Rabu, 10 Juni 2015

Didekatkan Dengan Golongan Yang Sama

Akhir-akhir ini hidup ku memudar. Saya tidak peduli dgn adanya "kamu". Saya hanya mengingatmu sesaat lalu terlupakan begitu saja. Saya memang jenuh akan dirimu yang tak juga mengajakku untuk berdampingan menantang hidup. Selebihnya saya terhibur dengan manusia-manusia baru yang hadir dalam hidup ku dan mengisi hidupku perlahan namun pasti.
Alhamdulillah. Segala ucap syukur ku ucapkan untuk setiap manusia yang ku temui. Manusia-manusia dengan agama yang cukup teguh dibandingkan dengan ku. Mereka memiliki basic agama yang begitu kuat.
Teman adalah dunia baruku. Setelah bertahun-tahun hanya berkutat pada namamu. Kini, ku lebarkan sayapku untuk menikmati dunia bersama mereka. Dan saya, bahagia!
"Allah mengumpulkan kita bersama orang yang memiliki qualitas yang sama dengan kita." Ucap seorang dosen saat mengisi sebuah seminar tentang kepribadian.
Ya. Saya mulai percaya dengan ungkapan itu. Bagaimana tidak, saya dikumpulkan dengan orang-orang yang hampir mirip sikapnya dengan saya.
1. Saya dikumpulkan dengan Lucky, Ana, Anis, Liya, Lydia yang dari kelimanya itu somplaaaaaak semua. Kami bisa tertawa dan bercerita tentang banyak hal yang dianggap tabu dan kami bisa berbicara serius. Sering kali terlihat kegilaan-kegilaan yang muncul dengan spontan. Membawa tawa renyah yang cukup menguras tenaga dan membuat perut ku kaku. Pergi kemanapun membunuh jenuh dan mengisi perut. Saya suka berkumpul dengan mereka.
2. Saya dikumpulkan dengan orang-orang yang beragama teguh dan bijak. Saya dari semester 1 memang bukan orang yang suka berkumpul dgn 1 kelompok. Saya bisa masuk dimana saja. Tapi disemester ini, saya lebih dekat dengan Khairiyah Titi dan Fatih Mas'udah. Mereka memiliki agama yang begitu teguh. Bahkan saya lebih sering meminta mereka untuk mengingatkan saya. Adiba (Titi), dia seorang gadis yang memikirkan rasional dulu dari pada hati. Begitupun Fatih. Begitu terbalik dengan saya yang hati dulu baru otak. Tapi berkat mereka, saya jadi lebih dekat dengan Allah. Dengan Adiba, saya suka bercerita tentang hati. Hehehe. Thankyou
3. Bertemu lalu berkenalan dgn orang sholeh. Beberapa hari/minggu yg lalu, tab mention saya diguncang oleh seorang manusia yang entah dari mana asalnya. Apa alasannya untuk "mengikuti" ku di twitter saja saya tidak tahu. Mungkin untuk menambah followernya? Padahal saya nggak suka follow orang yg nggak saya kenal. Hehe. But, dia orang baik, pemikiran pertama saya saat saya mulai berkicau dgnnya. Usianya terpaut 2 thn dibawahku. Namun, isi kepalanya membuatku takjub. Dia tidak seperti laki-laki berusia 20tahun. Dewasa. Sebuah sifat yang jarang ku temui dari semua laki-laki yang ku kenal. Sampai detik ini, kami belum bertemu dgn sengaja dan saling mengenali (padahal 1 kampus, pernah bertemu, dia mengenali saya dan saya tidak mengenalinya) tapi, saya merasa cukup dekat setelah sering berkomunikasi lewat sosmed/sms. Dia asyik diajak ngomong. And what do you know, saya kaget. He is a hafidz. 6tahun dipondokan. Tempat bertanya tentang agama yang cukup bagus untuk dijadikan resensi. Hehehe thanks Wahyu for all time. Sudah menemani saya bikin tugas ampe jam 2 pagi. Mengingatkan semua hal yang mudah terlupakan. Terimakasih juga sudah mengingatkan untuk beribadah lebih rajin dan mengenakan jilbab syar'i. :)
4. Bertemu dan berkumpul dengan para pecinta bumi. Hati saya kacau dan akhirnya saya temukan kebahagiaan tersendiri saat saya menggagahi Andong Peak untuk kali kedua. Kali ini fix, saya nge-camp. Setelah bertahun-tahun lupa rasanya tidur bukan dirumah. Dan saya cukup bersyukur. Bertemu dengan para pecinta alam yang luar biasa. Mereka adalah pendaki gunung yang sangat mencintai indahnya alam indonesia. Kami berkenalan dan saling menyertakan kesamaan cinta alam sebagai pemersatu. Bercengkrama dgn mereka seperti melepas stress yg penuhi kepala dan mengenal tentang spot2 indahnya indonesia yang pernah mereka gagahi. Jujur, saya jadi lebih exited buat muncak ke gunung-gunung yang ada di indonesia. Merasakan sendiri kekuasaan Allah yang indah tanpa batas. Alhamdulillah mereka selalu mengajak saya untuk menggagahi indonesia, karena waktu saya terbatas, jadi saya kadang menolak. InsyaAllah kalau nanti saya mulai senggang, saya bakalan ikut :D

Terimakasih atas keberadaan kalian. Terimakasih Allah untuk segala bentuk pertemuan kami. Semua membawa manfaat yang luar biasa bagi saya. Alhamdulillah, alhamdulillah dan alhamdulillah.
Teman, jangan lelah untuk mengingatkan saya gih?!
Jadi, sudah tahu kan aslinya saya kek apa? :D

Teruntuk Haters, dimanapun Kalian Berada

Manusia. Diciptakan Allah dengan berbagai sifat dan sikap yang dimiliki mereka. Satu sama lain memiliki keistimewaan tersendiri yang telah di rancang oleh Sang Maha Agung. Lalu, apakah ada manusia sempurna? Tidak. Tak adapun satu manusia yang sempurna didunia ini (kecuali nabi dan rassul). 
Manusia diciptakan Allah dari tanah liat. Diciptakan dengan berbagai keistimewaan, kelebihan dan juga kekurangan. Sudah sepantasnya kita untuk menyadari dan memaklumi bila ada seorang makhluk yang disebut dengan manusia, memiliki begitu banyak kekurangan atau hal-hal yang negatif. Dan kita juga harus memaklumi dan menyadari bahwa makhluk itupun memiliki kelebihan yang sangat luar biasa dan bahkan kita tidak bisa sehebat dia. 
Kita boleh membenci orang. Kita boleh untuk tidak suka dengan seseorang. Tapi, kita harus tetap bijak dalam bersikap. Dengan mencaci maki dia, dengan mengucapkan kata-kata kotor kepadanya, dengan cara kita menjelek-jelekkannya dihalayak ramai, adalah cara yang keliru. Bahkan itu seperti senjata yang akan menyakiti kita. Sama saja hal itu sepertiiiii ya you know, merendahkan diri kita di hadpan orang lain yang mendengar/melihat cacian kita kepada orang itu. 
Saya sering melihat orang-orang yang tidak suka kepada seseorang (biasa disebut dgn haters) mempost kata-kata kurang pantas di sosial media yang dapat dibaca siapapun (halayak umum). Jujur, saya cukup tersenyum sembari terbesit nyinyiran bagi mereka. Motifnya apa coba? Toh ya nggak bakalan di tanggepin. Lah, siapa lau mau ditanggepin? Kalo saya yang punya haters juga bakalan saya kacangin mulu. 
Cara terbaik saat kita tidak suka dengan orang lain adalah: 
1. Kalau kita nggak suka sama cara dia berkicau di twitter, tenang! Twitter ada tab yang tulisannya "unfollow". Klik aja di profil orang itu. Berhenti mengikuti kicauan orang itu setidaknya bisa membuatmu terbebas dari kicauan orang itu. 
2. Kalau kamu nggak suka foto-foto dia di instagram, diinstagram juga menyediakan tab "unfollow" kok. Klik aja. Masalah selesai. 
3. Kamu nggak suka status-status yang dia post di facebook, kamu bisa remove dia dr pertemanan. 
4. Kalau kamu nggak suka dengan personal message yang dia tulis, kamu bisa delete contact (delcon) dia dari daftar contact mu. 
See? Sosial media sudah memberimu keleluasaan untuk mengikuti dan tidak mengikuti seseorang. Bila ingin mengikuti, ikuti saja kebaikan orang itu. Bila ingin tidak mengikuti, silahkan. Bila tidak mau mengikuti, itu lebih baik dari pada kamu mengucapkan/menuliskan kata-kata cacian serta makian kepada seseorang yang belum kamu kenal pasti itu.... 
Teruntuk haters saya (ciyeee Fitria punya haters hahaha), sebaiknya kalian lebih memanfaatkan waktu kalian untuk belajar agama lebih baik. Nggak ada manfaatnya cari info tentang saya dan segala keburukan saya. Nggak bisa di jual di media juga :)
And 1 again, for me, haters is a fans. Saya tahu kamu ingin seperti saya. But, you must know, kamu diciptakan Allah dgn segala kebaikan yang belum tentu saya punya. Tidak ada manusia yang sama. Kembarpun, belum tentu punya kelebihan yang sama teman. :)
Mari belajar untuk menjadi lebih bijak menggunakan sosial media sesuai dgn fungsinya. Serta mari kita mensyukuri setiap kelebihan yang kita miliki. Memaksimalkan segala hal yang kita miliki. :) 

Senin, 01 Juni 2015

Pergi saja sekalian!

Aku baru saja menghela nafasku dengan berat. Mendapati kenyataan yang berubah begitu dahsyat. Ku lalui semua apa adanya. Seperti tak terjadi apapun tentang aku dan dia sebelumnya. Terasa ganjil namun terabaikan. Hati ku benar-benar terombak begitu anehnya. Apakah aku masih akan bertahan? Ribuan pertanyaan dari semua orang tertanam di kepala ku. Mengenai masa depan, mengenai pernikahan, mengenai rasa dan mengenai semua hal pribadiku. Entahlah, apa gunanya bagi mereka tahu tentang hidup ku yang biasa saja ini? Malam ini sungguh terasa biasa saja. Hingga ku sadari, hatiku melemah pasti. Disetiap sujud yang ku lakukan, Allah menyentuhku dahsyat. Menggenggam erat tanganku seraya menguatkan hatiku atas apa yang tengah ku lalui. Hingga hatiku terkuatkan pasti. "Tulang yang patah, meskipun dapat disambung, pasti tidak akan pernah sama" sebuah kalimat yang terus berputar mengitari kepala ku yang mulai payah. Mencoba menyertakan hati dalam menafsirkan tulisan itu dan aku tahu. Itu isi hatimu. Hatimu sudah patah. Meskipun kita jalani semua seperti semula, tidak akan berakhir sama. Rasamu sudah mati untukku. Kalau memang mau pergi, pergi saja sekalian! Nggak usah datang lagi! Aku mencintaimu dgn sangat. Lalu rasakupun hampir mati karenamu. Lalu apa yg dapat kita lakukan sekarang? Sebaik mungkin aku memperbaiki semua. Berusaha tersenyum saat cincin pertunangan kita kamu lepas. Kamu tahu sesakit apa itu? Akupun pernah melepas cincin ini. Tapi untuk sementara. Menjaga hatimu. Berpikir keras betapa aku menyakiti Bapak yang sudah memasangkan cincin ini di jari manisku. Lalu aku memakainya kembali. Alih-alih hanya untuk orang tua yang sudah menghadirkan mu didunia ini. Orang tua yang sangat aku harapkan bisa menjadi orang tua kedua ku setelah orang tua kandungku. Tapi kini, kita berdiri pada hubungan yang kamu hancurkan. Pergilah! Bila memang itu mau mu. Bila itu bisa membuatmu bahagia. Bukan hanya kamu saja yang menjaga hati pasangan selama 4 tahun ini! Apa kamu kira aku tidak menjaga hatimu? Aku membatasi semua lingkupku demi kamu. Sampai aku harus di cacat oleh banyak orang. Sampai aku di anggap pelacur oleh banyak orang. Apa aku pernah mengeluh karena menjaga hatimu? Jujur, aku lelah dengan hubungan ini. Mari duduk bersama. Menyelesaikan rasa ini! Agar tidak saling menyakiti. Urusan orang tua, biarlah kita saling menjaga hati mereka dgn menjelaskan dgn kenyataan yang ada. Hatimu sudah bukan milikku. Selepas dari ku, ku mohon berbahagialah! Raih mimpi mu yang ingin kamu kejar. Cintai Tya mu dengan dahsyat! Anggap saja aku tak pernah ada. Kalau bertemu di jalan, anggap saja tidak pernah bertemu. Berbahagialah Dhanang Tino Ardhianto! Aku slalu mendo'akan mu.... Setelah pergi dari hidupku, aku mohon dengan sangat, jangan pernah kembali lagi walaupun 1 detik saja. Karena kamu akan memporak porandakan kembali hatiku dengan kehadiran mu. Biarkan aku hidup nyaman spt keadaanku saat ini. Bersama teman-teman baru yang menjaga iman ku...

Selasa, 26 Mei 2015

#HatiTeman Allah Maha Pencemburu

Bertahun-tahun menjalin rasa yang sama. Menunggu dan terus menunggu. Tubuhnya begitu berjarak pada tubuhku. Berjarak ratusan kilo meter yang buat ku merasa "dia benar-benar jauh". Ditunjang dengan sikapnya yang semakin menjauh, semakin yakin aku menyebutnya, laki-laki yang jauh.
Sudah hampir 3tahun aku bersama laki-laki itu. Laki-laki yang membuatku kagum tanpa batas. Laki-laki yang buatku tersenyum dengan akhlaknya yang dapat ku banggakan kelak.
Disaat semua lelaki berbincang tentang masa muda dan hura-hura, aku tak menemui itu ada didalam tubuh itu. Lelaki itu sungguh sederhana. Dan aku terpikat oleh agamanya.
2 tahun ku jalani dengan berjalan pada poros yang sama bersamanya. Dibahagiakan dan membahagiakan meskipun fisik kami tak pernah bersentuhan. Biarkan aku memeluknya dalam setiap doa yang ku panjatkan kepada Tuhan ku. Biar ku menciumnya dalam doa yang tak henti terucap bagi kebaikannya.
Aku benar-benar mengaguminya tanpa batas. Lelaki yang usianya terpaut 2 tahun di atasku.
Long distance relationship. Itu yang kami lakukan. Saling mengabari dari jauh, biasa kami rasakan. Ya. Aku menyebutnya mengagumi dari jauh. Biarlah tubuh kami terpisah ratusan kilometer! Aku mencintainya dan aku percaya padanya. Bagiku itu lebih dari pada cukup.
Ini menginjak tahun ketiga kami bersama. Sungguh diluar ekspektasiku. Aku bisa bersamanya. Menghabiskan waktu dan menunggunya. Tuhan, jaga ia baik-baik dalam pelukan-Mu yang begitu hangat.
Hari demi hari ku jalani dengan seadanya. Dengan semua yang masih sama. Setidaknya tugas semakin banyak menyita waktuku. Dengan dia? Tidak ada yang akan sama. Dia mulai berubah. Aku tak ambil pusing atas "ketidak ada-annya". Lagipula, aku ingin fokus dengan jalan hidupku sebagai seorang mahasiswa.
Setahun berlalu.
Kami benar-benar seperti orang asing. Setelah lost komunikasi selama setahun, dia kembali. Membawa pertanyaan yang membuatku kelingsutan harus ku jawab apa.
"Ukh, apa kamu masih mencintai aku?" Tulisan itu bersarang pada layar handphone ku.
"Memangnya kenapa akh?"
"Kalau masih, aku ingin memperbaiki seperti semula. Kalau nggak, kita bangun lagi dari awal. Bagaimana?"
"Nggak." Jawab ku singkat. Padahal dalam hatiku, abai yang ia lakukan membuatku hampir mati rasa. Namun, tak dapat aku pungkiri, rasa itu masih miliknya. Meski tak sebesar dulu. "Kita sudah lama tidak saling memberi kabar. Bukankah ini akan sia-sia? Menunggu dan terus menunggu."
"Iya ukh. Aku terima jawabanmu."
Dan entah mengapa, chat kami berakhir pada titik itu. Dan hatiku mendadak kehilangan yang memang benar-benar kehilangan. Tanpa ku sadari, air mata jatuh membasahi pipiku. Aku menangis.
Sungguh hal ini di luar nalar ku. Aku bisa menangis karena laki-laki itu. Laki-laki yang dulunya membuatku tertawa terkekeh dan tersenyum manis.
Tuhan tengah menegurku dalam. Begitu dalam rasa yang ku berikan kepada laki-laki itu hingga aku dibuatnya nyaman. Hingga tanpa ku sadari, aku mencintainya terlalu berlebihan. Hingga kali ini, Tuhan menariknya menjauh dari hidupku.
"Kalau akhi ingin berlanjut tentang hubungan kita, silahkan main ke rumah." Pesan itu terkirim dengan sempurna bersama hatiku yang siap tidak siap dgn jawaban yang ia berikan.
Aku mengaharapkannya untuk menjadi milikku yang nyata. Namun, aku tak mengharapkannya tetap membawa ku pada ruang abu-abu miliknya.
Meski terasa begitu menyakitkan aku harus ikhlas melepaskan cerita kami. Bersama kenangan yang pernah terjalin. Ku biarkan Tuhan membimbingku ke masa depan.
"Allah itu Maha Pencemburu Diba. Kita disuruh untuk mencintai-Nya dulu baru mencintai ciptaannya." Ungkap seorang teman kampus ku yang begitu menyimak cerita yang ku ungkapkan panjang lebar.
Aku tersentak. "Allah Maha Pencemburu". Kata-kata itu benar mengganggu setiap sel otakku. Mungkin benar kata Mbak Fitri, Allah tengah mencemburui setiap rasaku kepada Mas Rifki. Hingga jalan ini kami lalui. Berjalan pada poros yang tak lagi sama.

*cerita ini terinspirasi dari sebuah kisah yg di lalui oleh teman saya. Tagar #ceritateman ini saya buat semata-mata untuk kembali diingat ketika saya merindukan teman-teman saya yang sudah sabar dan cerewet bercerita kepada saya tentang kisah hidupnya. Terima kasih mbak **** (disamarkan) atas ceritanya. Keep fighting. Jodoh nggak akan kemana kok.*

Di Cintai, Di Sayangi, Di Kasihi Kekasih Abadi

Hmmm bingung mau cerita dari mana. Sungguh, Allah Maha Ajaib.
Betahun-tahun hidup diantara iya dan tidak. Menjalani saja sesuai ritme air yang mengalir. Sesekali terjatuh pada ruang hampa yang menyesakkan dan sesekali mati ditikam senjata. Menyusuri jalanan tak pasti yang menyisakan sesak yang tak kunjung reda. Hati ku lelah. Berlayar tak tentu arah.
Kakiku mulai lelah untuk berpijak. Air mataku mulai mendesak untuk tak berhenti keluar. Ku inginkan kepastian yang tak kunjung tiba. Bukan. Bukan cara yang sama seperti dulu. Bukan!
Hatiku bergejolak hebat. Kecewa dengan semua yang ada. Berusaha berontak untuk segera keluar atau malah ditinggalkan. Aku siap hadapi itu semua! Aku siap.
"Ibuk, saya minta maaf atas kesalahan saya selama 4tahun ini." Ungkap ku kepada perempuan setengah baya yang sudah ku anggap sebagai ibuku itu.
"Iya mbak. Mbak Fitri ndak salah apa-apa. Kami orang tua belum tentu benar. Sing sabar." Petuah yang keluar dari perempuan itu seraya diakhiri helaan nafas panjang.
Aku yakin, beliaupun tidak siap dengan kedatangan ku yang tiba-tiba. Ditunjang dengan raut wajahku yang sendu karena kecewa. Terpapar jingganya senja yang mulai menuruni singgasananya.
Senja itu ku yakini sebagai hari terakhir mereka mengenalku sebagai perempuan yang sudah mengganggu kehidupan keluarga mereka. Sudah tekatku, ini terakhir kali bagiku mengusahakan. Selanjutnya, biarlah Allah yang menuliskan kisah ini.
Suara adzan berkumandang. Ku yakinkan hati untuk meninggalkan keluarga itu dan meyakinkan hatiku tentang hijrah yang akan ku lalui kedepannya. Langkah kakiku berhenti disebuah masjid agung di kawasan IAIN Salatiga. Langkahku gontai. Air mata tak juga hilang dari sudut mataku. Payah.
Berulang kali kening ku menyentuh sajadah dibarisan makmum putri, dilantai 3 masjid Darul Amal Salatiga. Hatiku tenang. Hatiku nyaman. ku tengadahkan kedua tanganku seraya berdo'a. Agar hatiku dikuatkan. Agar hatiku di sabarkan. Atas setiap ketidak nyamanan yg dirasa. Atas setiap rasa abu-abu yang menyerang. Dan hati yang mengaku kalah dan menyerah. Air mataku tumpah. Seakan mengakui kekalahan yang sudah berada didepan mata. Bertahun-tahun membuktikan bahwa bersama lebih bahagia dan mengambil hati kedua orang tua. Dan kali ini, kalah. Aku kalah terhadap janji dunia. Aku kalah terhadap hatiku yang terlalu berharap bahwa aku bisa segera terikat dalam janji suci bersma lelaki yang usianya terpaut lebih tua 4 bulan dari usiaku. Yang sudah bertahun-tahun menerima segala macam bentuk ke-absurd-an yang kumiliki.
Sejak saat itu, hatiku terpasrahkan. Kepada Sang Penulis Naskah yang begitu ajaib dengan cerita yang Ia hadirkan untuk ku jalani. Cerita yang membawaku pada titik "hanya Allah yang ku punyai". Sudah bertahun-tahun aku berusaha sekuat ku. Sebisaku. Dan kali ini, hanya doa yang dapat ku lakukan dan ku andalkan. Bukan lagi langkah kakiku yang mulai goyah.
Sesungguhnya, menikah adalah setiap keinginan yang berhasil aku tumpuk selama bertahun-tahun yang lalu. Sebelum hatiku ku berikan kepada lelaki itu. Tapi, aku menerimanya. Semua tak seindah kelihatannya.
 Dan kali ini. Titik balik dari seorang Cici Fitria. Masa dimana hatiku benar-benar ku berikan kepada Sang Khalik. Menetralkan hatiku untuk manusia. Ku bangun bentuk taat ku kepada Allah Azza Wa Jalla. Memulai dari 0. Mentaatkan diri pada syariat agama, memperbaiki diri, memperbaiki diri dan memperbaiki diri.
Jodoh adalah hak prerogatif Allah Azza Wa Jalla. Manusia hanya dapat mengusahakan saja. Lagi pula, grade A akan dapat grade A (janji Allah di surat An Nur 26). So, this time for me for make my life lebih bermanfaat dan lebih baik. Memperbaiki relationship ku kepada Sang Maha.
Syech Mahmoud say "Allah sudah menciptakan setiap nama dengan jodohnya masing-masing. Manusia hanya perlu memperbaiki akhlaknya dan hubungannya kepada Allah Sang Maha Pencipta. Allah akan memberikan jodoh kepada mu disaat kamu sudah siap. Semua itu hanya perkara waktu saja."
Dan sampai detik ini, hati ku dibahagiakan Allah dengan setiap nikmat yang diberikan. Allah berlari menuju ku, karena aku berlari menuju-Nya.
Kawan, bila jodoh belum datang, mari istiqomah perbaiki qualitas diri kita dulu... ;)
Semoga bermanfaat hihihi
*riwil tenan Fitria ki*

Sabtu, 02 Mei 2015

Anak mulai berkata kotor, bagaimana mengatasinya?

Pada usia 4 sampai 6 tahun anak sedang mengalami fase dimana rasa ingin tahunya semakin memuncak serta kosakata yang ia serap semakin banyak. Takelak bila orang tua sebagai pembimbing ketika anak dirumah, terkadang bisa terdiam melihat perkembangan anak yang begitu pesat. Rasa ingin tahu yang tinggi mengenai semua hal yang dia lihat, dapat mengakibatkan orang tua “bingung sendiri” dengan jawaban apa yang akan diberikan. Pada masa kini anak lebih kritis bila dibandingkan dengan masa kecil orang tuanya dulu. Bahasa yang mulai dikenal anak bukan lagi bahasa yang hanya ia dapatkan dirumah ataupun dilingkungan keluarga. Pada fase 4-6 tahun, anak mulai bergaul dengan teman seusianya yang dikenal disekolahan dan teman di sekitar rumahnya. Hal tersebut menyebabkan kosakata yang dikenal oleh anak semakin bertambah. Hal tersebut seperti mata pisau bermata dua. Bisa saja anak mengenal kosakata negatif maupun kosakata positif. Pada usia tersebut, anak belum dapat memahami dengan baik dengan apa yang dia ucapkan. Dia meniru saja. “Delta, kamu babi!” ucap seorang anak usia 5 tahun kepada temannya. Selepas berkata, anak tersebut tertawa lepas. Hal tersebut sangat miris bila dapat di dengar didunia anak-anak. Tapi, hal ini sering terjadi didunia anak. Termasuk disekolahan. Lalu muncul pertanyaan “dari mana dia mendapatkan kata-kata itu?” “apakah dia mengerti dengan apa yang diucapkannya?” “apakah anak tersebut mengejek temannya?” Pada hari yang sama, perkataan “babi” tersebut terus keluar dari anak yang sama. Bagaimana mengatasi anak tersebut? Yang pertama dapat dilakukan oleh guru yaitu mengajak anak untuk berbincang mengenai kata tersebut, bertanya kepada anak tersebut apakah ia mengerti maksud dari kata tersebut atau tidak, mencari tahu dari mana anak mendapatkan kata tersebut. Setelah anak di tanya, dia hanya menggelengkan kepalanya saat ditanya mengenai “babi” yang sering dia ucapkan. Saat ditanya “kamu mendengar itu dari siapa dik?” maka dijawab dengan “Bapak ku kok yang sering ngomong babi.” Anak tersebut tidak tahu apakah itu babi dan bagaimana bentuk babi. Hal tersebut lumrah ditemukan di taman kanak-kanak. Karena anak adalah sponge yang menyerap apapun yang dia lihat, dengar, perhatikan. Apa yang dapat dilakukan guru atau orang tua? 1. Tidak Perlu Marah Kepada Anak. Dengan memarahi anak, tidak akan menyelesaikan semua. Malah membuat mental anak jatuh dan memutuskan jutaan neutron otak anak. 1 kali bentakan dapat mengakibatkan 1 juta neutron orak anak terputus. Sangat disayangkan bukan? 2. Menjelaskan Kepada Anak. Sebagian besar ucapan kotor yang keluar dari bibir anak, anak belum mengerti maksud dari yang dia ucapkan. Pada fase AUD, anak hanya meniru tanpa mengetahui maksud dari ucapannya sehingga guru harus menjelaskan kepada anak agar anak mengetahui arti atau maksud dari kata yang dia ucapkan. Tentu saja, dengan bahasa sederhana sehingga anak mudah mngerti. 3. Membimbing Dan Mengarahkan. Tentulah kita mendapati anak yang sudah di nasehati tetapi tetap mengucapkan kata kotor tersebut kembali. Tugas guru harus terus berusaha dalam mengubah anak tersebut seperti mengalihkan pembicaraan saat anak kembali mengucapkan kata kotor. Disaat istirahat, anak diajak untuk ngobrol bersama mengenai buruknya mengucapkan kata-kata kotor. 4. Jangan Dihukum! Pada fase AUD, hukuman adalah hal yang sepatutnya dihindarkan. Hukuman dapat berdampak ketika anak tersebut melakukan sesuatu pasti merasa takut salah. Bahkan hal tersebut akan dibawa oleh sang anak ketika dia dewasa. 5. Berpura-Pura Tidak Mendengar Anak Ketika Anak Berkata Kotor. Beberapa anak mengucapkan kata kotor dengan tujuan “caper” atau cari perhatian kepada gurunya. Semakin anak diladeni atau diingatkan untuk tidak mengucapkan kata tersebut di depan teman-temannya maka dia semakin merasa diperhatikan oleh gurunya dan berimbas ketika gurunya sedang mengajarkan hal lain ke temannya, dia akan mengulanginya kembali. Dengan mendiamkan anak, dapat berakibat dia merasa “tidak sukses” merebut perhatian gurunya. Sehingga anak tersebut kecewa dan tidak mengulangi kata-kata kotor tersebut. 6. Beri “Bintang” Ketika Anak Melakukan Hal Positif Saat anak dapat mengerjakan tugasnya lebih cepat atau lebih baik dari temannya, berikan reward kepada anak tersebut dengan memberikan kertas berbentuk bintang di fotonya yang ada dikelas. Dengan cara tersebut anak merasa bangga hingga mulai mengerti bahwa dia tak harus berkata kotor untuk merebut perhatian gurunya. Hal tersebut dapat bernilai lebih positif ketika guru dan orang tua dapat berkerjasama dalam merubah sikap dan kebiasaan anak dalam berbahasa. Namun, akan gagal ketika guru dan orang tua tidak dapat berkerjasama. Karena pada dasarnya, bahsa anak adalah cerminan dari apa yang dia lihat, dengar dan perhatikan. Sebagai orang yang lebih dewasa, kita sebaiknya lebih menjaga ucapan ketika berada di samping anak. Semoga bermanfaat.

Senin, 20 April 2015

Mungkin Kamu Sedang Hujan

Pernah kau melihat pelangi? Indah ya? Merah, kuning, hijau, nila, orange, biru, ungu. Aku suka pelangi. Pelangi menurutku adalah sebuah hiasan yang terjatuh di bumi. Padahal asal aslinya dari surga. Pelangi selalu datang setelah hujan. Hasil pembiasan rintik hujan dan sinar mentari yang mulai kembali gagahi bumi. Bukan. Bukan selalu datang. Tapi kata yang lebih tepat adalah "pelangi terkadang datang selepas hujan". Aku rasa itu lebih benar. Karena tak semua kondisi selepas hujan, bisa memunculkan pelangi yang indah. Manusia hidup memiliki mimpi, harapan dan kisah hidup masing-masing. Jalanan takdirpun tak serta merta sama dengan orang satu dan orang lainnya. Seperti pelangi. Berwarna warni. Mungkin akan terdengar sama, namun hakikatnya berbeda. Bukankah itu adalah keindahan yang diciptakan oleh Dzat Maha Penulis Naskah Yang Maha Agung? Ya. Ia penulis hebat yang menulis satu kisah dengan kisah lainnya berbeda. Siapa penulis favorit ku? Tuhan. Tuhan menghadirkan rasa yang banyak. Ada beberapa rasa yang sengaja Ia turunkan dari surga. Kebahagiaan, cinta, kasih sayang, dan segala macam bentuk keindahan yang sudah hadir dari Allah menciptakan bumi dan seisinya ini tanpa campur tangan manusia. Namun, ada beberapa rasa juga yang ia hadirkan di bumi ini yang berasal dari neraka. Segala bentuk rasa sakit, rasa kecewa dan kawan-kawannya. Aaah aku tidak ingin bercerita tentang rasa. Aku ingin bercerita mengenai sebuah rasa yang sedang ku rasakan. Curhat sebisanya. Entahlah, betapa sulitnya bagiku untuk bercerita kepada manusia secara langsung. Aku belum bisa percaya kepada seorangpun didunia ini. Rasaku tengah diombang ambingkan angin barat. Porak poranda. Semua serasa berubah saat dia mulai KKN. Sikap dan sifarnya bukan lagi "milikku". Tanpa disadari, sikapnya begitu acuh atas kehadiran ku. Apakah aku kecewa? Sangat. Bahkan, aku tak mengenali dia yang dulu. Aku merasa asing atas tubuh tinggi dan gigi gingsul itu. Senyumannya lebih kaku. Ungkapannya dan perkataannya lebih kasar dari pada dulu. Dia seperti bukan kekasihku. Beberapa kali aku menghubunginya, nihil. Mencoba untuk mengirimkan pesan, ditanggapi dengan hambar. Bahkan terkadang dengan luapan emosi yang tak senang. Apakah salah aku merindukannya? Apakah salah aku merindukannya? Apakah salah aku merindukannya? Kalau salah, kan ku pendam rasaku sendiri dan ku alihkan kepada orang lain yang berbahagia dapat merasakan di rindukan. Mungkinkah dia sedang hujan? Lalu, kapan pelangi itu muncul? Janganlah berharap banyak. Kapan hujan itu akan berhenti? Aku paham disana kamu sibuk. Aku paham disana kamu banyak pikiran. Aku paham disana kamu nyaman. Aku paham disana kau punya teman (lagi). Aku paham disana kamu dibahagiakan dengan hidup jauh dari orang tua yang selalu menghujatmu. Aku paham disana kamu bisa lebih bebas. Aku tahu disana kamu bisa beristirahat lebih baik. Aku tahu disana kamu mendapatkan dunia yang baru. Dan aku adalah bagian dari dunia mu disini yang ingin kamu lupakan sejenak dan belum tentu akan kau peluk lagi dengan hangat. Terserah kamu akan seperti apa padaku. Apapun pandanganmu, aku adalah orang yang sama yang mencintaimu selama 4tahun. Aku menghubungimu, demi kita sama-sama tidak merasa kosong dan kamu slalu menghujatku. Tak apa. Aku menerimanya. Aku benar-benar mulai lelah hadapi sikapnya. Aku ingin berlari sejauh mungkin. Meredamkan rasa kecewa ini agar mati bersama rasa sakit hati. Tuhan, kapan dia akan kembali menjadi milikku?

Sabtu, 18 April 2015

Jatuh Cinta Pada Laki-laki Baru

Aku menemukan rasa yang tak asing dalam diriku. Rasa bahagia setiap mengingat sebuah nama. Rasa nyaman saat mendapati pikiranku tertuju kepada laki-laki itu. Mungkinkah aku tengah jatuh cinta? Rasa yang sama dengan beberapa tahun yang lalu saat aku mendengar namanya. Nahkan rasa jatuh cinta ini lebih hebat dari pada terakhir kali aku jatuh cinta dengan laki-laki sebayaku. Perkenalkan. Namanya Abdurrahman. Aku biasa memanggilnya Rahman. Entahlah, aku selalu bahagia kala harus memanggilnya “Rahman”. Laki-laki ini begitu lucu dan menggemaskan. Pipinya tembem, wajahnya bulat, senyumannya manis sekali, rambutnya sedikit tipis namun hitam dank ala ia tertawa atau tersenyum, matanya berubah menjadi sebuah garis. Itu disebabkan oleh matanya yang sipit sepertiku. Setiap aku memanggil namanya, ia selalu tersenyum. Seolah ingin menjawab setiap apa yang aku ceritakan kepadanya. Hatiku terpaut dengannya. Laki-laki baru yang membuatku jatuh cinta dengan begitu hebatnya. Bahkan, dapat membuatku jatuh cinta melebihi rasaku kepada laki-laki yang sejak 22 Juni 2011 menemaniku hidup. Rahman adalah laki-laki baru yang membuatku benar-benar hidup. Benar-benar hidup sebagai manusia dan seorang wanita. Langkah kakiku begitu berat kala harus berpisah darinya. Aku ingin selalu menemaninya. Ingin mendampinginya dari membuka mata hingga menutup mata kembali. Begitu seterusnya. Aku sudah berjanti kepadanya, aku tak akan meninggalkannya walaupun sejenak (kecuali untuk kuliah). Aku benar-benar tidak ikhlas saat meninggalkannya walaupun untuk sejenak. Kalau bisa, aku ingin mengajaknya agar tetap berada disampingku. Sebegitu hebatnya aku jatuh cinta denganya? Iya. Aku benar-benar jatuh cinta kepada lelaki ini. Mataku selalu berkaca-kaca kala harus menceritakan tentang arti keberadaan Rahman bagi ku. Dia sangat luar biasa bagiku. Dia adalah bagian hidupku. Detak jantungnya adalah hidup bagiku. Dia adalah harta yang paling berharga yang ku miliki. Hadirnya adalah anugrah terindah yang diberikan oleh Allah untukku. “Rahmaaaaan…” panggilku kepada laki-laki itu. Ia menjawab dengan senyuman dan tawa yang begitu indah. Menggoyangkan tangan dan kakinya beriringan. Kala ku melihatnya, semua rasa lelah terbayar lunas dan tak berbekas. Kamu sungguh luar biasa Rahman. Rahman, terimkasih sudah hadir dalam tubuh ibu. Dalam pikiran ibu, dalam ingatan ibu, dalam hati ibu dan dalam hidup ibu. Ibu menunggumu benar-benar hadir nyata dalam hidup ibu. Menemani ibu menua dan melihatmu dewasa. Mengajarkanmu tentang semua hal dan melihat pertumbuhanmu yang sangatlah pesat adalah keinginan yang ingin segera ibu wujudkan. Rahman, kelak ibu akan menjadi ustadzah pertama yang akan engkau kenal. Dengarkan ibu baik-baik kala ibu berbicara, sholatlah 5 waktu seperti ajaran agama, hormatilah siapapun yang kamu temui baik lebih muda darimu, seusiamu atau diatasmu usianya, jangan sakiti wanita dengan alasan apapun, bila kelak kau sudah dewasa dan menemukan seorang wanita yang kau yakini sebagai jodohmu, jangan kau tunda. Nak, perempuan memiliki hati yang begitu sensitive, tapi kamu harus tetap jujur! Bila kamu menemukan rasa cinta kepada seorang wanita dan belum berani untuk berkomitment, jangan dekati dia dengan hubungan semu. Datangi dia saat kamu sudah siap berkomitmen (dengan 1 syarat, kamu harus siap saat kau siap, dia sudah dimiliki oleh orang lain dan akhirnya hatimu terluka). Nak, tak ada satupun wanita yang ingin berada dihubungan yang semu. Kamu harus tahu itu. Jika kau membuat kesalahan, ibu tak akan segan-segan untuk memberikan ceramah panjang lebar padamu! Nak, ibu merindukan kehadiran mu. Benar-benar hidup disamping ibu. I love you my hero, Rahman. Anak ibu yang panjang umur, sehat, pintar, cerdas, bertanggung jawab, membanggakan dan memiliki akhlak yang mulia. Abdurrahman, ibu saynag kamu. Ibu mencintaimu dengan sangat. Terimakasih atas kehadiranmu dalam hidup ibu. Salam sayang Ibu *ditulis dengan hati yang berbahagia dan mata yang berkaca-kaca. Bahkan entah berapa kali air mata menetes jatuh ke baju. Bahagia saat menghadirkan Rahman. Merasakan bahwa saat ini ia benar-benar ada*

Kamis, 16 April 2015

Seperti dia, dulu

Beberapa hari yang lalu check up. Kembali berjumpa dengan Pak Widodo yang begitu lucu dan serius. Setelah berbulan-bulan aku menghindari rumah sakit itu, akhirnya harus kembali menginjakkan kakiku kesana. Bukan untuk menjenguk seseorang yang sedang sakit. Bukan! Check up pun dimulai dari jam 11. Setelah sekian lama menunggu. Deg deg an waktu masuk ke ruangan pak dokter yang sudah bertahun-tahun belakangan ini menghandle tubuhku. "Sudah lama ya ndak check up? Sibuk?" Tanya dokter penyakit dalam tersebut. "Hehehe" aku hanya bisa tertawa kecil untuk menjawab pertanyaan itu. "Bagaimana pola makanmu? Masih susah?" Ungkap beliau dengan tersenyum manis. "Berat badan saya naik drastis dok. Melebihi ekspektasi saya. Hehe" "Nah begitu! Sekarang tiduran dulu ya! USG dulu." Kembali hatiku berdebar hebat. USG berlangsung dengan cepat. Sesekali Pak Wid menjelaskan tentang keadaan organ dalam tubuhku yang berhasil beliau lihat melalui USG. Sesekali beliau menggelengkan kepalanya. Aku tahu itu signal buruk. Aku siap. Aku harus siap!!! Setidaknya itu caraku untuk meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. USG selesai, ambil sampel darah dan Pak Wid menuliskan resep obat. "Sejak kapan mualnya?" Ungkap beliau dgn begitu seriusnya. "Beberapa minggu ini dok. Memangnya kenapa gih?" Aku tahu itu pertanyaan yang berujung dengan kabar berita buruk. "Kita harus segera mungkin mengambil tindakan." menyodorkan resep obat yang harus ku tebus. "Memangnya kenapa ya dok?" Tanya ku untuk memperjelas apa yang terjadi pada badanku. Beliau menjelaskan keadaan yang diluar ekspektasi saya. Mual itu bukan mual yang biasa. Dan saat dijelaskan itu, hatiku hancur sehancur-hancurnya. Bagaimana saya bisa menjelaskan tentang penyakit saya kepada keluarga dan pasangan saya? "Kalau mualnya masih, kita naikkan dosisnya." Dengan gontai, saya melalui jalanan yang mulai ramai. Kepala saya kembali mengingat penjelasan dokter saya. Obat-obatan ini akan menemani saya untuk beberapa hari kedepan, meredam mual yang mengganggu. Hanya meredam. Bukan menyembuhkan. Beberapa hari setelah mengkonsumsi obat itu, sungguh diluar nalar saya. Efek sampingnya benar-benar menyiksa. Rambut saya benar-benar rontok. Hingga pada akhirnya untuk mengkamuflase hal tersebut, rambut saya, saya potong lebih pendek. Bahkan saya sempat frustasi melihat rambut saya yang tertinggal di sisir setiap kali saya menyisir rambut. Mualnya bagaimana? Masih. Meski agak berkurang. Hari ini adalah 2 minggu setelah check up tersebut. Obatpun sudah habis. Tapi, untuk check up lagi, saya harus berpikir ulang. Saya nggak mau makan obat yang bakalan membuat rambut saya rontok parah. Saya nggak mau di infus. Saya nggak mau!!!! Sekarang, saya hanya ingin menikmati rasa sakit dan mual yang ada. Menyembunyikan dari siapa saja. Toh, tak ada yang peduli akan hadirnya hidup saya didunia. Dia ataupun mereka, mengabaikan ku dengan indah. Jadi, kalau saya ada apa-apa, nggak bakalan penting buat mereka. Aku hanya ingin menjudge bahwa "aku sehat". :)

Diingatkan untuk mendoakan

Aku benar-benar sendiri! Benar-benar sendiri. Hatiku kacau. Pengabaian terus berulang disetiap harinya. Buatku kehilangan sosoknya yang sudah hampir 4 tahun bersamaku. Mendadak mengingat 1 nama yang dulu pernah hadir dalam hidup ku.
Seakan berjalan pada ruang waktu. Mengembalikan setiap ingatan yang sudah lama ku lupakan. Seperti kembali melihat wajahnya, mendapati kehadirannya, mendengar suaranya dan dia benar-benar terasa dekat. Berulang kali ku yakinkan bahwa dia, sudah benar-benar tidak ada! Bahkan mem-flashback kepada tanggal 3 April 2011. Dan ku sadari, dia benar-benar sudah tidak ada.
Hari ini, kepalaku mulai berfikir jernih. Sejak seorang kawan memberikan pencerahan kepada kepala ku yang tengah kacau.
 "Kamu mengingatnya, kamu merindukannya, kamu merasakan itu semua karena dia mengingatmu. Memintamu untuk mengirimnya do'a yang sudah lama kau lupakan untuknya. Dulu, saat dia hidup, dalam do'amu slalu kau sebut namanya. Sekarang, dia menginginkan hal yang sama." Ungkap Jo.
Kepalaku mulai berfikir dan tetap kacau. Merindukannya yang sudah tiada. Kacau!!!! Hingga pada 14 April yg lalu, ku temukan jawabannya. Benar! Benar halnya. Hatiku yang kacau pun berhenti random saat langkah kakiku meninggalkan tempat peristirahatan terakhir laki-laki itu.
 Dan saat ini, kepala ku tak serta merta terisi oleh nama ataupun apapun mengenai laki-laki itu. Dan benar, dia mengingatkan ku untuk kembali mengingatnya, mengunjunginya dan mendoakannya. Setelah bertahun-tahun aku tak sedikitpun ingat akan dia yang pernah ada. Kali ini. Sudah waktunya untukku kembali pada dunia ku yang normal....

Abaikan

Setiap jengkal langkah ku mulai goyah. Tatapan mataku mulai kosong pasti. Hati ku tengah bertanya? Ada apa gerangan tentang kita? Setiap hari berlalu begitu saja. Pagi, siang, malam. Sama saja. Berkutat dengan pekerjaan dan kuliah membuat kepala ku lebih pening dari pada sebelum-sebelumnya. Badanku melemah pasti. Lihatlah! Dirumah inipun aku merasakan hanya menumpang sesaat. Bila esok kembali datang, rutinitas ku kembali berulang. Kerja dan kuliah. Semester ini tak jauh berbeda dengan semester sebelumnya. Hanya saja, semester ini lebih banyak praktek saja. Cukup lelah? Sangat lelah!!! Bahkan berkali-kali badan ku melemas pasti. Batuk pun tak lekas pulih karena kondisi yang tak juga membaik. Tapi, alhamdulillah masih bisa kuliah dan kerja. Waktuku hampir benar-benar habis. Namun, aku masih sering menyempatkan waktu untuk menghubungi kekasih ku. Ya. Aku hanya ingin dia merasakan aku ADA. Walaupun pada kenyataannya, tubuh kami terpisah 63km. Ya. Aku ingin tetap terasa ADA ditengah LDR yang tengah kami jalani. Tak dapat dipungkiri. Semenjak dia KKN, sikapnya benar-benar berubah. Sering marah, sering ngambeg dan lebih sering mengabaikanku. Seharian inipun dia belum menghubungi ku 1x pun. Ya. Aku dapat menerimanya meskipun aku menangis mendapati kenyataan sikapnya yang berubah. Bahkan, aku merasa bahwa disini, hanya aku yang berusaha ADA. Hingga memory ku kembali mengingat seorang laki-laki yang dulu pernah selalu ada untuk ku dan itu, bukan dia. Berulang kali aku menghela nafas dalam-dalam. Diselingi batuk yang tak kunjung reda. Kepalaku mulai pusing. Mencoba menghilangkan rasa apapun yang tengah berkecambuk dalam hatiku. Hatiku mengosong. Bukan hilang! Bukan! Bukan hilang dan tak berbekas!!! Aku masih mencintainya. Dengan sangat mencintainya. Aku masih merindukannya dengan sangat pula. Aku masih ingin mendengar suaranya. Aku masih ingin hidup dengannya. Menghabiskan sisa hidupku untuk bersamanya. Tapi, tetap saja ku diabaikan olehnya. Membuat hati ku "kosong". Kapan kamu tak dingin lagi? Kapan kamu berhenti menganggapku tidak ada? Kapan kamu tak mengabaikanku? Benar. Aku benar merindukan mu. Yang hangat. Yang ADA.

Selasa, 14 April 2015

Selamat Ulang Tahun yang Ke 24 Tahun Jagoanku

Apa yang harus ku katakan untuk hari ini? Aku begitu bahagia. Sangat bahagia. Menyempatkan waktu untuk merayakan awal hidup seseorang. Selamat ulang tahun yang ke 24 almarhum mas Agung Adi Hartanto. :') Hanya memiliki keberanian untuk mendatangi makamnya. Merasakan kehadirannya yang begitu dekat dan merasakan hatiku yang kembali nyaman. Ya. Didekatnya, aku begitu nyaman. Sangat nyaman. Sok romantis dengan bunga. Ku bawakan sebuket bunga yang berhasil ku beli di pasar. 3 tangkai bunga mawar merah, 1 tangkai bunga sedap malam dan setengah ikat bunga krisan. Aku menyukai ketiga bunga itu. Menyertakan sebuah kartu ucapan yang bisa ku sebut dengan kertas ucapan yang begitu sederhana. Teriring doa untuknya yang kini disurga, ada hati yang berharap ia bangkit dan hidup kembali bersamaku. Bukan. Bukan dengan kondisinya seperti saat ini. Namun kondisinya seperti dulu. Bukan! Aku tidak mau dia hidup lagi bila dia masih sakit! Suatu saat nanti, ragakupun akan ditinggalkan jiwa ku. Dan harapanku hanya 1. Aku ingin hidup dengannya dengan kekal. Ya. Aku ingin menjadi bidadarinya kelak. Menemaninya selama hidup didunia yang kekal. Menebus setiap perpisahan yang sudah bertahun-tahun kami rasakan. Biarlah raga kami saling berpisah didunia. Biarlah hati terkecilku menjadi miliknya. Nyaman memanggil namanya, nyaman merindukannya, nyaman berkisah tentangnya. Terimakasih sudah pernah hidup dengan membahagiakan hidupku, menyamankan hati ku. Bila ada sebuah kalimat yang bisa lebih tinggi dari pada "aku merindukanmu" maka ku gunakan kata itu untukmu. Ya. Aku sangat merindukanmu Agung Adi Hartanto.

Senin, 13 April 2015

Esok

Esok. 14 April 2015. Hari bersejarah dalam rentetan timeline kehidupan ku. Sebuah tanggal yang begitu lekat dalam pikiranku. Dalam dan sangat dalam. Dekat dan bahkan sangaaaat dekat. Minggu, 14 April 1991. Seorang anak laki-laki terlahir didunia dengan selamat. Anak pertama dari pasangan guru muda. Mereka memberi nama anak itu Agung Adi Hartanto. Berharap agar anak tersebut kelak bila telah dewasa, akan menjadi anak yang "besar". Anak itu tumbuh menjadi anak yang memang besar. Tubuhnya sedang bahkan terlihat sedikit kurus. Tapi, tubuh itu memiliki milyaran bahkan triliyunan sel otak yang dapat diandalkan. Benar. Dia tumbuh sebagai anak yang begitu cerdas dan pintar. Di jenjang sekolah menengah pertama, dia menjadi wakil ketua osis dan dia masuk kekelas A. Kelas incaran banyak orang. Kelas yang menjadi impian banyak orang. Wajahnya pun tampan. Dengan rambut belah tengahnya, membuatnya terlihat rapi dan benar-benar rapi. Jangan tanyakan tentang kepemimpinan! Aku mengenalnya. Sebatas mengenal namanya. Berbicarapun aku tak pernah. Dia terlalu bercahaya kala itu. Masuk ke sekolah menengah atas, tubuhnya masih terlihat kurus. Namun, dia terlihat lebih tinggi. Aktif di banyak lembaga intrasekolah. Membuatnya banyak di kenal orang, bahkan adik-adik kelasnya dan teman-temannya menghormatinya dengan sangat. Lulus dengan nilai jajaran terbaik itu menjadi kebanggaan bagi bapak dan ibuknya. Melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Ingin sekali ke Semarang. Tapi, orang tuanya tidak mengizinkan. Akhirnya, ia memilih untuk kuliah disebuah universitas ternama di Salatiga. PGSD FKIP adalah tempatnya bernaung. Badannya mulai menggembul disaat ia mulai kuliah. Aku mulai dekat dengannya berkat sosial media Facebook. Laki-laki bertubuh gembul itu mendekatiku. Awalnya aku tak begitu percaya dengan ajakannya untuk bersama. Berkali-kali ia meminta ku untuk menjadi kekasihnya dan akhirnya kami memutuskan untuk menjalani hubungan itu. Bahagia? Sangat. Bahkan sangat bahagia memiliki laki-laki seperti dia. Sebulan dua bulan, kami masih baik-baik saja. Besar harapanku untuk bersamanya. Dia adalah laki-laki pertama yang memelukku dan mengecup keningku. Dia adalah laki-laki pertamaku yang mencintaiku dengan apa adanya dan dengan ketulusan. Telpon pun sering kami lakukan. Demi membunuh rindu yang menyesakkan. Setiap hari kami berkiriman foto lewat multimedia. Ya seperti itu. Dia laki-laki yang dewasa. Cara berpikirnya hampir membuatku mati bangga. "Dik, kalau kita menikah nanti. Aku ingin memiliki sebuah rumah yang sederhana. Tapi, dalamnya ada semua. Setuju nggak?" Tanya lelaki itu sembari menatap langit yang cerah. Aku hanya tersenyum mendengarnya. "Dik, kalo kita menikah, aku pingin punya anak 4. Semua harus mirip aku. Nggak ada yang boleh mirip kamu. Hahaha" ungkapnya sambil tertawa. Akupun mengiyakan atas segala mimpinya. Bagaimana tidak, aku pasti akan begitu bangga bila kelak anak-anakku seganteng dia. Hehehe Kepalanya mulai jatuh dibahuku. Hening begitu terasa. "Dik, aku begitu nyaman dengan mu. Entahlah kenapa. Bahkan dengan ibuku, aku tak bisa merasakan senyaman ini." Ungkapnya dengan memejamkan matanya. Ia bangkitkan kepalanya dan memelukku dengan erat. "Aku sayang kamu dik." Bisiknya. "Aku juga mas." Begitu lamanya kami berpelukan. Tak peduli dengan siapapun yang melihat. Laki-laki ku mulai drop kondisinya. Batuk-batuk dan sebagainya. Beberapa kali ia harus oprasi dan harus opname di rumah sakit. Ingin sekali menemaninya, namun, dia tidak mengizinkan. Setiap keluar dr rumah sakit, dia mengajakku jalan-jalan. Kali ini ke bukit cinta. Laki-laki dengan celana jeans dan jaket merah dan seorang anak perempuan bercelana jeans dan jaket putih. Ya itu kami. Pasangan absurd. "Pernah kesini?" Tanyanya. "Belum." "Anginnya sepoi-sepoi." Ungkapnya dengan tersenyum. Mencetakkan lesung pipi di kedua pipinya yang berjerawat. "Iya." "Kenapa dari tadi pegang HP? Takut dicari bapak?" "Iya." "Ya udah kita pulang aja ya?" Dia berjalan lebih dulu. Sementara aku, masih duduk. Saat aku mulai berdiri dan mencari dia, dia tidak ada dimanapun. Sontak aku menangis. Terduduklah aku kembali. Tuk! Sebuah buah pinus jatuh di kepalaku. Tuk! Tuk! Ada lagi. Dan pas di kepalaku. sontak aku kebingungan. "Hahahahahaha" suara tawapun pecah. Dari laki-laki itu. Menyebalkan sekali. Dia mendatangiku dan duduk kembali disampingku. Merangkulkan tangan kanannya di bahuku. "Tuhkan, kalo cemberut malah persis bebek. Hehehe" ia menggodaku. Aku meliriknya marah. "Sudah ah. Jangan cengeng! Mosok pacarnya Mas Agung Adi kok cengeng." Ungkapnya dengan tersenyum. "Jadilah perempuan yang kuat! Setelah aku nggak ada nanti, siapa ya yang akan melindungi kamu?" Ucapnya dengan melemahkan nada bicaranya. "Ngawur! Emang kamu mau kemana? Kamu nggak akan kemana-mana! Titik!". Ungkapku dengan marah. "Aku nggak bakalan bisa menjagamu terus dik." Ucapnya diakhiri dengan senyuman yang memperlihatkan gigi gingsulnya. Aku terdiam dan menangis. Dibawanya kepalaku kepundaknya. Dan tangisanku segera berhenti saat bibirnya menyentuh keningku. Akhir tahun kami habiskan dengan jalan-jalan kegedung songo. Entah berapa kali ia memelukku dan mencium ku disana. Ya laki-laki ini memang hebat. Esok chemoterapy dan hari ini jalan-jalan dengan ku. Selalu seperti itu. "Siapa yang akan menjagamu dik. Aku kapan saja bisa pergi." Ungkapnya dengan air mata terlihat di sudut matanya. "Kamu yang akan menjagaku!" Ucapku marah. Sejak saat itu, dia mulai lemah. Bahkan sering menghilang tanpa kabar. Hidupku mulai goyah. Bahkan di hari ulang tahun ku, aku malah dimarahinya dengan seenaknya. Tanggal 3 April 2011 adalah hari terakhir aku mendapatkan kabar tentangnya. Dia meninggal dunia. Ya. Laki-laki itu benar-benar meninggalkan ku sendiri. Ia tertidur untuk selamanya. Sejak saat itu, aku mengejar semua mimpi kami berdua. Dan hari ini. Aku ingin mengejar mimpi kami dan mewujudkannya. Semata-mata untuk dia. Laki-laki yang membuatku belajar bermimpi. Laki-laki yang suaranya begitu melekat dalam hatiku. Bahkan sampai detik ini.

Kita

Menikah. Menyatukan dua hati yang sama, menyatukan dua kepala yang berbeda. Sebuah hubungan yang begitu sakral dihadapan agama dan juga dihadapan negara. Menjadi mimpi untuk semua wanita didunia ini. Bukan hanya itu! Menikah merupakan sebuah sunah dari Rasulullah SAW. Menjadikan yang haram menjadi halal dan sebuah gerbang untuk kebahagiaan dan pula gerbang menuju surga. Siapa sih yang tidak ingin menikah? Kalau ada orang yang tidak ingin menikah, rasanya pengen jitakin aja deh. Dua kepala mulai merasakan getaran yang akan datang sejak pertama mereka saling melihat atau mengenal, atau karena terbiasa. Ya itulah cinta. Sebuah rasa yang tidak bisa di anggap biasa dan di logika menggunakan akal pikiran kita sebagai manusia. Cinta adalah salah satu rasa yang ada disurga lalu di turunkan kedunia. Siapa yang belum pernah jatuh cinta? Meski tak dapat dipungkiri, selama kita hidup didunia ini, kita merasakan cinta dan rasa ingin memiliki seutuhnya. Berawal dari cinta, dua hati mengikatkan hati mereka untuk saling bersama disebuah hubungan "pacaran". Ya. Masa penjajakan dan masa saling mengerti. Tak sedikit orang yang pernah melakukan hubungan ini. Bahkan hampir semua orang didunia ini pernah pacaran. Setelah merasa cocok, mereka kembali bertanya "kita mau bawa kemana hubungan ini?" Hingga muncullah keinginan untuk memiliki seutuhnya dengan menikah. Tapi sayangnya, tak semua orang bisa menikah. Karena usia, karena kuliah, karena belum siap, karena pekerjaan atau bahkan karena tidak mendapat restu. Seberapapun seseorang berjuang, kalau pasangannya belum mau berjuang bersamanya, pernikahan itu tidak akan terjadi. Karena pada dasarnya, menikah butuh saling memperjuangkan, butuh menyatukan visi dan misi. Ya. Meski aku harus jujur. Bertahun-tahun hidup dan menggantungkan keinginan untuk bersama dengan laki-laki yang sama. Namun, lambat laun, kini rasa ingin menikah begitu semu. Cincin yang melingkar di jari manispun terasa tak punyai arti. Disaat kesibukannya berhasil membuatnya abai terhadap keberadaanku. Bahkan aku mulai merasakan, dia tidak ada. Ungkapnya, "cobalah mengerti aku! Disini aku sedang KKN." Ya. Aku mengerti. Aku mengerti dengan tidak menghubunginya sewaktu-waktu. Aku menunggunya untuk menyapaku di pesan ataupun blackberry masanger. Tapi, tidak ada. Tak pernah berkomunikasi dan bahkan, hanya menyisakan pertengkaran. Aku kehilangan dia. Hatiku mendadak kosong. Mencoba untuk jangan mengosongkan hatiku, meyakinkan hatiku dengan "ini sudah hampir 4 tahun, aku harus kuat." Tapi hasilnya, dia terus abaikanku dengan alasan yang sama. Akankah aku berhenti? Sedangkan rasa itu terasa masih ada. Karena aku masih menangis dalam merindukannya yang abai. Bukankah apa yang kita abaikan, lambat laun akan pergi? Seperti halnya aku mengabaikan dia (alm), dan akhirnya aku benar-benar kehilangan dia untuk selamanya? Ya. Aku masih menunggu DTA untuk tak mengabaikanku. Hingga anniversary yg ke 4. Selama itu aku bertahan dengannya? Iya. Karena dia buatku hangat dengan rasanya. Tapi kali ini, sangat dingin.

Selasa, 07 April 2015

TENANG

Hidup layaknya kita tengah menaiki roalcoaster. Naik turun bahkan membuat jantung kita berhenti sejenak merasakan sensasinya. Tuhan benar-benar Maha Penulis Naskah yang hebat. Menyatukan dua hati lalu membuat mereka menjalani kehidupan bak roalcoaster. 5tahun yang lalu. Sebutlah namanya Adi. Laki-laki ini sungguh biasa-biasa saja. Badannya gempal, tingginya menyentuh 170cm, kulitnya putih, pipinya dihias lesung pipit dan gingsul. Menarik? Iya. Hingga gagal untuk dikatakan "dia biasa-biasa saja". Dan hal lain yang bisa ku jadikan alasan "dia gagal biasa-biasa saja" adalah dia laki-laki yang cerdas. Kami membangun semuanya secara sederhana. Seperti tengah menaiki parahu di tengah lautan. Ada tenangnya, ada kacaunya. Namun, kami sama-sama menguatkan. Dia yang dewasa, mengcover sikapku yang masih remaja. (Beda usia kami 2tahun). "Jika suatu saat nanti kita menikah, aku ingin punya 4 anak. Semuanya harus mirip dengan ku." Ucapnya dengan tersenyum. Setidaknya aku tenang setiap mendengarnya bercerita tentang hidup bersama ku (kelak). Laki-laki itu sangat semangat saat mengisahkan hidup kami kelak. Dia yang berkerja, membangun istana sederhana, jalan-jalan, ya, selalu membuatku berani berharap. Membuatku lebih nyaman dengan semua yang ia persiapkan. Laki-laki tinggi itu selalu mengirimkan pesan yang terkadang membuatku merasa dibutuhkan. Saat bertemu, ia menyempatkan waktu untuk setidaknya mandi dulu baru bertemu dengan ku. Laki-laki ini luar biasa dimata ku. Laki-laki ini adalah laki-laki yang pernah memelukku erat. Seakan-akan ia tak ingin melepaskanku walau sejenak. Dia laki-laki yang sangat membutuhkanku. Saat menyadari esok ia harus chemoteraphy, dia selalu mengajakku untuk menghabiskan waktu seharian bersama. Ya. Laki-laki ini jarang membuatku menangis. Sesekali aku menangis karena rindu. Dan ia cekatan untuk mengajakku membunuh rindu itu. Laki-laki itu lebih sempurna kala celana pendek sedengkul, kaos dan jaket melekat di tubuhnya. Ya aku suka gayanya. Casual. Selama bersamanya, aku tak pernah takut akan hari esok. Bagaimana kedepannya dan apapun soal masa depan. Aku tenang disampingnya. Aku bangga, pernah memilikinya. Pernah memeluknya erat. Pernah bersandar di bahunya. Dan aku lebih bangga, aku pernah setenang itu bersamanya. Hanya bersamanya.

Minggu, 05 April 2015

LINGKUNGAN PENDIDIKAN BERPENGARUH PADA SISWA

Sejak kecil, aku memang gemar sekolah. Bahkan mendesak orang tua ku untuk segera menyekolahkan ku seperti teman-teman seusiaku. Melihat orang berseragam sekolah membuatku ingin mencobanya. Dan akhirnya saya di "titip" kan untuk sekolah di RA Falahul Mukminin, Cikalan, Padaan, Pabelan. Menyenangkan? Iya. Tapi jujur aku takuk dengan bu guru. Badan beliau lebih besar dari pada orang lain dan beliau orang yang baru. Lalu, lambat laun semangatku sekolah pudar. Saat menyadari teman-temanku naik kelas dan saya masih di TK. Beberapa kali melarikan diri dari sekolahan berbekalkan "mau pipis". Dan saya masih selamat. Ya. Sampai di rumah dengan rasa tidak bersalah. (Namanya juga anak kecil). Hingga beberapa hari kemudian saya di bully habis-habisan oleh teman-teman senior saya. Pulang berjama'ah dan saat sampai di jalan dekat kuburan, saya di tinggal lari. Sontak pasti saya yang kalah dan paling belakang. Badan saya terlalu berat untuk di ajak berlari dan usia saya yang masih terlalu kecil. Itulah bully-an pertama saya. Ditinggal lari. Saya bisa apa? Nangis kejer sampe rumah. Dan sejak saat itu, saya tidak mau sekolah di TK. Somplak sekali hehee Tahun ajaran baru teman-teman saya yang udah kelas 1 MI bersorak sorai dengan kepindahan mereka ke SD yang berada dipusat desa. Sontak, saya pun ingin di sekolahkan seperti mereka. Orang tua mengusahakan sebisanya. Mendorong saya sangat. Dan benar, saya di sekolahkan di SD. Seneng? Iyak. Banget. Tapi, tragedi dimulai dengan mereka "para senior" ditetapkan tetap tinggal di kelas 1 SD dulu. Kelas 1 masih baik-baik saja. Masih berangkat bareng. Kelas 2, ya masih. Kelas 3, berkurang. Kelas 4, saya beneran berangkat sekolah sendirian jalan kaki dari Dompon sampai Giling. Melewati kebun karet PTPN IX yang luas, serta beberapa kuburan angker yang sudah terkenal. Berani? Iya. psikologis saya mulai terganggu dengan adanya "pilih kasih" di kelas. Jujur, saya ini orang yang biasa-biasa saja. Rangking selalu dibawah 10 dan diatas 5 dari 17 orang. Rata-rata? Iyak. Kelas mulai berubah saat teman-teman saya yang pintar lebih di perhatikan. Sedangkan saya, terabaikan dan terkucilkan. Bahkan oleh teman-teman sekelas. Sedih? Iyak. Hal itu membuat saya malas untuk datang kesekolah dan berimbas dengan saya alfa. Naik kekelas 5, wali kelas saya adalah guru ibu saya sewaktu SD dahulu. Orangnya sangar. Sedikit salah (dibilangnya nakal), jiwit (cubit). Bahkan dulu pernah, tangan saya beneran memar biru, 4hari nggak ilang. :( Kelas 6, saya masih suka alfa. Menggampangkan semua dan tak pernah belajar. Saat ujian nasional, ya dikerjain sebisanya aja. Saat pengumuman, peringkat 3. Whaaaat? Kok bisa??? Ya. Itu juga pertanyaan saya. Kok bisa saya peringkat 3? Menggeser teman saya yang dari kelas 1-3 rangking 1 mulu. Bangga, iya. SMP. Masa paling nyebelin di hidup saya. Kalau bisa, memorynya mending saya delete saja dari otak saya. Parah. 3 tahun hidup sebagai laskar putih biru, kehidupan saya penuh bullying. Dari dilabrak sampai di jauhi teman-teman karena saya nggak modis dan saya biasa-biasa saja. Sedih? Sedikit. Namun Allah Maha Baik, mengenalkan rasa yang nggak enak, lalu memberikan rasa yang menyenangkan. My first love in Junior high school. With my senior. SMK. Masa gokil, masa nyenengin, masa yang apa aja ada. Di tingkat ini saya benar-benar di orangkan. Bertemu teman dari berbagai macam daerah dan di TERIMA. Catet!!! DITERIMA. Kehidupan saya ya seperti anak SMA pada umumnya. Having fun. Jalan-jalan. Belajar. Ngegokil. Ngomongin guru ganteng. ngegosipin guru yang belum married (padahal udah married). Ya seperti itulah. Saya masih tetap jadi siswa yang biasa-biasa saja. KULIAH. Masa ini untuk pertama kalinya saya mengenal banyak ragam muka orang. Dari sabang sampai merauke. Muaknaya beda-beda. Seperti tengah merasakan masuk kedalam Indonesia yang mini. Berjalan baik? Iya. Punya sahabat baru dari Maluku dan Kalimantan dan mereka menyenangkan. IPK menyentuh angka 3 dapat saya banggakan di hadapan orang tua. Tapi, semua tak semudah itu. Orang asli membuat saya geram dengan ocehan mereka dan kesyirikan mereka. Celoteh mereka membuat saya "keep silent please." Tapi mereka tetap berbicara. Seakan-akan bangga dengan tingkatan mereka sebagai anak pengusaha. Ya, jelas. Saya tidak mungkin jadi bagian mereka. Saya ini cuma orang biasa. Lambat laun, ocehan mereka benar-benar mengganggu. SANGAT MENGGANGGU. Usaha mereka untuk mendepak saya pun, sukses! I'm out from the campus. Lingkungan pendidikan yang kacau!!!! 2013 saya kembali masuk kuliah. Disebuah PTN di Salatiga. Masuk kesini sungguh seperti masuk kedalam keluarga. Saya benar-benar di ORANGkan dan diTERIMA. Hal yang sungguh sulit untuk di dapatkan. Teman-teman saya beragam. Dari adik-adik (karena umur mereka dibawah saya), mbak-mbak (karena mereka lebih tua) dan ibuk-ibuk (karena udah punya anak). Ya seperti itulah. Tapi saya bersyukur. Kami sebagai mahasiswa angkatan pertama cukup solid dan tercipta ruang lingkup pendidikan yang sehat. Saling membantu dan tidak saling menindas. Mau kaya atau miskin, kami saudara. Nyaman. Imbasnya, IPK saya diatas 3 bahkan menyentuh cumloude. Sesuatu yang dapat saya benar-benar banggakan kepada orang tua. Bagaimanapun, ruang pendidikan adalah ruang berkembangnya seorang anak manusia. Bagaimana ruang pendidikannya, dapat mencerminkan kepribadian anak manusia itu. Bila lingkungan pendidikan sehat, (insyaAllah) maka hasilnya maksimal. Begitu pula sebaliknya. Tak perlu sekolahan favorit untuk menjadi berprestasi. Cukup dengan lingkungan pendidikan yang mendukung dan sehatlah, anak dapat mengembangkan kepribadiannya, bakatnya, kecerdasannya, dan mengembangkan semua aspek dalam dirinya. For parent!!!!! Jangan paksakan anak untuk pintar disegala bidang!!!!!!! >:o Setidaknya itulah yang saya pelajari.

Senin, 30 Maret 2015

Menjadi Pelayan Mahasiswa? Why Not???

Sesungguhnya ini cukup simple untuk di lakukan. Tapi, juga butuh tekat untuk di jalani. Menjadi pelayan mahasiswa tentunya adalah mimpi bagi beberapa mahasiswa. Mengabdikan diri demi kawan-kawannya. Tentunya akan merasa bangga dan bersyukur ketika kita mampu dan dipercaya untuk menjadi wakil mahasiswa dalam menyuarakan aspirasi. Bukan hanya mewakili 1 mahasiswa saja, tapi ratusan mahasiswa bahkan ribuan mahasiswa. Sejak terjun bebas dan memiliki status mahasiswa, pikiran saya menerawang jauh kembali ke masa saya menjadi anak SMK dulu. Setiap hari harus berkomunikasi dengan seorang laki-laki yang luar biasa dengan rutinitasnya sebagai mahasiswa dan seorang aktifis kampus. Dia sangat menyukai bidang yang digelutinya. Banyak orang ia kenal. Bahkan ia memotivasi saya untuk aktif sepertinya kelak bila saya kuliah. "Jangan hanya menjadi lilin yang menyakiti dirinya sendiri demi orang lain! Lilin akan meleleh dan setelah habis akan ditinggalkan begitu saja. Jadilah lampu! Cahayanya lebih terang. Banyak orang yg dapat ia sinari. Saat ia mati, ada tempat khusus untuk menyimpannya dan selalu dikenang." Ucap lelaki bertubuh gempal itu dengan tersenyum manis dan kedua lesung pipinyapun tercetak manis. Saya hanya mengiyakan saja apa yang ia ucapkan dan mengamini setiap katanya. Beberapa bulan kemudian laki-laki itu benar-benar meninggalkan dunianya, kampusnya, organisasinya, untuk selama-lamanya. Saya melihatnya terbaring dengan tenang. Layaknya orang tertidur yang sangat pulas. Di luar sana, saya melihat barisan anak muda seusianya. Ku yakini itu teman-temannya. Dan memang benar. Raut kehilangan pun ku coba takfiskan diwajah-wajah mereka. Betapa laki-laki ini benar-benar di cintai oleh kawan-kawannya. Beberapa hari berikutnya saya mendapat sebuah surat yang berisi bahwa saya diterima di sebuah universitas swasta ternama di kota Salatiga. Universitas yang sama dengan laki-laki itu. Setahun berlalu. Menjadi mahasiswa dengan almamater berwarna krem kekuningan dan sedikit kebesaran. Saya resmi di angkat menjadi seorang aktifis kampus. Tercetak nama saya sebagai seorang anggota himpunan mahasiswa program studi (HMP) pendidikan ekonomi. Semua berawal dari hari itu. Bertemu dengan orang-orang hebat yang mampu memacu hati saya untuk mengabdi. LDKM (Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa) pun digelar selama 2hari di kampus. Diisi oleh mereka para senior yang selama ini memiliki trackrecord yang mengundang decak kagum. Mereka memfasilitasi kami para aktifis baru. Tanpa dibayar, malah membayar kegiatan itu dengan uang mereka masing-masing. Sesi dimulai dari latihan baris berbaris hingga masuk ruangan untuk materi. Hari ini saya di kelompok D, bercampur baur dengan puluhan orang yang belum saya kenal. Mereka dari progdi lain dan merupakan aktifis dari progdi mereka. Bahkan beberapa saya kenali sebagai mereka para anggota SMF dan BPMF yang merupakan lembaga kemahasiswaaan diatas saya. Canggung? Pasti. Terasa, saya ini piyik yang tengah mencoba terbang. Hehehe Kelas dimulai dan diisi oleh seorang laki-laki bertubuh tak begitu tinggi, kulitnya kuning langsat, ada jenggot sedikit dan suaranya halus sekali. Aku mengenalinya sebagai Mas Adi. Dia bukan orang asing bagi ku. Ku lihat beberapa foto yang sempat ku unduh dari facebook alm. Mas Agung ada foto mas Adi. Beliau adalah seorang aktifis yang merangkak bersama Alm. Mereka sangat dekat. Selain itu, aku sering melihatnya di mushola kampus yang sangat mini. Beberapa kali ia mengimami ku dan kawan-kawan sholat di kampus. Tema yang dibawakan oleh mas Adi adalah "pelayanan". What is the meaning pelayanan? Maksudnya apa??? Beberapa kalo Mas Adi bertanya kepada kami dan tak ada satupun yang terekam baik di kepala ku. Bahkan aku sudah lupa sebelum ucapan beliau usai. Namun, kemudian aku merekam baik sebuah pertanyaan yang cukup buatku begidik. "Motivasi kalian masuk LK (Lembaga Kemahasiswaan) itu apa?" Tak ada satupun yang menjawab. Disaat itupun hatiku kembali diuji. Alasan apa yang membawaku kemari? "Kalau mau mencari kepopuleran, dikenal, di sanjung, jangan masuk LK! Karena itu tidak akan kalian dapatkan!" Ucapan itu membuatku sedikit sesak nafas. "Pelayanan yang ahrus kita lakukan! Bukan dilayani! ..... Kita itu pelayan mahasiswa!!! Ujung tombak mahasiswa. Kalau memang tidak ingin melayani mahasiswa, silahkan keluar dari LK!" Sejak saat itu orientasi saya mulai berubah. Kata-kata itu sungguh menusuk dihati saya. Hingga muncul rasa "if I'm in here, i'll must be better." Sehingga saat itu saya sangat merasakan betapa saya ini sudah jahat kepada mahasiswa. Sehingga saya meluruskan kembali niat saya. Sesi kedua di isi oleh Mas Adela. Beliau juga dekat dengan Alm. Bahkan banyak foto Alm yg saya dapatkan dari beliau. Beliau diam saat masuk kedalam ruangan kami. Matanya seperti tengah menguliti kami satu persatu. Tatapannya sangar, beringas bak siap menjadikan kami kelinci bakar. Aku cukup tak bernyali untuk menatap kedepan. Alhasil, kutundukkan wajahku. "Dimana teman kalian yang lain?" Ucapnya tegas saat menyadari ada 2 bangku yang tak bertuan. Semua mata saling bertanya. Kemanakah mahkluk pemilik bangku itu? "Kalian ini. Ngakunya anak LK. Tapi disiplin waktu saja tidak bisa." Ucap Mas Adela dengan wajah penuh nyinyiran yang ditujukan kepda kami. Kami bisa apa? DIAM. "Kalian yang tidak bisa disiplin waktu, buat apa masuk LK? LK itu tempatnya pemimpin. Bukan manusia-manusia seperti kalian!" Tambahnya. Nyesek nggak denger kek gitu? Banget. :'( Sejak saat itu saya jadi sangat sangat dan snagat menghargai waktu. Nggak pernah telat rapat. Keanggotaan saya di HMP PE cukup banyak memberikan pelajaran baru untuk saya. Menerima pendapat orang lain, mengikhlaskan hati saat pendapat saya tidak diterima, menjadi pemimpin, banyak deh pokoknya. Beberapa kegiatan kami sukses. Bahkan peminatnya banyak. Hingga melebihi ekspektasi kami. Itu karena apa? Kami saling berkerjasama. Diakhir tahun, saya diminta untuk mewakili HMP untuk menjadi panitia di FKIP Days. FKIP gathering. Persiapan 2 bulan kami sikat. Sungguh pengorbanan dan lagi-lagi saya melihat dan menemui puluhan manusia hebat. Hasilnya? Sukses beraaaat!!!! (Setidaknya lebih baik dari pada saat saya dulu yg jadi peserta.) Namun, pada pertengahan Febuari, saya harus melepas almamater saya karena alasan yang tidak mungkin dapat ceritakan. Menyisakan 2 kegiatan yang belum dapat saya saksikan. Seminar nasional dan sebuah kegiatan ke jogja. Sedih? Pasti. Namun ada 2 sahabat saya yg terus mengabarkan kepada saya mengenai kegiatan yang sudah kami susun rapi. Dan hasilnya. Sukses besar :') Dipertengahan 2013, saya memutuskan kembali ke bangku kuliah. Disebuah sekolat tinggi agama islam negeri (STAIN) di Salatiga. Ada sebuah program studi yang memang saya tunggu. Tempat bernaung saya saat ini. PGRA. Kembali menjadi mahasiswa baru setelah sebelumnya menjadi mahasiswa lawas. Awalnya cukup takut karena usia saya yang bakalan lebih tua dari teman-teman saya. Ternyata saya salah. Usia mereka beragam dan ada juga yang sudah memiliki 3 anak. Hehehe Sebagai progdi baru, kamipun menjadi "pembabat alas". HMPS belum ada dan kami memulainya. Saya dipilih menjadi bendahara. Saya memiliki ekspektasi yang luar biasa kepada kami. Para pembabat alas yang dibingungkan dengan organisasi intrakampus. Berbekal seadanya, kami menjadi anak HMPS. Bingung? Pasti. Mau kemana? Tidak tahu. Lalu kita mau apa? Saya juga tidak tahu. Beberapa acara yang disuguhkan oleh pak Kaprogdipun kami sambangi. Dengan berbekal seadanya, kami lakukan semuanya demi acara perdana kami. Sebuah lomba untuk anak RA/TK. saat itu ditunjuklah beberapa teman sebagai panitianya. Saya melihat ada yang salah di susunan kepanitiaan. Lalu langkah apa yang dapat saya lakukan? Tidak ada. Saya hanya diam. Saya sudah pesimis berat. "Kegiatan ini tidak mungkin dilaksanakan." Kata hati saya. Beberapa panitia hanya ingin menonjolkan apa yang mereka punya. bahkan saya cukup rumit melihatnya ketika saat melihat jobdisk yang acak-acakan. Disana saya merasa bersalah. Why? Saya tidak mau aktif. Dan benar, kegiatan itu lolos. Lolos tidak di laksanakan. Apa saya menyesal? Sedikit. Dalam membuat kegiatan itu terlalu banyak melibatkan orang. Tidak efektif sama sekali. Itu kesalahannya. HMPS PGRA tidak berjalan dengan mulus. Kami jarang rapat. Kalaupun ada rapat ya buat having fun saja. Berbeda 180 derajat dengan saya dulu di HMP PE. Setiap hari rabu jam 10 sudah berada di dalam ruang LK untuk rapat. Disini? Ya begitulah. Semoga kelak lebih baik. Hasilnya? Selama satu tahun kami tidak membuat acara yang spektakuler. Cukup menyakitkan. Tapi termaklumi. Karena kami memang angkatan pertama. Pembabat alas. :'( Ini tahun kedua kami jadi HMPS. Kami mulai berpikir keras untuk lebih baik. Setidaknya kami harus memfasilitasi adik baru kami. (Ciyeee jadi senior lagiiiii). Kami para anggota benar-benar ingin memberikan yang terbaik. Hingga kami tertantang untuk membuat sebuah kegiatan khusus untuk maba (mahasiswa baru). Disana kami sering bertemu dan merencanakan. Inilah awal balik HMPS PGRA. Beberapa bulan cukup ribet dengan proposal dan anggaran. Beberapa kali konsultasi dengan kaprogdi. Dan fix. Acara untuk adik-adik siap dilaksanakan. Kami sama sekali tidak mengenal waktu, saat itu. Ada semangat yang meluap-luap. Dari cari pemateri, rapat dirumah temen, pokoknya ribet. Membuat saya jadi lebih semangat. Kami para anggota saling tutup mulut dengan teman sekelas kami. Kami saling berjanji kalau kegiatan kami ini akan diumumkan saat 7 hari sebelum di laksanakan alias pendaftaran dibuka. Bukan untuk merahasiakan, kami cukup sakit hati (terutama saya) dengan kegiatan kemarin yg acak-acakan karena terlalu banyaknya orang yang terlibat. Kegiatan kami mundur. Karena tes tengah semester yg berbarengan dengan jadwal kami. Al hasil. Kegiatan di pindah bulan November. 10 November 2014 adalah awal kami berpijak. Saksi untuk pertama kalinya HMPS menghadikan sebuah acara untuk mahasiswa. Bentuk pelayanan kami. Kami para panitia sekaligus anak HMPS benar-benar deg-degan saat acara kami akan dimulai. Keriweuhan terjadi disana sini. Acara seminar ini dilakukan untuk mengenalkan maba kepada progdinya serta memberikan ilmu untuk menjadi guru yang kreatif. Apalagi kami ini calon (bahkan sudah ada yang jadi) guru TK. Dituntut untuk kreatif. Dan alhamdulillah, acara kami sukses besar. Adik-adik pun sangat puas dengan acara kami. Kami membaur dan hasilnya lihatlah kami sekarang, nothing line in junior and senior. :) Semangat untuk kawan-kawan ku di HMPS yang hasilnya membuat kami bangga dan saya beneran bisa nangis bangga sama kalian. *pelukin satu-satu* Beberapa hari yang lalu, sebuah tawaran masuk ke ponsel saya. Dari seorang ketua HMPS sekaligus teman satu kelas saya. Menawarkan saya untuk masuk ke SEMA Fakultas. Saya cukup bingung dan galau. Kuliah, kerja dan SEMA. Bukankah akan banyak menyita waktu saya? Namun berbekal tekat dan kemauan serta semangat, tawaran itu saya terima. "Besok jam 8 kumpul di kantor SEMA ya!" Sms bu ketua. "Kamu ini kami pilih untuk jadi pembabat alas. SEMA Fakultas ini untuk pertama kalinya terbentuk. Semangat ya!" Pesan seorang teman saya. Keesokan harinya. Saya beneran dateng jam 7.45. Dikampus 1. Seperti anak ayam yang ilang. Dan tidak ada orang di kantor sema. Lalu datanglah beberapa orang dikantor sema, tepat pukul 8.15. Dan itu bukan dari fakultas saya. Trus jam piroooo???? Akhirnya saya telpon bu ketua. Mencari tahu kebenaran. Jam 9 kami diminta kumpul dan itu di HMJ tarbiyah. Nyakitin dgn 1 jam nggak dapet apa-apa? Iya! IYAAAAA!!!! Saya melihat wajah-wajah baru. Tak saya kenali satupun. Tapi setelah rapat dibuka. Terbongkarlah keunikan-keunikah diwajah mereka. Dan mereka adalah yang akan menjadi partner saya untuk satu tahun kedepan. Memperjuangkan mahasiswa di SENAT MAHASISWA FAKULTAS Tarbiyah dan Ilmu Pendidikan :D Buat temen-temen, jangan takut untuk melayani mahasiswa! Didalam melayani mahasiswa itu, ada bentuk pelayanan kepada Allah. Selain itu, kepala kita juga bisa lurus. bukan malah mencerca perbedaan. Selain itu kita bisa belajar menjadi khalifah bagi orang lain. Bukankah itu sebuah ibadah? ;)

Jumat, 17 Oktober 2014

soal make-up



Pagi-pagi. Lagi enak-enaknya nonton infotainment. Maklum. Sini masih jadi manusia. Jadi sifat cewek pun masih melekat didalam diri. Karena aku masih termasuk remaja (remaja akhir woooy!) jadi masih akrab banget sama “dikit-dikit update di facebook” dan akhirnya ada sebuah tema menarik yang menurutku patut untuk di bahas. Tentang makeup.
Sebenernya sih nggak ada yang salah sama makeup. Apalagi buat ku yang  sedikit tomboy. Tapi, akhir-akhir ini agak risih dengan beberapa manusia setengah absurd yang mulai mengenakan eyeshadow dan lipstick ngeping abiiieeez. Sedikit merusak mata aja sih kesannya. Apalagi untuk kuliah. Kesannya malah mau kekondangan.
“sebenernya sih bedakan ngga usah menor juga. Penting ngga kelihatan mengkilap aja sih mukanya” sebait epigram yang ku tulis di dinding account facebook pribadiku.
 Aku bukan penganut anti bedak ataupun anti makeup. Sumpah deh. Soalnya kalau ngajar or kuliah aku pasti tetep bedakan. Sebenernya sih ngga ada alasan lain buat bedakan kecuali biar muka nggak rusak. You know lah. Dari pagi ampe maghriub berkutat sama segala macam polusi jalanan. Apa kabar muka ku coba?
Pagi-pagi sebelum ngajar pasti udah pak eserum lightening nya wardah. Ditumpuk lagi sama krim siangnya wardah. Abis itu pake BB creamnya wardah. Baru deh pakai bedak padat. Itu sih buat ikhtiar. Bukan adanya maksud buat mutihin wajah. Aku suka dengan wajah yang terawat. Kesannya bersih. Lagi pula, aku ada problem sama yang namanya jerawat batu. Jadi sebelum wajahku aku rawat seperti ini, muka ku jadi ada benjolan kecil-kecil gitu. tapi, berkat perawatan yang rutin aku lakukan (tidak pernah kesalonn ataupun ke skin care) wajahku jadi lebih halus dan lembab.
Musim pancaroba kek gini ini musimnya kudu ekstra ngerawat muka. Anginnya yang kering juga membuat muka menjadi kering. Apalagi buat kita-kita yang berjilbab. Hmmm problemnya pasti banyak.  Kita harus pinter-pinternya ngejaga muka. Tapi ya nggak oebr juga sih.
Buatku kalau buat ngajar sama kuliah, nggak usah terlalu menor dengan menambahkan eyeshadow dan lipstick yang ngejreng. Serangkaian bedak yang luamayan nggak jauh dari warna muka dan hidroglos lebih membuat kesan natural. Pakai eyeliner di bawah mata juga cukuplah. Nggak usah pakai lipstick pingabiez! Malah kelihatan norak. Ya menyesuaikan ajalah. Kuliah itu bukan waktunya buat fashionshow.
Buat gruur bedakan juga boleh. Tapi ya itu. Jangan menor juga. Kalau ngeliat guru yang nggak bedakan trus mukanya mengkilap kek kaca yan gbaru aja di lap gitu gimana perasaanmu? Kalo aku, hawanya pengen bedakin ajah itu guru. Ya kita nggak bisa menutup mata. Anak itu menirutkan apapun yang dipakai oleh guru dan juga orang tua. Examplenya aku. pernah dulu sewaktu SD. Ngelihat alisnya guru walikelasku ngejerng tipinnya bukan main kek “blarak sempal” akhirnya, sampai rumah aku kerok ajah alisku. Bukan tambah manis tapi malah kek ababil yang pengen lihat tuyul. Untung aja zaman itu aku masih punya rambut panjang. Nah kalo botak? Udah dikira tuyul kali. Ya cukuplah dengan bedakan ringan. Yang penting jangan sampai kelihatan kusam dan mengkilap aja sih mukanya.
Ok lanjutin yang tadi lagi.
Notification pun berbunyi. Yap. Ada yang comment. Dan comenan itu nyebelinnya parah. Intinya dia sih bilang kalo bedakan yang kek profile picture ku aja nggak sederhana kok bisa bilang kek statusku itu. Perkenalkan. Namanya Miss I. dia emnag gitu orangnya. Dari zaman 2011 sampai sekarang dia kerjaannya Cuma 1. Ngurusin urusan orang. Ya pantes aja sih kalau banyak orang yang nggak suka sama dia.
Dari pada ngeladenin dia, mending anggep aja dia nggak ada. Nggak ada gunanya juga ngeladenin orang yang selalu ajah nyari gara-gara. Padahal udah jelas banget foto itu adalah hasil dari praktek makeup utnuk prewedding. Ya masaklah ya prewedd kok ya mukanya kinclong alias berkilap? Ya nggak pantes to yo. Itu hasil belajar ku pake makeup. Kalau keseharian, ya kembali lagi cream siang, BB cream yang warnanya senada sama kulit plus bedak padat. Udah. Sederhana menurutku. Daripada muka ku kusam plus mengelupas ngak jelas di musim pancaroba kek gini?
Ya namanya juga sederhana alias simple. Pasti beda-beda definisinya. Menurutku simple pake makeup ya yang seperti yang aku lakukan. Kalau aku harus keluar dengan muka asli tanpa pakai embel apa-apapun, mending nggak. Soalnya diudara yang super kering kek gini, muka ku jadi mengelupas dan kakunya minta ampun! Bahkan di saat musim biasapun aku tetap pakai bb cream buat melembabkan kuliat. Akupun nggak tahu muka ku ini kenapa, keringnya bukan main. (efek jarang minum mungkin).    Ada juga yang mendefinisikan sederhana itu nggak usah pakai makeup. Aku juga bisa setuju sama itu. Tapi kalau praktekin, mikir-mikir. “Sederhana itu simple, pakai bedak aja udah.” Nah ini, kalau aku pakai bedak aja tanpa pakai pelembab ataupun BB cream sebelumnya, sampai kampus juga udah ilang gitu ajah. Jadi serba repot kan?
Apapun yang menurutmu nyaman, pakai ajah! Nggak usah ngeribeti “apa kata orang”.. selagi nggak aneh-aneh dan terlihat normal, lakukan!  :D

idealisme untuk memilih cowok berkulit putih

Idealisme Untuk Lebih Memilih Lelaki Berkulit Putih

7 kali merajut kasih dengan makhluk yang lebih suka main ps dari pada baca buku. Lebih baik malam mingguan futsal dari pada nemenin belanja. Ya. Lelaki. Dari yang hobby ps sampai hobby ngerokokpun sudah pernah aku temui. Namun, seabsurd apapun lelaki, mereka pasti memiliki kelebihan masing-masing. Hmmm aku memang tidak terlalu suka membanding-bandingkan mereka. Rasanya tidak etis. Mereka sama-sama pernah mendampingiku dan menjadi orang yang paling terdekat denganku.
Laki-laki. Tercipta dengan berbagaimacam keistimewaan yang dibawa masing-masing. Entah itu berasal dari hasil konvergensi, heriditas atau nativisme. Yang pasti, tidak ada laki-laki yang sama! Allah dengan segala keajaiban-nya menciptakan manusia dengan berbagai sikap dan penampilan yang berbeda. Not any someone can be perfect dan tidak ada orang kembar identik yang punya sikap dan perilaku yang sama!!!!
Lelaki punya kebiasaan masing-masing. Membunuh jenuh mungkin tujuannya. Ya, itu juga beragam keistimewaan yang mereka memiliki.
Dari tujuh orang yang ku kenal dengan baik (walaupun saat putus belum tentu baik juga), aku mendapati tipe yang hampir sama. Lelaki berkulit putih dan isi kepala yang cukup dapat diandalkan. Ya. Isi kepala.
Cowok yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata itu membuatku terpesona. Ditambah dengan penampilan yang rapi dan berkulit bersih membuatku makin terpikat. Setidaknya itu juga berpengaruh terhadap lamanya pacaran.
Pertama jatuh cinta. Kepada si pemilik tubuh tinggi, penampilan rapi serta kulit yang bersih (putih bersih). Ya, aku dibuatnya mabuk kepayang bak bulan akan runtuh. Namun, sayangnya jalanannya terlalu mainstream, jadi tidak dapat dilanjutkan.
Lelakiku yang hitam manis. Lelaki itu adalah kakak kelasku. Wajahnya manis. Matanya yang indha membuatku jatuh cinta! Kulitnya hitam manis. Sebenarnya sih tidak hitam, tapi keciklatan. Sawo matang. Tak ada yang salah. Mungkin karena jatuh cinta yang “salah”. Mungkin belum jodoh. Hanya bertahan 1 bulan!!!!
Akhir-akhir mendapati seorang lelaki berpenampilan rapi namun tetap casual. Otaknya tak usah diragukan dengan ipk cumloud. Aktifitasnya sebagai aktifis kampus juga tak usah dipertanyakan. Meksi dia baru semester 3 namun sudah banyak orang yang mengenalnya dengan berbagai alasan. Ya. Aku menyukainya. He is perfect in my eyes. Otak cerdas dan badan tinggi bersih terawatt membuatku betah dengannya! Setidaknya aku tahu pasti, dia mandi 2x sehari. Aku mengaguminya dari tubuhnya. Meski tubuhnya sedikit obesitas, namun tetap terlihat bagus dengan tinggi badan hampir menyentuh 170cm. Aku snagat mengaguminya. Wajahnya yang ganteng, untuk ku adalah suatu bonus! Aku tidak terlalu mempersoalkan rupa. Ya akhirnya aku sadar, ada 3 hal yang  membuatku bertahan. Sikap, otak dan fisik. Sikapnya yang selalu menghargaiku sebagai perempuan, otaknya yang dapat diandalkan (setidaknya memperbaiki keturunan) dan fisiknya yang terawatt. Namun sayangnya dia dipanggil untuk pulang duluan. Bertahan 11 bulan.
Diakhri cerita, aku menemui seorang lelaki yang memiliki tubuh tinggi, putih dan berwajah oriental. Ya, itulah Tino ku. Aku mengaguminya tanpa batas. Penampilannya sedikit agak tidak karuan (seadanya kalau pakai, asal bersih). Otaknya, cukup dapat diandalkan. Sikapnya yang kadang baik dan kadang nyebelin mau tidak mau membuatku belajar betah. Namun tetap membuatku kagum. Tubuhnya yang terawat. Putih tidak seperti lelaki kebanyakan. Bertahan hingga detik ini.
Entahlah. Mungkin ini tidaklah patut untuk di contoh. Setiap melihat lelaki berkulit bersih, aku kagum. Entahlah mengapa. Diotakku: cowok putih itu cowok yang bersih dan dia bisa ngerawat badan. Sedangkan setiap melihat cowok hitam, hawanya pengen mandiin aja! Entahlah kenapa begitu. Aku lebih suka cowok yang bersih. Sebanding lurus dengan kesuksesan percintaan juga keknya. Tapi, aku tidak terlalu suka cowok yang berlebihan dalam merawat badan. Ya masak ngerawat badan saja harus sampe ke salon, itu sudah lebay!!!! Mandi 2x sehari aja sudah cukup! Sampai detik ini, aku lebih memiliih cowok berkulit puitih.