali menginjakkan kakiku kesana. Bukan untuk menjenguk seseorang yang sedang sakit. Bukan! Check up pun dimulai dari jam 11. Setelah sekian lama menunggu. Deg deg an waktu masuk ke ruangan pak dokter yang sudah bertahun-tahun belakangan ini menghandle tubuhku.
"Sudah lama ya ndak check up? Sibuk?" Tanya dokter penyakit dalam tersebut.
"Hehehe" aku hanya bisa tertawa kecil untuk menjawab pertanyaan itu.
"Bagaimana pola makanmu? Masih susah?" Ungkap beliau dengan tersenyum manis.
"Berat badan saya naik drastis dok. Melebihi ekspektasi saya. Hehe"
"Nah begitu! Sekarang tiduran dulu ya! USG dulu."
Kembali hatiku berdebar hebat. USG berlangsung dengan cepat. Sesekali Pak Wid menjelaskan tentang keadaan organ dalam tubuhku yang berhasil beliau lihat melalui USG. Sesekali beliau menggelengkan kepalanya. Aku tahu itu signal buruk. Aku siap. Aku harus siap!!! Setidaknya itu caraku untuk meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
USG selesai, ambil sampel darah dan Pak Wid menuliskan resep obat.
"Sejak kapan mualnya?" Ungkap beliau dgn begitu seriusnya.
"Beberapa minggu ini dok. Memangnya kenapa gih?" Aku tahu itu pertanyaan yang berujung dengan kabar berita buruk.
"Kita harus segera mungkin mengambil tindakan." menyodorkan resep obat yang harus ku tebus.
"Memangnya kenapa ya dok?" Tanya ku untuk memperjelas apa yang terjadi pada badanku.
Beliau menjelaskan keadaan yang diluar ekspektasi saya. Mual itu bukan mual yang biasa. Dan saat dijelaskan itu, hatiku hancur sehancur-hancurnya. Bagaimana saya bisa menjelaskan tentang penyakit saya kepada keluarga dan pasangan saya?
"Kalau mualnya masih, kita naikkan dosisnya."
Dengan gontai, saya melalui jalanan yang mulai ramai. Kepala saya kembali mengingat penjelasan dokter saya. Obat-obatan ini akan menemani saya untuk beberapa hari kedepan, meredam mual yang mengganggu. Hanya meredam. Bukan menyembuhkan.
Beberapa hari setelah mengkonsumsi obat itu, sungguh diluar nalar saya. Efek sampingnya benar-benar menyiksa. Rambut saya benar-benar rontok. Hingga pada akhirnya untuk mengkamuflase hal tersebut, rambut saya, saya potong lebih pendek. Bahkan saya sempat frustasi melihat rambut saya yang tertinggal di sisir setiap kali saya menyisir rambut. Mualnya bagaimana? Masih. Meski agak berkurang.
Hari ini adalah 2 minggu setelah check up tersebut. Obatpun sudah habis. Tapi, untuk check up lagi, saya harus berpikir ulang. Saya nggak mau makan obat yang bakalan membuat rambut saya rontok parah. Saya nggak mau di infus. Saya nggak mau!!!! Sekarang, saya hanya ingin menikmati rasa sakit dan mual yang ada. Menyembunyikan dari siapa saja. Toh, tak ada yang peduli akan hadirnya hidup saya didunia. Dia ataupun mereka, mengabaikan ku dengan indah. Jadi, kalau saya ada apa-apa, nggak bakalan penting buat mereka. Aku hanya ingin menjudge bahwa "aku sehat". :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar